NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 23

Miranda hendak membuka sumpalan itu ketika suara klakson mobil memecah hujan. Bunyi nyaring dan tegas. Dia menoleh ke arah sumber suara. Di balik gerimis yang mulai menebal, terlihat sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari mereka. Lampunya menyala redup. Miranda mengenali siluet itu bahkan sebelum pintunya terbuka.

Mobil Nabil.

Miranda tersenyum tipis. Lelaki itu memang selalu datang pada saat yang tidak pernah bisa ditebak, tapi selalu tepat. Seolah hidup sudah menjadwalkan pertemuan mereka di waktu-waktu paling genting. Miranda tidak berkata apa-apa. Dia hanya meraih kopernya, menariknya pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan dua pria yang masih terkapar di tanah basah.

Dia tidak lagi butuh jawaban dari mereka. Bahkan tanpa sepatah kata pun, Miranda sudah tahu siapa dalang di balik semua ini. Orang-orang suruhan Anton. Terlalu mudah ditebak. Terlalu khas caranya.

Nabil turun dari mobil sambil membuka payung. Dia berdiri di bawah hujan, menunggu Miranda mendekat, matanya mengedarkan pandangan cepat ke sekitar, memastikan situasi benar-benar aman.

“Ayo,” ucap Nabil singkat.

Miranda berhenti di depannya, menatap sekilas, lalu merengut. “Kamu tidak mau sekalian membantu membawakan koperku?”

Nabil melirik koper itu, lalu melihat payung di tangannya. “Aku sedang memegang payung. Tugasku memayungi kamu.”

Miranda mendecih. “Benar-benar tidak punya perasaan.”

Nabil tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, memayungi Miranda dengan jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Miranda membuka bagasi belakang, menarik kopernya ke dalam. Saat berbalik, tubuhnya langsung bertabrakan dengan dada keras Nabil. Mereka terdiam sepersekian detik.

Dari jarak jauh mereka seperti dua orang lawan jenis sedang berpelukan dengan nabil memegang payung, andai ditambakan lagu romantis tentu saja moment itu seperti menjadi romantis.

“Jangan cari kesempatan,” gerutu Miranda.

“Jangan banyak drama,” jawab Nabil datar. “Masuk. Hujan makin deras.”

Nabil menggenggam tangan Miranda dan membawanya ke kursi depan. Dia membukakan pintu dengan tenang. “Masuklah.”

Miranda mendengus kecil, lalu masuk ke dalam mobil. Nabil menutup pintu, berjalan ke sisi pengemudi, melipat payung, melemparkannya ke kursi belakang, lalu menyalakan mesin. Mobil melaju perlahan, membelah jalan basah.

“Kamu mengikutiku, ya?” tanya Miranda sambil menatap ke depan.

“Tidak,” jawab Nabil. “Aku kebetulan lewat.”

Miranda melirik wajah Nabil dari samping. Wajah itu tetap sama. Tenang. Datar. Sulit ditebak. Miranda yakin, bahkan mesin pendeteksi kebohongan secanggih apa pun akan menyerah membaca ekspresi lelaki ini.

“Terus kamu lihat aku berkelahi?” tanya Miranda lagi.

“Lihat.”

“Kenapa tidak bantuin?”

“Dua cecunguk begitu,” jawab Nabil tanpa emosi. “Kenapa aku harus turun tangan. Bikin malu aja kalau aku turun tangan”

Miranda mendecak kesal. “Kamu itu tidak ada romantis-romantisnya.”

“Aku menjemput kamu. Itu romantis.”

Miranda menepuk jidatnya sendiri. Percuma berdebat dengan lelaki ini.

“Bil,” ucap Miranda pelan. “Aku lapar.”

Nabil tidak menjawab. Beberapa meter kemudian, dia menepikan mobil di pinggir jalan. Sebuah gerobak nasi goreng berdiri di bawah tenda kecil. Nabil turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Miranda.

“Ayo makan.”

Miranda tersenyum. Begitulah Nabil. Tidak banyak bicara, tapi selalu tahu harus berbuat apa. Mereka makan di bawah tenda sederhana, ditemani suara hujan dan asap wajan. Miranda merasa hangat, bukan hanya karena makanan.

Selesai makan, mereka kembali ke mobil. Miranda merogoh sakunya. Wajahnya langsung berubah.

“Nabil,” pekik Miranda.

Nabil menginjak rem mendadak. Mobil berhenti keras. Miranda hampir saja menabrak dasbor.

“Kenapa kamu mengagetkan begitu?” keluh Miranda sambil memegang dahinya.

“Ada apa?” tanya Nabil.

“Ponselku tidak ada.”

“Itu berarti tertinggal di tempat tadi.”

“Lalu bagaimana?”

Tanpa banyak kata, Nabil memutar arah. Mobil melaju kembali. Miranda menggigit bibirnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

“Astaga, kenapa aku bisa ceroboh begini,” gumamnya.

“Dari dulu memang begitu,” jawab Nabil.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di tempat kejadian. Miranda turun lebih dulu. Tempat itu sudah kosong. Tidak ada dua pria kekar itu. Tidak ada ponselnya.

“Ya, hilang,” ucap Miranda lirih.

“Kalau hilang, beli lagi,” jawab Nabil.

“Masalahnya bukan itu,” sahut Miranda kesal. “Banyak data penting di ponselku. Termasuk video bandot tua itu.”

“Kamu tidak simpan secara online?”

Miranda menggeleng.

Nabil menghela napas pendek. “Sudahlah. Kita pulang dulu.”

“Tapi ponselku…”

“Sudah hilang. Mau diapakan lagi.”

,,,

Kembali ke beberapa saat sebelumnya.

Pria yang sempat pingsan akhirnya siuman. Kelopak matanya berkedip pelan, kepalanya terasa berat seperti dihantam palu. Pandangannya berkunang-kunang sebelum akhirnya fokus pada satu sosok di depannya. Temannya terkulai di atas paving blok, tubuhnya kaku dan tak bergerak.

Ia bangkit tertatih, lalu menghampiri tubuh itu. Tangannya mengguncang bahu temannya dengan kasar.

“Ron, kenapa lu?” tanyanya cemas.

Tak ada jawaban.

Pria itu mengernyit, lalu memperhatikan wajah Baron lebih saksama. Matanya mendadak membulat ketika menyadari sesuatu yang janggal.

“Yeh, diem aja sih lo,” gerutunya kesal.

Baru beberapa detik kemudian ia sadar mulut Baron tersumpal kaus kaki. Dengan tergesa, ia menarik sumpalan itu keluar.

“Goblok lu, Luki,” umpatan Baron meluncur parau. Beberapa giginya tanggal, membuat ucapannya terdengar tak jelas.

“Kenapa lu bisa begini?” tanya Luki panik.

“Berisik,” sahut Baron ketus sambil meringis menahan nyeri. “Ayo kita cabut dari sini.”

Luki membantu Baron berdiri. Baru satu langkah, Baron langsung terhuyung. Seluruh tubuhnya terasa remuk, lututnya gemetar, dan dadanya masih sesak.

“Kenapa bos enggak bilang kalau cewek itu jago berantem?” gerutu Baron lirih.

“Entahlah,” jawab Luki singkat.

Mereka berjalan tertatih menjauh dari tempat itu. Namun sebelum terlalu jauh, pandangan Baron tertumbuk pada sebuah benda pipih yang tergeletak di tanah.

“Itu ponsel perempuan tadi,” ucap Baron.

Luki mengikuti arah pandangnya dan mengangguk. “Iya.”

“Ambil. Suatu saat pasti berguna,” perintah Baron.

Luki melangkah mendekat.

Bugh.

Baron tiba-tiba jatuh tersungkur.

“Kenapa jatuh?” tanya Luki refleks.

“Brengsek,” maki Baron kesakitan.

Luki menggeleng pelan, lalu memungut ponsel itu sebelum kembali membantu Baron berdiri dan menyeretnya pergi.

Sementara itu, Anton duduk dengan gusar di kamar tidurnya. Tatapannya bolak-balik antara ponsel dan jam dinding. Jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas malam, tetapi tak ada satu pun kabar dari orang-orang yang ia suruh. Dadanya terasa panas oleh kegelisahan.

Ia sudah menelepon berkali-kali. Tidak ada yang mengangkat.

“Kurang ajar,” gumam Anton kesal. “Berhasil atau tidak sih mereka?”

Anton kembali menatap layar ponselnya, lalu menekan nama Baron. Kali ini sambungan tersambung.

“Bagaimana?” tanya Anton tanpa basa-basi.

“Beres, bos,” jawab Baron dengan suara parau. “Tapi cewek itu jago berantem. Ponselku rusak, kamera juga rusak, enggak bisa buktiin apa-apa.”

Anton menyipitkan mata. Ia bukan orang yang mudah percaya. “Kalau sudah beres, mana buktinya? Aku mau lihat.”

“Ponselku benar-benar rusak, bos,” jawab Baron cepat. “Pokoknya kalau besok ada berita orang meninggal tenggelam, itu dia orangnya.”

Anton terdiam sejenak, lalu berkata dingin, “Baik. Pelunasan besok.”

“Bos, bayar setengah dulu,” sela Baron tergesa. “Kami butuh uang buat berobat. Luki enggak bisa ngomong, kena pukul cewek itu.”

Nada suara Anton mengeras. “Kalian mau menipuku?”

“Jangan gitu, bos. Semua percakapan kita direkam. Chat bos juga masih ada,” balas Baron. “Kami cuma butuh biaya berobat.”

Anton menutup telepon dengan rahang mengeras. Ia memang belum sepenuhnya percaya, tetapi satu hal sudah pasti. Dua orang itu tahu terlalu banyak. Besok, setelah urusan ini selesai, ia hanya perlu mencari orang lain untuk menghilangkan Baron dan Luki. Mereka harus disingkirk

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!