NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Konflik

Pernikahan mereka sudah berjalan dua minggu.

Tidak ada kejadian besar. Tidak ada pertengkaran hebat. Hidup berjalan seperti biasa. terlalu biasa, bahkan. Pagi hari diisi rutinitas yang mulai terasa tetap. Kadang mereka berangkat ke kantor bersama, kadang berpisah di depan pintu. Rendra dengan motornya lebih dulu, Lala menyusul dengan langkah yang sedikit lebih santai.

Rendra tetap dengan kebiasaannya: bangun setelah subuh, joging mengelilingi kompleks, lalu mandi dan bersiap ke kantor. Lala beberapa kali diajak ikut.

“Sekali aja, La. Biar sehat,” kata Rendra suatu pagi sambil mengikat tali sepatunya.

Lala yang masih bergelung di balik selimut hanya membuka satu mata.

“Capek, Ren.”

Rendra tidak memaksa. Ia cuma mengangguk, tersenyum kecil, lalu menutup pintu pelan. Tapi entah kenapa, setiap kali itu terjadi, ada perasaan aneh yang tersisa bukan marah, bukan kecewa, hanya seperti... merasa tidak seirama.

Urusan rumah mereka bagi dengan rapi.

Lala memasak. Ia telaten, teratur, dan cukup perfeksionis soal rasa. Rendra tidak banyak komentar, kecuali sesekali nyeletuk, “Ini enak,” atau “Besok masak ini lagi ya.”

Sebagai gantinya, Rendra selalu mencuci piring setelah makan. Tanpa diminta. Tanpa ditunda. Itu kesepakatan tak tertulis yang berjalan mulus.

Untuk urusan pakaian, mereka sepakat satu hal. laundry

Tidak ada yang mau ribet soal itu.

Dari luar, semuanya tampak seimbang.

konflik rumah tangga jarang muncul dalam bentuk besar. Kadang itu datang sebagai hal-hal kecil yang berulang.

Seperti malam itu.

Lala pulang lebih dulu dan memasak agak terlambat karena lelah. Rendra pulang dengan perut sudah sangat lapar akibat lembur sebentar.

“Masih lama?” tanya Rendra dari ruang tamu.

“Dikit lagi,” jawab Lala, nada suaranya netral, tapi tubuhnya sudah capek.

Saat makan, Rendra tidak sadar berkomentar, “Besok jangan kemaleman masaknya ya. Gue tadi laper banget.”

Kalimatnya biasa saja. Tidak tinggi nada. Tidak menyalahkan. Tapi Lala berhenti mengunyah.

“Ren,” katanya pelan, “gue juga kerja.”

Rendra langsung sadar.“Oh, iya. Maaf. Gue nggak maksud nyalahin.”

Mereka diam sebentar. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara keras. Hanya hening kecil yang membuat mereka sama-sama berpikir.

Setelah makan, Rendra tetap mencuci piring seperti biasa. Lala duduk di meja makan, menatap punggung Rendra yang bergerak pelan di depan wastafel.

Ia sadar, ini bukan soal masakan.

Ini soal menyesuaikan hidup dua orang dewasa yang sudah lama hidup sendiri.

Malam itu mereka tidur berdampingan, tanpa obrolan panjang. Bukan karena marah tapi karena sama-sama belajar menahan ego.

Dan di situ, tanpa mereka sadari, pernikahan mereka benar-benar mulai bekerja. Bukan lewat janji besar.Tapi lewat konflik kecil yang tidak dibiarkan meledak.

Konflik kecil itu tidak berhenti di satu malam.

Hari-hari berikutnya tetap berjalan normal, tapi ada hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda. Bukan memburuk lebih ke terasa. Seperti debu tipis yang kalau dibiarkan lama-lama akan kelihatan.

Suatu pagi, Rendra pulang joging dengan kaus basah keringat. Ia langsung meletakkannya di kursi kamar, berniat mandi sebentar lalu beresin nanti.

Lala yang masuk kamar setelah itu berhenti melangkah. Ia menatap kaus itu beberapa detik.

Diam.

Lalu mengambilnya dan meletakkan di keranjang cucian. Tidak ada omelan. Tidak ada teguran. Tapi malamnya, hal yang sama terulang. Keesokan paginya juga.

Baru di hari keempat, Lala akhirnya bicara.

“Ren,” katanya sambil melipat pakaian laundry yang baru datang, “abis joging, kausnya langsung masuk keranjang ya.”

Rendra menoleh. “Oh. Iya. Gue lupa.”

Jawabannya singkat. Terlalu singkat.

Lala mengangguk, tapi dadanya terasa agak sesak. Bukan karena kaus. Tapi karena kata lupa itu terdengar seperti kebiasaan yang akan terus diulang.

Di sisi lain, Rendra juga mulai merasakan hal kecil yang mengganjal.

Lala punya cara sendiri mengatur rumah. Piring harus ditaruh di tempat tertentu. Sabun harus ditutup. Meja harus bersih sebelum tidur. Rendra terbiasa santai. Asal rapi secukupnya.

Suatu malam, Rendra meninggalkan gelas di meja ruang tamu karena berniat minum lagi. Pagi harinya, gelas itu sudah hilang.

“Ada di mana gelas gue?” tanyanya sambil membuka lemari.

“Udah gue cuci,” jawab Lala dari dapur.

“Oh,” Rendra mengangguk. Lalu tanpa sadar berkata, “Padahal gue masih mau pake.”

Lala berhenti mengaduk masakan.

“Kalau mau dipake, bilang,” katanya, suaranya datar. “Soalnya gue nggak tau.”

Rendra menyadari nada itu.

Ia menarik napas. “Iya. Maaf.”

Mereka kembali diam. Diam yang bukan karena marah tapi karena sama-sama menahan.

Malam itu, setelah lampu kamar dimatikan, Rendra tidak langsung tidur.

“La,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kalau gue bikin lo capek, bilang ya.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat Lala menatap langit-langit lebih lama.

“Lo juga,” jawabnya. “Kalau gue terlalu ribet.”

Rendra tersenyum kecil dalam gelap. “Kayaknya kita sama-sama ribet.”

jarak di antara mereka malam itu terasa sedikit lebih dekat.

Karena konflik pertama mereka tidak diselesaikan dengan ego.

Tapi dengan kesadaran.

ini bukan lagi soal gue atau lo. ini soal kita yang sedang belajar hidup bersama.

Malam itu rumah kembali hening setelah lampu kamar dimatikan. Tidak ada obrolan panjang, tidak ada perdebatan. Hanya dua orang yang sama-sama lelah oleh hari yang terasa biasa, tapi menyisakan banyak pikiran.

Lala berbaring menyamping, membelakangi Rendra. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak benar-benar tidur.

Dua minggu. Baru sekitar dua minggu mereka menikah. Semua berjalan... normal. Terlalu normal, malah.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada drama. Tidak ada tuntutan yang menyesakkan. Rendra tidak pernah memaksanya jadi istri “ideal”. Tidak pernah menuntut lebih. Bahkan sering mengalah dalam hal-hal kecil soal lampu yang lupa dimatikan, soal handuk yang digantung tidak rapi, soal Lala yang selalu bangun lebih siang.

Dan justru itu yang membuat Lala gelisah.

Ia terbiasa hidup dengan tekanan. Terbiasa dengan tuntutan. Terbiasa harus membela diri. Tapi sekarang, ia berada di ruang yang tenang.

“Gue kenapa sih,” batinnya.

Lala mengingat semua alasan awal mereka menikah. Tentang ayah Rendra yang sakit. Tentang mamanya yang terus mendesak. Tentang solusi yang terasa paling masuk akal.

Tidak ada satu pun alasan itu yang bernama cinta. Dan itu yang selalu ia ulang-ulang di kepalanya, seolah ingin meyakinkan diri sendiri.

Ini pernikahan yang rasional.

Ini kesepakatan dua orang dewasa.

Ini bukan soal perasaan.

Tapi tubuhnya tidak bisa bohong.

Ia mulai terbiasa dengan langkah kaki Rendra di pagi hari. Dengan suara kompor menyala. Dengan pesan singkat: “Gue pulang agak telat.” Dengan pertanyaan sederhana: “Lo udah makan?”

Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia punya, kini hadir tanpa diminta.

Lala menarik napas pelan.

Di sisi lain tempat tidur, Rendra masih terjaga. Ia telentang, menatap langit-langit, tangan bersedekap di dada.

Dua minggu ini juga memberinya banyak kejutan tentang dirinya sendiri. Ia kira ia akan merasa terbebani. Merasa harus beradaptasi dengan orang lain di ruang yang selama ini miliknya sendiri. Merasa kehilangan kebebasan.

Nyatanya, tidak.

Ia masih bisa joging pagi.

Masih bisa diam lama tanpa ditanya kenapa. Masih bisa pulang telat tanpa diinterogasi.

Tapi sekarang... ada satu hal yang berubah.

Ia pulang dengan kesadaran bahwa ada seseorang di rumah.

Hanya... ada.

Dan itu cukup.

Rendra teringat bagaimana Lala selalu bangun setengah mengantuk tiap pagi Minggu. Bagaimana ia mengomel soal capek, tapi tetap turun ke dapur.

Bagaimana ia merapikan rumah tanpa disuruh bukan karena kewajiban, tapi karena kebiasaan.

Ia tersenyum kecil.

Pernikahan ini tidak terasa seperti sandiwara. Tidak terasa seperti pengorbanan sepihak.

Dan justru di situlah ketakutannya muncul.

Gimana kalau gue mulai ngarep? Gimana kalau suatu hari dia pergi, dan gue nggak siap?

Rendra memejamkan mata.

Ia tidak menikah untuk jatuh cinta. Ia menikah karena keadaan. Tapi keadaan ini... pelan-pelan berubah bentuk.

Di tengah keheningan, Lala bergeser sedikit. Tanpa sadar, jarak di antara mereka menyempit. Tidak bersentuhan hanya cukup dekat untuk menyadari kehadiran satu sama lain.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang berjanji.

Hanya dua orang dewasa yang mulai bertanya diam-diam pada diri sendiri. Kalau ini terus berjalan seperti ini...

apa yang sebenarnya sedang tumbuh?

Dan malam itu menutup hari mereka bukan dengan jawaban, melainkan dengan kesadaran yang sama-sama belum berani diucapkan.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!