NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 23: Aristhos

Reggiano berdiri tegak, auranya setajam silet yang baru diasah. Ia melirik Caspian yang masih asyik mencoba menyeimbangkan koin peraknya di atas hidung sambil bersiul kecil. Kontras antara kemuraman Reggiano dan kekonyolan Caspian benar-benar di luar nalar.

"Caspian. Berhenti bermain-main," geram Reggiano. "Buka portalnya. Langsung ke jantung laboratorium mereka. Aku tidak ingin membuang waktu dengan mengetuk pintu depan."

Caspian menangkap koinnya dengan gerakan teatrikal, lalu membungkuk hormat layaknya pelayan hotel berbintang lima. "Waduh, Tuan Eksekutor kita sedang buru-buru ya? Padahal aku baru mau menyarankan kita mampir beli kopi dulu agar kau tidak terlalu galak saat membantai orang."

"Caspian..." Reggiano mencengkeram gagang sabitnya hingga urat-urat di tangannya menonjol.

"Oke, oke! Jangan menatapku begitu, mata hijaumu itu mulai membuatku merinding," Caspian terkekeh. Ia melangkah ke tengah ruangan, melambaikan tangannya di udara seolah sedang menyeka jendela yang tidak terlihat.

"Kau tahu kan, Herbert? Membuka portal langsung ke 'jantung' itu berisiko tinggi. Kita bisa saja mendarat di tengah-tengah ruang rapat, atau lebih parah lagi... di dalam toilet saat Alert sedang buang air besar. Kau siap mental untuk melihat itu?"

"Aku siap membelah apa pun yang ada di depan mataku saat portal itu terbuka," jawab Reggiano dingin.

Caspian memutar bola matanya. "Dasar kaku. Baiklah, pegang pundakku. Tapi tolong, jangan meremas jas ini terlalu keras, ini kain sutra dimensi ketujuh, sangat mahal dan susah disetrika!"

Reggiano meletakkan tangannya yang berat di pundak Caspian. Caspian mulai menggambar lingkaran di udara dengan jari telunjuknya. Ruang di depan mereka mulai bergetar, membiaskan cahaya seperti genangan minyak di atas air.

"Ngomong-ngomong, Reggiano," Caspian melanjutkan pembicaraannya dengan santai sementara ruang di sekitar mereka mulai retak. "Kalau nanti kita sampai di sana dan ada sekretaris cantik, tolong jangan langsung kau tebas ya? Biarkan aku memberikan kartu namaku dulu. Menjadi pengelana dimensi itu kesepian, tahu!"

"Caspian, fokus pada portalnya atau aku akan menggunakan kepalamu untuk membuka lubang di dinding ini," desis Reggiano.

"Galak sekali! Pantas saja kau jomblo dan cuma tinggal sama adikmu," Caspian mencibir, namun jemarinya bergerak lebih cepat.

"Siap-siap, kawan. Kita akan masuk dalam hitungan tiga. Dua... Dua setengah... Dua seperempat—"

"SEKARANG!" bentak Reggiano.

"Iya, iya! Dasar tidak sabaran!"

Caspian menyentakkan tangannya, dan realitas di depan mereka robek dengan suara seperti kain yang dipaksa putus. Sebuah lubang hitam keperakan menelan mereka berdua.

Di dalam jantung Laboratorium 09, suasana sedang sangat tegang. Para ilmuwan dan petinggi Organisasi sedang sibuk menatap layar yang menunjukkan kehancuran di depan toko roti. Alert berdiri di tengah, wajahnya memucat melihat jalur pembantaian Reggiano.

"Segera aktifkan protokol—"

Bzzzzt!

Tepat di tengah-tengah meja rapat bundar yang terbuat dari kaca anti-peluru, sebuah lubang dimensi terbuka. Caspian jatuh terlebih dahulu, mendarat dengan posisi berjongkok yang tidak elegan sama sekali.

"Aduh! Pantatku!" seru Caspian sambil menggosok pinggulnya. Ia menatap para petinggi yang bengong di sekelilingnya.

"Oh, halo semuanya! Maaf mengganggu rapatnya. Ada yang punya camilan? Perjalanan dimensi membuatku sangat lapar."

Sebelum para penjaga sempat bereaksi, Reggiano Herbert melompat keluar dari portal dengan keanggunan seorang predator. Ia mendarat di atas meja kaca tersebut, yang langsung retak seribu di bawah kakinya. Sabit raksasa The Reaper’s Thorn berkilat mengerikan, memantulkan wajah-wajah ketakutan para petinggi Organisasi.

"Menu hari ini bukan roti," ucap Reggiano, suaranya bergema seperti vonis mati di ruang kedap suara itu.

"Tapi eliminasi total."

Caspian berdiri, menepuk-nepuk debu dari jasnya sambil tersenyum lebar ke arah Alert yang mematung, mereka saling kenal rupanya atau Caspian memang melirik name tag di kalung anggota tersebut.

"Alert! Lama tidak jumpa. Jasmu bagus, tapi sayangnya... bakal banyak noda merahnya sebentar lagi."

Reggiano sudah berada di tengah targetnya, dan Caspian siap melakukan kekacauan dimensi untuk mendukungnya.

Reggiano berdiri di tengah meja rapat yang retak, matanya yang hijau zamrud berpendar dengan intensitas yang mengerikan. Ia melirik ke arah Caspian yang baru saja selesai mengeluh soal pinggulnya. Para penjaga elit di ruangan itu mulai mengangkat senapan energi mereka, dan jari-jari Alert baru saja akan menekan tombol alarm darurat.

"Caspian. Sekarang," perintah Reggiano singkat.

Caspian mendesah dramatis sambil merapikan kerah jasnya. "Lima detik saja ya, Herbert! Kau tahu kan, menghentikan waktu itu memakan kalori lebih banyak daripada lari maraton? Aku bisa pingsan kalau kau kelamaan!"

Caspian menjentikkan koin peraknya ke udara. Saat koin itu mencapai titik tertinggi, ia menepukkan kedua telapak tangannya dengan keras.

CLACK!

Seketika, seluruh dunia kehilangan warnanya, berubah menjadi abu-abu statis yang membeku. Peluru yang baru saja keluar dari moncong senjata penjaga tertahan di udara, percikan api alarm berhenti berkedip, dan ekspresi ketakutan di wajah Alert membeku seperti patung lilin yang gagal.

Detik ke-1

Reggiano melesat dari meja. Gerakannya begitu cepat hingga ia tampak seperti bayangan emas yang membelah keheningan. Ia merogoh kantong kecil di pinggangnya yang berisi benih mawar yang telah dimodifikasi dengan energi Penjaga.

Detik ke-2

Ia melewati barisan penjaga di sisi kiri. Dengan ketepatan seorang ahli bedah, ia menempelkan satu duri mawar hitam yang berdenyut ke setiap urat nadi leher mereka. Duri-duri itu langsung mengunci, ujungnya yang tajam sudah menyentuh kulit namun belum menembusnya karena waktu yang berhenti.

Detik ke-3

Reggiano berputar ke arah meja rapat. Para petinggi Organisasi yang tadinya sedang berteriak kini tampak seperti pajangan museum. Satu per satu, ia menaruh duri di jakun mereka. "Untuk setiap dosa yang kalian ancam," bisik Reggiano di depan telinga seorang jenderal yang membeku.

Detik ke-4

Ia sampai di depan Alert. Reggiano tidak memberinya duri biasa. Ia menaruh mawar emas utuh tepat di atas jantung Alert. Mawar itu berakar seketika ke dalam serat pakaian mahal pria itu.

Detik ke-5

Reggiano kembali ke posisi semula di atas meja, berdiri tegak dengan tangan bersedekap, sabitnya disandarkan di bahu. Ia melirik Caspian yang wajahnya mulai memerah menahan beban dimensi.

"Waktu habis, kawan! Aku mau pingsan!" teriak Caspian yang suaranya terdengar pecah.

Koin perak Caspian jatuh kembali ke telapak tangannya.

Ting!

Warna kembali ke dunia. Suara hiruk-pikuk mendadak meledak, namun hanya untuk sedetik.

"Apa—?!" Alert baru saja akan berteriak ketika ia merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menempel di jantungnya.

"Jangan bergerak," suara Reggiano terdengar tenang namun mematikan. "Satu inci saja kalian bergeser, duri mawar di leher kalian akan mekar di dalam tenggorokan. Dan untukmu, Alert... mawar di jantungmu adalah kunci dari seluruh sirkulasi darahmu sekarang."

Caspian bersandar di dinding, terengah-engah sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. "Lima detik yang hebat, Herbert. Tapi jujur, melihat kalian semua membeku dengan mulut menganga tadi... kalian terlihat sangat bodoh. Ada yang mau difoto untuk kenang-kenangan?"

Para penjaga dan petinggi itu membeku dalam horor yang nyata. Mereka tidak bisa menembak, tidak bisa lari, bahkan hampir tidak berani bernapas. Mereka baru saja menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia, melainkan dengan malaikat maut yang membawa kebun bunga kematian.

"Sekarang," Reggiano melangkah turun dari meja, ujung sabitnya menyeret lantai logam hingga mengeluarkan percikan api. "Kita akan bicara tentang siapa yang memerintahkan eksekusi terhadap Elena. Dan Caspian... jika ada yang mencoba bicara bohong, biarkan duri mereka mekar."

Caspian menyeringai nakal sambil memutar koinnya lagi. "Dengan senang hati, Bos. Aku selalu suka melihat 'pertunjukan kembang api' organik."

Intimidasi Total Berhasil.

Seluruh ruangan berada di bawah kendali penuh Reggiano. Alert berkeringat dingin, menatap mawar emas yang berdenyut di dadanya.

Suasana di dalam ruang kendali utama Laboratorium 09 itu begitu sunyi hingga suara tetesan keringat Alert yang jatuh ke lantai logam terdengar seperti dentuman drum. Para petinggi Organisasi, yang biasanya memerintah dengan satu jentikan jari, kini mematung dengan mata melotot, menatap duri-duri hitam yang menempel di leher mereka seolah-olah itu adalah moncong pistol yang sudah ditarik pelatuknya.

Caspian, yang masih berusaha mengatur napasnya setelah melakukan aksi manipulasi waktu yang gila itu, berjalan santai mengitari meja rapat. Ia berhenti di depan seorang jenderal gemuk yang wajahnya sudah berubah warna menjadi ungu karena menahan napas.

"Aduh, Jenderal, santai saja. Kalau kau menahan napas begitu, tekanan darahmu naik, dan duri di lehermu itu bakal merasa 'tertantang' untuk menggali lebih dalam," Caspian berbisik dengan nada mengejek yang sangat menjengkelkan. Ia lalu menoleh ke arah Reggiano.

"Reggiano, lihat mereka. Tadi saat waktu berhenti, aku sempat melihat isi saku pria yang ini. Kau tahu apa yang dia bawa? Cokelat batangan yang sudah kedaluwarsa. Benar-benar organisasi yang tidak punya selera."

Reggiano tidak menanggapi lelucon Caspian. Ia melangkah maju, setiap denting sepatunya di lantai logam mengirimkan getaran teror ke saraf musuh-musuhnya. Ia berhenti tepat di depan Alert, menatap pria itu dengan mata hijau zamrud yang kini berpendar lebih terang, memantulkan api penghakiman.

"Alert," ucap Reggiano, suaranya rendah namun bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Kau punya waktu sepuluh detik sebelum mawar emas di jantungmu mulai meminum sisa hidupmu. Aku tidak ingin mendengar pidato tentang tujuan mulia Organisasi. Aku ingin satu nama. Nama orang yang menaruh foto Elena di atas meja eksekusi."

Alert mencoba bicara, namun suaranya hanya keluar sebagai desisan serak.

"Reggiano... kau tidak mengerti... dewan... mereka semua setuju..."

"Jawaban yang salah," sela Reggiano dingin.

Seketika, mawar emas di dada Alert bersinar. Akar-akarnya mulai merayap naik ke lehernya, tidak menyakitkan, namun Alert bisa merasakan energinya tersedot keluar seperti air yang masuk ke lubang pembuangan.

"Tunggu! Tunggu!" salah satu petinggi di ujung meja berteriak histeris, duri di lehernya mulai mengeluarkan setetes darah.

"Bukan kami! Perintah itu datang dari Direktur Aristhos di Sektor Utama! Kami hanya pion! Dia yang menginginkan 'Darah Bumi' dari adikmu untuk eksperimen keabadiannya!"

Caspian bersiul panjang, ia menjentikkan koin peraknya dan menangkapnya dengan gaya sombong. "Aristhos, ya? Kudengar dia pria yang sangat membosankan dan terlalu banyak memakai parfum. Jadi dia yang ingin menyentuh Elena kecil kita?"

Reggiano terdiam sejenak. Nama Aristhos adalah nama yang dikubur dalam kerahasiaan tertinggi, bahkan bagi eksekutor elit sekalipun. Namun sekarang, jalur pembantaiannya sudah memiliki titik akhir yang jelas.

"Caspian," panggil Reggiano tanpa mengalihkan pandangan dari Alert yang hampir pingsan. "Berapa banyak energi yang kau punya untuk menghancurkan tempat ini?"

Caspian menyeringai lebar, menyingkapkan sisi gilanya yang tersembunyi di balik wajah tampannya. "Untuk menghancurkan? Herbert, kau meremehkanku. Aku bisa membuat tempat ini menghilang dari koordinat geografis kota ini dan muncul kembali di dasar samudra jika kau mau. Tapi, hei, itu bakal merusak jas sutraku."

Caspian kemudian berjalan ke arah konsol utama, jarinya menari-nari di atas keyboard hologram dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Bagaimana kalau begini? Aku akan menyalin semua data mereka, mengirimkan virus dimensi yang akan menghapus semua catatan tentang Elena dari server dunia bawah, lalu... boom. Kita tinggalkan kenang-kenangan yang tidak akan mereka lupakan."

Caspian menoleh ke arah para petinggi yang masih gemetar. "Kalian semua, dengarkan baik-baik. Aku baru saja mengubah sistem pendingin reaktor laboratorium ini menjadi sistem pembuat es krim otomatis.

Masalahnya adalah... mesin es krim ini akan meledak dalam tiga menit karena terlalu banyak gula dimensi. Jadi, saran saya? LARI."

Reggiano menarik sabitnya, mengayunkannya sekali untuk membersihkan udara dari aura negatif. "Kau dengar dia. Lari dan sampaikan pada Aristhos. Jalurku sekarang menuju ke arahnya. Dan kali ini, aku tidak akan memberikan waktu lima detik bagi siapa pun untuk bernapas."

Dalam kekacauan yang tiba-tiba pecah saat duri-duri mawar itu melunak dan membiarkan musuh lari tunggang langgang, Reggiano dan Caspian berdiri tenang di tengah alarm yang mulai meraung.

"Kau tahu, Reggi," Caspian berkata sambil menyandarkan tangan di bahu Reggiano, "Setelah ini kita benar-benar harus menaikkan harga croissant di toko. Biaya operasional memburu Direktur ini tidak murah, tahu!"

Reggiano hanya menatap portal keperakan yang kembali dibuka oleh Caspian. "Ayo pergi. Kita punya janji untuk pulang sebelum toko buka besok pagi."

Reggiano dan Caspian telah mengirimkan pesan yang menghancurkan mental Organisasi, namun Direktur Aristhos adalah lawan yang berada di level berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!