Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab satu
Malam itu Melati berjalan menyusuri jalanan kota, gadis ceria itu baru saja merayakan kelulusannya bersama dengan teman-temannya, setelah wisuda, sebagai seorang gadis yang hidup tanpa seorang ayah ia berhasil meraih gelar S1 dengan nilai yang cukup memuaskan.
Dan saat langkahnya sampai di depan rumah, tiba-tiba saja ia terkejut mendengar percakapan kedua orang tuanya dengan seseorang.
"Begini loh Den, anakmu Melati kan sudah dewasa, cantik dan kayaknya anak baik-baik," ucap Sekar, sahabat ibu Melati.
"Terus," sahut Dena singkat.
Sekar, mulai menanting ucapannya agar tidak membuat lawan bicaranya tersinggung. "Aku ingin Melati jadi istrinya Cokro," kata Sekar hati-hati.
Seketika tubuh Melati membeku di depan pintu kayu itu, dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa! Dijodohkan dengan pria yang mukanya saja kaya kanebo kering," gumamnya dalam hati.
Namun tidak sampai di situ saja, Melati masih berdiri mendengarkan kedua wanita itu berbicara.
“Sekar, kamu tahu sendiri kondisi Melati. Dia baru lulus. Masa depannya masih panjang,” ucap ibu Melati akhirnya, suaranya terdengar ragu, seolah ingin menolak tapi tak cukup kuat untuk benar-benar berkata tidak.
Sekar menghela napas pelan. “Aku paham. Tapi Dena, kamu juga tahu… kalau bukan karena Ayah Cokro, almarhum suamimu mungkin sudah tidak tertolong waktu itu.”
Kalimat itu jatuh seperti palu, Melati menelan ludah. Nama ayahnya disebut. Luka lama yang belum sepenuhnya kering ikut tergores.
“Bukan aku ingin menagih,” lanjut Sekar cepat, “tapi ayah Cokro hanya punya satu permintaan sebelum dia meninggal. Ia ingin anaknya punya pendamping yang baik. Dan dia menunjuk Melati.”
Hening menyelimuti ruang tamu. Bahkan suara jangkrik di luar terasa terlalu nyaring.
Melati menempelkan punggungnya ke dinding, napasnya tercekat. Jadi ini bukan sekadar rencana. Ini… balas budi yang dibungkus rapi atas nama takdir.
“Cokro itu duda,” suara ibunya lirih, hampir bergetar. “Dan dia punya dua anak.”
“Justru itu,” sahut Sekar. “Dia butuh istri. Anak-anak itu butuh ibu. Melati anak baik, Den. Dia lembut. Dia pasti bisa.”
Melati tersenyum pahit dalam hati. "Bisa atau dipaksa untuk bisa?"
Bayangan wajah pria yang hanya pernah ia lihat sekilas di acara tahlilan melintas di kepalanya, tatapan dingin, rahang keras, dan aura lelah yang menempel seperti bayangan. Pria itu jarang bicara. Bahkan saat orang-orang menyapanya, ia hanya mengangguk singkat.
Dan kini, hidup Melati akan diserahkan pada pria dengan dua anak dan luka yang bukan miliknya.
“Aku perlu bicara dengan Melati,” ucap ibunya akhirnya.
Melati tersentak. Ia cepat-cepat melangkah menjauh, masuk ke kamarnya sebelum pintu terbuka. Punggungnya bersandar pada daun pintu, dadanya naik turun tak beraturan.
Malam yang seharusnya menjadi awal kebebasan, berubah menjadi gerbang menuju kehidupan yang tak pernah ia bayangkan.
Di balik keceriaannya selama ini, untuk pertama kalinya Melati merasa… takut. Takut pada pernikahan yang belum ia pahami. Takut menjadi istri dari pria dingin. Dan paling ia takuti, menjadi ibu bagi dua anak yang belum tentu mau menerimanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Melati duduk di ruang tamu dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Semalaman ia hampir tak memejamkan mata. Kalimat demi kalimat yang ia dengar tadi malam terus berputar di kepalanya, menolak pergi.
Ibunya duduk di seberang, wajah wanita itu tampak lelah. Ada bayangan ragu di matanya, juga sesuatu yang lain, beban yang terlalu lama dipendam.
“Melati,” panggilnya pelan.
Gadis itu mendongak. Senyumnya tipis, nyaris tak ada.
“Ibu mau bicara.”
Melati mengangguk. Ia sudah menduga. Sejak tadi dadanya terasa sesak, seperti sudah tahu arah percakapan ini akan berlabuh ke mana.
“Tante Sekar datang tadi malam bukan tanpa alasan,” lanjut ibunya. “Dia menyampaikan niat ayah Cokro… sebelum meninggal.”
Jari Melati menegang, gadis nampak kesulitan untuk mencerna ucapan sang ibu.
“Mereka dulu menolong ayahmu,” suara ibunya sedikit bergetar saat menyebut sosok itu. “Waktu kecelakaan itu… kalau bukan karena mereka, mungkin ayahmu tak sempat bertahan beberapa tahun lagi.”
Hening menggantung. Melati menunduk. Nama ayahnya selalu menjadi titik lemah. Ia tahu betul itu.
“Ibu tidak mau memaksa,” ucap ibunya cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Ibu hanya ingin kamu mempertimbangkannya baik-baik.”
Melati mengangkat wajahnya. “Mempertimbangkan… atau menerima, Bu?”
Ibunya terdiam.
“Cokro memang duda. Dia punya dua anak,” lanjut sang ibu akhirnya. “Tapi dia pria bertanggung jawab. Hidupnya mapan. Kamu tidak akan kekurangan.”
Melati tersenyum kecil. Senyum yang terasa asing di wajahnya sendiri.
“Kalau aku menolak?” tanyanya pelan.
Ibunya menarik napas dalam-dalam. “Ibu tidak akan marah.”
Kalimat itu terdengar manis. Tapi jeda setelahnya terlalu panjang.
“Hanya saja,” sambung ibunya lirih, “ibu tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan keluarga mereka. Ibu takut… ayahmu tidak tenang di sana.”
Kalimat itu menutup semua pintu. Melati mengerti sekarang. Ini bukan pilihan. Ini ujian rasa bersalah yang dibungkus kata kebebasan.
Ia menatap lantai, merasakan sesuatu runtuh perlahan di dadanya. Antara keinginannya sendiri dan bakti pada orang tua, ia tahu yang mana akan dikorbankan.
“Aku boleh bertemu dulu dengannya?” tanya Melati akhirnya.
Ibunya menatapnya penuh harap. “Tentu. Ibu hanya ingin kamu tidak menyesal.”
Melati mengangguk pelan. Namun di dalam hatinya, ia sudah tahu apa pun keputusan yang ia ambil, sebagian dari dirinya akan tetap terluka.
☘️☘️☘️☘️
Siang itu setelah bercakap dengan ibunya, Melati memutuskan untuk keluar rumah, sekedar untuk mencari angin, biasanya di musim libur seperti ini taman kota selalu ramai, dan hal itu mampu untuk sekedar menyegarkan pikirannya.
Melati berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Di sekelilingnya, anak-anak berlarian tanpa peduli terik, sementara para orang dewasa duduk sambil mengawasi, atau berpura-pura mengawasi. Ia berhenti sejenak di bawah pohon rindang, menatap hamparan rumput yang luas.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, perhatian Melati tertarik pada seorang perempuan paruh baya yang tampak kewalahan. Wanita itu mondar-mandir, suaranya naik turun memanggil dua anak laki-laki yang terus berlari ke arah berlawanan.
“Adik, jangan jauh-jauh!”
“Kakaknya tunggu dulu!”
Dua bocah itu usianya tampak tak terpaut jauh. Yang satu lebih tinggi dan lincah, sementara yang satunya lagi lebih kecil, berlari sambil tertawa keras, seolah dunia adalah arena bermain tanpa batas. Sus, begitu Melati menduga mengusap keningnya berulang kali, napasnya terlihat ngos-ngosan.
Melati tanpa sadar tersenyum kecil. Ada kehangatan aneh melihat kekacauan kecil itu, tapi juga rasa lelah yang bisa ia rasakan meski hanya sebagai penonton.
Dan di saat ia hendak duduk, saat itulah sesuatu menghantam kakinya.
“Duk!”
“Aduh—”
Melati terkejut. Sebuah bola kecil jatuh bergulir di kakinya.
Seorang anak kecil berumur sekitar lima tahun berhenti tak jauh darinya, wajahnya pucat ketakutan. “Maaf, Tante… aku nggak sengaja.”
Melati menunduk, memungut bola itu, lalu menyerahkannya kembali. “Tidak apa-apa,” katanya lembut.
Anak itu tersenyum lega dan berlari kembali ke arah Sus yang langsung memeluknya sambil mengomel panjang. Bocah satunya ikut mendekat, membuat Sus kembali kewalahan, tangannya bergerak ke sana kemari mencoba mengendalikan dua energi kecil yang tak pernah habis.
Melati memandangi mereka beberapa detik lebih lama, kepalanya sambil menggeleng sendiri saat menatap wajah Sus yang mulai kewalahan itu.
"Astaga! Pastinya capek sekali jadi Sus itu," gumamnya dengan pelan.
Bersambung .....