NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab1Harmoni Lembah Biru

Mentari pagi menyapa lembut Lembah Biru, membangunkan bunga-bunga liar yang bermekaran di tepi danau. Embun pagi masih membasahi kelopak, memancarkan kilau bagai permata. Di antara hamparan kuning cerah, berdiri seorang gadis. Rambut hitamnya tergerai indah, menari-nari ditiup angin sepoi. Senyumnya merekah, menyambut hangatnya hari.

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154cm,aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru,namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku,dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak,setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Bagiku, tinggal di alam adalah sebuah anugerah. Di sini, aku menemukan kedamaian yang tak pernah kutemukan di keramaian kota. Suara gemericik air, kicauan burung, dan bisikan dedaunan adalah simfoni terindah yang selalu menenangkan jiwaku. Aku suka memejamkan mata, merentangkan tangan, dan merasakan semesta memelukku erat. Di momen-momen seperti inilah, aku merasa menyatu dengan alam, menjadi bagian tak terpisahkan dari Harmoni Lembah Biru.

Setiap hari adalah petualangan baru. Aku sering menyusuri jalan setapak, menemukan spesies bunga baru yang memukau. Ada yang berwarna ungu memikat, merah menyala, atau putih bersih seolah salju. Setiap bunga memiliki kisahnya sendiri, keindahannya sendiri. Aku percaya, bunga adalah cerminan dari kehidupan, tumbuh, mekar, dan layu, namun selalu meninggalkan jejak keindahan.

Suatu sore, saat senja mulai menyelimuti lembah, aku duduk di tepi danau, memandangi langit yang berubah warna menjadi jingga keemasan. Hatiku dipenuhi rasa syukur. Di sinilah aku menemukan makna hidup, di antara keindahan yang tak berujung. Aku pun merangkai kata, melahirkan sebuah puisi yang mengalir dari lubuk hati terdalam.

____________________________________ ~•°

Puisi Harmoni Lembah Biru

Di lembah biru, di mana fajar menyapa,

Jiwa merdeka, tiada lagi nestapa.

Bunga-bunga han, saksi bisu alam raya,

Mekar berdendang, mengukir asa.

Tangan merentang, memeluk angkasa,

Hembusan bayu, pelipur lara.

Danau bening, cermin hati yang perkasa,

Memantulkan damai, menepis gulana.

Setiap kelopak, menyimpan rahasia,

Kehidupan fana, namun penuh makna.

Kazumi Flora, di sini kan selalu ada,

Menyatu abadi, dengan semesta.

Harmoni ini, tiada pernah sirna,

Di Lembah Biru, kutemukan Nirvana.

Dalam keheningan, jiwa merekah sempurna,

Cinta dan damai, selamanya terjaga.

°•~____________________________________

"Kazumi! Nak, di mana kamu?"

Suara berat Ayah memecah keheningan senja, sedikit mengejutkanku dari lamunan. Aku membuka mata, senyum tipis masih terukir di bibirku. Ayahku, seorang pria tangguh dengan hati selembut kapas, selalu khawatir jika aku terlalu lama menghilang di antara bunga-bunga. Aku berdiri, membersihkan sedikit tanah dari gaun putihku, dan bergegas menuju suara Ayah.

"Aku di sini, Ayah!" balasku, melambaikan tangan agar ia bisa melihatku di antara rimbunnya tanaman.

Ayah berjalan mendekat, dengan keranjang rotan di tangan yang biasanya ia bawa saat mencari jamur atau buah hutan. Wajahnya menunjukkan sedikit kelegaan saat melihatku baik-baik saja.

"Sudah waktunya makan malam, Nak. Ibu sudah menyiapkan hidangan kesukaanmu," katanya sambil tersenyum. "Kamu pasti kedinginan di luar sini."

Aku mengangguk, mendekat dan memeluk Ayah erat. Aroma tanah dan kayu yang selalu menemaninya memberiku rasa nyaman. "Tidak, Ayah. Aku menikmati pemandangan. Langit sore ini indah sekali."

"Memang," Ayah mengusap puncak kepalaku. "Tapi kamu harus ingat, senja di lembah bisa membawa hawa dingin. Ayo, pulang. Ada berita penting yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan padamu."

Mendengar kata 'berita penting', hatiku sedikit berdebar. Apakah ini tentang tanah di dekat danau yang ingin dibeli Pak Tua Ryo? Atau mungkin, tentang keputusanku untuk tetap tinggal di Lembah Biru alih-alih mencoba peruntungan di kota besar seperti teman-temanku? Aku hanya mengangguk, mengikuti langkah Ayah pulang, meninggalkan keindahan senja yang perlahan memudar di belakangku. Pikiranku mulai bertanya-tanya, berita penting apa yang menungguku di rumah?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!