Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Apa Teman?
Setelah itu, Kanaya masuk kedalam kamar kosnya, ia menutup pintu kayu kosnya yang sedikit lapuk dan segera menguncinya rapat-rapat. Kanaya bersandar di balik pintu, mengembuskan napas panjang yang seolah tertahan sejak ia menginjakkan kaki di restoran mewah tadi.
Suasana hening kamarnya yang sederhana, sangat kontras dengan kemewahan kabin mobil Narendra, bau sisa parfum maskulin Narendra masih samar-samar menempel di bajunya dan bercampur dengan aroma gorengan dari warung depan gang lalu Kanaya meletakkan kotak beludru hitam itu di atas meja belajar kecilnya yang penuh dengan tumpukan buku dan botol minum plastik.
"Aku butuh air dingin untuk mendinginkan otak, eh aku mandi aja deh," gumam Kanaya.
Kanaya segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi sempit di sudut kamar, du bawah kucuran air bak yang dingin, Kanaya mencoba membasuh rasa rendah dirinya. Namun, bayangan Narendra yang menukar piring steaknya dan tatapan mata pria itu yang intens terus berputar di kepalanya Kanaya merasa seperti cinderella, namun ia tahu persis bahwa setelah tengah malam, ia tetaplah seorang gadis kosan yang harus berjuang membayar tagihan listrik.
Selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos oblong serta celana kain tipis, Kanaya duduk di pinggiran kasur busanya yang sudah agak kempes dan matanya kembali tertuju pada kotak beludru hitam di atas meja.
Dengan tangan yang sedikit lembap karena sisa air, Kanaya mengambil kotak itu dan menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya perlahan.
Cahaya lampu kamarnya yang agak berkedip memantul pada benda di dalam kotak itu, sebuah jam tangan dengan desain rose gold yang sangat elegan, dilingkari permata kecil yang berkilau halus di sekeliling dial-nya dan talinya terbuat dari kulit asli berwarna nude yang sangat lembut.
"Gila... ini cantik banget," gumam Kanaya.
Kanaya tidak berani menyentuhnya terlalu kasar, jam itu tampak sangat rapuh dan mahal di tengah perabotan kosnya yang serba sederhana. Rasa penasaran mulai menggerogoti pikirannya, ia mengambil ponselnya lalu menggunakan fitur pencarian gambar untuk mencari tahu merek dan tipe jam tersebut.
Jantungnya berdegup kencang saat halaman pencarian mulai memuat hasil, ia menemukan sebuah situs resmi jam tangan mewah luar negeri lalu Kanaya menelusuri halaman tersebut hingga matanya terpaku pada deretan angka yang tertera di sana.
Kanaya terdiam dan melihat deretan angka, ia pun segera membuka kalkulator di ponselnya untuk mengonversi angkanya dengan kurs saat ini, tangannya gemetar saat menekan tombol.
"23 puluh juta!" pekik Kanaya tertahan dan ia refleks menutup mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak terdengar sampai kamar sebelah.
Tubuh Kanaya lemas seketika, ia meletakkan kembali kotak itu ke meja seolah-olah benda itu baru saja menyetrumnya. Uang dua puluh tiga juta bisa ia gunakan untuk membayar sewa kosnya selama beberapa tahun ke depan atau bahkan modal untuk membuka usaha kecil-kecilan.
"Gila, aku gak bisa nerima jam tangan ini. Aku harus kembalikan ke Narendra," ucap Kanaya.
Kanaya mengambil ponselnya dan hendak mengirim pesan pada Narendra, namun tiba-tiba saja Kayla ragu. "Masa aku ngirim pesan sih, aku takut nanti malah ganggu Narendra lagi," gumam Kanaya.
Setelah perdebatan sengit dalam dirinya, akhirnya Kayla memutuskan untuk menyimpan jam tangan tersebut dan ia akan memberikannya langsung saat bertemu Narendra daripada harus mengganggu Narendra saat ini.
.
Pagi harinya, Kanaya terbangun dengan perasaan yang masih tidak menentu. Sebelum berangkat, ia memastikan jam tangan itu tersimpan di tempat paling aman yang ia miliki, sebuah kotak sepatu bekas yang ia selipkan di tumpukan baju paling bawah di dalam lemari plastik. Kanaya bahkan menggembok lemari itu dua kali, takut jika ada pencuri yang entah bagaimana tahu ada harta karun di kamar kosnya yang sempit.
Setelah merasa aman, Kanaya berangkat menuju sekolah tempatnya mengabdi, suara riuh anak-anak kecil yang berlarian menyambut Kanaya di halaman sekolah, biasanya tawa polos mereka adalah obat paling ampuh bagi rasa lelahnya. Namun hari ini, fokus Kanaya seringkali terpecah, saat ia membantu seorang murid mengeja huruf alfabet, pikirannya justru melayang ke angka 23 juta yang semalam ia lihat di layar ponsel.
"Ibu Kanaya, ini warnanya apa?" tanya seorang anak kecil bernama Rio sambil menyodorkan krayon hijau.
Kanaya tersentak lalu dengan cepat tersenyum, "Eh? Itu... itu warna hijau, Rio. Seperti daun," jawab Kanaya.
"Bu Kanaya kenapa?" tanya Bu Yasmin.
"Nggak kenapa-napa, Bu," jawab Kanaya.
"Tapi, saya lihat Bu Kanaya seperti banyak pikiran," ucap Bu Yasmin.
"Sedikit, Bu," jawab Kanaya yang merasa tidak enak karena orang lain tahu tentang dirinya yang sedang banyak pikiran.
Di sela jam istirahat, Kanaya duduk di kursi kecil di ruang guru ia berkali-kali melirik ponselnya dan menimbang-nimbang apakah ia harus mengirim pesan pada Narendra atau menunggu saja. Namun, mengingat perkataan Narendra yang tidak suka dibantah, Kanaya merasa tenggorokannya kering.
'Narendra itu aneh, bagaimana bisa dia memberikan barang semahal itu ke aku sih, sekarang aku jadi gak tenang kan,' batin Kanaya.
Siang harinya, matahari terik menyengat ubun-ubun saat Kanaya berjalan kaki dari sekolah ke kosnya marena sepedanya mogok, tas kainnya yang berisi buku gambar terasa lebih berat dari biasanya, seberat pikirannya yang masih terbebani oleh jam tangan di balik lemari plastiknya.
Baru saja Kanaya membelok masuk ke gang sempit itu, langkahnya melambat. Di depan salah satu rumah warga, tampak sekelompok ibu-ibu sedang duduk di bangku kayu panjang sambil mengipasi diri dengan majalah bekas.
Percakapan mereka yang semula riuh tiba-tiba senyap begitu sosok Kanaya melintas, "Eh, ini dia orangnya. Baru pulang, Neng?" tanya Bu Ratna, pemilik warung kelontong yang paling vokal di gang itu, suaranya terdengar manis namun mengandung nada sindiran yang kental.
Kanaya tersenyum tipis, mencoba tetap sopan. "Iya, Bu. Baru selesai jam sekolah," jawab Kanaya.
"Wah, sekarang mah Bu Guru kita gayanya beda ya," celetuk Bu Lastri yang duduk di sebelah Bu Ratna sambil melirik Kanaya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kemarin malam itu siapa, Kanaya? Mobilnya mengkilap banget, sampai nutupin jalan gang. Ganteng lagi, kayak artis di televisi," tanyanya.
Kanaya meremas tali tasnya, "Itu... itu teman saya, Bu," jawab Kanaya.
"Teman apa teman?" potong Bu Ratna sambil tertawa yang dibuat-buat dan memicu tawa kecil dari ibu-ibu lainnya.
"Mana ada teman yang antar jemput pakai mobil mahal ke gang kumuh begini kalau nggak ada apa-apanya. Hati-hati loh Kanaya, zaman sekarang banyak laki-laki kaya cuma mau main-main aja. Apalagi kita ini orang kecil, jangan sampai mimpinya ketinggian nanti jatuhnya sakit," lanjutnya.
.
.
.
Bersambung.....