NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Tarik

Doli mulai curiga ketika kebetulan tidak lagi terasa acak.

Ia tidak langsung menamainya “pola”. Ia terlalu berpengalaman untuk tergesa-gesa memberi istilah. Pola adalah kata yang berat, dan begitu kata itu dipakai, ia menuntut tanggung jawab intelektual. Tapi ada sesuatu yang mengganggu cara pikirnya sejak beberapa hari terakhir, rasa ganjil yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika kebetulan.

Pagi itu Jakarta tidak menawarkan apa pun yang baru. Udara lembap, suara kendaraan bertumpuk, dan deretan notifikasi yang muncul sebelum ia sempat menyesap kopi pertama. Doli duduk di meja kerjanya di percetakan, jaket bomber hitam disampirkan di kursi, rokok menyala tanpa benar-benar ia isap. Di depannya, layar laptop menampilkan naskah revisi terakhir sebuah buku kebijakan publik.

Bahasanya rapi. Terlalu rapi.

Ia membaca satu paragraf, lalu berhenti. Bukan karena tidak paham, justru karena ia paham betul apa yang sedang dilakukan bahasa itu: menyederhanakan kenyataan agar bisa dikelola. Itu pekerjaan yang sudah ia lakukan bertahun-tahun. Tapi hari ini, kesadarannya tidak berhenti di teks.

Ia meminimalkan jendela dokumen, membuka aplikasi pesan, lalu masuk ke grup Random.

Doli tidak membaca dari bawah. Ia menggulir ke atas, pelan, seperti editor membaca ulang draf lama. Ia tidak mencari emosi. Ia mencari urutan.

Wawan: pulang ke Jawa, urusan identitas.

Ari: pertemuan langsung, catatan mulai keluar dari ruang pribadi.

Yanto: pertemuan tak disengaja di pelabuhan.

Wijaya: rotasi, arsip mulai “dirapikan”.

Kusuma: kerja abu-abu, risiko makin dekat ke tubuh.

Tidak ada satu pun yang berkoordinasi.

Tidak ada kesepakatan bersama.

Tidak ada ajakan heroik.

Namun semuanya bergerak.

Doli mematikan ponsel, bersandar ke kursi, menatap langit-langit ruang kerja yang penuh noda lembap. Di kepalanya, kalimat sederhana muncul, nyaris tanpa emosi:

Ini sudah bukan kebetulan.

Ia berdiri, mengambil kopi, lalu berjalan ke jendela kecil di sudut ruangan. Dari sana, Jakarta terlihat seperti sistem hidup raksasa… ribuan individu bergerak, berhenti, menyesuaikan, tanpa pernah benar-benar tahu siapa yang mengatur ritme keseluruhan. Doli pernah merasa nyaman dengan pandangan itu. Sekarang tidak lagi.

Sebagai editor, ia tahu satu hal yang sering dilupakan orang: makna tidak muncul dari satu peristiwa, tapi dari pengulangan. Dan pengulangan selalu punya arah.

Ia kembali ke meja, membuka laptop lagi… bukan naskah kerja, melainkan folder pribadi yang jarang ia sentuh di jam kantor. Di dalamnya, tersimpan potongan artikel, draf opini yang tidak pernah dikirim, catatan kecil tentang kebijakan yang tampak netral tapi berdampak luas.

Ia membuat folder baru.

Namanya singkat: Tarikan.

Doli tidak tahu kenapa ia memilih kata itu. Ia hanya tahu bahwa “tekanan” terlalu kasar, “konspirasi” terlalu sensasional, dan “kebijakan” terlalu jinak. Tarikan terasa tepat… sesuatu yang tidak memaksa, tapi sulit diabaikan.

Ia mulai menyalin potongan kecil:

tanggal, tempat, kejadian singkat.

Bukan analisis. Bukan kesimpulan.

Editor yang baik tidak memulai dari opini.

Ponselnya bergetar. Pesan pribadi dari Wawan masuk.

Wawan:

Dol,

formulirnya muter-muter.

Bahasanya bikin ragu.

Doli membuka foto yang dikirim. Membacanya pelan, baris demi baris. Ia mengenali gaya itu… bahasa yang tampak memberi pilihan, padahal semua pilihan mengarah ke satu titik yang sama.

Ia membalas dengan tenang.

Doli:

Yang ini intinya bukan minta bukti.

Mereka minta lo nyelarasin versi hidup lo.

Isi yang paling konsisten aja dulu.

Ia menambahkan satu kalimat lagi, lebih jujur.

Doli:

Kalau lo ragu, berarti bahasanya berhasil.

Setelah mengirim pesan itu, Doli terdiam. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman: ia sedang membantu orang lain melewati sistem yang ia sendiri mulai curigai.

Tapi justru di situlah perannya kini berada… bukan sebagai penolak, melainkan sebagai pembaca yang lebih waspada.

Menjelang sore, seorang rekan kerja menyebutkan kabar ringan tentang kebijakan baru di percetakan… penyesuaian distribusi, integrasi data, efisiensi. Doli hanya mengangguk, menyimpan kata-kata itu di kepala, menambahkannya ke dalam folder Tarikan tanpa perlu membuka laptop.

Malam itu, di rumah, Doli membuka kembali folder tersebut. Ia membaca ulang semuanya. Belum ada pola yang bisa ditunjuk. Belum ada kesimpulan yang layak ditulis. Tapi ada satu sensasi yang kini jelas terasa:

…semua jalur mengarah ke ruang yang sama, meski belum bertemu.

Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap pelan, lalu mengetik satu baris catatan untuk dirinya sendiri, bukan untuk dibagikan.

Ketika banyak orang bergerak tanpa komando, pertanyaannya bukan “siapa yang memanggil”, melainkan “apa yang menarik”.

Doli menutup laptop. Ia tahu, bagian tersulit bukan menemukan pola, melainkan memutuskan apa yang akan dilakukan setelah pola itu terlihat.

\=======

Doli terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena alarm, melainkan karena satu pikiran yang belum selesai.

Ia duduk di tepi ranjang, menyalakan rokok pertama hari itu, dan membiarkan asap memenuhi ruang kamar kos yang sempit. Jakarta masih setengah tidur. Suara kendaraan belum ramai. Di jam-jam seperti ini, pikirannya bekerja paling jernih… tanpa gangguan, tanpa kewajiban untuk segera mengambil sikap.

Ia membuka ponsel, bukan untuk membaca berita, tapi membuka kembali folder Tarikan.

Catatan-catatan di dalamnya tidak terlihat mengancam. Tidak ada grafik. Tidak ada statistik. Tidak ada kata-kata besar. Justru itu yang membuatnya gelisah. Semua yang ia kumpulkan adalah fragmen kehidupan… potongan kecil dari orang-orang yang ia kenal, bergerak di jalur masing-masing, tapi mengalami tekanan dengan pola serupa.

Doli terbiasa membaca manuskrip yang buruk sejak halaman pertama. Ia tahu cirinya: bahasa terlalu yakin, logika terlalu lurus, konflik terlalu rapi. Hidup tidak pernah seperti itu. Hidup selalu bocor di pinggirannya.

Dan hidup keenam orang ini sedang bocor di titik yang sama.

Ia berdiri, membuat kopi, lalu duduk di lantai dengan punggung bersandar ke kasur. Laptop terbuka di depannya, folder Tarikan menyala di layar. Ia menambahkan satu kolom baru di dokumen catatannya:

Respons.

Masih kosong.

Bukan karena belum ada respons, tapi karena ia belum tahu mana yang pantas dicatat sebagai respons, dan mana yang hanya refleks bertahan.

Wawan pulang.

Ari mencatat.

Wijaya menyimpan.

Yanto bertanya.

Kusuma menyimpang.

Doli menghapus baris terakhir, lalu menuliskannya ulang.

Kusuma terdorong.

Perbedaan kata itu membuatnya berhenti mengetik. Ia menatap layar lama. Sebagai editor, ia tahu satu kata bisa mengubah arah pemahaman. Menyimpang mengandung pilihan. Terdorong mengandung medan.

Dan medan, pikir Doli, selalu bekerja tanpa suara.

Siang harinya, Doli datang ke kantor lebih lambat. Ia duduk di ruang redaksi kecil, mendengarkan obrolan rekan-rekannya tentang proyek baru. Semua terdengar normal. Bahkan terlalu normal. Kata-kata seperti integrasi, efisiensi, sinkronisasi muncul lagi, berulang, seperti mantra yang diucapkan tanpa perlu diyakini.

Seseorang bertanya padanya, “Dol, menurut lo ini bakal ribet nggak?”

Doli menjawab refleks, “Tergantung lo berdirinya di mana.”

“Ya di tengah lah,” jawab orang itu santai.

Doli tersenyum tipis. Ia tahu, di tengah sering kali berarti tidak ingin terlihat terlibat, padahal tetap ikut terdorong oleh arus.

Sepulang kerja, Doli tidak langsung pulang ke kos. Ia berhenti di warung kopi kecil… bukan kafe, hanya beberapa meja plastik dan lampu kuning redup. Tempat seperti ini membuat orang bicara tanpa merasa sedang berpendapat.

Ia duduk, memesan kopi, membuka ponsel, lalu membuka grup Random.

Tidak ada pesan baru. Tapi justru di situlah Doli merasa perlu menulis.

Ia mengetik pelan, tidak terburu-buru.

Doli:

Gue nggak tahu kapan tepatnya ini mulai.

Tapi kayaknya kita semua lagi ketarik ke arah yang sama.

Bukan karena janji,

tapi karena ruang gerak kita makin mirip.

Ia berhenti. Membaca ulang. Tidak ada dramatisasi. Tidak ada tuduhan.

Ia menekan kirim.

Beberapa menit berlalu. Tidak ada balasan. Doli tidak kecewa. Ia tahu pesan seperti itu tidak dimaksudkan untuk dijawab cepat. Pesan itu bekerja seperti benih… tidak terlihat, tapi menetap.

Kopi di depannya mendingin. Ia menyeruput sedikit, lalu menatap jalanan. Motor lewat. Orang-orang berjalan. Tidak ada tanda bahwa apa pun sedang berubah. Dan justru di situlah letak kekuatannya.

Perubahan yang paling tahan lama, pikir Doli, selalu terjadi ketika orang-orang masih merasa hidup berjalan normal.

Malam itu, ia kembali ke kos, membuka laptop sekali lagi. Folder Tarikan kini terasa berbeda… bukan lagi tempat menyimpan kecurigaan, melainkan peta kasar yang belum diberi legenda.

Ia menambahkan satu catatan terakhir di bagian bawah dokumen, kali ini lebih personal, lebih jujur, dan tidak ia maksudkan untuk siapa pun kecuali dirinya sendiri:

Jika suatu hari kami bertemu di satu tempat,

itu bukan karena kami sepakat.

Itu karena berdiri di tempat masing-masing

sudah tidak lagi cukup aman.

Doli menutup laptop, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap. Tidak ada rasa takut yang mendesak. Yang ada justru kewaspadaan yang tenang… kesadaran bahwa titik tarik itu nyata, dan ia sudah berada cukup dekat untuk tidak bisa berpura-pura tidak merasakannya.

Ia tahu, setelah bab ini, tidak ada lagi yang bisa disebut kebetulan murni.

Gerak sudah terjadi.

Arah mulai terbaca.

Dan peran Doli bukanlah menarik siapa pun, melainkan memastikan bahwa ketika tarikan itu makin kuat, mereka setidaknya tahu ke mana mereka sedang bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!