NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 2 bagian 9

Di tempat lain Bima sedang mengawasi operasi pemindahan makam Wijaya Kusuma, dia duduk di dalam mobil pribadinya memastikan tidak ada satu pun polisi atau orang awam yang mencurigakan. Ia sudah menugaskan Andi untuk membuat surat penangkapan dan pengeledahan kepala sekolah, berharap semua kasus ini akan selesai dalam satu hari. Terdengar sangat mustahil namun ia akan berusaha, setidaknya dua sampel yang dibutuhkan harus terkirim hari ini. Untuk masalah pengeledahan sejujurnya ia tidak berharap banyak. Kepala sekolah itu jelas punya seseorang yang berkuasa di balik punggungnya, bukan hanya tidak dipecat karena kelalaian, ia juga masih menjabat setelah anaknya membunuh seseorang. Benar-benar bermuka tebal.

Ia memandang lahan pemakaman yang ditutup dengan tenda putih untuk menghalangi sinar matahari masuk, penggalian sudah dilakukan sejak matahari belum terlihat dan Stefani sudah ada di dalam sana sejak beberapa menit yang lalu. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang membuat Stefani bersikeras membawa ayah korban, mungkin ia ingin menunjukkan bahwa sample yang ia ambil benar-benar dari kuburan putrinya. Ia juga tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan sampel yang pasti diperlukan waktu yang cukup untuk menghabiskan satu kotak rokoknya.

Sebelum orang-orang yang bertugas mengali itu datang ia sudah terlebih dahulu datang untuk memastikan tidak ada jalan masuk lain yang bisa digunakan. Ia juga sudah memastikan orang-orang sekitar percaya bahwa makam Wijaya Kusuma ini memang akan dipindahkan ke kampung halamannya, dan sebagai penguat alibi ia juga sudah menyewa ambulan dan peti mati untuk memindahkan jasad. Beruntung keluarga Wijaya Kusuma ini memang meminta pertolongan, jika tidak ini akan menjadi tugas terniat yang pernah ia jalani. Bukan berarti selama ini ia tidak mengerjakan tugas secara bersungguh-sungguh, terkadang ia hanya malas.

Dia memandang ke depan dan memikirkan jenjang karirnya sebagai polisi, akan kah mengalami kemajuan atau malah kemunduran. Menjadi kepala dari unit kasus dingin memang bukan hal yang mudah, terkadang yang ia lakukan hanya melaksanakan tugas devisi lain yang kekurangan SDM. Entah mengapa tahun ini begitu banyak kasus kriminal berat yang membuat tugas di devisinya semakin menumpuk. Dulu saat Sarah menjadi atasannya ia tidak ingat ada kasus yang sebanyak ini.  Ini empat kali lipat dari kasus terbanyak yang pernah ia tangani. Itu membuatnya tidak pulang ke rumah beberapa hari ini, dan cukup membuatnya pusing.

Haruskah ia mempersiapkan bisnis seperti yang dilakukan Sarah, dan pensiun dini seperti yang dilakukan atasan lama Stefani. Sepertinya menyenangkan, tidak terbebani kasus, laporan atau penyidikan apa pun. Tapi itu terdengar bukan dirinya, meniru sesuatu yang tidak tahu apa hasilnya. Bagaimana jika ia hanya menghamburkan uang dan malah menjadi pengangguran? Itu terdengar mengerikan.

Setelah hampir 2 jam menunggu akhirnya Stefani keluar dari makam dengan sebuah kotak di dalam pelukannya. Ia menggunakan jaket hitam yang dilengkapi kupluk dan masker hitam yang hanya memperlihatkan kedua mata sipitnya. Ia membuka pintu samping dan duduk di bangku penumpang di sebelahnya Bima.

“Berapa banyak rokok yang kau habiskan pagi ini Pak, bajumu seperti pabrik tembakau”  keluh Stefani begitu duduk.

“Hanya satu bungkus” jawab Bima sambil memasang sabuk pengamannya.

“Dalam satu batang rokok terdapat 10-12 gram nikotin, dan dalam satu bungkus rokok ada 12 batang rokok, coba hitung berapa banyak nikotin yang terserap dalam tubuhmu di hari yang masih pagi ini” ucap Stevani sedikit kesal. Yang menjadi perokok aktif itu Bima tapi orang-orang yang ada di sekitarnya harus ikut  menanggung akibatnya.

“Maaf, aku tidak tidur semalaman dan sangat mengantuk pagi ini, tidak ada satu pun penjual kopi di tempat ini. Satu-satunya hal yang bisa membuatku menahan kantuk hanya rokok” jawab Bima tanpa rasa bersalah.

Stefani yang mendengar itu panik, ia segera meminta Bima untuk bertukar posisi.

“Biar aku yang menyetir, aku tidak mau menjadi salah satu korban yang akan dibedah oleh junior-junior ku untuk keperluan otopsi” ucap Stefani. Ia sudah melepas sabuk pengamannya dan hampir membuka pintu mobil.

“Tidak perlu, aku masih terlalu muda untuk mati” jawab Bima, tidak menyadari dia sudah hampir berkepala 4. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya menuju TKP selanjutnya.

Hanya ada keheningan selama perjalanan, Bima yang fokus dengan jalan dan Stefani dengan segala pikiran rumitnya. Melihat jasad yang sudah menjadi kerangka itu memang pekerjaannya terkadang bukan hanya kerangka, tubuh yang membusuk dan berbagai hal menjijikan lainnya sudah pernah ia hadapi, namun ada sesuatu yang menganggu pikirannya begitu melihat jasad pagi ini. Dalam sekilas pandang memang tidak ada yang aneh dalam kerangka itu, namun begitu ia menyentuh jasad nampak jelas ada bekas pukulan keras di bagian lehernya. Tengkorak itu menggelinding begitu saja, membuatnya meragukan dokumen terlapor yang ia baca.

“Bukankah Wijaya Kusuma ini meninggal karena bunuh diri?” Tanya Stevani memecah keheningan.

“Dalam dokumen terlapor memang seperti itu, tapi siapa yang tahu. Kenapa?” jawab Bima. Dia membelokkan mobilnya ke sebuah pemukiman kecil yang jauh dari pusat kota. .

“Tapi jelas itu bukan bunuh diri, lehernya patah dan itu bukan karena jatuh atau terbentur. Itu jelas luka pukul benda tumpul” ucap Stevani menerawang.

“Dari situ saja sudah jelas ada manipulasi data, kau tahu aku tidak berharap dugaanku benar dalam kasus ini” sahut Bima.

“Ya, kau pasti akan dianggap pengkhianat jika kasusnya benar seperti dugaan” sahut Stefani. Bima tidak menjawab jadi ia mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang kini terasa tidak rata..

“Jadi apa kasus yang satu ini? Mengapa perlu diotopsi?”  tanya Stevani lagi.

“Kenakalan remaja mungkin. Gadis ini sudah meninggal sebelum kenaikan kelas dan umurnya baru 16 tahun. Dia meninggal karena kecelakaan, tapi tidak ada orang yang disalahkan dalam kasus ini karena saksi mata dan teman yang bersamanya mengatakan kalau gadis itu jatuh sendiri karena sebuah batu di jalan sebelum masuk ke kolong sebuah truk. Dia tidak terluka tapi terkena serangan panik dan asma secara bersamaan membuatnya mati seketika” jelas Bima.

“Tidak ada otopsi atau penyelidikan?”  tanya Stevani.

“Tidak, kasus ini tidak terlapor sebagai kecelakaan lalu lintas dan motornya pun baik-baik saja. Tidak ada kerusakan. Namun beberapa bulan terakhir keluarganya membongkar kamar korban dan menemukan sebuah tes kehamilan dengan hasil positif dan beberapa alat kontrasepsi, mereka curiga ada unsur pemerkosaan atau kejahatan lainnya. Keluarga itu mengenal putri sebagai gadis yang baik, bagaimana mungkin tiba-tiba hamil dan meninggal” jelas Bima lagi. Dia menghentikan mobilnya di sebuah pemakaman kecil yang tidak jauh dari bantaran sungai, menarik rem tangannya dan mematikan mesin.

“Jadi yang menjadi tersangka yang dicurigai itu mungkin pacar korban? Kasus pemerkosaan punya hukum yang sedikit tidak adil, pelakunya hanya akan dihukum kurang dari 2 tahun sementara korbannya harus menanggung sangsi moral dan psikis seumur hidup. Beruntung korban dalam kasus ini meninggal, setidaknya dia tidak akan hidup dalam penderitaan” ucap Stefani. Ia ingat ada begitu banyak kasus pemerkosaan yang telah ia tangani dan korban akhirnya bunuh diri karena tidak kuat menjalani hidup penuh tekanan.

“Ya mungkin tersangkanya adalah pacarnya. Tapi menurut keterangan keponakanku, gadis ini tampak tidak tertekan. Dia yang dikenal keluarganya berbeda dengan yang dikenal oleh teman-temannya. Jika keluarganya mengenalnya sebagai gadis yang lugu, teman-temannya tidak berkata demikian. Dia terkenal karena sifatnya yang urakan dan suka bergonta-ganti pasangan padahal usianya masih 16 tahun. Orang tuanya tidak secara langsung meminta otopsi tapi begitu aku datang kemarin mereka dengan semangat meng’iya’ kan permintaanku. Mungkin pihak keluarga juga mencurigai adanya kasus pemerkosaan” jelas Bima lagi.

“Itu artinya kita bisa membawa jasadnya ke rumah sakit?” tanya Stefani.

“Apakah itu diperlukan, bisakah kau melakukan hal yang tadi kau lakukan? Mengambil sampel dan tidak mencurigakan” jawab Bima sedikit kaget.

“Sebenarnya dalam kasus ini lebih efektif jika semua jasadnya dibawa ke Rumah Sakit. Tapi jika permintaanmu maka aku lakukan seperti yang sebelumnya. “

Mereka keluar dari mobil dan mendekati sebuah makam yang telah ditandai dengan tenda putih seperti sebelumnya. Kedua orang tua korban ada disana dengan beberapa orang yang sudah melakukan penggalian.

“Bapak dan Ibu jika berkenan bisa melihat langsung apa yang saya lakukan. Karena waktu dan kendaraan yang terbatas kami hanya akan mengambil beberapa bagian tubuh jasad untuk penelitian. Mohon pihak keluarga untuk ikhlas dan kami akan berusaha mengungkapkan kasus yang terjadi” ucap Stefani dengan nama lembut. Bima tidak pernah mendengar bahasa formal yang sehalus itu, apa bergaul dengan jasad membuat bahasanya lebih tertata?

Pihak keluarga hanya mengangguk dan berusaha menahan tangis. Bima tidak peduli dan Stefani sebenarnya juga demikian, tapi ia lebih memilih tersenyum kecil. Dia mengambil bagian-bagian yang diperlukan dengan teliti dan cepat. Tidak seperti kasus sebelumnya yang membutuhkan waktu lama, Stevani hanya perlu waktu setengah jam untuk mengambil sampel. Dia dengan cekatan mengamankan barangnya dan segera pergi dari makam. Bima sedikit heran melihatnya namun ia tidak bersuara dan segera mengantarnya ke Rumah Sakit.

Tepat setelah jam makan siang usai Stefani memulai shift kerjanya dan Bima akhirnya ke kantornya. Ia membuka pintu kantor dengan suara ‘brakk’ keras membuat Andi yang tengah meneliti sebuah kasus berjangkit kaget. Dinding di sekitarnya sedikit bergetar membuat jam dinding tua di atas sofa tampak bergoyang.

“Apakah kau sudah melakukan tugas yang aku katakan?” tanya Bima masih berdiri di ambang pintu.

“Tugas apa pak?” Tanya Andi bingung.

“Apa maksudmu tugas apa, apa kau hanya bersantai sejak tadi?” Tanya Bima marah.

Andi terdiam dan mencoba mengingat apa yang diinstruksikan Bima pagi ini. Ia menatap Bima dengan pandangan takut, ini pekerjaan pertamanya jangan samapi memberi kesan buruk pada atasannya. Ia belum tahu benar Bima itu orang seperti apa, ia bisa secepat kapan saja.

“Oh, aku ingat Pak. Aku sudah membuat surat perintah atas persetujuan kepala kepolisian pusat Bapak Sigit, ia kebetulan pagi ini berkunjung jadi ia meminta persetujuannya” jawab Andi setelah jeda beberapa saat. Ia menyerahkan map kepada Bima yang kebingungan. Tidak tertulis tentang waktu yang diperlukan untuk penyelidikan itu artinya ia bisa bekerja selama mungkin hingga kasusnya benar-benar tuntas.

“Kenapa kau meminta izin pada atasan super, apa Indira tidak memberikan izin tugas ini?”  Tanya Bima. Otaknya sudah mulai menyusun kecurigaan terhadap atasannya. Jika ia tidak memberikan izin kemungkinan besar ia juga terlibat.

“Atasan super? Siapa itu atasan super?”  Tanya Andi bingung.

“Kepala kepolisian pusat,” jawab Bima.

“Oh, dia disebut atasan super, masuk akal pangkatnya lebih tinggi dari atasan yang lain. Tapi bukan seperti itu pak, pagi ini aku sudah meminta pada Bu Indira untuk membuat surat itu tapi dia sedang tidak ada di tempat dan rekan yang ditugaskan pun terkesan mengulur waktu dan enggan memberikan izin. Kebetulan saja Bapak Sigit datang jadi aku sekalian membuat laporan yang tidak mungkin ia tolak” jelas Andi takut-takut. Wajah Bima tampak tidak senang bagaimana jika dia marah?

“Bagus, kita punya surat yang lebih kuat dari yang kita bayangkan. Cepat berkemas dan segera pergi ke TKP sebelum jam kerja habis. Aku tidak ingin mengulur waktu, semakin cepat tugas kita selesai semakin cepat pula aku tidur”  ucap Bima. Ia belum sempat masuk ke dalam ruangan namun sudah pergi kembali, Andi yang merasa tertinggal pun segera berlari hanya untuk menabrak dispenser yang diletakan dekat dengan pintu.

“Pak tunggu aku”  teriak Andi.

Bima sudah duduk di kursi penumpang samping pengemudi membiarkan Andi mengambil kendali mobil. Ia meneliti dokumen itu dan menyeringai kecil begitu melihat izin kasus yang sangat besar. Jika ia meminta izin pada Indira, wanita itu tidak akan memberikan akses sebesar ini.

“Atasan super mengetahui apa yang Bapak lakukan dalam kasus kemarin jadi ia memberikan izin pada bapak untuk meneliti kasus ini hingga ke akarnya. Apabila ada kasus lain yang menyertainya bapak juga diperbolehkan untuk mengambil keputusan terbaik yang tidak merugikan kepolisian” jelas Andi begitu mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman kantor kepolisian.

Itu memang terdengar seperti perintah dengan izin yang sangat kuat namun bukankah itu terdengar seperti membebankan semua pekerjaan pada mereka? Tapi Bima tidak peduli, ia memang sudah terbiasa melakukan kasus berat jadi surat perintah seperti itu malah memudahkannya. Dia tidak akan pernah mendapatkan surat perintah seperti itu jika Indira yang menugaskannya.

“Aku juga sudah meminta akses kepada Atasan super untuk membongkar kembali kasus Wijaya Kusuma. Pada awalnya dia marah namun akhirnya dia memberikan kita izin, tapi jika kita tidak menemukan kejanggalan dalam kasus ini mungkin kita akan dibenci oleh semua orang di divisi kriminal” jelas Andi lagi. Bima dengan segera membaca semua dokumen dengan penuh semangat. Benar saja ada surat izin untuk membuka kembali kasus Wijaya Kusuma, dengan begitu tidak perlu lagi sembunyi.

“Bagus” puji Bima.

Andi yang mendapat pujian pertamanya menyeringai kecil. Pagi ini ia tidak bersemangat kerja karena Bima meninggalkannya dengan tugas untuk meneliti dokumen. Padahal ia berharap ikut serta dalam penyidikan lapangan, mungkin dalam kasus selanjutnya ia akan ikut dilibatkan. Ia tidak sabar menghadapi kasus selanjutnya, bukan berarti ia berharap ada kasus lainnya.

Andi membelokkan mobilnya memasuki gerbang bertuliskan ‘Celestial School’, menunjukkan kartu anggota dan lencana kepolisiannya pada Satpam yang bertugas dan masuk begitu mendapatkan izin. Ini pertama kalinya ia memasuki tempat ini, dulu ia sempat ingin bersekolah disini tapi karena biayanya yang terlalu mahal orang tuanya tidak sanggup.

Ia mengamati sekitar seperti orang bodoh.

“Bagaimana bisa ada sekolah yang dibangun di tengah hutan?” tanya Andi.

“Kita tinggal di ibukota dan ini hanya hutan buatan, berhenti bersikap seperti orang bodoh dan jangan berisik”  jawab Bima agak kesal.

“Siap Pak” seru Andi.

Andi memarkirkan mobilnya di lahan parkir yang saat ini masih kosong. Jam istirahat sudah berlalu sejak beberapa menit yang lalu dan masih ada 4 jam mata pelajaran tersisa untuk hari ini, membuat suasana halaman cenderung sepi. Hanya ada beberapa siswa yang terlihat berkeliaran dan beberapa staf kebersihan.

“Woah, pantas saja uang gedungnya mahal sekolahnya sebesar ini” ucap Andi tanpa sadar.

“Aku bilang jangan berisik” bentak Bima lagi.

Mereka segera menyiapkan alat tempur, Bima dengan dokumen dan senapannya, Andi dengan borgol dan senjata yang mungkin diperlukan untuk mengatasi tersangka kabur. Mereka berjalan dengan langkah berwibawa menuju lobi, memberi informasi pada beberapa staf dan menerobos masuk ke ruang kepala sekolah. Bima mengerutkan dahinya begitu aroma bunga sedap malam memenuhi indra penciumannya, namun ia tidak peduli.

“Bapak Indra Hermawan, kami melakukan penangkapan atas tuduhan pengadaan dan pengedaran rokok ilegal yang Anda kelola. Ini adalah surat tugas resmi kami, bapak harus ikut kami ke kantor polisi. Anda berhak untuk diam, membela diri dan didampingi pengacara” ucap Bima sambil menunjukkan dokumen resmi itu.

Andi dengan siap memborgolnya dan segera membawanya ke mobil polisi. Mengabaikan protes yang kepala sekolah berikan dan sekumpulan guru dan staf yang mulai ribut.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!