Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Jasmine, membentuk garis-garis emas di atas lantai marmer. Di dalam boks bayi, Shaka sudah terbangun sejak fajar menyingsing, mengeluarkan suara cooing lucu sambil menendang-nendang udara. Suster Lastri dengan sigap sudah menggendong bayi mungil itu, membawanya keluar kamar agar sang ibu bisa beristirahat lebih lama.
Namun, hingga jam menunjukkan pukul delapan pagi, Jasmine belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih meringkuk di balik selimut tebal, tubuhnya meringkuk seperti janin. Wajahnya yang biasanya cerah saat menyapa pagi kini terlihat kuyu, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki yang tegas dan berwibawa mendekat. Pintu kamar yang sedikit terbuka didorong pelan. Awan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung rapi hingga siku—ia sudah siap berangkat ke kantor, namun langkahnya tertahan saat melihat siluet Jasmine yang masih statis di atas ranjang.
Awan mengernyit. Biasanya, jam segini Jasmine sudah sibuk di dapur atau setidaknya duduk di teras sambil menjemur Shaka. Pria itu melangkah masuk, aura judesnya langsung terpancar meski matanya memancarkan kecemasan.
"Lo kenapa?" tanya Awan singkat, suaranya berat dan memenuhi keheningan kamar.
Jasmine sedikit tersentak, ia menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi dagu. Ia menoleh perlahan ke arah Awan dengan mata yang tampak sayu. "Nggak papa, Kak... cuman capek aja," jawabnya lirih. Suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Awan tidak lantas pergi. Ia justru berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping ranjang. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Jasmine dengan gerakan yang sangat tiba-tiba.
"Nggak panas," gumam Awan. Ia kemudian menarik kursi nakas dan duduk di sana, melipat tangan di dada sambil menatap Jasmine tajam. "Capek kenapa? Shaka rewel semalem? Kan ada Suster Lastri. Lo jangan sok-sokan mau ngerjain semuanya sendiri kalau ujung-ujungnya tumbang kayak gini."
Jasmine menghela napas panjang, ia membalikkan tubuhnya menghadap Awan. "Shaka nggak rewel, Kak. Cuman... entah kenapa badanku rasanya berat banget. Mungkin karena efek kemarin magh kambuh, jadi sisa lemasnya masih ada."
Awan mendengus kasar. "Makanya, kalau gue suruh makan ya makan! Jangan nunggu disuapin terus kayak anak kecil!" omelnya.
Meskipun kata-katanya pedas, Awan justru bangkit dan merapikan bantal di belakang punggung Jasmine agar wanita itu bisa duduk lebih nyaman. Ia kemudian mengambil segelas air hangat yang ada di meja nakas dan menyodorkannya.
"Minum. Bibir lo kering kayak kerupuk," perintah Awan.
Jasmine menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat jemarinya bersentuhan dengan jari Awan, ada aliran listrik statis yang membuat Jasmine segera menarik napas dalam. Ia meminum air itu perlahan, sementara Awan terus memperhatikannya tanpa berkedip.
"Kakak nggak berangkat kantor?" tanya Jasmine pelan.
"Gimana mau berangkat kalau rumah isinya orang lemes semua?" jawab Awan ketus. Ia merogoh ponsel di sakunya, mengetik pesan singkat ke sekretarisnya untuk membatalkan rapat pertama. "Gue tungguin sampe lo sarapan. Suster Lastri lagi mandiin Shaka di bawah, habis itu dia bakal bawa sarapan buat lo."
"Kak, jangan gitu. Aku beneran nggak papa, cuma butuh tidur sebentar lagi aja," protes Jasmine merasa tidak enak.
"Diem, Jasmine. Gue nggak suka dibantah," potong Awan telak.
Awan kembali duduk di kursi samping ranjang. Suasana mendadak menjadi canggung. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang dingin, melainkan keheningan yang sarat akan sesuatu yang tidak terucapkan.
Awan menatap jari-jari Jasmine yang memutar-mutar pinggiran gelas. Tanpa sadar, ia teringat momen di rumah sakit kemarin, saat ia merasakan ketakutan luar biasa kehilangan wanita di depannya ini.
"Jas..." panggil Awan pelan, nada judesnya hilang entah ke mana.
"Ya, Kak?"
"Lo... lo kangen Hero?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Awan, membuat Jasmine tertegun.
Jasmine menunduk, matanya berkaca-kaca. "Setiap hari, Kak. Kadang kalau liat Shaka senyum, aku langsung inget Mas Hero. Rasanya nggak adil dia nggak bisa liat anaknya tumbuh."
Awan terdiam. Ada rasa perih yang aneh di dadanya. Ia juga merindukan kembarannya, tapi ada rasa egois kecil yang mulai tumbuh—rasa ingin menjadi sosok yang bisa menghapus air mata itu, bukan sekadar menjadi pengganti.
"Hero orang baik. Dia pasti tenang liat lo kuat jaga anaknya," ucap Awan berat. Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya mengusap punggung tangan Jasmine yang ada di atas selimut. "Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Lo nggak sendirian. Ada gue. Gue... gue bakal selalu ada di sini."
Jasmine mendongak, menatap mata Awan yang kini terlihat sangat tulus. "Makasih, Kak Awan. Kadang aku mikir, kalau nggak ada Kakak, mungkin aku udah hancur."
Awan segera menarik tangannya kembali, wajahnya kembali kaku. "Ya jelas. Lo kan ceroboh. Kalau nggak ada gue, lo mungkin udah pingsan di jalanan pas ngidam rollercoaster tempo hari," balas Awan mencoba mencairkan suasana dengan sisa-sisa judesnya.
Jasmine tertawa kecil, suara tawa yang membuat Awan diam-diam merasa lega.
Tak lama kemudian, Suster Lastri masuk membawa nampan berisi bubur kacang hijau dan roti bakar. Di gendongannya, Shaka tampak sudah sangat rapi dan wangi.
"Eh, Bapak masih di sini?" tanya Suster Lastri ramah.
"Lagi nungguin orang manja ini sarapan, Sus," sindir Awan sambil melirik Jasmine.
Suster Lastri terkekeh, ia mendekati Jasmine. "Ini Mbak, Shaka-nya kangen. Dari tadi di bawah ngoceh terus."
Suster Lastri menyerahkan Shaka ke pelukan Jasmine. Begitu berada di dekapan ibunya, Shaka langsung tertawa lebar. Tangan kecilnya meraih-raih ke arah wajah Jasmine, lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah Awan yang duduk di sampingnya.
"Ya... yaaa... Yah!" gumam Shaka dengan suara cadelnya yang khas bayi mulai belajar bicara.
Ruangan itu mendadak hening. Jasmine membeku. Suster Lastri menutup mulutnya karena kaget. Sementara Awan, pria yang biasanya tak tergoyahkan itu, membelalakkan matanya.
"Shaka... bilang apa tadi?" bisik Jasmine tak percaya.
"Yah! Ayah!" Shaka kembali mengulanginya sambil menarik-narik ujung kemeja Awan, matanya yang bulat menatap Awan penuh binar.
Awan merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ada rasa haru yang luar biasa hebat menghantam dadanya. Ia menatap Shaka, lalu menatap Jasmine yang kini sudah menangis haru.
"Dia... dia panggil gue?" tanya Awan, suaranya bergetar hebat.
Tanpa mempedulikan gengsinya lagi, Awan mengambil Shaka dari gendongan Jasmine. Ia mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, lalu memeluknya erat di dadanya. Pria judes itu kini menangis, air mata jatuh di bahu kecil Shaka.
"Iya, Jagoan... ini Ayah. Eh, maksudnya Om... tapi iya, Om di sini," gumam Awan parau.
Jasmine menyeka air matanya, menatap pemandangan indah di depannya. Meskipun Shaka mungkin salah mengenali ayahnya, tapi Jasmine tahu, di hati Shaka, Awan telah benar-benar mengisi kekosongan itu. Dan di hati Jasmine sendiri, benih-benih perasaan yang dulu ia tepis kini mulai berakar dengan sangat kuat.