NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: AMBANG DERMAGA, AMBANG AIR MATA

Pelabuhan Tenau masih diselimuti kabut tipis saat Jonatan tiba dengan menumpang truk pengangkut sapi yang dipenuhi bau kotoran dan jerami. Udara laut yang asin bercampur dengan aroma solar dari mesin kapal-kapal besar yang sedang memanaskan mesin. Di kejauhan, kapal feri tua yang akan membawanya menjauh dari tanah Timor tampak seperti raksasa besi yang siap menelan segala kenangan masa kecilnya.

Jonatan turun dari bak truk, kakinya terasa kaku. Ia menggendong tas kainnya erat-erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, seluruh hidupnya akan tercerai-berai di atas aspal dermaga. Di belakangnya, Pak Berto dan Bu Maria berjalan dengan langkah yang diseret beban batin. Adik-adiknya tidak ikut; mereka ditinggalkan di rumah karena Pak Berto tidak ingin suara tangis anak kecil meruntuhkan sisa-sisa ketegaran yang mereka bangun sepanjang malam.

"Kapalnya besar sekali, Jon," suara Bu Maria bergetar. Ia menengadah, menatap dinding besi kapal yang berkarat di sana-sini. Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun semalam.

Jonatan hanya mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa seperti disumbat segenggam pasir kering. Ia ingin bicara, ingin meyakinkan ibunya bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi kata-kata itu terasa seperti kebohongan yang terlalu besar untuk diucapkan.

Mereka berdiri di tengah keriuhan dermaga. Orang-orang berlarian memanggul kardus, para pedagang asongan meneriakkan jualan mereka, dan klakson kapal sesekali meraung—sebuah suara yang terdengar seperti jeritan keputusasaan bagi Jonatan. Di antara ratusan orang itu, mereka bertiga tampak seperti pulau kecil yang sunyi.

Pak Berto menarik Jonatan sedikit menjauh dari kerumunan. Lelaki tua itu mengeluarkan seplastik kecil jagung titi dan sebotol air mineral yang diisi air sumur. "Makan ini pelan-pelan di atas nanti. Jangan kau boroskan uangmu untuk jajan di kapal. Harga air di sana bisa mencekik leher."

Jonatan menerima bungkusan itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan ayahnya. Untuk pertama kalinya, Jonatan menyadari betapa ringkihnya tangan yang selama ini ia anggap sekuat baja itu. Tangan Pak Berto dingin, dan ada gemetar halus yang tidak bisa lagi disembunyikan.

"Bapak," bisik Jonatan. "Kalau nanti Tuan Markus datang lagi..."

"Jangan sebut nama itu di sini," potong Pak Berto cepat. Ia menatap lurus ke mata anaknya. "Hari ini, kepalamu harus kosong dari urusan desa. Penuhi saja kepalamu dengan angka-angka dan buku-buku yang kau cintai itu. Biar urusan Markus jadi urusan kulitku dengan tanah ini. Kau mengerti?"

Jonatan menelan ludah. Ia mengerti. Ayahnya sedang memintanya untuk menjadi egois demi masa depan.

Suara peluit kapal terdengar panjang dan memekakkan telinga. Pertanda bahwa gerbang besi feri akan segera diangkat. Jonatan melihat para penumpang mulai berdesakan naik ke tangga. Inilah saatnya. Ambang antara rumah dan dunia yang tidak ia kenal.

Bu Maria tiba-tiba merangkul Jonatan. Ia memeluk putranya begitu erat, hingga Jonatan bisa merasakan detak jantung ibunya yang tidak beraturan di balik daster batiknya yang sudah tipis. Tidak ada tangisan histeris, hanya isak kecil yang tertahan di ceruk leher Jonatan. Bau minyak kayu putih dan asap dapur yang selalu melekat pada ibunya seolah terserap ke dalam ingatan Jonatan—sebuah bau yang ia tahu akan sangat ia rindukan saat ia kedinginan di kota orang nanti.

"Jangan lupa sembahyang, Jon. Jangan biarkan perutmu kosong terlalu lama. Kalau kau sakit, tidak ada siapa-siapa di sana," bisik Bu Maria di sela napasnya yang sesak.

Jonatan melepaskan pelukan itu perlahan. Ia beralih ke ayahnya. Pak Berto tidak memeluknya. Ia hanya menepuk pundak Jonatan dua kali, sebuah tepukan yang berat dan penuh arti.

"Pergilah. Jangan menoleh," ujar Pak Berto. Suaranya pecah di ujung kalimat.

Jonatan membalikkan badan. Ia mulai melangkah menuju tangga besi kapal. Setiap langkah terasa seperti mencabut akar dari tanah. Saat ia mencapai pertengahan tangga, dorongan dari penumpang lain membuatnya hampir terjatuh. Ia menstabilkan dirinya, tangan kirinya mencengkeram besi kapal yang dingin dan lembap.

Ia melanggar perintah ayahnya. Di puncak tangga, sebelum masuk ke dalam dek, Jonatan menoleh.

Di bawah sana, di antara lautan manusia, ia melihat dua sosok itu. Pak Berto berdiri tegak dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana, sementara Bu Maria menutupi mulutnya dengan ujung kain selendang. Mereka tampak begitu kecil di bawah bayangan kapal raksasa itu. Jonatan bisa melihat bibir ibunya bergerak, mungkin sedang merapalkan doa-doa kuno yang biasa ia ucapkan saat panen gagal.

Tepat saat itu, mesin kapal menderu lebih keras. Air laut di bawah dermaga mulai bergolak, berbuih putih dan kotor. Jarak antara dermaga dan kapal perlahan melebar. Sejengkal, dua jengkal, satu meter.

Jonatan berlari ke arah pagar dek paling belakang. Ia melambaikan tangannya dengan liar. "Bapak! Mama!" teriaknya, tapi suaranya hilang ditelan suara mesin dan riuh angin laut.

Ia melihat ayahnya akhirnya mengangkat tangan, melambai pelan. Sebuah lambaian yang terlihat seperti tanda selamat tinggal sekaligus sebuah penyerahan. Jonatan terus menatap hingga sosok orang tuanya mengecil menjadi titik-titik hitam, sampai akhirnya pelabuhan Tenau hanya menjadi garis tipis di cakrawala.

Kini, yang ada di hadapannya hanyalah laut lepas yang biru pekat, tak berujung, dan penuh ketidakpastian.

Jonatan duduk di sudut dek yang berisik, beralaskan tas kainnya. Ia membuka bungkusan jagung titi pemberian ayahnya. Ia mengambil sebutir, memasukkannya ke mulut. Rasanya asin, bukan karena bumbunya, tapi karena setetes air mata yang tanpa sadar jatuh ke sana.

Di tengah guncangan kapal yang membuat perutnya mual, Jonatan membuka buku catatannya. Di sana, di halaman baru yang masih bersih dari debu Oetimu, ia menulis dengan tinta yang sedikit meleber karena goyangan kapal:

11 Februari. Aku telah meninggalkan tanahku. Sekarang, aku tidak punya rumah untuk pulang, kecuali jika aku membawa kemenangan.

Ia menutup buku itu, memeluk lututnya, dan membiarkan angin laut yang dingin menghapus sisa air matanya. Di atas kapal feri yang tua dan berkarat itu, Jonatan menyadari satu hal: ia bukan lagi seorang anak laki-laki. Ia adalah sebuah taruhan yang sedang melaju menuju meja judi bernama masa depan. Dan ia tidak boleh kalah..

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!