NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Sinar matahari yang menerobos celah jendela kosannya terasa begitu menyengat. Nana mengerang kecil, mencoba menutupi wajahnya dengan bantal. Matanya terasa sangat berat karena semalam ia harus lembur di kantor.

Tiba-tiba, dering ponsel di atas nakas memecah keheningan. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Nana meraba ponselnya.

"Halo..." suara Nana serak khas orang bangun tidur.

"Haruna, flashdisk yang semalam datanya kita kerjakan di mana kamu taruh?" Suara bariton Abian langsung menyerang pendengarannya tanpa basa-basi.

Nana menguap lebar, mencoba mengingat-ingat. "Ada di tas kerja Bapak... di kantong depan bagian dalam. Cek aja dulu, Pak," jawabnya malas.

"Oke." Klik. Sambungan terputus begitu saja.

Nana menghela napas panjang dan kembali memejamkan matanya, berniat melanjutkan tidur setidaknya tiga puluh menit lagi. Namun, baru saja ia mulai terlelap, dering ponsel kembali muncul.

"Apa lagi sih, Pak! Kan sudah saya bilang ada di tas!" seru Nana kesal tanpa melihat layar, mengira itu adalah panggilan lanjutan dari bosnya yang pelupa.

Namun, bukan suara Abian yang menjawab.

"............"

Dunia Nana seketika terasa berhenti berputar. Langit-langit kosannya tampak berbayang. Lidahnya kelu, hanya sanggup membalas dengan suara yang nyaris hilang.

"Baik, Bu... saya akan segera ke sana," bisik Nana parau.

Begitu sambungan terputus, pertahanannya runtuh. Air mata Nana turun dengan sendirinya, membasahi bantal yang tadi ia gunakan untuk tidur. Tidak ada teriakan, hanya isak tangis sesak yang menyakitkan.

Tanpa menunggu waktu lagi, Nana bangkit dan memasukkan bajunya sebagian ke dalam tas dengan gerakan yang serampangan. Tangannya gemetar hebat, berkali-kali baju yang ia pegang terjatuh ke lantai. Pikirannya kosong..

Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan, akhirnya Nana sampai di depan sebuah rumah tua yang sudah lama tidak ia tempati. Sejak Nana memutuskan untuk merantau dan bekerja keras di kota, sang ibu lebih memilih tinggal di panti jompo agar tidak merepotkan putrinya dan karena rindu akan teman bicara.

Kini, rumah yang biasanya sunyi dan berdebu itu tampak ramai oleh orang-orang. Bendera kuning sudah terpasang di depan pagar, dan suara lantunan ayat suci terdengar sayup-sayup dari dalam.

Hati Nana mencelos. Kenyataan yang coba ia sangkal sepanjang jalan kini terpampang nyata di depan mata. Nana tak sanggup lagi menahan diri ia langsung berlari masuk menerobos kerumunan orang dengan tangis yang pecah seketika.

"Ibu...! Ibu...!" teriaknya parau saat melihat tubuh yang sudah terbujur kaku ditutupi kain jarik di tengah ruangan.

Tubuh Nana luruh ke lantai, tenaganya seolah habis menguap. Sebelum ia benar-benar terjatuh, sebuah pelukan hangat segera menyambutnya. Ibu panti, sosok yang selama ini merawat ibunya dengan penuh kasih, memeluk Nana dengan sangat erat.

"Sabar, Nana... Sabar, Nak. Ibu sudah tenang, dia sudah tidak sakit lagi," ucap Ibu panti menenangkan Nana sambil mengusap punggungnya yang bergetar hebat karena isak tangis yang tak kunjung berhenti.

Nana hanya bisa menyembunyikan wajahnya di pundak Ibu panti. Penyesalan karena terlalu sibuk bekerja dan jarang pulang terasa mencekik lehernya. Ia merasa menjadi anak yang gagal karena tidak berada di samping ibunya di saat-saat terakhir.

"Ibu ... Nana belum sempat bahagiain Ibu..." rintih Nana di sela tangisnya.

Pelayat yang datang silih berganti. Namun, bagi Nana, ruangan itu terasa kosong. Ia hanya bisa duduk bersimpuh di samping jenazah ibunya, meratap dalam diam yang menyayat hati. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak perih di pipinya yang pucat. Ia terus memandangi wajah damai ibunya, seolah berharap ini semua hanyalah mimpi buruk di tengah tidurnya yang singkat.

Tiba-tiba, suasana di pintu depan sedikit terusik. Kerumunan orang perlahan memberi jalan bagi seorang laki-laki paruh baya yang baru saja tiba. Meskipun rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis, wajahnya masih kelihatan muda, segar, dan menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan berada. Pakaiannya rapi, namun raut wajahnya tampak penuh dengan kegelisahan yang mendalam.

Laki-laki itu melangkah pelan mendekati Nana yang masih bersimpuh. Ia berhenti tepat di belakang gadis itu, lalu berbisik dengan suara yang bergetar.

"Nana..." panggil pria itu lembut.

Nana mendongak. Begitu matanya menangkap sosok pria di depannya, tubuhnya menegang seketika. Kesedihan yang tadinya memenuhi matanya, kini berganti menjadi tatapan benci yang langsung ia berikan.

"Untuk apa Anda datang ke sini?" tanya Nana dengan suara yang rendah namun penuh dengan penekanan, mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sedang memperhatikannya.

Laki-laki itu mencoba mendekat satu langkah lagi. "Nana, Papa hanya ingin..."

"Jangan sebut diri Anda dengan kata itu di rumah ini!" potong Nana tajam, jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu keluar.

"Ibu sudah tenang. Kehadiran Anda di sini hanya akan mengotori kenangan terakhirnya. Pergi sekarang!"

......................

Abian mondar-mandir di ruangannya dengan raut wajah yang luar biasa kesal. Berkali-kali ia melirik jam tangannya, lalu beralih ke kursi asistennya di luar ruangan yang tampak kosong melongpong.

Ini sudah lewat empat jam dari jam masuk kantor biasanya, dan Nana tidak masuk kerja tanpa keterangan apa pun.

"Benar-benar ya, Haruna. Berani-beraninya dia menghilang." gumam Abian sambil menggeram rendah.

Ia menyambar ponselnya untuk yang keseratus kalinya. Layarnya menunjukkan daftar panggilan keluar yang semuanya ditujukan ke satu nama: Nana. Namun, tak satu pun yang diangkat. Pesan pesan yang ia kirim hanya berakhir dengan centang satu. Telepon dan pesannya sama sekali tidak dibalas.

"Sial!" Abian menghempaskan ponselnya ke atas meja kerja.

Pikirannya mulai ke mana-mana. Ia ingat bagaimana ketusnya ia berbicara tadi pagi saat menanyakan soal flashdisk. Apakah Nana sakit hati? Apakah Nana memutuskan untuk berhenti bekerja. Atau jangan-jangan... Nana sedang asyik bersama laki-laki yang katanya sedang dekat dengannya itu?

Davin tiba-tiba masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. "Waduh, kenapa muka lo kayak mau makan orang, Bi? Mana Nana?"

"Nggak tahu! Hilang ditelan bumi!" bentak Abian frustrasi.

"Loh? Kok bisa? Lo apain itu anak sampai kabur nggak ada kabar?" tanya Davin heran.

1
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!