Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Perang Dua Alam
Gideon berteriak saat massa mulai merobek sisa dinding seng seperti kertas kado. Maya berdiri di tengah ruangan, tubuhnya bergetar hebat. Cahaya biru dari pembuluh darahnya kini merambat ke lantai, menciptakan sirkuit bercahaya yang menghubungkan kakinya dengan tanah.
Bab 33: Perang Dua Alam
"May! Mereka masuk!" Gideon menghantamkan popor senapannya ke wajah seorang pria yang mencoba meraih kaki Maya.
Maya tidak menjawab. Kesadarannya tidak lagi berada di gudang itu. Saat ia menutup mata, ia berada di sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh triliunan baris kode yang jatuh seperti hujan. Di depannya, berdiri sosok @anatomi_maut—kali ini tanpa masker, tanpa kabel, hanya berupa bayangan hitam yang memiliki ribuan mata yang berkedip.
"Selamat datang di pusat data, Maya," suara itu bergema di dalam kepala Maya. "Di sini, kamu bukan jurnalis. Kamu hanyalah sebuah variabel yang bisa aku hapus kapan saja."
Di dunia nyata, massa mulai merangsek masuk. Mereka membawa pisau dapur, gergaji kayu, dan obeng. Mata mereka kosong, tapi gerakan mereka sangat sinkron, seolah-olah digerakkan oleh satu konduktor yang sama.
"Gue... punya... hak akses!" Maya berteriak di dalam ruang kesadarannya.
Ia mencoba membayangkan sebuah perintah command prompt. Di tangan digitalnya, muncul sebuah pedang cahaya yang terbuat dari enkripsi murni. Maya menebaskannya ke arah hujan kode itu.
ZAP!
Di dunia nyata, seratus orang yang berada di barisan terdepan mendadak tumbang. HP mereka mati total, dan mereka muntah-muntah hebat karena guncangan sinyal di otak mereka terputus secara paksa.
"Bagus, Maya," ejek @anatomi_maut. "Tapi setiap kali kamu menyerang mereka, kamu memotong sebagian kecil dari jiwamu sendiri. Kamu merasakannya, kan?"
Maya tersedak darah di dunia nyata. Dadanya terasa sesak. Benar kata iblis itu; karena ia adalah servernya, menyerang klien (penonton) berarti merusak sistemnya sendiri.
"May! Gue nggak kuat lagi!" Gideon dikeroyok oleh lima orang. Senapannya dirampas. Seorang wanita dengan wajah dingin mengangkat sebuah pisau bedah ke arah leher Gideon.
Maya melihat itu lewat mata batinnya. Amarahnya meledak.
"STOP!"
Maya melepaskan gelombang kejut digital dari tubuhnya. Di dunia nyata, semua lampu neon di gudang itu pecah bersamaan. Semua HP di ruangan itu mengeluarkan suara melengking yang menghancurkan gendang telinga. Orang-orang yang mengeroyok Gideon terpental ke belakang.
Namun, @anatomi_maut tertawa. Suara tawa itu muncul di semua layar HP yang layarnya sudah retak di lantai.
@anatomi_maut: Kamu emosional, Maya. Itu adalah bug terbesar dalam sistem manusia. Sekarang, lihatlah apa yang terjadi jika aku melakukan overload pada serverku.
Tiba-tiba, Maya merasakan jutaan informasi masuk ke otaknya sekaligus. Dia bisa mendengar setiap pikiran penonton TikTok di seluruh Indonesia.
"Gue mau kaya..."
"Gue mau dia mati..."
"Gue haus..."
"Gue benci hidup gue..."
Kepala Maya serasa mau pecah. Ini adalah serangan DDoS (Distributed Denial of Service) secara biologis. @anatomi_maut membanjiri kesadaran Maya dengan sampah emosi manusia hingga otaknya mengalami overheat.
Di dunia nyata, suhu tubuh Maya meningkat drastis. Kulitnya mulai mengeluarkan uap.
"Gid... lari..." rintih Maya dengan sisa kesadarannya. "Cari... cari kabel fiber optik utama... di bawah tanah... potong..."
Gideon, yang terluka parah, merangkak menuju panel kontrol di bawah lantai gudang. Dia tahu apa yang dimaksud Maya. Gudang ini dibangun di atas jalur kabel bawah tanah tua milik pemerintah.
Namun, sesosok bayangan muncul di depan Gideon. Itu bukan penonton biasa. Itu adalah mayat Bimo—si tech-influencer yang tewas di Bab 3. Tubuhnya sudah dijahit kasar dengan kabel-kabel yang keluar dari rongga matanya.
"Bimo?" Gideon ternganga.
"Bimo sudah tidak ada," ucap sosok itu dengan suara mekanis. "Hanya ada data yang tertinggal. Dan data ini... ingin kamu mati."
Bimo yang sudah menjadi cyborg mayat itu mengangkat tangannya yang telah dimodifikasi menjadi bor listrik, mengarahkannya tepat ke wajah Gideon.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan