Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Hana berdiri di depan sebuah villa megah, di atas bukit di perkebunan teh milik keluarganya. Ia menatap puncak villa di mana sebuah jendela besar berada. Jika berada di sana, maka ia bisa melihat seluruh kota Eldoria.
"Tempat yang sangat bagus dan terpencil. Di sini aku bisa memulihkan tubuh ini. Sesuai ingatan Hana, di belakang villa ini terdapat tanaman obat yang ditanam oleh nenek. Aku akan memeriksanya," gumamnya seraya melangkah mendekati gerbang tinggi nan kokoh.
Hana melongok ke dalam, memeriksa keadaan villa. Sepi, terlihat tak ada orang, tapi lingkungan villa bersih dan terawat. Lalu, seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh datang dari halaman samping villa. Ia berdiam sejenak di dekat gerbang, menelisik dengan saksama sosok penuh luka di luar gerbang.
"Bi Sum, ini Hana," ucap Hana dengan suara lirih dan serak.
Ada fluktuasi perasaan di dalam hatinya saat melihat sosok wanita paruh baya itu. Perasaan rindu akan kehangatan, Hana juga tersenyum. Ia ingat wanita di depannya adalah salah seorang yang memperlakukan Hana dengan sangat baik meski mereka baru dua kali bertemu. Pertama saat ia baru dibawa kembali dari desa untuk bertemu nenek, dan yang kedua saat pemakaman nenek.
"Nona! Astaga! Apa yang terjadi?"
Wanita paruh baya itu dengan cepat membuka gerbang dan menarik Hana masuk. Lalu, mengunci gerbang itu lagi. Ia tak banyak bertanya, melainkan langsung memapah Hana memasuki villa.
Ia mengambilkan air hangat untuk Hana dan duduk melantai, sementara gadis itu duduk di sofa. Mata tuanya memindai tubuh Hana dengan penuh luka. Tersirat kesakitan dari pancarannya yang tak dapat ditutupi.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya dengan suara bergetar nyaris menangis.
"Bi, aku ingin membersihkan diri. Tolong Bibi siapkan air hangat yang dicampur tanaman obat. Luka ini harus segera disembuhkan," pinta Hana dengan suara lemah nyaris tak bertenaga.
Hampir seharian ia berjalan kaki menuju villa tersebut dengan perut kosong. Bi Sum bergegas menunaikan perintah majikannya. Dengan hati-hati, ia memilih tanaman obat dari halaman belakang dan membersihkannya. Merendamnya ke dalam bak mandi untuk Hana membersihkan diri.
"Nona, airnya sudah siap. Anda mandilah dengan hati-hati. Bibi akan membuatkan makanan kesukaan Anda," ucap Bi Sum tak tega melihat keadaan tubuh Hana yang penuh luka.
Di dalam kamar itu, Bi Sum melihat banyak luka di tubuh majikannya saat Hana melepaskan pakaian. Hana meringis di saat kain bajunya menempel pada luka.
"Terima kasih, Bi." Hana berbalik, dia tidak merengek.
"Nona Hana sepertinya berubah. Terlihat jauh lebih kuat, tapi apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa tubuhnya penuh dengan luka? Aku ingat, bukankah hari ini seharusnya Nona melangsungkan pertunangan dengan tuan Evan?" Bi Sum bergumam sendiri, kulit dahinya yang keriput berlipat-lipat memikirkan kondisi Hana.
Ia menggeleng pelan dan pergi menuju dapur untuk memasak setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Hana. Di villa itu, mereka tidak perlu takut kekurangan uang karena nenek meninggalkan banyak uang untuk kehidupan Hana juga perkebunan teh atas nama Hana.
Hana menanggalkan pakaiannya satu per satu, rasa perih dari kain yang melekat pada luka tak terelakkan. Ia menggigit bibir, memejamkan mata menahan rasa sakit yang teramat.
"Sungguh biadab kalian! Gadis baik-baik seperti Hana kalian siksa sedemikian rupa hanya demi keegoisan kalian. Kau tenang saja, Hana! Setelah tubuh ini pulih aku berjanji akan membalaskan dendammu. Mengambil apapun yang seharusnya menjadi milikmu, kecuali bajingan itu!" bisiknya pada udara.
"Argh! Aku bukanlah ratu yang lemah! Siksaan seperti ini sudah sering aku rasakan saat ikut ke medan perang. Ugh!"
Hana mengambil napas cepat dan pendek saat berhasil memisahkan kain dari kulitnya. Keringat bercucuran di wajah, merambat membasahi tubuh, menambah perih pada luka yang masih terbuka.
"Aku akan selalu mengingat rasa sakit ini!" Hana mengepalkan tangan.
Ia terdiam, menghirup dalam-dalam aroma obat-obatan dari rendaman air dalam bak mandi. Paru-parunya yang menyempit, mulai merasakan kelegaan. Hana melangkah memasuki bak mandi yang samar mengepulkan asap.
Ugh!
Ia melenguh pendak manakala kaki menyentuh air. Rasa perih berdenyut-denyut, semakin dalam ia berendam semakin nyata dan tak dapat ditahan. Hana menggigit ujung handuk yang menggantung di dekatnya, air mata jatuh tanpa terasa bercampur keringat yang keluar. Rasanya seperti disayat ribuan sembilu, dikuliti secara perlahan.
Tahan, Hana! Setelah ini kau tidak akan lagi merasakan sakitnya!
"ARGH!"
Handuk yang digigitnya terlepas hingga suara Hana menggema di lantai dua villa tersebut.
"Nona!" Bi Sum yang sedang menyiapkan makanan bergegas mematikan kompor dan berlari menuju kamar Hana diikuti oleh tiga orang pelayan lainnya.
"Ada apa, Bi?" tanya mereka sembari mengikuti langkah perempuan paruh baya itu.
"Itu suara nona Hana!" katanya tergesa.
"Ah, nona Hana? Kapan kembali?" Mereka bertanya-tanya sendiri, tapi Bi Sum tak berminat untuk menjawab. Ia mengkhawatirkan keadaan Hana.
Tok-tok-tok!
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Bi Sum berteriak di luar kamar mandi, sementara pelayan lain tetap berdiri di luar kamar.
Hah-hah ....
Hana mengambil napas pendek dan cepat, seperti orang yang sudah berlarian dikejar segerombolan binatang buas. Keringat memenuhi wajah, seluruh kulit Hana kemerahan.
"A-aku baik-baik saja. Bibi tidak perlu khawatir," jawab Hana terputus-putus.
Ia menjatuhkan kepala pada bak mandi, melepas lelah akibat menahan sakit yang tiada tara.
"Anda yakin tidak membutuhkan bantuan, Nona?" tanya Bi Sum sekali lagi.
"Tidak, Bi!" jawab Hana dengan suara yang sama.
"Jika begitu, Bibi akan kembali ke dapur," pamitnya mencoba untuk percaya bahwa Hana baik-baik saja.
"Ya."
Hanya satu kata singkat itu saja, setelahnya Hana kembali menggigit bibir saat mencoba merendam seluruh tubuh.
Kau harus kuat, Hana! Tidak boleh kalah oleh rasa sakit ini!
hai jalang gk tau diri lo