Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udah kebiasa'an makan hati
Setiap pasangan suami istri, pasti akan menghadapi berbagai lika liku kehidupan rumah tangga.
Permasalahan yang terjadi bisa menyebabkan suami dan istri terlibat dalam konflik. Pada titik tertentu, ada kalanya istri merasa kecewa pada suaminya. Akibat suami terlalu sibuk dengan pekerjaannya, faktor ekonomi, bahkan sikap suami yang banyak berubah, apalagi ada yang namanya suami, sering bermalas malasan, bahkan sering yang namanya ringan tangan.
Terkadang juga kesetiaan pasangan pun harus diuji. Jika istri tak mampu menahannya, tidak sedikit berujung pada perceraian.
Kendati demikian, banyak pula dari mereka masih setia, dan mencoba tetap menjaga keutuhan rumah tangga. Kendati, dalam hati dipenuhi rasa kecewa yang teramat dalam. Juga membawa trauma yang begitu mendalam, Bagi istri itu akan bisa ia terima, tapi jika dia tidak dalam kondisi hamil juga verguso.
Apa pun alasannya, pertengkaran antara suami dan istri sedang saat hamil, harus segera diredakan. Bila tidak, ini bisa berdampak negatif pada tumbuh kembang janin.
______________
Aku malam ini dirumah tak kemana-mana, namun beberapa hari ini anakku sering kali rewel, pas di jam jam malam hari. Hari ini pukul 22:30 aku selesai memberi asi, anakku pun tertidur kembali, dan pas aku mau keluar ingin membuang hajat, suamiku tiba-tiba pulang, akan tetapi kali ini dia langsung tidur. Mulut nya seberti bau bau biasa, jadi nggak aku hiraukan dan nggak aku perdulikan.
Setelah aku membuang hajat, kami pun tertidur sampai pagi menjelang
*****
Setelah pagi hari sudah menyapa, aku gendong mersha untuk berjemur, meskipun sekarag umur nya sudah genap 5 bulan, dan anakku juga bisa tengkurap lalu mencoba untuk merangkak, namun merangkak nya bukan maju akan tetapi mundur. Anak masih diusia segitu juga lagi gemes gemesnya, cuman bapaknya yang kelakuannya seperti Anj*ng.
Dan sa'at ini aku ditrima kerja serambutan, sebagai kariyawan toko meskipun gajinya nggak seberapa, aku tetap bersyukur dan selalu ta'at sama aturan.
Perhari aku hanya menerima upah 13 ribu, dan gajian ku hanya diberikan tiap minggu, uang lembur hanya sekitar 5-7 ribu saja.
Anakku juga aslinya tidak bisa di sapih, karna ia tak mau susu formula. Ia mau nya asi dalam tubuh ku, tapi aku juga harus kerja buat biaya hidupku dan juga anakku kelak besar. Namun sebisa mungkin mamak berusaha memberikan susu formulla.
"Nak baru pulang?." tanya mamak sa'at melihat ku turun dari motor bapak.
"Assallamu'allaikum, iya mak, ini capek sekali, oh ya gimana melsha mau dia di kasih susu sampingan?." Ucapku sa'at menaruh cucunya kedalam box, kebetulan jam 7 malam aku pulang, anakku sudah tidur jadi nggak sempat gendong kalau pulang kerja.
"Wa'allaikumsallam, nggak mau dia, cuman tadinya kasian lihat dia kalau nggak minum susu, yaudah mamak kasih air putih dikit-dikit aja, dan kebetulan dia juga suka malah mau lagi dia." Jelasnya dan aku hanya mangguk-mangguk saja.
"Beberapa hari ini rewel nggak mak, atau bapak nya pulang gitu?." Kataku sambil melepas sepatu.
"Nggak ada suamimu pulang, udah sana kamu mandi terus tidur." Usir mamak agar aku bisa istirahat. Malam sepat ditawarin makan tapi aku tolak, karna badanku sudah remuk ingin sekali beristirahat.
"Nggak lah mak, aku habis mandi terus tidur aja lelah rasanya." Ujarku dan mamak pun hanya menghela nafasnya berat, sambil melihat anaknya yang berjalan ke dapur.
Heni duduk di kursi ruang tamu setelah menaruh cucunya diranjang, ia pun termenung sambil melihat anaknya berjalan kedapur lalu.
"Dulu, mamak melepaskanmu pergi, dengan senyuman dan doa, agar kau menemukan surga di rumah tanggamu. Tak pernah sekalipun terbayangkan, bahwa tangan yang, mengucapkan janji suci di depan penghulu, kini justru menjadi tangan yang menghancurkan hatimu, dan melukai tubuhmu. Anakku, mamak membesarkanmu dengan penuh, kasih dan sayang, menjaga setiap inci tubuhmu, agar tidak terluka, dan memastikan hatimu selalu bahagia. Mamak tidak pernah membesarkanmu, hanya untuk menjadi pelampiasan dan amarah seseorang. Kamu terlalu berharga untuk disakiti." Batinnya sehingga tak terasa air matanya pun mengalir membasahi pipi.
*******
Malam yang memberi jeda bagi pagi, tidak semua perjalanan harus cepat selesai, Beberapa hal memang perlu waktu. Membuat kita sadar, bahwa tidak ada kebahagiaan tanpa keheningan yang menenangkan di antaranya. Kini heni pun masuk kedalam rumah, menunggu suaminya pulang dari tempat hajatan.
Kebetulan dikampungnya ada orang yang meninggal, dan suaminya mendapatkan undangan untuk ikut serta berdoa bersama.
Malam semakin larut suaminya pun belum kunjung pulang, sehingga heni tertidur di kursi panjang ruang tamu.
Pukul 21:38 aku tak sengaja ingin kekamar mandi untuk buang hajat, akan tetapi, sa'at berjalan melewati ruang tamu, melihat mamak yang terbaring tidur di sofa. Aku pun mendekatinya dan berjongkok lalu.
"Mak?." panggil ku pelan agar aku tak mengagetkannya. Mamak menggeliat lalu matanya mengerjab.
"Hemm, ada apa ini kok pada diruang tamu. Mamak juga kenapa tidur di sofa ya." Ujar bapak yang baru saja masuk kedalam rumah, ia masih memakai baju koko dan sarung pecis, kemungkinan besar, bapak di suruh bantuin apa-apa disana sehingga pulang nya telat. Aku dan mamak menoleh,
"Bapak? Hmm, baru pulang ya? Ini loh pak barusan aku bangunin mamak untuk tidur dikamar." Jawabku dan mamak tersenyum.
"Aku itu nungguin bapak pulang, kok jam segini baru pulang mas." Kata heni pada suaminya, melihat mamak sama bapak lagi ngobrol, aku pun menghindar untuk menunaikan niat ku tadi, setelah dari kamar mandi aku kembali kekamar, namun baru saja membuka pintu bapak pun memanggilku.
"Yan! Kamu nggak makan? Nih nasi dari hajatan kamu makan aja sama mamak." Tawarnya aku pun mendekat lalu mengambil satu telur.
"Kok cuman ambil telur aja nak." Sahut mamak yang merasa heran, ia kira beneran aku mau makan.
"Udah ini aja, lagian juga aku nggak laper. Dah abis ini aku mau kekamar, biar aku beresin semuanya mamak sama bapak pergi isntirahat aja." Ucapku dan mereka pun pergi kekamar, kebetulan anakku juga terbangun untuk menta susu. Aku pun menggendongnya sambil makan telur.
"Apa nak, mamah makan dulu ya buat isi nutrisi kamu." kataku sambil melihat melsha, anak itu pun tersenyum seakan akan tau apa yang aku katakan. Sungguh menggemaskan anak yang masih diusia dini.
"Nak mamah besok kerja lagi ya? Kamu jangan rewel sama ounty okeh, nanti jika kamu besar mamak sudah kalau kamu mau menghabiskan uang mamah. Iya? Minum yang kenyang ya terus bobok." Ujarku, mersha pun hanya menatapku saja, sesekali ia ingin berbicara namun, suaranya belum bisa di cerna oleh orang dewasa.
Seperti masih berbicara: "ba-ba, ma-ma, atau da-da".
Terkadang hal terkecillah yang, dapat menghabiskan paling banyak ruang di hati seorang ibu.
Bersambung...