Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bertemu Teman Lama
Zella belum mengerti maksud Abi, yang dia tangkap sebelumnya Abi ingin memberikan roti kesukaannya untuk hari bahagia mereka nanti, namun barusan Abi menyebut pabriknya.
"Zella!"
Teriakan itu membuyarkan fokus Zella dengan Abi. Dia segera menoleh ke arah suara itu. "Alea!" Zella merasa mimpi bertemu sahabatnya di kota asing ini, dan melupakan topik pembicaraannya dengan Abi.
Alea berlari cepat kearah Zella dan langsung memeluknya. "Zella! Aku kira tadi aku mimpi!"
"Aku juga kaget bisa ketemu kamu di sini, kamu sama siapa?"
"Aku sama anak dan suami aku! Ada pekerjaan Arfa di sini. Oh iya! Kamu tega banget sama aku! Kamu nggak pernah tengok aku sama anakku, pas aku lahiran kemaren, kamu cuma kirimin aku dan anakku hadiah."
"Maaf, aku nggak enak kalau harus bertamu ke rumahmu."
"Nggak enak sama Arfa kan? Karena Arfa dulu ngejar-ngejar kamu?" tebak Alea.
Abi langsung menatap Zella, saat mendengar suami teman Zella pernah mengejar Zella.
Menghindari Arfa memang salah satu alasan Zella. Dia tak ingin muncul hal yang tak nyaman buat Alea jika dirinya sering bertemu Arfa. Terlebih Alea tahu sebelum menikah dengan Alea, Arfa begitu gigih mengejarnya.
"Statusku tak selalu diterima orang. Tahu sendiri kalau janda sering main ke rumah temannya yang bersuami dikira macam-macam, bahkan dianggap mau mengincar suaminya."
"Aku nggak ada mikir itu, dan aku nggak bakalan mikir kearah sana," ucap Alea.
"Iya aku tahu kamu percaya sama aku, tapi bagaimana keluarga Arfa yang melihat temanmu yang janda ini sering mengunjungimu?"
"Kamu memikirkan aku, aku terharu ... ku kira karena Arfa. Hampir saja aku berpikir ganti suami agar kamu mau sering mengunjungiku."
"Hush!" Zella langsung menutup mulut Alea dengan tangannya.
"Maaf-maaf."
"Jangan bicara aneh-aneh! Ingat kata-kata kalau 'ucapan adalah do'a, dan aku sudah mengalaminya."
"Ucapanmu yang mana menjadi kenyataan?"
"Aku bertemu seorang anak SMA. Terus aku drama sama dia, ku bilang dia anakku buat nyelamatin dia. Eh sebentar lagi dia akan sah jadi anak sambung aku."
"Apa?? Kau akan nikah?"
Zella mengisyarat dengan gerak matanya pada Alea. Gerak mata Zella terarah pada Abi. "Dia calon suamiku."
Alea langsung merasa lemas. Dari tadi dia tak menyadari keberadaan pria yang duduk di kursi roda yang tak jauh dari mereka. "Hai, salam kenal." ucap Alea lemas.
Abi tersenyum kecil dan mengangguk merespon Alea.
"Katanya kamu sama suami dan anakmu, mana mereka?" Zella menyisir pandangannya mencari sosok lelaki dengan anak kecil.
"Di sini." Tiba-tiba seorang pria muncul dari arah belakang sambil mendorong kereta bayi. Dalam kereta itu terlihat anak perempuan berusia 2 tahunan yang begitu manis.
Zella langsung mendekati gadis cantik penunggu stoller itu. "Cantik banget kamu sayang ...." Zella tak bisa menahan diri untuk tak mencium gadis kecil itu. "Udah cantik, wangi. Nggak kayak mamanya bau acem!" ledek Zella.
"Nggak ada acem-acem ya! Aku wangi!" Alea langsung menarik Zella dan mengapitnya di sela ketiaknya. "Wangi kan?"
Zella tertawa dan melepaskan diri dari jepitan tangan Alea. "Si cantik ini pasti sering buat mamanya cemburu." Zella kembali mendekati anak Alea dan membelai lembut sisi wajahnya. "Karena lebih cantik dari mamamu!"
"Kok tahu kalau aku cemburu sama anak aku," sela Alea.
"Karena sangat jelas terlihat dari tekanan di wajah Arfa. Tekanan ekonomi nggak mungkin, tentunya tekanan mental karena istrinya cemburu sama sosok yang lahir dari rahimnya."
"Hihi ... aku benci sama kamu, karena yang kamu bilang benar semua." Alea menangis palsu.
Arfa tersenyum melihat Zella yang lebih santai bertemu dengannya sejak dia menikah dengan Alea. Tak seperti dulu sangat kaku padanya. "Kamu sama siapa di sini?" tanya Arfa pada Zella.
"Yank, dia sama calon suaminya. Ini calon suami Zella." Alea mengisyarat kearah Abi.
"Perkenalkan, ini--" Zella bingung menyebut Pak atau mas pada Abi.
"Dia ayank akoh gitu?" ledek Alea.
"Dia Abi. Calon suami aku!" ucap Zella.
"Pak Abi? Rakha Abimayu??" ucap Arfa antusias.
"Ayank kenal calon suami Zella?" sela Alea.
"Nggak kenal. Tapi tahu saja, karean beliau sering ada di majalah bisnis. Beliau salah satu pengusaha muda yang menginspirasi. Senang bertemu Anda, pak Abi!" ucap Arfa semangat, sambil mengulurkan tangan untuk menyalami Abi.
"Kamu terlalu memuji saya. Saya hanya orang bisa yang menggunakan kursi roda." Abi menjabat tangan Arfa.
"Pak Abi terlalu merendah. Walau Pak Abi duduk di kursi roda, tapi kecerdasan Pak Abi soal bisnis tak terhalang oleh kursi roda. Oh iya Pak, ini istri saya Alea. Teman dekat Zella." Arfa mengisyarat pada Alea.
"Senang bertemu dengan kalian," ucap Abi.
Abi menatap Arfa dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak ada kekurangan di matanya. Entah mengapa Zella menolak laki-laki itu.
Abi menoleh pada Zella. "Dia temanmu yang kamu ceritakan saat membuka usaha bersama?"
Zella mengangguk cepat. "Dia penolong aku saat aku terjatuh!"
"Ih hoax, yang benar Zella yang nolongin aku saat usahaku hampir bangkrut! Saat itu pegawai aku berhenti, mana stok lagi banyak-banyaknya. Aku tertolong sebab Zella mau meneruskan usahaku itu." sela Alea.
"Usaha yang mana yank?" tanya Arfa.
"Kamu kan tau kami setelah kami usaha di ruko. Dulu usaha pisang geprek itu kami jalankan di gerobak kontainer gitu. Kami pindah ke ruko karena bantuan om Bagas."
"Pisang geprek? Sepertinya saya harus coba!" ucap Abi.
"Enak itu, nanti minta bikinin yayang aja, soalnya itu resepnya juga dari dia." ucap Alea.
"Oh begitu?" Abi menatap pada Zella. "Nanti kamu harus bikinin itu buat saya."
"Insya Allah, kalau nggak lupa." Zella melihat jam digital besar di pusat perbelanjaan itu, dia sadar dia sudah pergi terlalu lama. "Rihana Rayhan," ucap Zella.
"Oh iya maaf banget ya, kami harus buru-buru kembali karena anak-anaknya saya menunggu kami." ucap Abi.
"Iya pak, Zella. Sampai jumpa lagi. Jangan lupa undangannya!"
"Insya Allah, ya Al." ucap Zella.
Alea menatap kosong kepergian Zella. Rasanya sulit percaya kalau Zella akan menikah lagi. Karena dia sangat tahu keinginan kuat sahabatnya itu.
"Ayang, kamu harus ceritain sosok di kursi roda tadi. Aku kepo yank!" ucap Alea pada suaminya.
"Iya, nanti kalau bidadari kecil kita bobo, kamu puas-puas deh baca tentang Rakha Abimayu itu." jawab Arfa.
Setelah dari pusat perbelanjaan, Alea dan suami kembali ke hotel. Putri cantik mereka juga begitu nyaman memejamkan kedua matanya. Perlahan Arfa menidurkan anaknya ke kasur. Sesuai janjinya pada Alea. Dia memberikan laptopnya pada Alea yang memuat informasi tentang calon suami Zella.
Rakha Abimayu. Termuat berita tentang silsilah keluarga Abi, yang menceritakan perjuangan bisnis Kakeknya yang berasal dari Sudan. Abi kecil sudah terlihat begitu cerdas dan menyukai bisnis. Tak seperti Ayahnya yang terlalu naif, bahkan orang menganggap Ayah Abi sosok yang idiot.
Alea begitu fokus membaca informasi itu.
Jika masa remaja para anak sultan dihiasi dengan bermacam hiburan dan kesenangan. Maka sosok Rakha Abimayu di masa remajanya dia sibuk dengan dunia bisnis. Melihat giatnya Abi menekuni bisnis. Membuat ibunya khawatir anaknya tidak tertarik dengan perempuan. Hingga Abi dinikahkan oleh ibunya saat Abi masih berusia 20 tahun.
"Gila, 20 tahun udah nikah! Kebelet banget itu nenek-nenek ya??" Alea mengomentari informasi yang dia baca.
"Iya, Abi menikah di usia muda, anak pertama Abi sudah duduk di bangku SMA. Sekarang berarti usia Abi 37 atau 38 tahun, anaknya masih kelas 1 SMA sepertinya." respon Arfa.
"Iya, Zella ada bilang calon anak sambungnya sudah SMA. Tapi aku nggak terima banget masih muda main jodohin aja!"
"Begitulah orang tua. Saat melihat anaknya asyik bisnis jadi parno, takut kalau anaknya nggak ketemu jodoh karena keasyikan kerja, makanya di jodohin. Kamu sendiri kan pernah ngalamin disidang di tengah keluarga besar hanya karena belum nikah." ucap Arfa.
Alea teringat asal Kakek Abi. "Keturunan arab cuy, apa Zella sanggup menerima tamu itu?" Alea mengisyarat kearah celah paha suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan? Mikirin ukuran terong afrika calon suami Zella?" Kedua mata Arfa memicing kesal pada Alea.
"Aduh maaf ayank, kan pas tahu Abi keturunan arab dan melihat postur dia yang tinggi dan--"
"Udah stop pikiran sesatnya!" Arfa langsung membekap mulut istrinya, agar tak semakin ngelantur sesat.
"Ayang--" Alea berusaha berontak, namun tenaganya kalah jauh dari suaminya.
"Kamu pengen punya suami Zella??" ucap Arfa bercanda.
"Enggak, aku cukup punya Ayang aja. Pas di hati dan pas di sana," ucap Alea cekikikan.
"Mau?" Arfa semakin menggoda.
"Hmmm ...." Alea mempertimbangkan.
"Kalau nggak jawab berarti mau." Arfa mendalami kegiatannya.
Namun saat suasana kian panas. Ringisan anak kecil yang mulai terbangun itu membuat kegiatan hangat itu berhenti.
"Dasar pengganggu!" ucap Alea.
Arfa tersenyum dan mencium pelipis Alea, lalu menghampiri bidadari kecilnya.