NovelToon NovelToon
Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Mertua Kejam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ...

Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.

Penasaran ikutin terus ya kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07 Masih Lanjutan Di Monas

Zaki hanya mengikuti langkah Anisa yang mulai menyusuri area Monas, sesekali gadis itu mengabadikan momen kebersamaannya di Monas, kadang juga ia mengambil posenya sendiri.

  "Cantik," puji Zaki.

 Anisa tersipu malu. "Apa sih Zaki, semua perempuan itu cantik," sahut Anisa.

  "Benar," kata Zaki. "Tapi yang cantik luar dalam itu kamu," lanjutnya lagi.

Anisa terdiam sepersekian detik, kata-kata Zaki barusan benar-benar membuatnya tak enak hati, bukannya bahagia mendapatkan pujian seperti itu, namun Anisa merasa hal itu sangat berlebihan.

  "Ki, jangan gitu deh, aku juga banyak kekurangan," jelas Anisa.

  "Gak masalah, kekuranganmu tetap aku terima.

Langkah Anisa terhenti mendadak mendengar ucapan yang terdengar tulus tanpa dibuat-buat, Zaki merupakan pria pertama yang Anisa temui, penuh sopan santun, ngemong, bahkan tanpa sadar Anisa dibuat nyaman didekatnya.

  "Ki," kata Anisa pelan.

  "Iya," sahut Zaki.

"Apa benar yang barusan kau ucapkan?" tanya Anisa memastikan.

Zaki memberanikan diri untuk menatap wajah Anisa. "Apa yang keluar dari mulutku, untukmu. Tidak ada yang main-main Nis," sahut Zaki.

Anisa mundur satu langkah, seolah tidak ingin terlalu dalam dengan hubungan yang terlalu berbeda jauh itu. "Zaki, tapi kita ini berbeda," kata Anisa.

  "Apa yang membuat kita berbeda Nis, kita sama-sama manusia, dihadapan Tuhan kita sama," ujar Zaki.

  "Tapi, keluargamu?" Entah kenapa tiba-tiba Anisa menyinggung soal itu, sesuatu yang sangat ingin Zaki hindari.

  Saat ini Zaki mulai memalingkan mukanya, bukan berarti dia takut, tapi ia butuh keberanian untuk meyakinkan hati gadis yang ada dihadapannya itu, karena ia tahu Anisa bukan tipikal yang muda untuk diluluhkan, apalagi dengan status sosial keduanya yang berbeda.

  "Andai kata mereka tidak merestui," kata Zaki akhirnya. "Aku tetap memilih kamu," ungkapnya pelan, lebih pelan dari desir angin siang.

  "Zaki," cegah Anisa cepat.

  "Shuuut," ucap Zaki sambil menutup bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. "Untuk mu tidak ada kata tapi dan menyerah Nis."

  Anisa masih terdiam, seolah belum sepenuhnya percaya pada keseriusan yang baru saja diucapkan lelaki di hadapannya itu. Tatapannya sedikit goyah, hatinya dipenuhi campuran ragu dan haru.

Belum sempat ia membalas perkataan Zaki, lelaki itu perlahan merogoh saku jaketnya seakan menyimpan sesuatu yang sejak tadi sudah ia siapkan.

Sebuah kotak berukuran kecil, lalu perlahan ia buka, di dalamnya terlihat jelas, jam tangan dengan rantai perpaduan warna emas dan putih yang tidak terlalu mencolok, tapi terlihat manis jika dikenakan.

 Anisa terdiam. Matanya terpaku pada jam itu beberapa detik lebih lama.

“Ki…” suaranya nyaris berbisik. “Ini… cantik banget.”

Zaki tersenyum kecil, melihat reaksi itu saja sudah cukup membuatnya lega.

“Cocok buat kamu,” katanya pelan.

Anisa masih belum berani menyentuhnya. Seolah takut jika benda itu terlalu berharga untuk ia miliki, bahkan rasa sungkan masih terus menjalar memenuhi pikirannya.

  "Kamu tidak usah seperti ini," kata Anisa cepat.

"Aku tahu, tapi aku mau," sahut Zaki. "Dan jam tangan ini, sebagai simbol waktu, agar setiap detik dan menit yang berjalan, kamu tetap ingat aku, karena setelah ini aku akan pergi ke Tambun," kata Zaki Akhirnya.

  Anisa terkejut, bukan karena jam tangan bagus itu, tapi karena kepergian Zaki yang menurutnya terlalu mendadak.

  "Ke Tambun?" ulang Anisa.

  "Iya, di sana aku keterima kerja di sebuah restauran," kata Zaki.

  "Kenapa harus di Tambun," sahut Anisa seolah tidak ingin jauh dari lelaki yang beberapa Minggu ini sudah bersemayam di dalam hatinya.

  "Memangnya kenapa? Kamu takut ya jika aku pergi," canda Zaki dengan senyuman.

Bukannya tersenyum, Anisa justru menunduk. Bahunya sedikit bergetar. Setitik air mata jatuh tanpa ia minta.

Zaki langsung panik, ia tidak menyangka jika candaannya ini akan membuat hati Anisa sedih. “Nis… kenapa?”

Anisa menggeleng pelan, berusaha menahan suaranya agar tidak pecah. “Aku cuma…” ia berhenti sebentar, menarik napas. “Aku cuma nggak nyangka semuanya jadi secepat ini.”

Zaki terdiam, namun di dalam hatinya ia merasa bersalah, karena melihat setetes air mata, dadanya merasa sesak.

Anisa mengusap air matanya cepat, seolah malu ketahuan selemah itu. “Aku seneng kamu mau usaha. Aku seneng kamu serius. Tapi…” suaranya mengecil, “aku takut.”

“Takut apa?” tanya Zaki pelan.

Anisa menatapnya, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Aku takut kamu sibuk. Takut kamu capek. Takut kamu ketemu dunia baru… terus lupa sama aku.”

Kalimat itu keluar begitu saja, diiringi dengan air mata, terlihat jelas dari sudut mata perempuan itu, dia benar-benar takut kehilangan dan hal itu menjadi pukulan halus untuk Zaki.

“Aku nggak takut kamu kerja di Tambun,” lanjut Anisa lirih. “Aku cuma takut jarak bikin semuanya berubah.”

Sunyi sejenak.

Angin siang terasa lebih dingin padahal terik mentari cukup menyengat.

“Aku nggak mau ditinggal,” tambahnya pelan, hampir seperti pengakuan yang ia simpan sejak tadi.

Zaki menatapnya lama. Hatinya terasa diremas, bukan karena keberatan… tapi karena sadar ada seseorang yang takut kehilangan dirinya.

“Nis,” ucapnya pelan. “Aku pergi bukan buat ninggalin kamu. Aku pergi buat nyiapin diri biar bisa tetap ada di samping kamu.”

Air mata Anisa kembali jatuh, tapi kali ini lebih tenang, dan dia menyadari satu hal, bersama Zaki ia benar-benar merasa dicintai dan diperjuangkan.

 Anisa segera menyudahi tangisnya kali ini ia kembali tersenyum saat Zaki mulai menghiburnya, layaknya seorang ayah yang takut anaknya berlarut dalam kesedihan.

  "Cantik, sudah ya hapus air matamu," kata Zaki.

  Anisa merasa malu, karena dihadapan Zaki ia terlihat lemah, padahal semua orang mengenalnya dengan sosok yang kuat.

  "Lagian kamu," sahutnya dengan sedikit merajuk.

  "Gak apa-apa Nis, kalau gak mencoba sekarang kapan lagi, rejeki itu harus dijemput," ungkap Zaki.

 Anisa pun menyadari, saat ini hatinya mulai sedikit, memang benar kata sebagian orang, jika lelaki itu serius maka jalan apapun akan dia tempuh asal tetap bisa bersama satu sama lain.

☘️☘️☘️☘️

Puas dengan berkeliling di area Monas, tanpa terasa matahari sudah mulai meredup langit Jakarta berubah menjadi jingga keemasan. Dua sejoli ini memutuskan pulang setelah selesai mengisi perut di rumah makan sederhana dekat area sana.

Sepanjang perjalanan pulang Zaki lebih sering menatap wajah Anisa seolah enggan untuk berpisah dengannya. Begitu juga dengan Anisa lebih sering terdiam sambil menatap wajah Zaki diam-diam.

  Dan setelah sampai di tempat kerja Anisa Zaki mengantar gadis itu tepat di depan pagar, ia berhenti beberapa langkah menatap gadis itu dengan senyum tipis yang sulit diartikan antara bahagia dan berat untuk berpisah.

  "Nis," panggil Zaki kembali, lelaki itu mulai merogoh dompetnya mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.

"Ini untuk pegangan," ujarnya sambil menyalamkan ke tangan Anisa.

 Anisa menoleh ada rasa sungkan saat uang itu mulai menempel ditangannya. "Zaki tidak usah seperti ini," tolak Anisa dengan halus.

  "Gak apa-apa, plis terima saja," mohon Zaki.

  Anisa menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil. Bukan karena ia ingin menerima, tapi karena ia tahu lelaki di hadapannya itu sedang belajar bertanggung jawab dengan caranya sendiri. Perlahan, ia menggenggam uang itu tanpa menghitungnya.

  "Makasih ya," ujar Anisa.

  "Sama-sama," sahut Zaki dengan lega, akhirnya Anisa mau menerima uang darinya.

 Perlahan Anisa mulai masuk saat pintu gerbang mulai terbuka, dan Zaki lelaki itu dengan penuh tatapan bangga saat melihat Anisa melambaikan tangan dengan senyum bahagia.

  Bersambung .....

Selamat sore Double up ya.

Sedikit cerita ya, agak sedih pas nulis bagian jam tangan tadi, rencana aku ingin minta difotokan jika jam tangannya masih ada akan aku taruh di akhir bab, biar sedikit menarik.

Tapi pas aku tanyakan sama Anisa, barang pemberian Zaki masih ada, hanya saja ketimbun tanah saat bencana kemarin yang mengguncang provinsi Jawa tengah.

1
Soraya
mampir thor
Ina Jumi
kok sy bingung y ringkasan creta sama jln ceritanya kok g nyambung
Naufal hanifah
/Heart//Heart//Heart/
Seroja_layu
ya allah nyesek baca ini😓
Nar Sih
blm end bnr an kan kak ,besok masih lanjut kan kak anisa dan zaki nya🙏
Asyatun 1
lanjut
Nar Sih
terharuu kakk😭😭
Amalia Putri
Tambah semangat Zaki,lanjut thor💪💪💪💪
Seroja_layu
beruntung anisa... di cintai secara ugal ugalan
Nar Sih
selamat ya nisa dan zaki ,semoga sehat calon byi nya juga ibu nya
Nar Sih
ya alloh pedes bnr ucapan abi mu ya zaki ,padahal orang beragama tpi kok gk bisa jga omgan ,sabarr nisa dan zaki ,pergi jauh aja pulang kampung biar jauh dri keluarga mu
Nar Sih: kak mau tanya kok penasaran ,sampai sekarang anisa ngk tau makam nya zaki ya ,trus ank nya gimana kak
total 2 replies
Anisa-tri
Astagfirullah Tuan Khalid pernyataan anda seperti orang yang tak punya pendidikan. gak kebayang gimana Anisa menghadapi itu. jika memang yang dikatakan itu nyata
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Nar Sih
sabarr zaki dan anisa💪
Nar Sih
zaki suami yg baik dan bnr,,syg banget sama anisa ,moga ngk ada rencana jht ibu mertua mu ke kmu ya nisa
Seroja_layu
romantis...
Seroja_layu
aaaaaaa..... sedih banget ya allah.
Anisa-tri
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Anisa
Sugiharti Rusli
pasti secara ekonomi mereka b-2 masih harus struggling kan,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!