Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Sinar matahari pagi yang menelusup lewat celah gorden tebal kamar itu terasa menyilaukan bagi Citra. Namun, kali ini, gadis itu tidak langsung melompat bangun untuk menyiapkan air mandi Putra seperti biasanya.
Tubuhnya terasa remuk redam.
Efek dari kelelahan fisik yang terakumulasi, ditambah stres berat dan luka bakar di punggung tangannya yang kini melepuh dan berair akibat tumpahan kopi semalam, membuat suhu tubuh Citra melonjak tinggi. Luka itu berdenyut nyeri setiap kali jantungnya berdetak, seolah mengingatkannya pada kekejaman suaminya. Ia demam tinggi. Kepalanya pening luar biasa, seolah ada palu godam yang memukul-mukul dari dalam tempurung kepalanya.
Citra melirik ke arah kasur king size. Kosong. Sprei sudah rapi. Putra sudah berangkat kerja pagi-pagi buta, mungkin karena ada rapat penting, atau mungkin sekadar ingin menghindari melihat wajah istrinya yang menurutnya "kucel" dan "bau".
Syukurlah. Setidaknya Citra tidak perlu mendengar bentakan pagi ini.
Dengan tenaga yang tersisa, Citra meraih ponselnya. Ia menelepon manajer restoran dengan suara serak.
"Halo, Pak... Maaf, Citra izin tidak masuk hari ini. Badan Citra panas banget, Pak. Iya... maaf ya, Pak," ucapnya lemah sebelum memutus sambungan.
Citra mencoba duduk, tapi dunia sekelilingnya berputar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan bibirnya kering. Ia terlihat sangat menyedihkan di tengah kemewahan kamar ini. Rumah mewah ini terasa seperti peti mati raksasa yang menyedot kebahagiaannya perlahan-lahan.
"Aku nggak kuat..." bisiknya lirih, air mata kembali menetes tanpa permisi. "Aku mau Ibu..."
Kerinduan pada ibunya meledak begitu saja. Di rumah mewah ini, ia sakit sendirian. Tidak ada yang menanyakan kabarnya, tidak ada yang membelikan obat, tidak ada yang membuatkan bubur. Bahkan jika ia mati membusuk di sofa ini pun, mungkin Putra baru akan sadar kalau kamarnya mulai bau bangkai.
Tanpa berpikir panjang tentang konsekuensinya, Citra mengambil keputusan nekat.
Ia mengambil tas selempangnya, memasukkan beberapa baju ganti seadanya, dompet, dan obat sakit kepala. Ia tidak mengirim pesan pada Putra. Ia tidak menelepon Pak Aditama. Ia juga tidak berpamitan pada Putri atau Kinan yang entah masih tidur atau sudah pergi shopping.
Citra menyelinap keluar dari Mansion Aditama seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri. Ia memesan ojek online tepat di depan gerbang komplek, lalu pergi meninggalkan kemewahan yang mencekik itu demi mencari secuil ketenangan.
Satu jam kemudian, Citra sampai di rumah ibunya.
Rumah itu kecil, catnya mengelupas, dan letaknya di gang sempit yang becek. Tapi bagi Citra, ini adalah surga dunia.
"Assalamualaikum..." panggil Citra lemas sambil mengetuk pintu kayu yang catnya sudah pudar.
Tak lama, pintu terbuka. Wajah Bu Sari muncul, tampak kaget melihat putrinya berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan mata sayu di jam kerja.
"Waalaikumsalam... Ya Allah, Citra! Nduk!" Bu Sari langsung panik. Ia memegang dahi Citra yang panas membara. "Badanmu panas banget! Kamu sakit? Kenapa pulang jam segini?"
Citra tidak menjawab. Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya. Aroma minyak kayu putih dan bedak bayi yang khas dari tubuh ibunya membuat tangis Citra pecah seketika.
"Bu... Citra sakit... Citra kangen Ibu..." isaknya di bahu wanita paruh baya itu, menumpahkan segala beban yang menghimpit dadanya.
Bu Sari memapah anaknya masuk, mendudukkannya di sofa tua yang jauh lebih nyaman daripada sofa kulit mahal di kamar Putra. "Iya, iya... Ibu di sini. Tiduran dulu, Nak. Suamimu mana? Nak Putra tahu kamu ke sini?"
Citra menggeleng pelan dalam pelukan ibunya. Ia terpaksa berbohong demi menenangkan hati ibunya.
"Mas Putra... lagi sibuk banget, Bu. Dia keluar kota lagi. Di rumah nggak ada orang, jadi Citra pulang aja biar ada yang ngerawat," dustanya, menyembunyikan fakta bahwa ia kabur tanpa izin. "Citra nginep ya, Bu? Malam ini aja..."
"Ya boleh to, Nduk. Ini kan rumahmu juga," ucap Bu Sari lembut sambil mengelus rambut Citra yang lepek keringat. "Sebentar, Ibu bikinkan teh anget sama bubur. Kamu istirahat di kamarmu."
Citra masuk ke kamar lamanya. Kasurnya kapuk, bukan spring bed. Tidak ada AC, hanya kipas angin tua yang berbunyi krek-krek. Tapi saat Citra membaringkan tubuhnya di sana, rasa nyamannya luar biasa.
Ia melihat tangan kanannya yang melepuh, lalu mengoleskan salep yang baru dibelinya di apotek depan gang. Perih, tapi hatinya sedikit tenang. Di sini, ia aman. Di sini, ia disayang.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Citra mematikan ponselnya. Ia tidak peduli pada dunia luar. Ia tidak peduli pada Putra. Ia hanya ingin tidur tanpa rasa takut.
Sementara itu, di Mansion Aditama.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil Putra memasuki garasi.
Putra pulang dengan tubuh lelah. Seharian ini ia sibuk dengan tumpukan berkas dan klien yang rewel. Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah mandi air hangat yang sudah disiapkan istrinya, handuk bersih yang wangi, lalu makan malam dengan tenang.
Namun, saat ia membuka pintu kamar, keningnya berkerut.
Gelap.
Lampu kamar mati. AC belum dinyalakan. Dan yang paling aneh, tidak ada aroma sabun mandi yang biasanya sudah menguar dari kamar mandi.
"Citra?" panggil Putra datar, menyalakan saklar lampu.
Ruangan itu terang benderang. Dan kosong.
Sofa tempat Citra biasa tidur terlihat rapi, bantal dan selimutnya terlipat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Putra mengecek kamar mandi. Kering. Tidak ada air hangat yang menyambutnya. Bak mandi itu kosong melompong, seolah mengejeknya.
Rasa kesal mulai merambat naik ke dadanya. Rutinitas nyamannya terganggu. "Ke mana bocah itu? Berani-beraninya dia keluyuran jam segini dan melalaikan tugasnya."
Putra turun ke bawah dengan langkah lebar, menemui salah satu asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang tengah.
"Bi, Citra ke mana?" tanya Putra dingin, menahan emosi.
Si Bibi tampak gugup. "Aduh, Den Putra... Bibi nggak tahu. Dari pagi Non Citra nggak kelihatan turun. Bibi kira sakit di kamar, jadi Bibi nggak berani ganggu."
Rahang Putra mengeras. Ia merogoh saku, mengambil ponselnya, dan menekan nomor Citra dengan kasar.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Darah Putra mendidih.
Ini pertama kalinya ada orang yang berani mengabaikannya. Istrinya yang ia anggap remeh, yang ia anggap bodoh dan penurut pergi tanpa izin, tanpa pesan, dan mematikan ponselnya.
Putra merasa egonya terluka parah. Bukan karena ia khawatir, tapi karena ia merasa otoritasnya dilangkahi. Ia merasa kehilangan pelayan pribadinya yang gratis itu.
"Bagus," desis Putra tajam sambil mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. "Sudah mulai berani membangkang rupanya. Lihat saja nanti kalau pulang. Saya akan pastikan dia tidak bisa keluar kamar seminggu."
Malam itu, Putra tidur dengan emosi yang meletup-letup di kasur empuknya yang terasa dingin, sementara Citra tidur lelap dengan damai di kasur kapuk ibunya, tidak menyadari badai besar yang sedang menunggunya. Dan Pak Aditama, satu-satunya penengah, masih berada ratusan kilometer jauhnya.
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih