Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Sangkar Emas
Penthouse Akbar Ares. Pukul 07:00 Pagi.
Sinar matahari pagi menembus dinding kaca setinggi enam meter, menyinari ruang tamu penthouse yang lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada tempat tinggal.
Mia terbangun di tempat tidur ukuran King Size yang seprainya terbuat dari sutra Mesir. Untuk sesaat, ia lupa bahwa di luar sana ada kudeta militer. Suasana di sini begitu tenang, dingin, dan... mahal.
Mia berjalan keluar kamar dengan langkah ragu. Ia menemukan Akbar sedang duduk di meja makan panjang, mengenakan kemeja santai (yang tetap terlihat mahal), membaca koran fisik sambil menyesap espresso.
"Selamat pagi, Nona Roti," sapa Akbar tanpa menoleh. "Tidurmu nyenyak? Aku sudah meminta staf mengatur suhu kamarmu tepat 22 derajat celcius."
Mia menarik kursi dan duduk. "Kasurnya terlalu empuk. Aku merasa seperti tenggelam dalam marshmallow."
"Itu bulu angsa asli dari Islandia," jawab Akbar. "Sarapan?"
Seorang koki pribadi muncul mendorong troli perak.
"Kami memiliki Omelet Truffle dengan jamur Porcini, Caviar Beluga, dan Smoked Salmon dari Norwegia," tawar sang koki.
Mia menatap makanan-makanan itu dengan kening berkerut.
"Kalian sadar tidak?" tanya Mia sinis. "Di bawah sana, orang-orang mungkin sedang antre untuk membeli makanan. Dan kalian makan telur ikan seharga motor?"
Akbar meletakkan korannya. Ia menatap Mia dengan tenang.
"Justru karena di bawah sedang kacau, kita harus menjaga moral tetap tinggi di sini. Makanlah, Mia. Ini bukan soal kemewahan, ini soal kalori. Kau butuh tenaga untuk memarahiku seharian."
Mia menghela napas, menyerah. Ia mengambil sepotong roti bakar.
"Akbar, aku harus mengecek tokoku. Ada adonan yang belum dipanggang di kulkas. Kalau listrik mati, semuanya akan busuk."
"Tidak bisa," tolak Akbar tegas. "Lift sudah kumatikan. Akses tangga darurat dijaga oleh mantan anggota SAS. Kau terkurung di sini sampai aku bilang aman."
"Kau ini penculik atau pelindung?!" protes Mia.
"Dua-duanya, tergantung sudut pandangmu," Akbar tersenyum tipis. "Nikmati saja liburan paksamu. Di sini ada perpustakaan, bioskop pribadi, dan kolam renang air hangat. Anggap saja ini... kompensasi karena aku pernah mencoba membeli hidupmu."
Mia menggigit roti bakarnya dengan geram. Ia terjebak di sangkar emas bersama miliarder paling menyebalkan di dunia. Masalahnya, miliarder ini satu-satunya yang menjamin dia tidak ditembak mati di jalanan.
Vila Bukit (Safe House). Pukul 08:30.
Suasana di vila Jay dan Angeline jauh lebih sederhana dan tegang. Tidak ada koki pribadi. Jay sendiri yang sedang menggoreng nasi sisa semalam di dapur, menggunakan kompor gas portable karena aliran gas utama kota mulai tidak stabil.
Angeline duduk di meja makan, wajahnya terlihat kurang tidur. Di hadapannya, laptop dan tiga ponsel berjejer.
"Jaringan internet mati total," keluh Angeline frustrasi. "Satelit darurat Leon hanya bisa dipakai untuk teks singkat. Aku tidak bisa membuka database klien. Bagaimana kita bisa bekerja?"
Jay meletakkan piring nasi goreng di depan istrinya. "Makan dulu, Angel. Otak butuh bahan bakar."
"Aku tidak nafsu makan, Jay. Karyawan kita... bagaimana nasib mereka? Aku merasa tidak berguna duduk diam di sini sementara mereka ketakutan."
Jay duduk di sampingnya, menggenggam tangan Angeline.
"Kau sudah melakukan yang terbaik. Leon sudah mengirim bantuan logistik lewat jalur tikus pagi buta tadi. Sekarang, tugasmu adalah menjaga dirimu sendiri agar saat situasi ini selesai, kau siap memimpin lagi."
Angeline menatap nasi goreng itu, lalu menatap Jay. "Maaf aku mengeluh terus. Terima kasih sudah memasak."
"Sama-sama."
Tiba-tiba, Leon masuk dari pintu samping dengan wajah datar.
"Tuan Jay," panggil Leon. "Bisa bantu saya sebentar di gudang genset? Ada... masalah teknis pada filter olinya. Saya butuh tenaga tambahan."
Angeline tidak curiga. "Pergilah, Jay. Bantu Leon. Jangan sampai kita mati lampu nanti malam."
Jay mengangguk, lalu mengikuti Leon keluar menuju bangunan gudang di belakang vila.
Begitu pintu gudang tertutup, sikap mereka berubah total.
"Gensetnya baik-baik saja, kan?" tanya Jay datar.
"Genset beroperasi 100%, Jenderal," jawab Leon. "Motor Anda sudah siap di balik tumpukan jerami. Jalur hutan di sisi utara bukit tidak dijaga oleh patroli Victor."
Jay membuka sebuah kotak kayu tua di sudut gudang. Di dalamnya tersimpan satu set pakaian serba hitam: Jaket hoodie lusuh, celana kargo, dan masker kain biasa. Penyamaran rakyat jelata.
"Berapa lama waktu yang kupunya?" tanya Jay sambil berganti pakaian dengan cepat.
"Tiga jam. Saya bilang pada Nyonya Angeline bahwa kita perlu membongkar total mesin genset untuk perawatan besar. Itu akan memberi Anda alibi."
"Cukup," Jay mengenakan masker hitamnya. "Awasi Angeline. Jika ada patroli militer mendekat ke vila ini dalam radius satu kilometer... bunyikan alarm diam."
"Siap."
Jay menyelinap keluar lewat pintu belakang gudang, mendorong motor trail tua tanpa menyalakan mesinnya sampai ia masuk cukup jauh ke dalam hutan.
Distrik 13. Gang Belakang Toko Vanko. Pukul 10:00.
Jay bergerak seperti bayangan di antara gang-gang sempit Distrik 13. Wilayah kumuh ini terkena dampak paling parah. Toko-toko dijarah, sampah berserakan, dan penduduk bersembunyi di balik pintu yang dipalang kayu.
Namun, toko jam Vanko's Timepiece masih buka, meski pintunya tertutup rapat.
Jay mengetuk dengan sandi khusus. Pintu terbuka sedikit.
Ia masuk. Bau tembakau tua menyambutnya.
"Kau nekat, Zero," suara serak Vanko terdengar dari balik meja kerjanya. Pria buta itu sedang membersihkan sebuah senapan laras pendek, bukan jam tangan. "Patroli Victor ada di setiap simpang jalan."
"Mereka mencari mobil mewah dan aktivis politik, bukan tukang ojek," jawab Jay santai, duduk di kursi pelanggan. "Bagaimana situasi di luar sana, Vanko? Mata dan telingamu pasti lebih tajam dari CNN."
Vanko meletakkan senapannya. Wajahnya serius.
"Ini bukan kudeta biasa, Jay. Victor Han tidak bekerja sendiri. Pasukan yang menjaga titik-titik vital... mereka tidak bicara bahasa kita. Aksen mereka berat, kaku."
"Vostok?" tebak Jay.
"Tepat. Unit Serigala Merah (Red Wolves) menyusup masuk menyamar sebagai tentara bayaran swasta. Mereka mengendalikan stasiun pemancar dan pelabuhan. Victor Han hanya boneka. Pengendali aslinya adalah Ivan Dragos."
Jay mengepalkan tangannya. Firasatnya benar. Ivan tidak mundur, dia hanya mengubah strategi dari invasi terbuka menjadi infiltrasi diam-diam lewat Victor Han.
"Ada lagi," lanjut Vanko. "Mereka sedang membangun sesuatu di Lapangan Merdeka pusat kota. Tiang-tiang gantung."
Mata Jay menyipit. "Eksekusi publik?"
"Untuk menakuti rakyat. Mereka akan menggantung siapa saja yang dianggap 'pemberontak'. Dan nama pertama di daftar pencarian orang mereka bukan Senator Arkady... tapi Angeline Severe."
Jay terdiam. Hawa dingin merambat di punggungnya. Angeline dianggap sebagai simbol perlawanan karena dialah yang menjatuhkan sekutu mereka (Arkady).
"Aku butuh jalur komunikasi," kata Jay. "Internet mati. Aku butuh cara bicara dengan unitku tanpa disadap."
Vanko merogoh laci di bawah meja. Ia mengeluarkan dua buah Walkie-Talkie militer model lama yang terlihat besar dan berat.
"Radio frekuensi rendah gelombang pendek. Teknologi tahun 80-an. Satelit canggih Ivan tidak akan bisa melacak ini karena mereka terlalu sibuk memantau sinyal digital. Jangkauannya 10 kilometer."
Jay mengambil radio itu.
"Satu lagi, Jay," Vanko mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ada rumor di jalanan. Rakyat mulai marah. Mereka butuh simbol. Jika kau ingin memenangkan perang ini tanpa membakar kota... kau harus memberi mereka harapan. Bukan sebagai Jay si suami, tapi sebagai Zero."
Jay memasukkan radio itu ke dalam tasnya. Ia berdiri, menatap pintu keluar.
"Belum waktunya Zero muncul," kata Jay. "Untuk sekarang, biarkan mereka takut pada kegelapan."