NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Budak Penambang Nomor 734

Matahari tidak pernah menyentuh dasarLembah Kabut Hitam. Di sini, satu-satunya cahaya berasal dari lumut berpendar yang menempel di dinding tebing curam dan obor-obor minyak ikan jeda yang menyala redup di pos penjagaan. Udara berbau belerang, keringat basi, dan aroma besi dari darah yang mengering.

Di sudut terjauh Tambang Roh Nomor Sembilan, seorang pemuda kurus sedang sempit beliung hitamnya.

Dentang!

Suara benturan logam dengan batu bergema, mengirimkan getaran menyakitkan ke lengan pemuda itu. Namanyakamu Chen. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi matanya memiliki kedalaman dan kelelahan seperti orang tua berumur satu abad. Pakaiannya hanyalah kain goni kasar yang penuh tambalan, basah oleh keringat dingin. Di dadanya, terdapat tato angka yang dibakar ke kulit:734.

"Tujuh puluh sembilan..." gumam Ye Chen serak, menghitung jumlahnyaBatu Roh Tingkat Rendahyang berhasil ia kumpulkan hari ini.

Dia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang penuh luka parut. Di duniaBenua Awan Merah, kekuatan adalah hukum mutlak. Mereka yang kuat menjadi Raja, Dewa, dan Abadi. Mereka yang lemah menjadi semut, atau dalam kasus Ye Chen, menjadi budak tambang bagiSekte Pedang Darah.

Tiga tahun lalu, Ye Chen bukanlah siapa-siapa. Dia adalah Tuan Muda dari Klan Ye di Kota Angin, seorang jenius yang membangkitkanAkar Roh Petirpada usia sepuluh tahun. Namun, takdir itu kejam. Sekte Pedang Darah klannya hanya karena ayahnya menolak menyerahkan pusaka leluhur. Akar roh Ye Chen dihancurkan, Dantian-nya direbut kembali, dan ia diseret ke lubang neraka ini untuk menambang sampai mati.

"Hei, Sampah 734! Berhenti melamun!"

Sebuah cambukan angin tajam menyambar punggung Ye Chen.

Cetar!

Rasa perih yang menyengat seketika menjalar. Ye Chen terhuyung ke depan, hampir mencium tanah berlumpur hitam, namun ia menahannya dengan gagang beliung. segar merembes Darah dari balik baju goninya, menambah koleksi luka di punggungnya.

Ye Chen tidak berteriak. Ia tidak mengerang. Ia hanya berbalik perlahan, menatap sosok yang berdiri di belakangnya.

Itu adalah Pengawas Liu, seorang pria gemuk dengan wajah berminyak yang mengenakan jubah murid di luar Sekte Pedang Darah. Di tangan tergenggam kulit ular sanca berduri. Tingkat keparahannya berada diRanah Penempaan Tubuh Tingkat 5. Bagi Ye Chen yang Dantian-nya rusak, Liu adalah gunung yang tak bisa didaki.

"Matamu itu..." Pengawas Liu mengedipkan matanya, ke tanah. "Setiap kali aku menemuimu, aku ingin mencungkilnya keluar. Kau pikir kau masih Tuan Muda? Kau hanya anjing penambang!"

Ye Chen menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilatan pembunuh di matanya. "Maafkan budak ini, Pengawas Liu. Saya hanya sedang mengatur napas."

"Mengatur napas? Jika kuota seratus Batu Roh hari ini tidak terpenuhi sebelum bel malam berbunyi, jangan harap kau dapat jatah makan. Bahkan air pun tidak akan kuberikan!" ancam Liu sambil memukulnya. "Dan dengar-dengar, Tuan Muda Han dari Sekte Utama akan datang besok untuk inspeksi. Jika ada satu saja debu di area ini, kepalamu yang akan kupakai sebagai kain pel!"

Setelah menendang keranjang rotan Ye Chen hingga isinya tumpah sebagian, Pengawas Liu tertawa terbahak-bahak dan berjalan menuju budak lainnya.

Ye Chen diam-diam mematung. Tangannya menggenggam beliung begitu erat hingga bukunya memutih. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, meneteskan darah.

Sabar,bisik suara di dalam hati.Tiga tahun aku bertahan memakan sampah dan meminum air lumpur. Aku tidak boleh mati konyol di sini. Aku harus hidup. Aku harus membalas dendam.

Ia berlutut, memunguti kembali batu-batu roh yang berserakan. Batu Roh adalah sumber energi yang paling berharga. Warnanya biru muda, memancarkan cahaya redup. Bagi murid sekte, ini adalah benda berharga untuk menyerap Qi. Bagi Ye Chen, ini hanyalah beban berat yang harus ia pikul setiap hari.

Saat ia memungut batu terakhir yang menggelinding ke celah dinding gua yang sempit, penjepit menyentuh sesuatu yang aneh.

Itu bukan batu kasar. Permukaannya licin, dingin, dan bulat sempurna.

Jantung Ye Chen berdegup kencang. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan waspada. Tidak ada yang memperhatikan. Para budak lain terlalu sibuk dengan penderitaan mereka sendiri, dan Pengawas Liu sudah berada di kejauhan.

Dengan hati-hati, Ye Chen menarik benda itu dari celah dinding. Itu adalah sebuah manik hitam legam seukuran kelereng. Tidak ada tekanan Qi, tidak ada cahaya. Benda itu tampak seperti batu kali biasa yang dipol, namun beratnya luar biasa—setara dengan memegang bola besi padat.

"Benda apa ini?" batin Ye Chen.

Tambang ini telah digali selama ratusan tahun. Menemukan benda asing yang bukan berlokasi besi atau batu roh adalah hal yang sangat langka.

Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk menyerang kepala Ye Chen. Manik hitam itu seolah menempel di kulit telapak tangan, menghisap darah dari luka bekas kuku yang ia buat tadi.

Zzzzt!

Ye Chen meresap darah ke dalam manik itu. Sekejap mata, warna hitam legam manik tersebut berubah menjadi merah darah yang mengerikan, lalu kembali menjadi hitam, seolah-olah baru saja menelan nyawanya.

Ye Chen panik dan mencoba melemparnya, tapi manik itu lenyap!

Bukan jatuh ke tanah, melainkan meleleh seperti es di atas tungku panas, meresap masuk ke dalam pori-pori telapak tangan, mengalir melalui pembuluh darahnya, dan melesat menuju lurus perut bagian bawahnya—menuju Dantian-nya yang hancur.

"Argh!" Ye Chen membungkuk, menahan erangan. Rasanya seperti ada belati panas yang mengaduk-aduk isi perut.

Dantian adalah wadah Qi bagi seorang yang terhormat. Tiga tahun lalu, Tetua Sekte Pedang Darah telah menghancurkannya dengan satu telapak tangan, membuat Ye Chen selamanya menjadi cacat yang tidak bisa menyimpan energi alam. Dantiannya ibarat cangkir pecah; berapapun air yang dituang, akan selalu bocor keluar.

Namun sekarang, di dalam kegelapan tubuhnya, manik hitam itu berdiameter tepat di tengah pecahan Dantian-nya.

Manik itu berputar perlahan. Setiap putaran memancarkan benang-benang energi hitam yang halus namun sangat kuat. Benang-benang itu menjulur, menarik pecahan-pecahan Dantian Ye Chen yang berserakan, merekatkannya kembali dengan paksa.

Rasa sakit itu bukan kepalang. Itu adalah rasa sakit penyusunan ulang tulang dan daging. Keringat Ye Chen membanjir, mencuci kotoran di wajahnya. Ia jatuh terduduk, napasnya memburu.

Ding!

Sebuah suara jernih, seperti lonceng kuno dari masa lalu, bergema di benak Ye Chen.

"Darah keturunan Dewa Asura terdeteksi. Syarat terpenuhi. Mengaktifkan Harta Karun Primordial: Mutiara Penelan Surga."

Kamu Chen terbelalak. Suara siapa itu?

Sebelum ia sempat berpikir, informasi membanjiri otaknya. Teknik pemancaran yang belum pernah ia dengar, gambar-gambar pertempuran langit yang menghancurkan bintang, dan sebuah metode pernapasan kuno:Sutra Hati Asura.

"Mutiara Penelan Surga dapat mengeluarkan segala sesuatu di langit dan bumi. Batu roh, senjata pusaka, darah iblis, bahkan esensi matahari dan bulan. Semua akan diubah menjadi Qi murni tanpa ampas."

Napas Ye Chen tertahan. Melahap segalanya?

Kultivator biasa harus bermeditasi berjam-jam untuk menyerap sedikit Qi dari batu roh, lalu mengerti lagi untuk membuang kotorannya. Prosesnya lambat dan sulit. Jika apa yang dikatakan suara itu benar...

Ye Chen gemetar. Ia melihat keranjang rotannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuahBatu Roh Tingkat Rendah.

"Telan," batinnya mencoba.

Wush!

Tidak ada teknik yang rumit. Begitu ia menginginkannya, Mutiara Penelan Surga di dalam perut berputar. Sebuah gaya hisap yang mengerikan muncul dari telapak tangan Ye Chen.

Dalam sekejap mata—kurang dari satu tarikan napas—cahaya biru di batu roh itu tersedot habis. Batu itu berubah menjadi abu abu-abu dan hancur menjadi debu di tangan Ye Chen.

Sementara itu, aliran hangat yang murni dan padat meledak di dalam tubuhnya. Tanpa perlu dimurnikan, energi itu langsung menyatu dengan darah dan dagingnya.

Dantian-nya yang baru saja diperbaiki (meski masih retak-retak halus) menyala.

Krak! Krak!

Suara tulang-tulangnya terdengar bergeser.

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 1... Puncak.

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 2... Awal.

Hanya dengan satu batu? Ye Chen hampir tidak percaya. Dulu, saat ia masih jenius, butuh tiga hari penyerapan penuh untuk naik dari tingkat 1 ke tingkat 2. Sekarang, hanya butuh satu detik?

Memang, tubuhnya sudah pernah menyatu sebelumnya, jadi jalur meridiannya sudah terbuka, membuatnya lebih mudah naik tingkat kembali. Tapi kecepatan ekstraksi energi ini... ini menakutkan!

Mata Ye Chen menyala dengan api yang sudah lama padam. Harapan.

Dia melihat tumpukan batu roh di keranjangnya. Ada sekitar 80 batu. Jika dia menyerap semuanya, dia akan gagal memenuhi kuota dan dihukum mati oleh Pengawas Liu.

Persetan dengan kuota, desis Ye Chen. "Jika aku punya kekuatan, akulah yang membuat aturan."

Tanpa ragu, ia meletakkan kedua tangannya di atas tumpukan batu roh di dalam keranjang.

"Telan!"

Pusaran hitam tak kasat mata muncul. Cahaya biru dari puluhan batu roh itu tersedot sekaligus seperti sungai yang mengalir ke laut.

Tubuh Ye Chen memanas hingga kulitnya memerah. Uap panas mengepul dari kepalanya.

Tingkat 2 Puncak...

Tingkat 3...

Tingkat 3 Puncak...

Energi pembohong mengamuk di dalam tubuhnya, membersihkan kotoran-kotoran yang mengendap selama tiga tahun menjadi budak. Lumpur hitam berbau busuk keluar dari pori-porinya. Otot-ototnya yang berbaring kembali berisi. Tulang-tulangnya memadat sekeras besi.

Dalam waktu lima belas menit, seluruh batu roh di keranjangnya telah menjadi debu.

Ye Chen membuka matanya. Di kegelapan gua tambang yang redup, matanya bersinar tajam seperti pisau yang baru diasah. Ia berkemah, merasakan kekuatan yang meledak-ledak.

Ranah Penempaan Tubuh Tingkat 4!

Meskipun masih jauh dari kekuatan masa lalunya (Ranah Pemadatan Qi), ini cukup untuk melawan murid luar biasa. Kekuatan fisik tingkat 4 setara dengan kekuatan dua ekor banteng.

"Hei! Kau di sana!"

Suara langkah kaki berat mendekat. Itu bukan Pengawas Liu, tapi dua orang anteknya, murid luar yang bertugas mengangkut hasil tambang.

"Nomor 734! Kenapa kau duduk saja? Mana setoran batunya?" bentak salah satu dari mereka, seorang pria kurus dengan wajah licik bernama Wang.

Ye Chen berdiri perlahan. Debu batu roh yang sudah tak berguna jatuhan dari jubahnya.

"Keranjangmu kosong?" Wang menatap keranjang rotan itu dengan tidak percaya, lalu wajahnya berubah menjadi seringai kejam. "Wah, wah. Kau mencari mati rupanya. Kau membuang hasil tambang? Atau kau mencoba menyembunyikannya?"

Temannya, seorang pria kekar, mencabut pedang besi dari pinggangnya. "Jangan banyak bicara. Pengawas Liu bilang jika dia membuat masalah, potong saja satu tangannya sebagai peringatan."

Pria kekar itu maju, tajamkan pedang besinya dengan teknikTebasan Angin. Meski teknik dasar, bagi budak biasa, ini adalah hukuman mati.

Namun, di mata Ye Chen yang sekarang, gerakan itu... lambat. Terlalu banyak celah.

Saat pedang itu dibungkus ke arah bahunya, Ye Chen tidak mundur. Ia melangkah maju, membungkus tubuhnya sedikit.

Dasar penakut!

Pedang itu lewat hanya satu inci dari membacanya. Sebelum pria kekar itu sadar serangannya meleset, tinju Ye Chen sudah meluncur.

Bukan tinju sembarangan. Ini adalahTinju Penghancur Batu, teknik dasar Klan Ye yang sudah ia latih ribuan kali di masa lalu, kini diperkuat dengan tubuh Tingkat 4.

BAM!

Tinju itu menghantam ulu hati pria kekar tersebut.

Terdengar suara tulang rusuk patah yang mengerikan. Pria kekar itu bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya terlempar tiga meter ke belakang, menabrak dinding gua, dan merosot jatuh ke mulut dengan berbusa. Pingsan seketika.

Hening.

Wang, si pria kurus, berdiri berbaring. Matanya memelotot seolah-olah hantu melihat. "Kau... kau... bagaimana mungkin? Kau hanya sampah tanpa substrat!"

Ye Chen mengibaskan tangannya, membuang sisa debu. Ia menatap Wang dengan dingin.

"Mulai sekarang," suara Ye Chen rendah namun menggema penuh wibawa, "Aku bukan lagi budak nomor 734."

Dia melangkah mendekati Wang. Langkah kakinya tenang, tapi bagi Wang, setiap langkah terdengar seperti mengukur jam kematian.

"K-kau berani melawan Sekte? Pengawas Liu akan membunuhmu! Tetua akan mengulitimu!" Wang mundur dengan gemetar, kakinya membentuk batu.

“Biarkan mereka datang,” kata Ye Chen. Dia mengambil pedang besi yang jatuh dari tangan pria kekar tadi. Besi dingin itu terasa familiar di tangan.

“Tapi sebelum itu,” Ye Chen menodongkan ujung pedang ke leher Wang yang terduduk ketakutan. "Serahkan semua pil penyembuh dan batu roh yang kau bawa. Sekarang."

Di kedalaman Lembah Tulang Dingin, di bawah bayang-bayang terdapat Sekte Pedang, darah naga yang tertidur telah terbangun. Dan dia sangat, sangat lapar.

(Akhir Bab 1)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!