NovelToon NovelToon
Rumah Yang Mengingat Namaku

Rumah Yang Mengingat Namaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Rumahhantu / Hantu / TKP
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?

Janji Tanpa Pewaris

Kami berdiri lama di tepi sumur seperti dua orang yang baru sadar berada di sisi jurang yang sama.

Tangan Bima masih menggenggam tanganku—bukan erat seperti sekutu, tapi ragu seperti orang yang takut kehilangan pegangan terakhir. Di sekeliling kami, retakan tanah yang sempat melebar perlahan mengerut, menyisakan garis tipis seperti luka lama.

Suara dari dalam sumur belum sepenuhnya hilang. Ia hanya mundur beberapa langkah, menunggu celah baru.

“Aku nggak pernah membayangkan sampai di titik ini,” kata Bima akhirnya.

“Aku juga,” jawabku jujur. “Selama ini aku pikir kamu musuh terakhir.”

Dia tersenyum getir.

“Dan aku pikir kamu cuma pintu yang keras kepala.”

Kami sama-sama tertawa pendek—tawa dua orang yang terlalu lelah untuk marah.

Di balik pepohonan, aku tahu Arga, Ayah, dan Dini sedang mengawasi dari kejauhan. Tapi momen ini memang harus terjadi hanya di antara kami berdua—pewaris dan penantang yang sama-sama terjebak.

Bima mengeluarkan buku catatan kakeknya dari tas kecil.

“Ada satu bagian yang belum kamu baca,” katanya.

“Bagian yang selalu aku hindari.”

Dia membuka halaman yang dilipat rapi.

Di sana tertulis:

“Jika suatu hari pewaris dan penantang bertemu tanpa benci, jalur bisa ditutup dengan dua nama yang menolak diwariskan.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

“Dua nama… maksudnya namaku dan namamu?”

Bima mengangguk.

“Raisa dan Bima. Bukan sebagai keturunan, tapi sebagai manusia yang memilih berhenti.”

Dadaku bergetar.

Selama ini aku selalu merasa sendirian memikul beban, ternyata ada satu orang lain yang nasibnya sama kusutnya.

Namun sebelum kami sempat merencanakan apa pun, suara langkah terdengar dari arah hutan.

Bukan langkah keluargaku.

Dari balik pohon muncul seorang lelaki bertubuh besar dengan jaket hitam—wajahnya tidak kukenal, tapi tatapannya jelas tidak bersahabat.

Di belakangnya ada dua orang lain membawa tas besar.

“Jadi benar kalian di sini,” katanya.

Bima langsung menegang.

“Pak Jaya? Kenapa Bapak ikut campur?”

Nama itu membuatku ingat: Pak Jaya adalah orang yang beberapa bulan terakhir sering membeli tanah di sekitar kampung, mengaku ingin membangun vila.

Lelaki itu tersenyum.

“Saya bukan ikut campur. Saya justru melanjutkan pekerjaan yang kamu ragu selesaikan.”

Aku melangkah mundur.

“Pekerjaan apa?”

Pak Jaya menunjuk sumur.

“Tempat ini bernilai besar, Nona. Jalur yang bisa dibuka bukan cuma untuk urusan gaib, tapi untuk banyak kepentingan.”

Aku langsung mengerti arah pembicaraan: uang.

Ternyata Bima tidak bekerja sendirian selama ini.

Pak Jaya mendanai banyak kegiatannya, berharap jalur itu bisa dimanfaatkan sebagai “daya tarik” proyek wisata mistis. Sebuah rencana gila yang mengubah luka lama menjadi bisnis.

Bima memucat.

“Kita sepakat cuma menjaga, bukan mengeksploitasi!”

Pak Jaya tertawa.

“Kesepakatan bisa berubah. Apalagi kalau menyangkut keuntungan.”

Aku merasa mual.

Selama ini aku takut pada makhluk di bawah tanah,

ternyata yang paling berbahaya justru keserakahan di atasnya.

Dua orang suruhan Pak Jaya mulai memasang alat di sekitar sumur: lampu, kabel, dan semacam antena kecil.

Arga dan Ayah berlari mendekat dari balik pohon.

“Berhenti!” teriak Ayah.

Pak Jaya menatap mereka dingin.

“Ini tanah yang sebentar lagi saya beli resmi. Kalian tidak punya hak melarang.”

Dini memegang lenganku.

“Ini kacau banget, Sa.”

Aku menatap Bima.

“Kamu tahu soal ini?”

Dia menggeleng keras.

“Aku bersumpah tidak.”

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan nyata di wajahnya—bukan takut pada makhluk, tapi pada manusia yang lebih serakah darinya.

Pak Jaya memberi isyarat pada anak buahnya.

Mereka membuka tas dan mengeluarkan benda-benda aneh: batu kristal, cermin kecil, bahkan kamera.

“Kami akan membuka jalur dengan cara modern,” katanya bangga.

“Tanpa perlu tumbal seperti cara kuno kalian.”

Aku merasakan udara di sekitar sumur berubah cepat—bukan lagi berat, tapi gelisah seperti binatang terpojok.

Bima mencoba mendekat.

“Jangan main-main dengan tempat ini!”

Pak Jaya mendorongnya.

“Kamu hanya alat. Sekarang minggir.”

Detik itu aku sadar, musuh sesungguhnya baru saja menampakkan wajah.

Suara dari sumur mulai bangkit lagi, lebih kasar.

Retakan di tanah melebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

Arga berteriak,

“Ini bukan membuka, ini memaksa!”

Aku merasakan tarikan di dadaku kembali—kali ini bukan memanggil namaku, tapi menarik seluruh tubuhku seperti magnet besar.

Pak Jaya menoleh padaku.

“Kamu kuncinya ya? Bagus. Mendekat sedikit, Nona.”

Bima langsung berdiri di depanku.

“Jangan sentuh dia.”

Pak Jaya menyeringai.

“Sekarang kamu sok pahlawan?”

Pertengkaran itu berubah menjadi dorong-dorongan. Ayah mencoba menarikku menjauh, tapi kakiku terasa menempel di tanah.

Dari dalam sumur terdengar tawa—bukan tawa Ranti, bukan suara yang kukenal sebelumnya. Suara itu lebih tua, lebih lapar.

Aku memejamkan mata, memanggil namaku sendiri.

Raisa. Laras.

Tapi kali ini tarikan tidak berkurang.

Pak Jaya memasang cermin menghadap sumur. Cahaya lampu memantul masuk ke dalam lubang seperti mengaduk air keruh.

“Lihat, teknologiku lebih kuat dari doa kalian,” katanya.

Namun tepat saat itu, bayangan dari dasar sumur memantul di cermin—bukan makhluk indah seperti yang mungkin dia bayangkan, melainkan wajah rusak penuh lubang.

Salah satu anak buahnya menjerit dan mundur.

“Kita harus pergi, Pak!”

Pak Jaya tetap keras kepala.

“Teruskan!”

Bima menoleh padaku dengan panik.

“Kita harus lakukan penutupan sekarang, bukan nanti!”

Aku mengangguk.

Kami berdiri berhadapan di tepi sumur seperti di rencana awal, tapi kini di tengah kekacauan.

Bima membaca kalimat dari buku:

“Dua nama yang menolak diwariskan.”

Aku memegang kalung Hidup, dia memegang kalung Jalan.

Kami mengucap bersamaan:

“Bima, bukan pewaris.

Raisa, bukan pintu.”

Angin berputar kencang.

Pak Jaya berteriak marah, mencoba menghentikan kami, tapi Arga dan Ayah menahannya.

Cahaya dari cermin meledak seperti disambar sesuatu dari bawah.

Suara di sumur berubah jadi jeritan panjang.

Ritual itu tidak indah seperti di cerita.

Tubuhku terasa ditarik dan didorong sekaligus. Kepalaku dipenuhi ribuan gambar: masa lalu kakek, masa kecil Bima, malam hilangnya Ranti, bahkan wajah-wajah orang yang belum kukenal.

Bima menangis di depanku.

“Aku menolak jadi penjaga!”

“Aku menolak jadi jalan!” teriakku.

Tanah bergetar hebat.

Pak Jaya terlempar beberapa meter saat antena kecilnya terbakar sendiri.

Dari dalam sumur muncul cahaya pucat yang naik perlahan seperti asap tebal.

Aku melihat sosok Bima Darsa pertama berdiri di antara cahaya itu—bukan lagi menakutkan, tapi lega.

Dia mengangguk pada kami.

Namun penutupan itu tidak berjalan mulus.

Salah satu anak buah Pak Jaya, mungkin karena panik, melempar batu besar ke arah sumur.

Batu itu memecah formasi kami.

Cahaya yang hampir padam kembali menyala liar.

Suara dari bawah berubah marah.

“Manusia selalu merusak pilihannya sendiri,” desis Bima.

Aku hampir jatuh ke lubang kalau Ayah tidak menarikku tepat waktu.

Pak Jaya yang ketakutan mencoba kabur, tapi kakinya seperti tertahan oleh tanah.

“Lepaskan saya!” teriaknya.

Sumur seperti menjawab dengan menariknya lebih kuat.

Di tengah kekacauan itu, aku membuat keputusan nekat.

Aku mengambil buku tua dan melemparkannya ke dalam sumur—tepat ke sumber cahaya.

“Cukup!” teriakku. “Tidak ada lagi warisan!”

Bima mengikuti tanpa ragu, melempar kalung Jalan miliknya.

Aku melepas kalung Hidup.

Dua simbol itu jatuh bersamaan.

Cahaya mendadak mengecil seperti api kehabisan oksigen.

Suara di sumur merintih panjang lalu perlahan surut.

Pak Jaya terlepas dan jatuh pingsan.

Hening turun seperti tirai.

Kami semua terengah-engah.

Retakan tanah menutup perlahan, antena dan alat modern hangus tanpa sebab.

Sumur kembali gelap—tapi bukan gelap mengancam, melainkan kosong.

Bima terduduk di tepi lubang sambil menangis.

“Aku bebas… atau justru kehilangan tujuan?”

Aku duduk di sampingnya.

“Kita akan cari tujuan baru.”

Ayah memelukku erat, Dini menangis lega, Arga bersyukur pelan.

Pak Jaya dibawa warga yang mulai berdatangan karena mendengar keributan. Proyeknya berakhir malam itu juga.

Namun bab ini tidak berakhir dengan kemenangan utuh.

Saat kami hendak pulang, dari dasar sumur terdengar suara terakhir—sangat kecil, hampir seperti angin:

“Jalur bisa ditutup, tapi ingatan tetap berjalan.”

Aku menoleh pada Bima.

“Kita mungkin tidak bisa menghapus semuanya.”

Dia mengangguk.

“Tapi kita bisa berhenti mewariskannya.”

Di perjalanan pulang, aku merasa ringan untuk pertama kali sejak cerita ini dimulai.

Tidak ada lagi tarikan di dada. Tidak ada bisikan memanggil namaku.

Tapi di dalam hati aku tahu:

perang besar mungkin selesai,

namun sisa-sisanya masih akan menguji kami.

Aku menatap langit yang mulai terang.

“Aku memilih hidup,” bisikku.

Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa benar-benar milikku.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 S͠ᴜʟʟy☠ᵏᵋᶜᶟ
Rahasia apa di rumah tua itu ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!