NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selama Otak Masih Bekerja, Eksperimen Belum Berakhir

Sebuah oase hijau seluas lima hektar.

Kebun Kelengkeng Diamond milik Sekar Ayu.

Daun-daunnya yang rimbun dan berwarna hijau tua tampak berkilau, seolah mengejek tanaman jati meranggas di sekitarnya yang kekurangan air.

Ratusan kuncup bunga berwarna kuning pucat mulai bermunculan, menjanjikan panen raya yang mustahil di musim kemarau panjang ini.

Namun, siang ini, ketenangan oase itu terkoyak.

Bukan oleh hama, melainkan oleh deru mesin konvoi mobil yang membelah jalan desa yang berbatu.

Tiga mobil SUV hitam berplat merah.

Satu truk polisi.

Dan dua mobil van bertuliskan "PERS".

Sekar, yang sedang memeriksa kadar pH tanah di blok A menggunakan soil tester digital, menegakkan tubuhnya.

Dia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan yang tertutup sarung tangan kain.

Matanya menyipit, bukan karena silau, tapi karena insting bahayanya menyala.

"Non... itu..." Pak Man berlari tergopoh-gopoh dari arah gerbang depan.

Wajah tua itu pucat pasi, napasnya memburu. "Banyak polisi, Non! Ada orang dinas juga!"

Sekar tidak panik.

Dia justru menekan tombol hold pada alat ukurnya, mencatat angka 6.8 di papan jalan yang dia bawa, lalu menatap Pak Man dengan tenang.

"Tenang, Pak. Jangan lari-lari nanti asma Bapak kambuh," ujar Sekar datar. "Biarkan mereka masuk. Kita tidak menyembunyikan mayat di sini."

Namun, Sekar tahu ini bukan kunjungan biasa.

Mobil terdepan berhenti tepat di depan gubuk kerja.

Pintu terbuka.

Seorang pria paruh baya dengan seragam khaki Dinas Lingkungan Hidup (DLH) turun.

Di dadanya tertera nama: Ir. Sujatmiko, M.Si.

Di belakangnya, beberapa petugas berseragam Polisi Hutan dan Polisi Pamong Praja turun dengan wajah garang, seolah siap menggerebek sarang narkoba.

Dan yang terakhir turun dari mobil mewah paling belakang... adalah sosok yang membuat darah Sekar berdesir dingin.

KMA Rangga Wisanggeni.

Pria itu mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang yang digulung rapi, kacamata hitam aviator, dan sepatu pantofel mengkilap yang kontras dengan debu kapur.

Rangga tersenyum.

Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Selamat siang, Sepupu Ipar," sapa Rangga. Suaranya renyah, ramah, tapi beracun.

Sekar melepas sarung tangan kainnya perlahan.

Dia tidak membungkuk hormat berlebihan.

Dia hanya mengangguk sopan, gestur profesional sesama pebisnis.

"Sugeng siang, Gusti Rangga. Angin apa yang membawa kerabat Keraton sampai ke tanah kapur yang panas ini? Hati-hati, debunya bisa merusak coating sepatu mahal Panjenengan."

Rangga tertawa kecil, lalu menepuk bahu Pak Sujatmiko.

"Saya hanya menemani Bapak Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran ini, Sekar. Sebagai warga negara yang baik dan peduli lingkungan, saya merasa wajib mengawal laporan masyarakat."

"Laporan?" alis Sekar terangkat satu.

Pak Sujatmiko maju selangkah, membuka map merah yang dia bawa.

Wajahnya kaku, tipikal birokrat yang sedang menjalankan tugas represif.

"Saudari Sekar Ayu Prameswari?" tanya Pak Sujatmiko formal.

"Benar, Pak."

"Kami dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Kidul, bersama Unit Tipidter (Tindak Pidana Tertentu) Polres, menerima aduan adanya aktivitas pertanian ilegal yang menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di lahan ini."

Sekar menahan napasnya sejenak, lalu menghembuskannya pelan.

Otak ilmuwannya berputar cepat.

B3? Tuduhan macam apa ini?

"Maaf, Pak. Sepertinya ada kesalahpahaman. Kebun ini 100% organik. Kami bahkan tidak menggunakan pestisida kimia. Bapak bisa lihat sertifikat..."

"Simpan pembelaan Anda untuk di pengadilan, Bu Sekar," potong Pak Sujatmiko kasar.

Dia memberi isyarat pada anak buahnya.

"Tim Lab Forensik, ambil sampel tanah dan air tanah sekarang!"

Empat orang petugas berseragam putih-putih lengkap dengan masker gas dan koper besi langsung menyebar ke area kebun.

Mereka menusukkan alat bor tanah ke area perakaran pohon kelengkeng.

Sekar mengamati mereka.

Dia melihat salah satu petugas mengambil botol sampel berisi cairan hitam pekat dari dalam tasnya sendiri—seolah-olah itu ditemukan di lokasi—lalu pura-pura menuangnya ke tanah sebelum mengambilnya kembali.

Itu planting evidence (menanam barang bukti).

Sangat kasar.

Sangat amatir.

Tapi di depan kamera wartawan yang kini mulai merangsek masuk dan memotret membabi buta, itu terlihat sah.

"Gusti Rangga," Sekar beralih menatap Rangga yang sedang menyalakan rokok dengan santai. "Apa maksud sandiwara ini?"

Rangga menghembuskan asap rokoknya ke udara, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sekar.

Aroma parfum Rose de Mai yang sama dengan milik Mawar tercium samar—mereka pasti baru bertemu.

"Kau terlalu serakah, Sekar," bisik Rangga, suaranya mendesis seperti ular. "Kau pikir kau bisa mengubah tanah kapur mati ini menjadi surga tanpa konsekuensi? Orang bodoh pun tahu, kelengkeng butuh air. Banyak air."

Rangga menunjuk pohon-pohon kelengkeng yang subur itu dengan ujung rokoknya.

"Tanah di sini porositasnya tinggi. Air hujan langsung hilang ke sungai bawah tanah. Tapi pohonmu..." Rangga berdecak kagum yang dibuat-buat. "Hijau. Basah. Segar."

"Itu teknik irigasi tetes dan mulsa organik," bantah Sekar tenang, meski jantungnya berdegup kencang.

"Bukan," sela Pak Sujatmiko yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka sambil memegang tabung reaksi berisi cairan keruh.

"Berdasarkan uji awal laboratorium independen yang kami terima," Pak Sujatmiko mengangkat tabung itu tinggi-tinggi agar difoto wartawan. "Tanah di sini mengandung residu Polimer Sintetis Cross-linked dosis tinggi."

Sekar terdiam.

Dia tahu istilah itu.

"Anda menuduh saya menyuntikkan plastik ke tanah?" tanya Sekar dingin.

"Zat pengikat air kimiawi," koreksi Pak Sujatmiko dengan nada menuduh. "Anda menggunakan hydrogel industri yang tidak terurai, dicampur dengan hormon steroid tanaman ilegal dari luar negeri. Zat ini memang menahan air, tapi residunya meracuni akuifer kars di bawah kita."

Flash kamera berkedip-kedip menyilaukan mata.

Seorang wartawan wanita dengan rompi oranye menyodorkan mic ke wajah Sekar.

"Ibu Sekar! Benarkah Ibu meracuni sumber mata air warga desa demi keuntungan pribadi?"

"Apakah benar pupuk ajaib ini menyebabkan kanker?" teriak wartawan lain.

"Apa komentar Anda tentang tuduhan terorisme lingkungan ini?"

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi seperti hujan panah.

Sekar merasakan tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena marah.

Analisis biokimia di kepalanya berteriak: Itu omong kosong! Polimer yang dimaksud Sujatmiko adalah rantai karbon alami dari asam humat pekat yang diekstrak dari tanah hitam ruang spasial. Struktur molekulnya memang mirip polimer, tapi itu 100% hayati!

Namun, menjelaskan perbedaan struktur molekul rantai karbon organik vs sintetis kepada massa yang sedang marah dan aparat yang sudah disuap adalah hal yang sia-sia.

Mereka tidak butuh kebenaran ilmiah.

Mereka butuh sensasi.

Rangga mundur selangkah, membiarkan Sekar dikeroyok media.

Dia menikmati pemandangan itu.

Gadis desa yang sombong itu, yang selalu bicara dengan dagu terangkat dan data yang rumit, kini terpojok seperti tikus.

"Pak Polisi!" seru Rangga lantang, suaranya penuh wibawa palsu. "Demi keselamatan warga Gunung Kidul yang menggantungkan hidup dari air tanah, saya mohon area ini ditutup sampai ada kejelasan hukum."

"Siap, Gusti!" jawab Komandan Polisi.

Dia melambaikan tangan.

"PASANG GARIS POLISI!"

Suara krek isolasi plastik kuning-hitam yang ditarik terdengar menyakitkan di telinga Sekar.

Para petugas mulai melilitkan pita kuning bertuliskan POLICE LINE - DO NOT CROSS itu mengelilingi gubuk penyimpanan, mesin pompa air, dan area pembibitan utama.

Pak Man yang melihat gubuk kerjanya disegel hendak maju melawan, "Jangan! Itu alat-alat tani saya! Bibit saya bisa mati kalau tidak disiram!"

Seorang polisi mendorong dada Pak Man dengan kasar hingga orang tua itu terhuyung ke belakang.

"Mundur, Pak! Ini TKP!" bentak polisi itu.

"Pak Man!" seru Sekar tajam.

Dia bergerak cepat menahan tubuh Pak Man agar tidak jatuh.

"Sudah. Biarkan," bisik Sekar di telinga sopir setianya itu.

"Tapi Non... mereka memfitnah kita..." suara Pak Man pecah, air mata menggenang di mata tuanya yang keriput.

"Saya tahu," Sekar menatap lurus ke arah Rangga yang sedang bersalaman dengan Pak Sujatmiko. "Mereka bukan ingin menutup kebun ini, Pak. Mereka ingin menghancurkan nama baik saya."

Rangga menoleh, menangkap tatapan Sekar.

Dia tersenyum miring, lalu mengangkat ponselnya, memperlihatkan layar yang menyala.

Sebuah notifikasi berita online baru saja naik.

Sekar bisa membaca judulnya dari jarak lima meter karena font-nya yang besar dan provokatif:

"SKANDAL PETANI MILENIAL: Pertanian Ajaib atau Racun Tanah? Kebun Gadis Desa Disegel karena Limbah B3."

Foto thumbnail-nya adalah foto candid Sekar yang terlihat angkuh, disandingkan dengan foto tong berlogo tengkorak (ilustrasi) yang mengerikan.

Dunia runtuh di sekitar Sekar.

Bukan karena dia kehilangan kebun.

Tapi karena dia tahu, di era digital ini, fitnah bergerak lebih cepat daripada cahaya, sementara kebenaran merangkak lambat seperti siput.

Seorang petugas menghampiri Sekar, menyerahkan selembar surat merah muda.

Surat Panggilan Pemeriksaan.

"Ibu Sekar Ayu, Anda diharapkan hadir di Polres Gunung Kidul besok pagi jam 09.00 untuk BAP sebagai saksi terlapor," ujar petugas itu kaku.

Sekar menerima kertas itu.

Tangannya tidak gemetar lagi.

Darah di tubuhnya yang tadi mendidih kini berubah menjadi es.

Mode scientist di otaknya mengambil alih kendali penuh, mematikan sirkuit emosi (amigdala) untuk sementara.

Dia menatap Pak Sujatmiko, lalu beralih ke Rangga.

"Baik," suara Sekar terdengar jernih di tengah kericuhan itu.

Begitu tenang hingga para wartawan seketika diam.

"Saya akan datang. Tapi ingat satu hal, Bapak-bapak sekalian."

Sekar mengangkat dagunya, matanya menatap tajam lensa kamera yang menyorotnya.

"Sains tidak pernah berbohong. Yang bisa berbohong adalah manusia yang memanipulasi datanya."

Dia menoleh ke arah Rangga.

"Dan reaksi kimia... selalu meninggalkan residu. Hati-hati, Gusti. Jangan sampai residu kebohongan ini meledak di wajah Anda sendiri."

Rangga mendengus meremehkan. "Ancaman kosong dari tersangka pencemar lingkungan."

"Kita lihat saja," gumam Sekar.

Dia berbalik badan, mengajak Pak Man pergi dari sana.

"Ayo pulang, Pak. Kita harus bersiap."

Di dalam mobil, Sekar tidak menangis.

Dia memejamkan mata, tapi bukan untuk tidur.

Pikirannya masuk ke dalam Ruang Spasial.

Dia berdiri di depan Pohon Data.

Layar holografis di otaknya menyala.

Query: Analisis Dampak Lingkungan Limbah Organik vs Sintetis.

Query: Metode Deteksi Pemalsuan Sampel Tanah.

Query: Kontra-Strategi Propaganda Media Massa.

Bibir Sekar bergerak pelan, menggumamkan sebuah janji.

"Kalian ingin bermain sains kotor? Baik. Akan saya tunjukkan bagaimana Profesor Bio-hayati membersihkan sampah."

Di luar jendela mobil, pemandangan bukit kapur berlalu cepat.

Di belakang sana, pita kuning garis polisi berkibar-kibar ditiup angin panas, menyegel hasil kerja kerasnya.

Tapi Rangga melupakan satu variabel penting dalam persamaannya.

Dia menyegel lahan fisik.

Tapi dia tidak bisa menyegel otak jenius yang ada di dalam kepala gadis desa itu.

Dan bagi seorang ilmuwan, selama otak masih bekerja, eksperimen belum berakhir.

Ini baru permulaan dari reaksi berantai.

@InfoJogjaUpdate: Waduh! Kebun viral 'Gadis Desa' di Gunung Kidul disegel polisi! Katanya pake zat kimia berbahaya yang bisa ngeracunin air sumur warga? Pantesan kelengkengnya gede-gede, ternyata suntikan steroid! 😱 #SkandalPetani #LimbahB3 #SaveGunungKidul

Kolom Komentar:

@MasBudi88: Wah parah sih, pantesan murah. Jangan-jangan yang beli kemarin udah keracunan?

@EmakEmakRempong: Ih ngeri! Padahal baru mau beli buat oleh-oleh. Boikot aja!

@PetaniJujur: Sudah kuduga. Gak masuk akal nanem di kapur bisa subur gitu kalau gak pake sihir atau kimia gila.

@AryaLover: Jangan nuduh dulu woy! Belum ada bukti pengadilan!

Dan Komentar ini langsung diserang buzzer bayaran Rangga.

Di Paviliun Keraton, GKR Dhaning membaca komentar-komentar itu sambil menyeruput teh melati.

Senyum puas merekah di wajah cantiknya.

"Tamat riwayatmu, Sekar," bisiknya pelan. "Sekarang, bahkan Arya pun tidak akan bisa menyelamatkanmu dari amuk massa."

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!