"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN YANG MEMBELAH HATI
Waktu seolah berhenti sejenak di ruang tengah itu. Saat Bagas menyodorkan boneka lumba-lumba besar itu, Kanaya tidak langsung menerkam bonekanya. Bocah perempuan itu mendongak, menatap mata Bagas yang tampak lelah namun berbinar penuh kasih sayang.
Kanaya melepaskan krayonnya, lalu memeluk leher Bagas dengan tangan mungilnya. "Makasih... Ayah," bisiknya pelan tapi sangat jelas di telinga Bagas.
Bagas terpaku. Boneka lumba-lumba itu hampir saja terlepas dari tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Setelah tiga tahun dipanggil "Om", setelah bertahun-tahun berjuang menelan gengsi dan bekerja keras di pabrik laundry, kata itu akhirnya keluar dari mulut putrinya sendiri.
Mbak Maya yang sedang berdiri di dekat meja makan ikut mematung. Matanya seketika berkaca-kaca. Ia melihat adiknya, Bagas, perlahan mendekap Kanaya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil anaknya agar tangis harunya tidak terlihat.
"Naya... panggil apa tadi? Coba bilang sekali lagi," bisik Bagas parau, suaranya bergetar hebat.
Kanaya melepaskan pelukannya, memegang pipi Bagas dengan kedua tangan mungilnya, lalu tersenyum lebar. "Ayah! Makasih boneka lumba-lumbanya, Ayah Bagas!"
Mbah Uti yang baru keluar dari dapur sampai menjatuhkan serbet yang dipegangnya. "Ya Allah, Bapak... dengar itu? Kanaya sudah panggil Ayah ke Bagas!" serunya memanggil Mbah Akung dengan suara penuh kegembiraan.
Mbah Akung berjalan cepat dari arah teras, wajah tuanya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. "Akhirnya ya, Gas... perjuanganmu lunas hari ini."
Mbak Maya mendekat, ia mengusap punggung Bagas yang masih sesenggukan. Kali ini, tidak ada sindiran atau kata-kata ketus yang keluar. "Dia sudah tahu, Gas. Dia sudah paham siapa yang setiap malam diam-diam mencium keningnya sebelum tidur, dan siapa yang bekerja paling keras buat dia. Kamu memang ayahnya, dan sekarang dia sudah mengakuinya."
Bagas mengangkat Kanaya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa kegirangan. Suara tawa mungil itu memenuhi seisi ruangan, memantul di antara dinding rumah yang kini terasa jauh lebih luas dan terang. Bagi Kanaya yang kini berusia tiga tahun, dunia di sekitarnya terasa begitu sempurna dan utuh.
Di matanya yang polos, hidupnya sudah sangat lengkap. Ia tidak merasa kekurangan apa pun. Ia memiliki Ayah Bagas yang selalu membawakannya mainan dan memeluknya hangat setiap pulang kerja. Ia memiliki Ibu Maya yang sangat disiplin merawatnya, menyisir rambutnya dengan rapi, dan membela kepentingannya di atas segalanya. Ia juga memiliki Mbah Akung yang selalu punya cerita seru dan Mbah Uti yang masakannya selalu paling enak di dunia.
"Ayah, ayo main lumba-lumba sama Ibu juga!" ajak Kanaya sambil menarik tangan Bagas dan baju Mbak Maya agar mereka duduk bersama di atas karpet.
Mbak Maya menatap Bagas, lalu menatap Kanaya. Ia tersenyum tulus, sebuah senyum yang kini jauh lebih sering muncul daripada kerutan di dahi. Ia duduk di samping Bagas, membentuk lingkaran kecil di lantai bersama putri kecil mereka.
"Iya, kita main sama-sama ya," ucap Maya lembut.
Mbah Akung dan Mbah Uti berdiri di ambang pintu ruang tengah, menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan lega yang tak terkira. Mereka melihat bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu telah diubah menjadi sebuah berkah yang menyatukan mereka semua. Kanaya adalah lem yang merekatkan kembali retakan-retakan di keluarga itu.
Bagi Kanaya, tidak ada yang aneh dengan keluarganya. Baginya, cinta yang ia terima dari Ayah, Ibu, dan kedua kakek-neneknya adalah kenyataan yang paling indah. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa ia adalah anak yang paling beruntung di dunia karena dikelilingi oleh orang-orang yang siap menjadi benteng untuk hidupnya.
Sore itu, di tengah ruang tamu sederhana di Bandung, mereka bukan lagi sekadar orang-orang yang tinggal serumah. Mereka adalah sebuah keluarga utuh yang telah melewati badai dan kini sedang menikmati pelangi lewat kehadiran Kanaya.
Pagi itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Mbak Maya sudah berhias lebih cantik dari biasanya, mengenakan gamis berwarna kalem yang membuatnya tampak anggun. Ia mengabarkan bahwa seorang rekan sesama guru yang sudah lama dekat dengannya ingin datang berkunjung untuk menunjukkan keseriusan.
Namun, suasana hangat di ruang tamu berubah menjadi mencekam hanya dalam waktu singkat. Saat calonnya, seorang pria bernama Pak Anwar, datang dan duduk di ruang tamu, Kanaya tiba-tiba berlari keluar dari kamar sambil memeluk boneka lumba-lumbanya.
"Ibuuu! Lihat, lumba-lumbanya mau ikut makan!" teriak Kanaya riang sambil menghampiri Maya dan memeluk kakinya.
Wajah Pak Anwar seketika berubah pucat. Ia menatap Kanaya, lalu menatap Maya dengan tatapan tidak percaya. "Ibu? Maya, kamu bilang kamu belum pernah menikah. Anak siapa ini?"
Maya mencoba menjelaskan dengan tenang, "Ini Kanaya, Anwar. Di atas kertas, dia anakku. Dia keponakanku yang aku adopsi secara resmi. Aku sudah pernah bilang kalau aku punya tanggung jawab besar di rumah ini."
Tetapi pria itu menggeleng pelan, wajahnya tampak kecewa. "Tapi saya tidak menyangka kalau dia memanggilmu 'Ibu' seakrab itu. Keluarga saya... mereka mencari wanita yang benar-benar 'bebas', Maya. Menanggung anak dari masa lalu adikmu itu beban yang terlalu berat buat saya. Maaf, sepertinya kita tidak bisa lanjut."
Tanpa menunggu lama, pria itu pamit pergi. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruang tamu setelah pintu tertutup.
Mbak Maya berdiri mematung, dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Ia menoleh ke arah Ayah dan Ibunya yang duduk di sofa seberang dengan wajah penuh rasa bersalah.
"PUAS?!" teriak Maya tiba-tiba, membuat Kanaya ketakutan dan langsung lari ke pelukan Bagas yang baru saja muncul di pintu dapur.
"Maya, tenang dulu..." ucap Ibunya dengan suara gemetar.
"Tenang gimana, Bu?! Ini yang Maya takutkan! Karena kesalahan Bagas, karena kalian terlalu lembek sama dia, hidup Maya jadi begini!" amuk Maya sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar. "Maya sudah relakan masa muda Maya buat jaga Ibu sama Bapak! Sekarang, saat ada orang yang mau serius, dia mundur karena nggak mau nanggung 'sampah' yang ditinggalkan Bagas!"
"Mbak, ini bukan salah Kanaya..." potong Bagas dengan suara rendah, mencoba membela putrinya.
"Diam kamu, Bagas! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku!" Maya berteriak lebih kencang, air mata amarah mengalir deras. "Gara-gara anak itu panggil aku 'Ibu', orang pikir aku wanita nggak bener! Aku kehilangan kesempatanku untuk punya hidup normal karena harus jadi 'benteng' buat kesalahan yang KAMU buat! Aku benci situasi ini! Aku benci harus selalu jadi orang yang berkorban di rumah ini!"
Mbak Maya membanting tasnya ke lantai dan masuk ke kamar, membanting pintu dengan sangat keras hingga guncangannya terasa ke seluruh rumah. Kanaya mulai menangis sesenggukan di pelukan Bagas, merasa bahwa dialah penyebab "Ibunya" marah besar.
Ayah Bagas hanya bisa tertunduk lesu, menyadari bahwa pengorbanan putri sulungnya memang memiliki batas kesabaran yang kini telah hancur.
Suasana rumah yang tadinya penuh teriakan amarah mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar setelah pintu kamar Mbak Maya tertutup rapat. Kanaya kecil, yang tadi sempat tersentak, kini hanya diam. Putri kecil itu memang jarang menangis. Ia memiliki ketabahan yang tidak biasa untuk anak seusianya; seolah ia sudah paham sejak lahir bahwa hidupnya berawal dari sebuah badai.
Ia melepaskan pelukannya dari kaki Bagas. Dengan langkah pelan, Kanaya berjalan mendekati tas Mbak Maya yang tergeletak di lantai akibat dibanting tadi. Ia memungut tas itu dengan tangan mungilnya, lalu meletakkannya kembali di atas kursi dengan sangat rapi.
Bagas, Mbah Uti, dan Mbah Akung hanya bisa mematung melihat tingkah laku Kanaya. Tidak ada tangisan, tidak ada rengekan. Kanaya hanya berdiri di depan pintu kamar Mbak Maya yang tertutup, lalu mengetuknya pelan sekali.
"Ibu... jangan malah (marah). Ikan lumba-lumba Naya buat Ibu aja, bial Ibu nggak sedih," ucapnya dengan suara kecil yang bergetar.
Di dalam kamar, suara tangis Mbak Maya yang tadinya meledak-ledak tiba-tiba terhenti. Kata-kata polos itu seperti sembilu yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Kanaya meletakkan boneka lumba-lumba kesayangannya tepat di depan pintu kamar, lalu ia berjalan mundur dan menghampiri Mbah Uti, meminta digendong tanpa mengeluarkan air mata setetes pun.
Bagas merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang terlalu cepat dewasa karena keadaan. "Mbak... maafkan aku," bisik Bagas pelan ke arah pintu kamar yang masih terkunci.
Mbah Akung mendekat, mengusap kepala Kanaya yang bersandar di bahu Mbah Uti. "Anak ini... dia tahu semuanya, tapi dia memilih untuk tetap sayang," gumam Mbah Akung lirih.
Malam itu, rumah kembali sunyi. Namun, di balik pintu kamar, Mbak Maya sebenarnya sedang terduduk di lantai, memeluk lututnya. Ia mendengar setiap ketukan kecil dan suara polos Kanaya. Amarahnya pada dunia dan pada Bagas memang besar, tapi saat ia melihat bayangan kecil Kanaya dari celah bawah pintu yang meninggalkan boneka kesayangannya, Mbak Maya sadar bahwa ia telah jatuh cinta terlalu dalam pada peran "Ibu" ini, meski risikonya adalah kehilangan kebahagiaan pribadinya.