Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Suara bisikan yang tadi samar kini berubah menjadi riuh rendah yang memekakkan telinga. Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah saudagar kaya dan praktisi bela diri tingkat tinggi, mulai menjaga jarak dariku seolah-olah aku adalah wabah yang bisa mencabut nyawa mereka dalam sekejap.
Aku berdiri mematung di tengah aula, merasakan tatapan tajam yang menghujam dari segala arah. Tangan kananku, yang masih berada di bawah pengaruh modul 'Peredam Aura', terasa berdenyut kencang. Rasanya seperti ada ribuan serangga yang merayap di bawah kulitku, memaksa ingin keluar.
"Satu jam, ya?" gumam He Ran sembari meletakkan kipas sutranya di atas meja.
Wanita itu sama sekali tidak terlihat panik. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang tampak meremehkan. Matanya yang ungu berkilat, menatap utusan yang masih berlutut di depannya dengan tatapan bosan.
"Nyonya, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa membiarkan Sekte Awan Azure menggeledah tempat ini!" seru salah satu tamu berpakaian emas dengan wajah yang pucat pasi.
"Kenapa kau yang gemetar, Tuan Song?" tanya He Ran sembari menoleh perlahan. "Bukankah kau tadi bilang bahwa pengawalmu bisa meratakan gunung dalam semalam?"
Tuan Song terdiam, wajahnya semakin memutih. Ia segera menarik napas panjang dan memalingkan wajah, tidak berani membalas tatapan He Ran.
Aku melirik ke arah pria berjubah kelabu di sudut ruangan. Pria yang diidentifikasi sistem sebagai 'Blood Hound' itu justru tertawa terbahak-bahak. Ia melemparkan tulang ayam yang sudah bersih dari daging ke lantai, lalu berdiri dengan gerakan yang sangat tidak stabil, seolah-olah ia sedang mabuk berat.
"Hei, Anak Baru," panggil pria itu sembari berjalan limbung ke arahku.
Langkahnya terasa aneh. Setiap kali kakinya menyentuh lantai, aku bisa merasakan getaran energi yang sangat liar, sangat berbeda dengan energi kultivasi murni yang biasa kutemui.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada bicara yang tetap tenang.
"Bau ketakutanmu sangat tajam," celetuk pria itu sembari berhenti tepat di depanku. "Tapi di baliknya, ada aroma daging yang sangat lezat. Kau bukan manusia biasa, kan?"
"Kau sendiri terlihat lebih mirip anjing liar daripada seorang pendekar," balasku sembari menatap matanya yang merah.
Pria itu menyeringai, memperlihatkan taringnya yang sedikit lebih panjang dari manusia normal. "Namaku Gwi. Dan aku sangat suka mematahkan tulang orang-orang yang bicara terlalu banyak."
"Gwi, kembali ke tempatmu," perintah He Ran dengan nada bicara yang tegas.
Gwi hanya mendengus pelan, namun ia mengikuti perintah itu. Ia kembali duduk di sudutnya sembari menatapku dengan tatapan lapar.
He Ran kemudian beralih menatapku. Ia berjalan mendekat, lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku.
"Kau punya dua pilihan, Han," bisik He Ran. "Keluar dari pintu belakang dan hadapi mereka sendirian, atau ikuti aku ke ruang bawah tanah dan biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku."
"Kenapa kau masih ingin membantuku?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya.
"Sudah kubilang, kau adalah kartu as-ku," sahut He Ran sembari menarik tanganku. "Dan aku tidak suka jika orang lain merusak barang milikku."
Ia membawaku menuju sebuah lorong di belakang aula. Para tamu masih terpaku di tempat mereka, tidak ada yang berani menghalangi langkah kami. Namun, saat kami baru saja mencapai pintu kayu besar di ujung lorong, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh bangunan.
BOOM!
Suara ledakan terdengar dari arah gerbang depan. Debu-debu mulai berjatuhan dari langit-langit, dan lampu gantung kristal di aula bergoyang hebat.
"Satu jam? Sepertinya Mu-deok tidak sepintar yang kukira," gerutu He Ran sembari mempercepat langkahnya.
[Peringatan: Pintu depan telah hancur.]
[Terdeteksi 50 individu dengan energi kultivasi tingkat rendah dan 3 individu tingkat Formasi Inti telah memasuki area kediaman.]
"Mereka sudah masuk," laporku sembari melepaskan pegangan tangan He Ran.
"Aku tahu," timpal He Ran sembari membuka sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di balik lukisan besar. "Masuklah ke dalam. Di sana ada kolam energi murni yang bisa membantumu menstabilkan transformasi monstermu."
"Lalu kau?" tanyaku.
"Aku akan menyambut tamu-tamu tidak sopan itu," jawab He Ran sembari menutup pintu rahasia tersebut tepat setelah aku melangkah masuk.
Aku berada di sebuah ruangan yang sangat gelap. Satu-satunya cahaya berasal dari sebuah kolam kecil di tengah ruangan yang mengeluarkan uap berwarna biru pucat. Bau obat-obatan yang sangat pekat menusuk hidungku, namun anehnya, bau itu membuat detak jantungku mulai melambat.
Aku duduk di pinggir kolam, mencoba mengatur napas. Namun, di tengah kesunyian itu, aku mendengar suara langkah kaki di dalam ruangan ini. Langkah kaki yang sangat ringan, hampir tidak terdengar.
"Siapa di sana?" tanyaku sembari bersiap untuk menyerang.
"Jangan tegang begitu, Han Wol," sahut sebuah suara yang sangat kukenal.
Aku tertegun. Sosok yang muncul dari balik bayangan adalah Jang Mi. Namun, penampilannya sangat berbeda. Ia mengenakan pakaian serba hitam, dan ada bekas luka bakar di pipi kanannya yang selama ini tidak pernah kulihat.
"Jang Mi? Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyaku dengan nada suara yang tidak percaya.
"Ayahku mungkin sudah mati, tapi dendamku tidak akan pernah padam," jawab Jang Mi sembari menghunuskan belati kecil yang berpendar ungu. "Kau pikir He Ran benar-benar ingin menolongmu? Dia hanya ingin mengambil esensi Asura-mu untuk memperkuat dirinya sendiri."
Sistem tiba-tiba memberikan notifikasi yang membuatku membeku.
[Peringatan! Jang Mi berada di bawah pengaruh teknik 'Jiwa Terbelah'.]
[Seluruh area ruangan ini telah dipasangi segel penghancur energi.]
"Kau sudah masuk ke dalam jebakan, Han Wol," ucap Jang Mi sembari tersenyum lebar.
Tiba-tiba, lantai di bawah kakiku mulai mengeluarkan cahaya merah yang sangat menyilaukan. Aku mencoba berdiri, namun seluruh tenagaku seolah-olah tersedot habis oleh lantai tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku sembari merintih kesakitan.
"Mengambil kembali apa yang sudah kau curi dari keluargaku," jawab Jang Mi sembari melangkah mendekat.
Tepat saat ia hendak menancapkan belatinya ke dadaku, pintu rahasia di belakangku hancur berkeping-keping. Sosok Gwi, sang 'Blood Hound', masuk dengan tubuh yang sudah bertransformasi menjadi setengah anjing hutan.
"Maaf mengganggu momen romantis kalian," geram Gwi sembari menerjang ke arah Jang Mi. "Tapi daging bocah ini adalah milikku!"
Benturan energi terjadi di ruangan sempit itu, menciptakan ledakan yang membuatku terpental ke dalam kolam uap biru. Saat tubuhku menyentuh air, sistem mengeluarkan suara yang sangat keras di dalam kepalaku.
[Sinkronisasi Darurat Terdeteksi.]
[Mengaktifkan Mode: 'Berserker Crawler'.]
[Kesadaran subjek akan menurun sebesar 80%.]
"Tunggu, jangan!" teriakku sebelum akhirnya seluruh pandanganku berubah menjadi merah darah.
Aku bisa merasakan tulang-tulangku memanjang dengan paksa, merobek kulit dan jubah baruku. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh rasa lapar yang tidak terbendung.
Di dalam kabut merah itu, aku melihat Jang Mi dan Gwi yang kini berhenti bertarung dan menatapku dengan wajah ngeri. Namun, yang paling mengejutkan adalah kehadiran sosok ketiga yang berdiri di ambang pintu yang hancur.
Itu adalah Jang Mu-deok, sang Tetua Penegak, yang kini memegang sebuah jimat emas besar di tangannya.
"Akhirnya kau memperlihatkan wujud aslimu, monster!" teriak Mu-deok sembari melemparkan jimat itu ke arahku.
Jimat itu meledak di udara, mengeluarkan rantai-rantai cahaya yang langsung melilit leher dan tanganku. Namun, bukannya merasa lemah, aku justru merasakan kekuatan yang jauh lebih besar mengalir masuk dari rantai-rantai tersebut.
[Esensi cahaya terdeteksi. Mengonversi menjadi energi kegelapan.]
[Evolusi instan dimulai: 45%... 60%...]
Aku tertawa, namun suara yang keluar bukanlah suaraku. Itu adalah suara ribuan jiwa yang berteriak secara bersamaan.
"Terima kasih atas makanannya, Tetua," geramku sembari menarik rantai-rantai itu hingga Mu-deok terseret ke arahku.