NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Dimas

Tasya hanya bisa terdiam setelah mendengar penjelasan dari keduanya. Ia tak pernah menyangka Dimas dan Nina rela mengorbankan diri, mengikuti permainan Andreas demi menyelamatkannya dari kesulitan yang lebih besar.

“Gue ngerti apa yang ada di pikiran lo sekarang, Sya,” ujar Dimas sambil menatapnya lurus. “Tapi gue mohon, untuk kali ini lo harus ikutin kemauan bokap lo, sampai semuanya kembali normal.”

Ia lalu menyerahkan data yang sudah diolah dengan rapi.

“Terus rencana kita buat cari tempat penelitian gimana?” tanya Tasya, matanya tak lepas dari Dimas.

“Lo bakal tahu semuanya sendiri,” jawab Dimas tenang. “Sekarang mending lo balik ke kamar dan anggap lo nggak pernah ketemu gue sama Nina.”

Tasya tak punya pilihan selain mengangguk, pasrah mengikuti permintaan Dimas. Sementara itu, Nina berpesan agar Tasya tetap kuat menjalani semuanya sendirian—sementara hukuman dari Andreas untuk Nina masih terus berjalan.

Satu bulan berlalu. Keduanya nyaris tanpa kabar. Tasya masih berkutat dengan Gaudy dan tim pengolah data yang, pada kenyataannya, tak benar-benar membantunya. Mereka memang menyusun beberapa rekayasa hasil penelitian demi mempercepat langkah Tasya menuju seminar bab pertama, tetapi semuanya terasa kosong dan memuakkan.

“Tasya, kenapa kamu masih aja nggak bisa ikut seminar, sih?” kelakar Ivone dari balik ponsel.

“Mami sendiri yang mau aku jalan tanpa Dimas,” balas Tasya ketus.

“Dia lagi!” Ivone berdecak. “Mami sama papi sudah berusaha ngasih data yang kamu butuhin. Tapi kenapa kamu selalu aja bikin alasan?” Ivone terus menekan dengan egonya.

“Harusnya mami sama papi hubungi Pak Sasongko dan tanya sendiri kenapa seminar aku terus diundur,” Tasya mulai membalas. “Jangan apa-apa aku terus yang disalahin. Kesan­nya aku ini anak yang nggak berguna sama sekali.” Ia memalingkan wajah dari layar ponsel.

“Kalau minggu depan kamu masih belum bisa seminar,” lanjut Ivone dingin, “papi akan urus kepindahan kuliah kamu ke Surabaya. Biar mami yang jadi dosen pembimbingnya.”

Telepon pun terputus.

“Lama-lama bisa gila gue!” pekik Tasya sambil melempar ponselnya ke sofa.

Gaudy hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Ada rasa iba di hatinya, tetapi sebagai orang yang dibayar mahal untuk mendampingi Tasya, ia tak punya ruang untuk ikut campur.

Malam itu, Tasya duduk sendirian di balkon, menatap temaram lampu kota. Tak ada teman bicara, hanya angin malam yang menyapu rambut lurusnya. Pikirannya terus kembali pada Nina dan Dimas—dua orang yang harus menelan akibat dari ide gilanya tempo hari.

“Non Tasya,” bisik Gaudy pelan, “kalau Non Tasya suntuk, aku bisa temani keluar sebentar.”

“Percuma lo bujuk gue,” sahut Tasya tanpa menoleh. “Ngapain juga gue jalan sama lo? Nggak ada untungnya.”

“Aku ngerti banget apa yang Non Tasya rasain,” kata Gaudy sabar. “Setidaknya aku bisa jadi sahabat sementara. Sekadar ngobrol, ngopi di kafe terdekat.”

Tasya terdiam sejenak. Setelah itu, ia masuk ke kamar, berganti pakaian, lalu keluar kembali.

“Aku sama Non Tasya ke kafe seberang,” ujar Gaudy kepada dua pria pengawal sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan. “Kalian boleh istirahat dulu.”

Mereka mengangguk, lalu tetap mengawal Tasya dan Gaudy hingga ke kafe yang berjarak sekitar lima ratus meter dari apartemen. Di sana, sekelompok anak muda duduk bercengkerama. Tasya mendadak teringat teman-temannya—orang-orang yang sudah lama tak lagi hadir dalam hidupnya.

“Non Tasya mau minum apa?” tanya Gaudy sambil menyodorkan menu.

“Terserah lo,” jawab Tasya ketus. “Yang penting nggak bikin gue makin suntuk.”

Pandangan Tasya beralih ke teras kafe yang ramai. Di sana, sepasang pria dan wanita duduk berhadapan. Mereka saling menatap—lalu pria itu melirik ke arahnya.

“Dimas…” gumam Tasya spontan, bangkit dari kursinya. Namun tangan Dimas sedikit terangkat, memberi isyarat agar Tasya tetap duduk supaya Gaudy tak curiga.

Wanita yang duduk bersama Dimas lalu berdiri, mengedipkan mata ke arah Tasya, dan berjalan masuk ke dalam kafe menuju toilet. Dari kejauhan, Tasya melihat Dimas menunjuk ke arah wanita itu, seolah memintanya untuk mengikuti.

“Gue mau ke toilet sebentar,” kata Tasya pada Gaudy. “Lo mau ikut?”

Gaudy mengangguk dan mengekor hingga ke dalam toilet. Di sana, wanita itu tak terlihat, tetapi suara flush terdengar dari salah satu bilik—seperti sebuah penanda.

“Gue mau boker. Lo mau ikut juga?” semprot Tasya kesal karena Gaudy masih membuntutinya.

“Silakan, Non. Saya tunggu di depan pintu aja,” jawab Gaudy sambil mencuci tangan, matanya mengawasi Tasya lewat pantulan cermin.

Toilet itu hanya dipisahkan sekat dengan celah hingga mata kaki terlihat. Tasya masuk ke salah satu bilik, berdampingan dengan bilik lain. Dari bawah sekat, sebuah amplop cokelat diselipkan ke arahnya. Tasya meraihnya. Tak lama kemudian, wanita itu pergi begitu saja.

Tasya tak berani membuka amplop itu. Ia langsung memasukkannya ke dalam tas. Saat kembali ke meja, Dimas dan wanita itu sudah tak ada—tempat mereka kini diisi pengunjung lain, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Setelah menghabiskan makanan ringan dan minuman yang dipesan, Tasya mengajak Gaudy kembali ke apartemen. Dua orang anak buah Andreas sudah berdiri tegap di depan pintu masuk, kembali mengawal mereka hingga ke dalam unit.

“Jadwal gue besok apa lagi?” tanya Tasya pada Gaudy, tepat sebelum masuk ke kamar.

Gaudy langsung membuka buku agenda yang tergeletak di meja makan. “Besok Non Tasya harus ke perpustakaan jam sebelas untuk menyelesaikan beberapa data yang belum lengkap.”

“Oh,” jawab Tasya cuek. Ia segera masuk ke kamar, lalu menguncinya rapat-rapat.

Begitu pintu tertutup, Tasya langsung mengeluarkan amplop pemberian Dimas. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk milik Dimas. Tak ada kertas, tak ada pesan tertulis. Jantung Tasya berdegup lebih cepat. Ia segera mengambil laptop dan earphone, lalu menancapkan flashdisk itu.

Layar menampilkan sebuah video.

“Hai, Sya. Kangen banget gue!”

Suara Nina terdengar ceria.

“Semoga lo kuat di sana, ya. Hari-hari gue sekarang ditemenin Dimas. Oh iya, setelah gue kenal lebih dekat sama dia, ternyata orangnya asik dan perhatian banget. Sorry ya kalau seandainya gue jatuh cinta sama dia.”

“Brengsek lo, Na,” gumam Tasya sambil tersenyum. Namun air mata rindu tak bisa ia bendung saat menatap wajah sahabatnya di layar.

“Hai, Sya. Semoga lo nggak kangen cowok nyebelin ini, ya,” suara Dimas menyela dari balik tubuh Nina. “Yang jelas, nggak lama lagi lo pasti bisa kumpul bareng sama kita lagi.”

“Sya,” Nina mendekatkan kamera, lalu mengarahkannya ke Dimas, “hukuman bokap lo tinggal beberapa hari lagi. Lo harus tetap kuat jalanin semuanya. Setelah itu, gue bakal dampingin lo ke mana pun.”

“Semoga skripsi lo gagal dan ditolak sama Pak Sasongko!”

“Amin,” sahut Nina sambil tertawa.

“Bener-bener lo berdua,” ujar Tasya lirih, senyumnya tertahan oleh tangis.

Dimas lalu mengangkat sebuah tesis yang pernah ia ambil di basement, menunjukkannya ke kamera. Detik berikutnya, video itu berhenti begitu saja.

Tasya panik, membuka file lain satu per satu. Tak ada video lanjutan. Hanya keheningan.

Air mata kembali mengalir. Nina—sahabat yang selalu ada di sisinya. Dimas—cowok menyebalkan yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang hidup. Kini keduanya terasa jauh, nyaris tak tersentuh.

Keesokan harinya, Tasya datang ke perpustakaan bersama dua orang dari tim pengolah data. Mereka segera mengumpulkan sejumlah buku untuk menyelesaikan bab pertama yang akan diajukan ke seminar.

“Lo semua bawa segini banyak buku nggak ngaruh, bego,” bisik Tasya saat belasan buku ditumpuk di atas meja.

“Kami tetap pada pendirian, Non,” jawab salah satu dari mereka tenang. “Semua data yang dibutuhkan pasti ada di sini. Non Tasya nggak perlu repot mikir, biar kami yang ngerjain.”

“Terserah lo,” ucap Tasya datar. “Tapi kalau sampai bab satu ini gagal dan ditolak, gue pastiin hidup lo berantakan.”

Ia beranjak dari meja mereka, berpindah ke sudut lain dengan laptop di tangan. Tasya mulai membaca data pemberian Dimas yang sudah disusun sejak lama.

“Shhh…” Tasya mengacak rambutnya sendiri. “Kenapa sih mereka nggak pernah dengerin omongan gue.”

Matanya menelusuri tiap baris tulisan, meski pikirannya melayang.

Semua jawaban ini ada di tesis berjudul

‘Dampak Budaya Luar terhadap Masyarakat Indonesia: Penetrasi Budaya Asing yang Merusak Cara Pandang’.

Tasya terdiam. Ia membuka halaman berikutnya. Tulisan yang sama muncul lagi—bahkan beberapa bagian dicetak tebal dan miring.

“Jangan-jangan…” gumamnya.

Ia segera beranjak ke meja resepsionis.

“Untuk judul tahun ’94, semuanya ada di Basement satu, ya, Mbak,” ujar petugas itu ramah.

Saat itulah Tasya sadar. Tulisan itu bukan sekadar kalimat biasa. Itu isyarat—petunjuk yang sengaja ditinggalkan Dimas untuknya.

Ia menoleh ke arah dua orang dari tim pengolah data.

“Heh, kampret,” bisik Tasya pelan. “Gue mau cari bahan lain di bawah. Lo mau ngikut atau nunggu di sini?”

Dadanya berdegup kencang. Ia takut—takut jika mereka akan terus mengikuti ke mana pun ia melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!