Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LABIRIN CERMIN YANG MENGHAKIMI
"Berhenti menatap Vio kayak gitu, Bu. Vio tahu itu bukan Mama yang asli."
Suara Nirmala bergema kaku di dalam ruangan yang seolah tidak memiliki ujung itu. Ia berdiri di tengah kepungan ribuan cermin setinggi langit-langit yang masing-masing memantulkan sosok Elena Larasati. Namun, Elena di dalam cermin-cermin itu tidak duduk di kursi roda. Ia berdiri tegak dengan gaun hitam pekat, mahkota jarum jam melingkar di kepalanya, dan tatapan mata yang seolah ingin menguliti eksistensi Nirmala sampai ke akar-akarnya.
"Vio? Nama itu sudah basi, Materi 001," sahut ribuan pantulan Elena secara serempak. Suara mereka menciptakan harmoni yang menyakitkan telinga, seperti gesekan logam yang ditarik paksa. "Kamu pikir dengan memutar jarum jam tua itu, kamu bisa lari? Ini adalah Ruang Refleksi. Tempat di mana Ordo menghapus mereka yang tidak lagi punya kegunaan."
Nirmala mencengkeram gagang payung birunya yang kini terasa sedingin es. Ia mencoba tidak melihat pantulan-pantulan itu, tapi ke mana pun matanya beralih, wajah ibunya yang penuh dendam selalu ada di sana. "Gue punya nama. Nama gue Nirmala. Dan gue bukan barang!"
"Nirmala hanyalah label baru di atas botol yang sama," pantulan itu melangkah maju. Secara ajaib, sosok Elena keluar dari permukaan kaca cermin, mewujud menjadi massa cahaya hitam yang padat di depan Nirmala. "Nathan memberikanmu perasaan agar kamu bisa menderita. Dan sekarang, penderitaanmu akan menjadi bahan bakar untuk memperbaiki garis waktu yang kamu rusak."
Massa cahaya hitam itu mengangkat tangan, dan tiba-tiba ribuan jarum jam berukuran mikro melesat dari permukaan cermin, mengarah tepat ke arah jantung Nirmala. Nirmala secara refleks menyentakkan payung birunya terbuka.
SRAK!
Pendar safir dari payung itu menahan terjangan jarum-jarum tersebut, namun Nirmala bisa merasakan kekuatannya mulai melemah. Tempat ini seolah menyedot energi dari "Materi Murni" yang ada di dalam tubuhnya.
"Sst! Jangan berisik kalau masih mau punya bayangan!"
Sebuah bisikan tajam terdengar dari balik salah satu cermin yang retak di sudut ruangan. Nirmala tersentak, ia melirik ke arah suara itu berasal. Sebuah tangan terjulur keluar dari celah cermin yang pecah, menarik kerah jaket Nirmala dengan kasar.
"Eh, siapa lo?! Lepasin!" Nirmala meronta.
"Diem atau lo beneran bakal jadi pajangan di sini!"
Nirmala ditarik masuk ke dalam celah sempit di antara dua cermin besar. Di sana, di sebuah ruang tersembunyi yang remang-remang, berdiri seorang pemuda yang tampak sangat berantakan. Ia memakai jaket teknisi berwarna oranye kusam yang penuh dengan noda oli, kacamata berbingkai tebal yang salah satu lensanya retak, dan sebuah gawai canggih yang ia tempelkan ke dinding cermin menggunakan kabel-kabel tembaga.
"Lo siapa?" tanya Nirmala, mengatur nafasnya yang memburu.
"Nama gue Lukas. Mantan debugger sistem di Ordo pusat sebelum gue mutusin buat 'pensiun dini' dan terjebak di ruangan sialan ini selama tiga tahun waktu lokal," jawab pemuda itu tanpa menoleh. Jemarinya menari lincah di atas layar gawainya yang menampilkan barisan kode berwarna hijau yang terus mengalir. "Dan lo... lo adalah alasan kenapa radar Ordo di seluruh dimensi Jakarta mendadak merah semua. Materi 001, kan?"
"Panggil gue Nirmala," desis Nirmala tajam. "Gimana lo bisa tahu soal gue?"
Lukas tertawa kering, sebuah suara yang terdengar sarkastik. "Siapa yang nggak tahu? Berita soal anak Nathan Mahendra yang nelan koin waktu dan mecahin Jantung Waktu itu udah jadi gosip paling panas di kalangan pelarian. Lo itu selebriti di dunia bawah tanah, Kak."
Nirmala menyandarkan punggungnya ke dinding kaca yang dingin. "Gue nggak mau jadi selebriti. Gue cuma mau pulang. Gue mau hidup tenang."
"Tenang itu mahal kalau lo punya mesin waktu di dalam nadi lo," Lukas berhenti mengetik, ia menoleh ke arah Nirmala dengan tatapan serius. "Denger ya, Kak Nirmala. Ruangan ini bukan cuma tempat eksekusi. Ini adalah Recycle Bin bagi data-data yang nggak diinginkan Ordo. Elena yang lo liat di luar tadi itu bukan nyokap lo. Itu adalah 'Manifestasi Penyesalan'. Dia bakal terus ngejar lo sampai lo ngerasa cukup bersalah buat menyerahkan diri."
Tiba-tiba, suara hantaman keras terdengar dari luar persembunyian mereka. Permukaan cermin yang menutupi Lukas dan Nirmala mulai retak-retak. Suara Elena kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan lebih dingin.
"Materi 001... jangan bersembunyi di balik sampah sejarah. Sera sudah menunggu laporannya."
Lukas mengumpat pelan. Ia segera mencabut kabel-kabelnya. "Sial, dia cepet banget nemuin frekuensi kita. Sera itu Auditor gila, dia nggak bakal berhenti sampai dia dapet koin lo!"
"Kita harus gimana?" tanya Nirmala panik. Ia melihat pendar payung birunya mulai berkedip-kedip, seolah memberikan peringatan bahaya.
"Gue punya backdoor buat keluar dari sini, tapi gue butuh trigger dari energi lo," Lukas menunjuk ke arah telapak tangan kiri Nirmala. "Gue tahu roda giginya sudah ilang, tapi residu koinnya masih ada di aliran darah lo. Gue butuh lo buat nyentuh terminal ini dan bayangin satu memori yang paling nyata, yang bukan buatan Ordo."
Nirmala menatap terminal logam yang disodorkan Lukas. "Memori yang nyata? Semuanya terasa palsu sekarang, Lukas."
"Cari sesuatu yang paling sakit, Kak! Rasa sakit itu biasanya yang paling asli!" teriak Lukas saat dinding cermin di depan mereka meledak menjadi ribuan serpihan tajam.
Sosok Elena muncul dari balik ledakan kaca, tangannya terjulur seperti cakar yang siap merobek realitas. Nirmala memejamkan mata, ia mencoba mencari di dalam kepalanya. Ia tidak mencari senyum ayahnya atau kehangatan ibunya. Ia mencari rasa perih saat ia jatuh dari motor tadi, rasa pahit kopi yang diberikan Andre, dan rasa takut yang nyata saat ini.
"SEKARANG!" teriak Nirmala sambil menempelkan telapak tangannya ke terminal Lukas.
Seketika, gelombang energi biru pekat memancar dari tubuh Nirmala, menyelimuti Lukas dan seluruh ruangan itu. Cahaya itu bertabrakan dengan bayangan hitam Elena, menciptakan ledakan frekuensi yang membuat cermin-cermin di sekeliling mereka hancur menjadi debu putih.
Dunia di sekitar mereka melenyap, berganti dengan kekosongan yang berputar-putar. Nirmala merasakan tubuhnya ditarik ke segala arah, namun ia tetap menggenggam gagang payung birunya dengan satu tangan dan jaket Lukas dengan tangan lainnya.
Beberapa saat kemudian, rasa gravitasi kembali menyentak mereka. Nirmala jatuh tersungkur di atas permukaan yang empuk dan berbau apak. Saat ia membuka mata, ia menyadari bahwa mereka berada di sebuah tempat yang sangat asing namun terasa sangat manusiawi.
Mereka berada di dalam sebuah gudang tua yang dipenuhi dengan ribuan payung lipat berbagai warna yang digantung di langit-langit. Di sudut ruangan, seorang pria tua sedang duduk di atas kursi goyang, menyesap teh dari cangkir porselen yang retak.
Itu Alfred.
"Kalian terlambat lima menit untuk jam minum teh," ucap Alfred tanpa menoleh, suaranya tetap tenang seolah tidak ada kiamat yang sedang mengejar mereka di luar sana.
Nirmala bangkit berdiri, tubuhnya masih gemetar. "Kek... ini di mana? Dan kenapa Kakek selalu ada di mana-mana?"
Alfred meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Nirmala dengan mata abu-abunya yang tajam. "Ini adalah 'Gudang Payung yang Terlupa'. Satu-satunya tempat di Jakarta yang tidak terdaftar di peta Ordo karena tempat ini dibangun dari waktu-waktu yang dibuang manusia begitu saja."
Lukas tampak melongo melihat Alfred. "Tuan Alfred? Jadi rumor itu bener... lo beneran masih hidup?"
"Hidup hanyalah masalah perspektif, Nak," sahut Alfred pendek. Ia kemudian beralih kembali ke Nirmala. "Nirmala, payung birumu sudah tidak bisa lagi menahan beban identitasmu. Kamu butuh sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar kain dan rangka."
"Gue butuh apa, Kek?" tanya Nirmala lelah.
Alfred berdiri, langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu yang berdebu. Ia berjalan menuju sebuah peti besi kecil yang diletakkan di bawah tumpukan payung merah. Ia membuka peti itu dan mengeluarkan sebuah pena perak yang tampak identik dengan milik Nirmala, namun pena ini memiliki ukiran nama yang berbeda.
"Kamu butuh menulis namamu sendiri di buku besar Ordo," Alfred menyodorkan pena itu. "Bukan sebagai materi, bukan sebagai arsitek, tapi sebagai pemilik tunggal dari waktu yang kamu jalani."
Tiba-tiba, pintu gudang tua itu digedor dari luar dengan kekuatan yang luar biasa. Suara Sera, sang Auditor, terdengar melengking membelah keheningan.
"Alfred! Serahkan anomali itu sekarang, atau aku akan menghapus gudang ini beserta seluruh isinya dari garis waktu!"
Alfred menghela nafas panjang. Ia menatap Nirmala dengan tatapan yang sulit diartikan—antara simpati dan harapan.
"Pilihannya ada padamu, Nirmala," bisik Alfred tepat saat pintu gudang mulai retak. "Kamu mau tetap menjadi pelarian yang bersembunyi di gudang payung, atau mau pergi ke Monas dan menulis ulang takdirmu di depan mata mereka semua?"