Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam para kelurga elite
Jika rumah Sifa di Gang Senggol berbau apek dan lembap, maka kediaman keluarga Adiwangsa di kawasan elite Menteng ini berbau uang. Secara harfiah. Aroma pengharum ruangan Jo Malone varian English Pear menyeruak di setiap sudut, menyatu dengan dinginnya AC sentral yang disetel di suhu 18 derajat Celsius.
Di ruang makan yang luasnya bisa dipakai main bulu tangkis itu, sebuah meja panjang dari kayu jati utuh mendominasi. Di atasnya, lampu gantung kristal Swarovski berkilauan, memantulkan cahaya ke piring-piring porselen Hermès yang harganya setara motor matic baru.
Rana duduk di ujung meja, sibuk mengunyah salmon en croute dengan anggun, meski matanya tak lepas dari layar iPhone 15 Pro Max miliknya. Di sebelahnya, Rani, adiknya yang beda setahun tapi kembar kelakuan, sedang cemberut menatap piring saladnya.
"Ma, ini kok dressing-nya asem banget sih? Koki baru itu bego ya?" keluh Rani sambil membanting garpu peraknya ke piring. Tring! Suaranya nyaring memecah kesunyian.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah kencang hasil botox dan leher berhias kalung berlian, Nyonya Linda, menoleh malas. Dia tidak sedang makan, melainkan sibuk memarahi asisten rumah tangganya lewat telepon karena salah membelikan tas Chanel.
"Sstt! Diem dulu deh, Ran. Mama lagi pusing nih," desis Nyonya Linda, lalu kembali bicara ke telepon. "Saya nggak mau tau! Pokoknya tuker warna beige! Kalau nggak ada, kamu cari sampai ke Singapura!"
Di ujung meja yang lain, duduklah Tuan Adiwangsa, kepala keluarga sekaligus salah satu pemegang saham minoritas di NVT Group. Pria berperut buncit itu sibuk dengan tabletnya, membaca grafik saham yang sedang merah, wajahnya masam.
Tidak ada obrolan hangat. Tidak ada "gimana harimu?". Tidak ada doa bersama.
"Pa," panggil Rana, meletakkan ponselnya sebentar. "Aku butuh tambahan limit kartu kredit dong buat bulan depan."
Tuan Adiwangsa bahkan tidak mendongak. "Buat apa lagi? Bulan lalu tagihan kamu lima puluh juta. Papa bukan mesin ATM."
"Ih, Papa pelit!" rengek Rana. "Bulan depan ada launching koleksi Dior baru. Masa Rana pake baju lama? Malu dong sama temen-temen. Si Bella aja dibeliin mobil baru sama bokapnya."
"Iya Pa, Rani juga mau liburan ke Bali sama geng sosialita kampus," timpal Rani, melupakan saladnya yang 'asem'. "Masa kita anak direktur NVT liburannya di rumah doang? Apa kata dunia?"
Tuan Adiwangsa menghela napas kasar, memijat pelipisnya. "Kalian ini bisanya cuma habisin duit. Papa lagi pusing! Proyek gudang lagi diaudit sama pusat. Kalau ketahuan ada selisih anggaran, posisi Papa bisa terancam."
"Alah, Papa kan pinter. Tinggal suap sana-sini beres," sahut Rana enteng, seolah menyuap orang adalah hal lumrah seperti beli permen. "Lagian, Papa kan punya anak buah yang bisa dikorbanin. Si Burhan itu kan nurut banget sama Papa."
Tuan Adiwangsa terdiam sejenak, lalu tersenyum miring. Ide anaknya yang manja itu ada benarnya juga. "Ya, Burhan memang anjing penjaga yang setia. Selama dia bisa membereskan laporan, Papa aman."
Rani tertawa kecil. "Ngomongin kantor, Pa tau nggak? Di kantor ada anak magang baru yang super duper aneh. Namanya Sifa. Sumpah ya, Pa, dia itu polusi mata banget."
"Sifa?" Tuan Adiwangsa mengerutkan kening, tidak peduli.
"Iya, si Sifa Si Sampah. Dulu satu SMA sama kita. Anaknya miskin, bau, kacamata kuda. Eh, malah nyasar kerja di NVT," cerocos Rani penuh semangat. Membicarakan kejelekan orang lain sepertinya adalah dessert favorit mereka.
"Tadi pagi kita kerjain dia, Pa," sambung Rana sambil terkikik. "Kita cipratin air got pake mobil baru Papa. Mukanya kocak banget! Udah kayak tikus kecebur selokan."
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sama yang menghantui Sifa. Bagi mereka, penderitaan orang lain adalah hiburan gratis.
Nyonya Linda menutup teleponnya, lalu ikut menimpali. "Bagus itu. Orang-orang kayak gitu emang harus dikasih pelajaran biar tau tempat. Jangan sampai kantor elit kayak NVT jadi kumuh gara-gara nampung gembel. Harusnya HRD lebih selektif."
"Tenang aja, Ma," kata Rani dengan senyum licik. "Kita bakal bikin dia nggak betah. Liat aja nanti. Paling seminggu lagi dia nangis-nangis minta resign."
Tiba-tiba, seorang pelayan berseragam rapi datang membawakan dessert.
"Misi, Non. Ini crème brûlée-nya," ucap pelayan itu sopan, menunduk hormat.
Rani menatap pelayan itu dengan tatapan menilai. "Mbak, kok tangan kamu kasar sih? Jorok banget. Nanti makananku jadi nggak higienis."
Pelayan itu gemetar. "M-maaf, Non. Tadi habis nyuci piring di belakang..."
"Ganti!" bentak Rani, mendorong piringnya sampai hampir jatuh. "Aku nggak mau makan bekas tangan babu kasar! Ilfeel tau nggak!"
Pelayan itu buru-buru mengambil piring itu lagi dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Ba-baik, Non. Maafkan saya."
Rana memutar bola matanya. "Drama banget sih. Udah sana pergi! Bikin nafsu makan ilang aja."
Setelah pelayan itu pergi, suasana kembali hening. Hanya denting sendok dan suara notifikasi HP yang terdengar.
Di meja makan yang berlimpah makanan mewah ini, hati mereka kelaparan. Tidak ada cinta di sini. Rana dan Rani tumbuh menjadi monster karena mereka dibesarkan oleh orang tua yang mengukur kasih sayang dengan limit kartu kredit, bukan pelukan. Mereka menindas Sifa karena hanya dengan merendahkan orang lain, mereka bisa merasa tinggi.
Tuan Adiwangsa kembali menatap tabletnya. "Ran, Rin. Ingat. Papa nggak mau tau urusan main-main kalian di kantor. Yang penting, jaga nama baik keluarga. Jangan sampai kalian pacaran sama staf rendahan. Target kalian itu level manajer ke atas, atau kalau bisa, dekati Adi."
Mendengar nama Adi, mata Rana dan Rani langsung berbinar serempak. Seperti hiu mencium bau darah.
"Ah, Mas Adi!" seru Rana histeris. "Gila sih, Pa. Dia itu perfect banget. Ganteng, kaya, dingin-dingin misterius gitu. Aku udah coba DM Instagram-nya tapi belum dibales."
"Dih, ngarep lo," sikut Rani. "Mas Adi itu seleranya yang cute dan fun kayak gue. Bukan yang tua kayak lo."
"Heh! Gue cuma beda setaun ya!"
"Udah, udah!" Nyonya Linda melerai, tapi matanya berbinar ambisius. "Kalian berdua harus berusaha. Siapa pun yang bisa dapetin Adi, masa depan keluarga kita bakal aman tujuh turunan. NVT itu raksasa. Kalau kita bisa besanan sama keluarga pemilik, kita bakal jadi raja di Jakarta."
Rana menyeringai sambil membetulkan rambutnya di kamera depan HP. "Tenang, Ma. Rana punya seribu cara buat bikin cowok klepek-klepek. Liat aja, pesta ulang tahun perusahaan bulan depan, Rana bakal jadi pasangan dansa Mas Adi."
"Dalam mimpi lo!" cibir Rani.
Di tengah perdebatan rebutan cowok itu, tak ada satupun yang sadar bahwa "semut" yang tadi pagi mereka injak, Sifa, kini sedang merencanakan revolusi.
Mereka tidak tahu bahwa di tangan gadis miskin itu, ada teknologi yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis ayah mereka dalam sekejap mata.
Mereka masih tertawa di atas menara gading mereka, tidak menyadari bahwa fondasinya mulai retak. Dan Sifa, dengan bantuan Chrono, siap mengguncangnya hingga runtuh.
Malam semakin larut di kawasan Menteng. Di luar, satpam rumah mereka sedang makan nasi bungkus di pos jaga dengan lahap, tertawa renyah menonton video lucu di HP bututnya. Ironis. Satpam itu jauh lebih bahagia daripada keluarga majikannya yang sedang menyantap hidangan para dewa di dalam istana dingin itu.
semangat kakak