NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Ayyan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Namira duduk meringkuk di sampingnya, memeluk bantal sambil menatap tumpukan kitab di hadapan mereka. Sesi dongeng yang tadinya mau dimulai, mendadak tertunda karena pikiran Namira yang sedang berkecamuk.

"Mas... aku mau tanya serius," ucap Namira, suaranya mengecil, tidak ada lagi nada ceriwis seperti biasanya.

Ayyan menoleh, memberikan perhatian penuh. "Tanya apa?"

"Aku kan sudah lulus SMA ya... Mas lihat sendiri kan, teman-temanku tadi di bandara sibuk bahas kampus. Jujur, aku bingung, Mas. Aku harus kuliah atau enggak ya?" Namira menatap jemarinya. "Kalau aku kuliah, nanti siapa yang urus Mas? Siapa yang belajar jadi Ibu Nyai? Tapi kalau aku nggak kuliah... apa Mas nggak malu punya istri yang cuma lulusan SMA?"

Ayyan menutup kitab yang baru saja ia buka. Ia memutar posisi duduknya agar lebih menghadap ke arah Namira.

"Namira, dengarkan saya," ucap Ayyan lembut.

"Pernikahan ini bukan penjara untuk masa depanmu. Menjadi istri saya bukan berarti pendidikanmu harus berhenti di sini."

Namira mendongak. "Beneran, Mas?"

"Tentu saja. Dalam Islam, menuntut ilmu itu wajib bagi laki-laki maupun perempuan. Saya justru akan sangat bangga kalau istri saya punya wawasan luas," Ayyan terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Soal mengurus saya, itu bisa diatur. Soal jadi Ibu Nyai, itu proses belajar seumur hidup, bukan kursus kilat satu malam."

Namira mulai tersenyum, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. "Terus, Mas mau aku kuliah di mana? Di sini kan jauh dari Jakarta."

"Di sekitar sini ada Universitas Islam yang bagus, atau kalau kamu mau ambil jurusan umum di kota sebelah juga bisa. Kamu mau ambil jurusan apa? Tata boga supaya bisa bikin seblak yang lebih elit?" goda Ayyan dengan wajah lempeng.

"Ihh Mas Ayyan! Serius dong!" Namira memukul pelan lengan Ayyan. "Aku... aku pengen ambil Psikologi atau Komunikasi, biar aku makin jago ngadepin santri-santri yang bermasalah nanti."

Ayyan terkekeh pelan—suara tawa yang sangat renyah di telinga Namira. "Pilihan yang bagus. Komunikasi memang cocok untukmu yang mulutnya tidak bisa berhenti bicara."

"Mas!" Namira cemberut, tapi matanya berbinar bahagia. "Jadi, Mas izinin?"

"Saya dukung sepenuhnya. Besok kita bicarakan lagi soal pendaftarannya. Sekarang, sudah malam. Katanya mau dengar cerita?"

Namira mengangguk semangat. Ia membetulkan posisi tidurnya, menarik selimut sampai ke dada, dan bersiap mendengarkan suara bariton suaminya menceritakan kisah indah dari balik kitab-kitab tua itu. Malam itu, di kamar yang tadinya terasa dingin bagi Namira, kini terasa seperti tempat paling nyaman di dunia.

Ayyan melihat Namira yang masih bersemangat membahas masa depan, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia tahu, jika dibiarkan, Namira akan terus bicara sampai fajar menyingsing.

"Sudah, sudah... sekarang waktunya tidur," potong Ayyan lembut namun tegas. Ia merapikan bantal di sampingnya. "Kalau dilanjutkan terus bahas kuliahnya, nanti cerita romantisnya nggak jadi, subuhnya juga bablas. Kamu mau hari pertama di sini sudah telat jemaah?"

Namira mengerucutkan bibirnya sedikit, tapi kemudian ia merebahkan kepalanya di bantal. "Ya udah deh, tidur. Tapi Mas janji ya besok bahas lagi soal kampus?"

"Iya, janji," sahut Ayyan. Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram, memberikan suasana yang semakin hangat di dalam kamar itu.

Namira berbaring miring menghadap Ayyan, sementara Ayyan berbaring telentang dengan jarak yang masih terjaga. Dalam remang lampu, Namira memperhatikan wajah suaminya yang terlihat jauh lebih rileks.

"Mas..." bisik Namira pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya udah nggak galak malam ini."

Ayyan hanya tersenyum tipis tanpa membuka mata. "Saya hanya galak kalau kamu bandel. Sekarang tidur, Namira. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut."

Namira pun ikut merapalkan doa tidur. Namun, karena hawa pesantren di malam hari sangat dingin, tanpa sadar saat mulai terlelap, Namira menarik ujung sarung Ayyan dan sedikit mendekat untuk mencari kehangatan.

Ayyan yang merasakan pergerakan itu hanya bisa pasrah, ia menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi mereka berdua.

Malam pertama yang tenang pun berlalu.

Kringgg!!!.

Pukul 03.30 pagi, suara alarm dari ponsel Namira (yang bunyinya lagu K-Pop ceria) mendadak memecah kesunyian kamar. Bersamaan dengan itu, suara "pujian" atau selawat dari pengeras suara masjid pesantren mulai menggema, sahut-sahutan dengan udara dingin yang menusuk tulang.

Namira mengerang kecil, ia menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. "Bundaaa... lima menit lagi... AC-nya matiin dong, dingin banget..." igau Namira.

Ia lupa kalau sekarang dia bukan di Jakarta, dan di sampingnya bukan guling, melainkan seorang Gus yang sudah duduk tegak dengan wajah segar.

"Bangun, Ning Namira... Di sini tidak ada tombol snooze untuk salat Subuh," ucap Ayyan sambil menepuk pelan pundak istrinya yang terbungkus selimut.

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!