JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Efek dari perpindahan lokasi, barang dagangan terjual lebih lambat dari sebelumnya. Sudah lewat tengah hari ketika tiga saudara Lin baru bisa menjual semua makanan buatan mereka.
Matahari menggantung tinggi dilangit. Sinarnya yang terik memanggang tanah, membuat jalanan dipelabuhan terasa sangat panas.
Tiga bersaudara Lin telah sibuk sepanjang pagi, badan mereka sekarang basah kuyup oleh peluh kelelahan.
Lin Song kecil juga tampak lesu.
Lin Shun mengeluarkan teh perilla hawthorn yang sebelumnya ia simpan khusus untuk kedua adik yang amat ia kasihi.
"Yao'er, Song'A, ini minum."
Lin Song mengambil tabung bambu, meneguk cepat sampai tandas tak bersisa.
Begitu juga dengan Lin Yao.
Lin Shun memperhatikan kedua adiknya dengan rasa campur aduk. "Minum perlahan, minum perlahan." lirihnya bergetar.
Setelah minum air, stamina Yao dan Song perlahan pulih.
Lin Yao melihat kakak laki-lakinya yang sejak tadi terus-menerus menyeka keringat didahi.
"Kakak, kenapa kau tidak minum..?"
Lin Shun tersenyum penuh kehangatan, menyeka wajahnya dengan handuk kasar yang ia sampirkan dibahu.
"Bagaimana kita bisa menghamburkan uang seperti itu..? aku bisa menanggungnya, tapi aku tidak akan sanggup melihat kedua adikku kesusahan."
Lin Yao tahu Lin Shun terbiasa berhemat. Tanggung jawab yang berada dipundak remaja lelaki itu, tidaklah ringan.
Ditengah perjuangan dalam bertahan hidup, Shun masih harus dihadapkan pada kenyataan. Jika dunia ini berputar tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
"Kakak, kau memang perlu mencari nafkah, tetapi kau juga wajib menjaga kesehatanmu. Kita amat bergantung pada kesehatan yang baik untuk terus menjalankan usaha kecil ini. Jika kesehatanmu terganggu, justru malah akan membutuhkan banyak uang untuk perawatan medis dan obat-obatan."
Lin Song mengangguk tanda setuju akan apa yang diucapakan kakak perempuannya. "Benar, itu benar..!"
Lin Shun menghela nafas haru.
"Oke, kita semua boleh meminumnya mulai sekarang."
Lin Shun merasa hangat didada saat mendengar adik-adiknya yang begitu bijaksana. Ia pun mengambil gelas teh lalu meminumnya.
"Kakak, kita sudah bisa mengambil teppanyaki yang tempo hari dipesan. Ayo, cepat selesaikan pengemasan dan pergi kekota untuk mengambilnya."
Ketiga bersaudara itu bergerak cepat, merapikan barang-barang yang tersisa dikios, mengatur perkakas kedalam keranjang mereka.
Lin Shun memikul beban berat dikedua bahunya. Satu keranjang berisi peralatan membuat panekuk, yang lain berisi sisa saus rebusan.
Lin Yao dan Lin Song membawa keranjang dipunggung mereka, berisi berbagai macam barang yang memiliki bobot ringan.
Sinar matahari menembus dedaunan yang bertebaran dijalan bebatuan halus, membakar perlahan kulit putih ketiga saudara.
Walau masih kurus, tapi kini badan ketiga saudara itu mulai berisi. Wajah mereka pun tak lagi pucat layu.
Lin Song yang paling muda dan energik, melompat-lompat didepan dengan sesekali menoleh kebelakang untuk mendesak "Kakak, Kakak Kedua, cepatlah..!"
Mengetahui anak itu ingin segera pergi bermain kekota, Lin Shun dan Lin Yao mempercepat langkah mereka.
Tak lama kemudian, ketiganya tiba dikota yang padat ramai.
Lin Shun memimpin adik-adiknya menuju kebengkel pandai besi.
Mata Lin Yao berbinar ketika melihat piringan besi berbentuk bulat didepannya.
Pekerjaan rumit memang sebaiknya diserahkan kepada para ahli profesional, agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tak apa mengeluarkan biaya sedikit lebih banyak, tapi dari segi kualitas, ketahanan serta kepuasan, jelas tak perlu diragukan.
Lin Yao hanya memberikan deskripsi singkat, namun piringan impiannya berhasil ditempa dengan sempurna.
Permukaannya yang rata dan halus, dengan tepi yang sedikit terangkat diatas permukaan, mencegah adonan tumpah saat meratakan panekuk juga memudahkan membaliknya.
Puas, Lin Yao sangat puas akan hasilnya.
Lin Shun dengan cermat memeriksa setiap bagian lempengan besi itu, setelah memastikan tidak ada masalah, ia mengucapkan terimakasih pada paman pandai besi.
Dengan bantuan pemilik tempat, Lin Shun meletakkan lempengan besi itu di tiang pengangkut, lalu mengikatnya erat-erat dengan tali rami tebal.
Setelah mengambil teppanyaki, ketiga saudara Lin pergi membeli bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk kios mereka.
Saat ketiganya menyelesaikan semuanya, hari sudah mulai gelap.
"Kakak, ayo kita makan di kota hari ini," ajak Lin Yao.
"Oke, kalian ingin makan apa?" tanya Lin Shun.
"Bagaimana kalau kita pergi kerestoran Ziwei. Aku dengar makanan disana enak-enak." jawab Lin Yao.
Restoran Ziwei adalah restoran terkenal di Kota Qingquan, yang khusus menyajikan masakan tumis.
Masakan tumis menjadi populer selama Dinasti Song. Meskipun Lin Yao belum pernah mendengar dinasti ini dalam sejarah. Pakaian, makanan, struktur bangunan dan transportasi mirip dengan Dinasti Song.
Lin Yao berkeinginan untuk membuka restoran dikota suatu hari nanti, jadi dia ingin merasakan teknik memasak tumis dari dinasti ini.
Ketiga saudara itu pun pergi kerestoran Ziwei.
semangat trs updatenyaaa 💪