"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: LABIRIN TANPA PINTU
Mobil mewah yang membawa Arunika dan Sandra melaju membelah kemacetan kota dengan kawalan dua motor besar di depan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, Arunika merasa seperti sedang duduk di dalam peti mati yang bergerak. Kepalanya mulai terasa berat, dan rasa manis-amis dari daging yang dipaksa Adrian tadi pagi seolah meninggalkan lapisan lendir di tenggorokannya.
Sandra duduk di sampingnya, sibuk memeriksa laporan di tablet tipisnya. Wajah sekretaris itu tampak sangat puas, seolah dia baru saja memenangkan lotre setelah melihat Arunika "dijinakkan" oleh Adrian di meja makan tadi.
"Kenapa diam saja, Nyonya? Masih memikirkan rasa steak tadi?" Sandra bertanya tanpa menoleh, suaranya mengandung nada ejekan yang kental.
Arunika mencengkeram tas tangannya. "Kenapa kau begitu membenciku, Sandra? Apa karena kau menginginkan posisiku?"
Sandra akhirnya menoleh. Dia tertawa, suara tawa yang kering dan tajam. "Menginginkan posisimu? Menjadi mainan yang digilir setiap musim? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka menjadi tangan kanan sang iblis daripada menjadi korbannya. Aku bertahan di sisi Adrian selama lima tahun karena aku tahu cara menyenangkan hatinya tanpa harus menyerahkan nyawaku."
Sandra mendekatkan wajahnya ke telinga Arunika. "Kau tahu kenapa Adrian selalu mengirim istrinya ke butik Le Saphir? Karena butik itu tidak punya pintu belakang. Semua dindingnya adalah beton tebal, dan satu-satunya akses keluar masuk hanya pintu depan yang dijaga sidik jari. Kau terjebak, Arunika. Jangan harap bisa bertemu siapa pun di sana."
Arunika menelan ludah. Jantungnya berpacu lebih cepat, bukan hanya karena takut, tapi karena efek "daging" itu mulai bekerja. Pandangannya sedikit kabur, dan ia merasakan haus yang luar biasa.
Aku harus sampai ke Loker 402. Aku harus, batinnya berulang-ulang untuk menjaga kesadaran.
Sesampainya di butik Le Saphir, suasana sudah dikosongkan. Hanya ada pemilik butik dan dua pelayan yang membungkuk hormat. Sandra langsung memerintahkan para pelayan untuk membawa gaun-gaun terbaik.
"Tuan Adrian ingin Nyonya memakai sesuatu yang... transparan untuk acara amal nanti. Dia ingin menunjukkan 'stempel' kepemilikannya di lehermu kepada semua kolega bisnisnya," ujar Sandra sambil menyeruput teh yang disajikan.
Arunika dibawa ke ruang ganti VIP yang sangat luas. Begitu pintu tertutup, ia segera mencari celah. Ia melihat ke atas, berharap ada ventilasi, tapi yang ada hanyalah kamera CCTV yang lensanya berkedip merah tepat ke arahnya.
Adrian mengawasiku dari kantornya, pikir Arunika ngeri.
Ia melepas gaunnya dan mencoba mengenakan gaun sutra biru yang sangat tipis. Saat itulah, ia merasakan guncangan hebat di perutnya. Rasa mual itu tak tertahankan lagi. Ia berlari ke toilet di dalam ruang ganti dan memuntahkan semua isi perutnya.
Cairan yang keluar berwarna kemerahan, persis seperti warna daging yang ia makan tadi.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" suara Sandra terdengar dari balik pintu.
"Aku... aku hanya butuh waktu sebentar!" teriak Arunika.
Dalam kondisi lemas, ia menyadari sesuatu. Di balik tangki air toilet, ada sebuah lubang kecil yang tertutup isolasi hitam. Dengan sisa tenaganya, ia mencungkil isolasi itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah ponsel kecil jadul yang sudah menyala.
Ada satu pesan masuk yang baru saja diterima:
[Stasiun Pusat. Loker 402. Kuncinya ada di bawah pot bunga depan butik. Sekarang atau tidak sama sekali. —R]
Rendra! Dia ada di luar!
Tapi bagaimana cara keluar? Pintu depan dijaga ketat, dan Sandra berdiri tepat di depan ruang ganti ini.
Arunika melihat ke arah gaun-gaun di gantungan. Ia mengambil sebuah gaun panjang berbahan berat dan mulai merobeknya. Ia membuat simpul, lalu mengikatnya ke arah pipa air di atas plafon. Ia berniat memicu alarm kebakaran.
Ia mengambil pemantik api yang entah bagaimana bisa ada di dalam saku jubah mandi yang ia kenakan sebelumnya (mungkin diletakkan oleh Bi Marta). Ia membakar ujung gaun sutra itu.
Asap mulai mengepul. Dalam hitungan detik, alarm butik berbunyi nyaring. Ngiiiing!
"Kebakaran! Ada kebakaran!" teriak salah satu pelayan di luar.
Suasana menjadi kacau. Sandra berteriak memanggil pengawal. Arunika memanfaatkan momen itu. Saat Sandra terdistraksi oleh asap yang keluar dari bawah pintu, Arunika tidak lari ke pintu depan. Ia justru memecahkan cermin besar di ruang ganti dengan kursi besi.
Di balik cermin itu, ternyata ada jalur pipa pembuangan sampah atau laundry shoot yang mengarah ke lantai bawah. Tanpa pikir panjang, Arunika melompat masuk ke dalam lorong gelap itu.
Tubuhnya meluncur deras dan mendarat di tumpukan kain kotor di ruang bawah tanah. Bau deterjen menyengat hidungnya. Ia segera bangkit, mengabaikan rasa perih di lengannya yang tergores.
Ia menemukan pintu keluar darurat untuk pengangkut sampah. Begitu berhasil keluar, udara dingin kota menyergapnya. Ia berada di gang sempit samping butik.
Arunika berlari menuju bagian depan butik, bersembunyi di balik pilar. Ia melihat kekacauan di sana; Sandra sedang memarahi para pengawal. Di dekat kakinya, ada sebuah pot bunga besar.
Ia merogoh bagian bawah pot itu. Jarinya menyentuh benda logam dingin. Kunci Loker 402.
"Arunika!"
Sebuah suara berat memanggilnya dari arah mobil yang terparkir agak jauh. Bukan suara Rendra. Itu suara Adrian.
Arunika membeku. Ia menoleh dan melihat Adrian berdiri di samping mobilnya, memegang ponsel dengan layar yang menampilkan rekaman CCTV ruang ganti yang baru saja terbakar.
Adrian berjalan mendekat, langkahnya sangat tenang namun penuh ancaman. "Kau pikir alarm kebakaran bisa membantumu kabur dari jangkauanku, Sayang?"
Adrian merampas kunci dari tangan Arunika dan menatapnya dengan senyum yang paling mengerikan yang pernah dilihat Arunika.
"Sepertinya kau sangat merindukan Rendra sampai berani membakar butikku. Kalau begitu, mari kita temui dia di stasiun. Aku ingin kau melihat bagaimana aku menghancurkan harapan terakhirmu.
Adrian menyeret Arunika masuk ke dalam mobil. Alih-alih marah, Adrian justru terlihat sangat tenang. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Rendra? Loker 402? Ya, aku sedang menuju ke sana bersama istriku. Pastikan kau memakai baju terbaikmu untuk pemakamanmu sendiri."
Arunika menyadari bahwa pesan dari Rendra tadi mungkin adalah jebakan lain yang sudah diatur Adrian untuk memancing mereka berdua keluar.