NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Buku dan Nada

Mentari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar Sekar Arum, membangunkan gadis itu dari tidurnya. Ia menggeliat sejenak, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Hari ini adalah hari yang penting. Selain harus mengikuti pelajaran di sekolah seperti biasa, ia juga harus latihan menyanyi dengan Mas Indra untuk persiapan penampilan perdananya minggu depan. Jantungnya berdebar membayangkan sorot lampu dan tepuk tangan penonton.

Sekar Arum bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian seragam, ia menuju meja belajar untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan Bu Rina kemarin. Otaknya masih terasa berat, sulit untuk fokus pada angka-angka yang berjejer di buku. Pikirannya melayang pada lagu yang akan ia bawakan nanti malam, pada kostum yang masih belum selesai dijahit, dan pada ribuan pertanyaan yang menghantuinya. Mampukah aku? Apa aku tidak mengecewakan Bapak dan Ibu?

"Kar, ayo ndang sarapan! Mengko kasep sekolah," suara Ibunya terdengar dari dapur, membuyarkan lamunannya.

Sekar Arum menghela napas dan menutup bukunya. Ia berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan. Di hadapannya sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. Ia makan dengan tergesa-gesa, pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai macam hal. Nasi goreng yang biasanya terasa lezat, pagi ini terasa hambar.

"Kowe kok katon muring ngono, Kar? Ono masalah opo?" tanya Ibunya, menatap Sekar Arum dengan khawatir. Kerutan di dahi Ibunya semakin jelas terlihat.

"Mboten nopo-nopo, Bu. Kulo mung bingung carane ngatur waktu antara sekolah lan latihan," jawab Sekar Arum, berusaha tersenyum. Ia tidak ingin Ibunya semakin khawatir.

"Kowe kudu iso ngatur waktu sing bener, Kar. Sekolah kuwi tetep sing nomor siji. Aja nganti kowe keteteran ing pelajaran mung mergo latihan nyanyi. Yen kowe kangelan, kowe kudu matur karo Ibu utowo Bapak. Kita bakal bantu kowe ngatasi masalahmu," ujar Ibunya, memberikan semangat. Tangan Ibunya menggenggam tangannya, memberikan kekuatan.

Sekar Arum mengangguk. "Inggih, Bu. Kulo janji kulo bakal berusaha sing sae." Ia tahu, Ibunya selalu mendukungnya, meskipun kadang caranya terlihat keras. Ia menghabiskan nasi gorengnya dan meneguk teh hangatnya hingga tandas.

Setelah selesai sarapan, Sekar Arum berpamitan kepada kedua orang tuanya dan berangkat ke sekolah. Ia berjalan kaki menuju sekolah, menyusuri jalan desa yang sepi. Pagi ini, udara terasa sejuk dan segar. Sinar matahari menghangatkan kulitnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya.

Tidak jauh dari rumahnya, di depan sebuah toko kelontong kecil, Sekar Arum melihat Lintang. Lintang adalah sahabatnya sejak kecil. Gadis itu selalu ceria dan energik, dengan rambut dikepang dua dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Rumah Lintang berada di ujung desa, dekat dengan sawah.

"Kar! Nungguin, ya?" sapa Lintang, tertawa kecil. Ia sudah berdiri di sana, menunggu Sekar Arum.

"GR banget! Siapa juga yang nungguin," jawab Sekar Arum, berpura-pura kesal. Padahal, ia senang sekali bertemu dengan Lintang.

"Alah, ngaku aja deh. Pasti kangen kan sama aku?" goda Lintang, mencubit pipi Sekar Arum.

"Iih, apaan sih! Udah ah, ntar telat," kata Sekar Arum, menepis tangan Lintang.

Mereka berdua berjalan bersama menuju sekolah. Suasana pagi itu terasa lebih ceria karena kehadiran Lintang.

"Eh, Kar, kamu kok kayaknya kusut banget sih? Mikirin apa?" tanya Lintang, menatap Sekar Arum dengan khawatir.

"Tau aja deh kamu. Iya nih, aku lagi bingung banget. Gimana ya bagi waktu antara sekolah sama latihan nyanyi?" curhat Sekar Arum.

"Latihan nyanyi? Wah, keren! Jadi beneran kamu mau jadi penyanyi campursari?" tanya Lintang, matanya berbinar-binar.

"Iya, Lin. Tapi aku takut keteteran di sekolah. Bapak sama Ibu juga khawatir banget," jawab Sekar Arum, raut wajahnya berubah sedih.

"Hmm, susah juga ya. Tapi aku yakin kamu pasti bisa kok, Kar! Kamu kan pinter, disiplin, lagi pula, nyanyi itu kan bakatmu banget," kata Lintang, memberikan semangat. Ia merangkul Sekar Arum, mencoba memberikan kekuatan.

"Makasih ya, Lin. Kamu emang sahabat terbaikku," ujar Sekar Arum, tersenyum tulus. Ia merasa lega bisa berbagi masalahnya dengan Lintang.

"Sama-sama, Kar. Oh ya, emangnya kapan kamu mau tampil?" tanya Lintang, penasaran.

"Minggu depan, Lin. Di acara hajatan desanya Pak Kades," jawab Sekar Arum.

"Wah, keren banget! Aku pasti dateng buat nyemangatin kamu!" seru Lintang, antusias.

"Beneran? Asiiiik! Makasih ya, Lin," kata Sekar Arum, senang sekali.

Mereka berdua terus berbincang-bincang sepanjang

Mereka berdua terus berbincang-bincang sepanjang jalan menuju sekolah. Lintang bercerita tentang rencana liburan keluarganya ke pantai, sementara Sekar Arum menceritakan tentang lagu yang akan ia bawakan dan kostum yang sedang ia persiapkan.

"Eh, tapi kamu udah izin sama Bu Rina belum, Kar? Kan kamu sering banget izin buat latihan," tanya Lintang, tiba-tiba teringat sesuatu.

Sekar Arum terdiam. Ia menepuk jidatnya. "Aduh, iya! Aku lupa banget! Gimana dong, Lin? Bu Rina kan galak banget," ujarnya panik.

"Ya udah, nanti kita temuin Bu Rina bareng-bareng. Aku temenin kamu," kata Lintang, menenangkan.

"Beneran? Makasih ya, Lin. Kamu emang penyelamatku!" ujar Sekar Arum, lega.

Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju ruang guru untuk menemui Bu Rina. Jantung Sekar Arum berdebar kencang. Ia takut Bu Rina akan marah dan tidak mengizinkannya untuk tampil.

"Assalamualaikum, Bu," sapa Sekar Arum dan Lintang bersamaan.

"Waalaikumsalam. Ada apa, Sekar, Lintang?" jawab Bu Rina, menatap mereka dengan tatapan menyelidik.

"Anu, Bu... Saya mau izin..." kata Sekar Arum, tergagap.

"Izin apa? Kamu mau izin lagi? Memangnya kamu mau izin ke mana lagi?" tanya Bu Rina, nadanya mulai meninggi.

Sekar Arum menelan ludah. Ia memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya kepada Bu Rina. Ia menceritakan tentang impiannya untuk menjadi penyanyi campursari, tentang latihan-latihannya dengan Mas Indra, dan tentang penampilannya di acara hajatan minggu depan.

Bu Rina mendengarkan dengan seksama, tanpa memotong pembicaraan Sekar Arum. Wajahnya tetap datar, sulit untuk ditebak apa yang sedang ia pikirkan.

Setelah Sekar Arum selesai bercerita, Bu Rina terdiam sejenak. Kemudian, ia menghela napas dan menatap Sekar Arum dengan tatapan lembut.

"Sekar, Ibu tahu kamu punya bakat di bidang seni. Ibu juga mengerti kamu punya impian yang ingin kamu wujudkan. Tapi, kamu juga harus ingat, sekolah itu tetap yang utama. Jangan sampai kamu mengorbankan pendidikanmu demi mengejar impianmu," ujar Bu Rina dengan bijak.

"Inggih, Bu. Kulo ngertos," jawab Sekar Arum, menunduk. Ia merasa bersalah karena sudah sering izin dan tidak fokus dengan pelajaran.

"Ibu akan mengizinkan kamu tampil di acara itu, tapi dengan satu syarat," kata Bu Rina, membuat Sekar Arum terkejut.

"Syaratnya apa, Bu?" tanya Sekar Arum, penasaran.

"Kamu harus berjanji akan tetap belajar dengan rajin dan mengejar ketertinggalanmu. Jika nilai kamu turun, Ibu tidak akan mengizinkanmu untuk tampil lagi," ujar Bu Rina dengan tegas.

Sekar Arum tersenyum lebar. "Inggih, Bu. Kulo janji! Kulo bakal berusaha sing sae lan kulo mboten bakal ngecewakan Ibu," ujarnya dengan penuh semangat. Ia merasa lega dan bahagia karena Bu Rina telah memberikan restu kepadanya.

"Ya sudah, sana kembali ke kelas. Jangan lupa, belajar yang rajin," kata Bu Rina, tersenyum tipis.

"Inggih, Bu. Matur nuwun," jawab Sekar Arum dan Lintang bersamaan. Mereka berpamitan kepada Bu Rina dan bergegas menuju kelas.

"Waaah, selamat ya, Kar! Akhirnya kamu dapat izin juga!" seru Lintang, senang.

"Iya, Lin. Makasih ya udah nemenin aku. Kamu emang sahabat terbaik!" ujar Sekar Arum, terharu.

"Sama-sama, Kar. Aku kan selalu dukung kamu," jawab Lintang, merangkul Sekar Arum.

Di dalam kelas, Sekar Arum berusaha untuk fokus pada pelajaran. Namun, pikirannya tetap melayang pada penampilannya minggu depan. Ia membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, menyanyikan lagu dengan merdu, dan mendapatkan tepuk tangan dari penonton. Ia bertekad untuk memberikan penampilan yang terbaik dan membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa sukses di bidang seni tanpa mengorbankan pendidikannya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!