Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: KEMATIAN SANG AGEN, LAHIRNYA SANG RATU
Suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal cepat terdengar seperti detak jantung yang liar. Di belakang mereka, Dermaga Tua perlahan menghilang, tertutup oleh asap hitam dan kilatan api dari ledakan yang sengaja dipicu oleh Marco untuk menghapus jejak. Sirene polisi yang tadinya memekakkan telinga kini hanya terdengar seperti sayup-sayup ratapan dari kejauhan.
Alana duduk di sudut dek, tubuhnya dibungkus oleh jas tebal milik Arkano yang masih menyisakan aroma parfum kayu cendana dan bau mesiu. Tangannya yang masih gemetar memegang erat selembar dokumen yang tadi diberikan Rian—dokumen yang menyatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah komoditas berharga 50 juta dolar.
Arkano berdiri di kemudi, menatap lurus ke cakrawala laut yang hitam pekat. Setelah memastikan mereka berada di zona aman, ia menyerahkan kemudi pada Marco dan berjalan mendekati Alana. Pria itu berlutut di depan istrinya, mengabaikan luka gores di pipinya yang masih mengeluarkan darah.
"Alana, lihat aku," suara Arkano terdengar serak namun penuh otoritas.
Alana mendongak. Matanya yang merah bukan lagi karena tangis, melainkan karena amarah yang telah membeku menjadi es. "Kau membeliku, Arkano. Kau memperlakukanku seperti properti. Bagaimana kau mengharapkanku untuk tetap berada di sampingmu setelah mengetahui kebenaran itu?"
Arkano meraih tangan Alana, menggenggamnya begitu kuat seolah takut wanita itu akan melompat ke tengah lautan. "Ya, aku membayarmu. Karena di dunia yang busuk ini, hanya uang yang bisa menghentikan peluru Hendra yang diarahkan ke kepalamu. Jika aku tidak melakukannya, kau sudah dikubur di lubang tanpa nama sepuluh tahun lalu bersama orang tuamu."
"Jadi aku harus berterima kasih padamu karena telah menjadikanku tawananmu?" desis Alana pahit.
"Aku tidak menjadikanku tawananku, Alana. Aku menjadikanku tujuanku," balas Arkano dengan mata yang berkilat obsesif. "Hendra menjualmu karena dia takut padamu. Aku membelimu karena aku butuh seseorang yang setara denganku untuk menghancurkan mereka semua. Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Kapal ini akan bersandar di sebuah pulau pribadi di perbatasan internasional dalam tiga jam. Di sana, identitas 'Agen Alana' tidak akan pernah ada lagi."
Alana terdiam. Ia menatap laut lepas. Jika ia pergi, ia tidak punya siapa-siapa. Rian terluka dan kemungkinan besar sudah diamankan oleh tim medis rahasia Marco, tapi Rian tidak akan pernah bisa melindunginya dari kejaran unit pengejar kepolisian pusat. Di mata hukum, Alana adalah pengkhianat negara.
Ia mengambil dokumen di tangannya, lalu perlahan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Ia membiarkan angin laut membawa kertas-kertas itu terbang, hilang ditelan kegelapan malam.
"Agen Alana sudah mati malam ini di dermaga itu," ucap Alana dengan suara yang sangat dingin. Ia berdiri, melepaskan jas Arkano dan menatap pria itu dengan pandangan yang baru. "Mulai besok, hanya akan ada Nyonya Dirgantara. Tapi ingat ini, Arkano... jika kau berbohong padaku lagi, aku sendiri yang akan memastikan klanmu runtuh dari dalam."
Arkano menyeringai tipis. Ia menarik pinggang Alana, merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah. "Itulah wanita yang aku cintai. Seorang ratu yang bisa menghancurkan rajanya sendiri."
Menjelang fajar, kapal mereka merapat di sebuah dermaga kayu yang tersembunyi di balik tebing tinggi sebuah pulau pribadi. Tempat itu tampak seperti surga yang terisolasi, jauh dari jangkauan radar maupun hukum. Sebuah vila megah dengan arsitektur modern minimalis berdiri kokoh di puncak tebing, menyambut mereka dengan kemewahan yang sunyi.
Marco mendekat dengan wajah lelah namun tetap sigap. "Tuan, semua persiapan sudah selesai. Dunia internasional telah menerima laporan bahwa 'Agen Alana' dinyatakan hilang dan diasumsikan tewas dalam ledakan dermaga. Nama Anda juga bersih dari keterlibatan langsung berkat pengalihan isu klan Black Cobra."
"Bagus, Marco. Pastikan Rian mendapatkan perawatan terbaik di fasilitas medis bawah tanah. Jangan biarkan dia keluar sebelum aku mengizinkannya," perintah Arkano.
Alana mendengarnya, namun ia tidak membantah. Ia tahu di duniaku yang baru, "keamanan" sering kali berarti "pengurungan". Namun untuk saat ini, ia butuh Arkano untuk bisa tetap hidup.
Arkano menuntun Alana masuk ke dalam vila. Di dalam kamar utama yang luas dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke arah matahari terbit, Arkano membawa Alana ke depan sebuah cermin besar.
"Lihat dirimu, Alana," bisik Arkano di belakang pundaknya.
Alana menatap pantulannya. Rambutnya berantakan, wajahnya kotor oleh debu, namun matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia bukan lagi gadis idealis yang percaya pada lencana. Ia adalah penyintas.
Arkano mengambil sebuah kalung dari saku jasnya—sebuah kalung dengan liontin batu safir biru yang dikelilingi berlian putih. Ia memakaikannya ke leher Alana. "Biru untuk ketenangan, dan berlian untuk kekuatan yang tidak bisa dipatahkan. Ini adalah tanda dimulainya pemerintahan kita."
Alana menyentuh liontin itu. "Apa langkah pertama kita, Arkano?"
"Kita akan membangun aliansi internasional. Kita akan mengambil alih jaringan yang ditinggalkan Hendra secara perlahan. Dan saat saatnya tiba, kita akan kembali ke kota itu bukan sebagai buronan, tapi sebagai pemiliknya," ujar Arkano dengan penuh ambisi.
Arkano membalikkan tubuh Alana, menciumnya dengan gairah yang seolah-olah ingin membakar seluruh sisa-sisa masa lalu istrinya. Ciuman itu tidak lagi terasa seperti ancaman bagi Alana, melainkan seperti sumpah kesetiaan yang gelap. Alana membalasnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan sang mafia.
Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyinari lautan, Alana Dirgantara telah menghilang. Di tempatnya kini berdiri seorang wanita yang akan menjadi legenda di dunia bawah tanah. Perang besar akan segera dimulai, dan kali ini, Alana bukan lagi seorang pion. Ia adalah sang pemegang kendali.