Kim Woo-jin masih bertahan membaca komik romansa remaja karena tertarik pada karakter Shimizu Miyuki, teman masa kecil karakter utama laki-laki dalam cerita. Namun, seperti yang sering terjadi, teman masa kecil biasanya hanya berperan sebagai pemanis di awal kisah dan tidak terpilih sebagai kekasih hingga akhir cerita.
Fenomena ini sudah menjadi klise dalam komik bergenre 'Harem,' yang merujuk pada karakter utama laki-laki dan para gadis-gadis yang menyukainya. Sebuah pola yang, meski berulang, tetap berhasil menarik perhatian pembaca.
"Selalu sama seperti yang lain, hanya saja sifatnya sangat baik dan polos. Tapi menerima semuanya dengan senyuman saat ditolak, sungguh hebat sekali. Awal cerita mereka selalu bersama seperti tidak terpisahkan, tapi setelah SMA, banyak gadis yang mendekati Protagonis Sampah," gumam Kim Woo-jin.
(Penulis : Sudah lama ya nggak ketemu xixixi~ aku sibuk dan lupa password, baru inget dan dah lupa lanjutan cerita yang aku buat ... selamat membaca~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayang_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam (2)
Undangan Makan Malam (2)
"Ah, bagus. Duduk di sini, Ren-kun," kata Michiko sambil menunjuk kursi di sampingnya. Tanpa basa-basi, dia menarik Miyuki yang masih berdiri kikuk untuk duduk di sebelah Ren.
"Ibu ..."
Miyuki mencoba menolak, tetapi Michiko sudah memastikan putrinya duduk tepat di samping Ren. Miyuki akhirnya menyerah, wajahnya memerah, menunduk tanpa berani menatap Ren.
Sementara itu, Shimizu Takeshi, suami Michiko, duduk tegap di kursinya. Wajahnya yang serius menunjukkan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebelum sempat berbicara, Michiko meliriknya penuh isyarat gerakan bibir tanpa suara, seolah berkata, 'Biarkan saja mereka lebih dekat dulu.'
Takeshi menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil, memilih diam meski kegelisahan tampak di matanya.
Michiko, yang menyadari ketegangan itu, justru semakin menikmati suasana. Dia menyenggol lengan suaminya dengan senyum penuh arti, kemudian kembali fokus pada pasangan muda di depannya.
"Nah, Ren-kun, Yuki-chan kami ini suka sekali teh hijau. Kamu juga suka teh hijau, kan?" tanyanya sambil menggoda, mencoba mencairkan suasana.
Miyuki, yang merasa situasi semakin tidak terkendali, hanya bisa menunduk lebih dalam, berharap ibunya tidak melontarkan pertanyaan yang lebih memalukan.
Ren, yang tetap tenang seperti biasa, menjawab sambil tersenyum lembut, "Ya, saya menyukainya." Disertai tatapan sekilas ke arah Miyuki, membuat gadis itu semakin salah tingkah.
Melihat wajah putrinya yang semakin merah, Takeshi akhirnya berdeham keras. "Michiko," katanya dengan nada tegas, meskipun hanya disambut tawa ringan dari istrinya.
Michiko tersenyum puas, sementara Miyuki berharap waktu bisa berlalu lebih cepat.
Setelah suasana sedikit mencair, Michiko bertepuk tangan dan mengumumkan, "Baiklah, makan malam sudah siap! Ayo kita mulai."
Meja makan dihiasi hidangan khas Jepang yang memikat.
Sushi platter dengan berbagai topping segar, tempura udang dan sayuran yang renyah, semangkuk besar sup miso yang hangat, teriyaki salmon dengan saus mengkilap, serta nasi putih yang pulen.
Di sisi meja, ada piring kecil berisi takoyaki dan tsukemono, acar Jepang yang menambah cita rasa.
"Silakan, Ren-kun. Jangan sungkan," kata Michiko sambil menuangkan teh hijau hangat ke cangkir-cangkir kecil.
Miyuki, yang duduk di samping Ren, mengambil sumpitnya dengan gugup. Tangan bergetar saat mencoba mengambil sepotong sushi. Melihat itu, Ren tersenyum kecil.
"Mau aku bantu?" tanyanya sopan.
"Ah, tidak apa-apa, aku... aku bisa melakukannya," jawab Miyuki terbata-bata, wajahnya memerah lagi. Miyuki mencoba bersikap normal, tetapi salah menjepit sushi, membuatnya hampir jatuh.
"Tenang saja, Yuki-chan," ujar Michiko dengan lembut. Namun, senyuman seperti puas akan sesuatu.
Ren tanpa bertanya lagi, langsung membantunya.
Miyuki hanya bisa menunduk malu saat Ren dengan tenang mengambilkan sushi.
"Terima kasih," gumam Miyuki pelan, hampir tidak terdengar. Namun, Ren tersenyum tipis, memperlihatkan sikap yang lembut dan penuh perhatian.
"Makanlah perlahan," ucap Ren, suaranya tenang dan menenangkan.
Melihat interaksi mereka, Michiko hampir tersenyum puas, tapi segera menutupinya dengan menyeruput teh hijau. Sementara itu, Takeshi hanya bisa mengalihkan pandanganya sedikit, tidak mengatakan apa pun.
Saat makan malam berlanjut, Michiko terus mencoba mencairkan suasana dengan obrolan ringan. "Ren-kun, kamu ini memang sangat baik~"
Ren tersenyum sopan mendengar pujian Michiko.
"Terima kasih, Michiko-san. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya," jawabnya tenang.
Dia melirik sekilas ke arah Miyuki, lalu menambahkan, "Makan malam ini sangat istimewa. Saya merasa sangat terhormat bisa diundang ke sini."
Michiko tertawa kecil, merasa puas dengan jawaban Ren.
"Ara~, kamu benar-benar tahu cara berbicara, ya. Tidak heran Yuki-chan kami, jatuh hati padamu~"
Miyuki, yang sedang menyeruput sup miso, hampir tersedak mendengar ucapan itu.