NovelToon NovelToon
AKU YANG KALIAN CAMPAKKAN

AKU YANG KALIAN CAMPAKKAN

Status: tamat
Genre:Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Konflik etika / Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Angst / Chicklit / Tamat
Popularitas:12M
Nilai: 4.9
Nama Author: Cublik

“Tega kau Mas! Ternyata pengorbanan ku selama ini, kau balas dengan pengkhianatan! Lima tahun penantianku tak berarti apa-apa bagimu!”

Nur Amala meremat potret tunangannya yang sedang mengecup pucuk kepala wanita lain, hatinya hancur lebur bagaikan serpihan kaca.

Sang tunangan tega mendua, padahal hari pernikahan mereka sudah didepan mata.

Dia tak ubahnya seperti 'Habis manis sepah di buang'.

Lima tahun lamanya, dirinya setia menemani, dan menanti sang tunangan menyelesaikan studinya sampai menjadi seorang PNS. Begitu berhasil, dia yang dicampakkan.

Bukan hanya itu saja, Nur Amala kembali dihantam kenyataan pahit. Ternyata yang menjadi selingkuhan tunangannya tidak lain ...?
_______

Instagram Author : Li_Cublik

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

“Hah ... Kau tanya untuk apa? Ya jelaslah mau disimpan, itukan termasuk dalam sumbangan tamu kondangan.” Alis bi Atun hampir menyatu, dia memicingkan matanya menatap lekat wajah sang menantu. “Jangan bilang kau mau menguasainya, iya?!”

“Bukan Buk, cuma kalung dan gelang itu ‘kan pemberian keluarga Nirma,” kilahnya takut-takut, mimik wajahnya sudah mulai memerah.

“Yang bilang dari orang lain siapa? Udah lah, jangan banyak alasan. Cepat bawa kesini!” bi Atun mulai tak sabar.

Nirma pun, berjalan memasuki kamarnya yang berada di bagian pojok dekat dengan dapur.

Begitu sosok sang menantu tak terlihat lagi, bi Atun menatap tajam pada Yasir, “Yasir, ajari istrimu agar patuh dan tidak berani membangkang! Ibuk tidak suka melihat wajah muramnya yang keberatan memberikan kado dari keluarganya, padahal tanpa kita mengadakan pesta, mana mungkin Mak Syam mau memberikan sesuatu berharga!”

“Iya, Buk. Nanti, saya didik dia menjadi istri yang patuh tanpa berani membantah apalagi melawan,” jawab Yasir, dirinya masih menikmati satu batang rokok bersama sang ayah dan para sepupunya, mereka tengah duduk di pojok ruang tamu.

Bi Atun manggut-manggut, “Bagus.”

“Ini, Buk!” Nirma setengah hati menyodorkan dompet berwarna hitam yang langsung direbut paksa oleh bi Atun.

“Halla … cuma segini kemampuan keluargamu memberikan hadiah, Nirma?” tanyanya merendahkan, padahal matanya berbinar melihat emas berkilau.

“Mamak dan Mbak Amala memang nggak punya banyak uang. Mereka pasti terlebih dahulu menjual sesuatu yang berharga, agar bisa membeli barang ini,” bela Nirma.

“Ck … miskin sekali keluarga mu itu! Kau harus banyak-banyak bersyukur karena anak semata wayangku sudi menikahi mu!” tandas bi Atun, dirinya memasukkan dompet emas beserta isinya ke dalam kotak persegi tempat penyimpanan barang berharga.

“Nirma, apa kau sudah memasukkan lamaran kerja di rumah sakit umum?” tanyanya lagi.

“Belum, Buk.”

“Mengapa belum? Bukankah kapan hari suamimu bilang ada lowongan,” nada suara bi Atun terdengar sengau, tatapannya pun mulai sinis lagi.

Nirma menunduk, memilin daster kembang sepatu yang panjangnya selutut. “Buk, Nirma ‘kan lagi hamil muda dan masih sering mual-mual, jadi sengaja menunda untuk bekerja dulu.”

“Kau itu ya, jangan jadikan kehamilan mu sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Ingat! Biaya pendidikan mu tidaklah murah, seharusnya kau tahu diri. Begitu lulus dan ada lowongan pekerjaan, ya jangan disia-siakan!” ketus bi Atun, memperingati sang menantu.

'Yang membiayai kuliahku juga bukan dirimu Buk, tapi lagaknya udah seperti penanggung beban,’ batinnya Nirma begitu berisik, tentu saja hanya berani protes dalam hati.

“Baik, Buk. Besok Nirma memasukkan lamarannya,” katanya tanpa semangat, lalu berdiri hendak masuk kamar lagi, lama-lama berada didekat ibu mertuanya sungguh menyesakkan dada.

“Satu lagi, mulai besok hindari mengenakan baju ketat! Kau harus bisa menyembunyikan kehamilanmu, sudah cukup kelakuan mu kemarin yang kebablasan sampai hamil di luar nikah,” bisik bi Atun sinis tepat di samping Nirma.

Nirma mengangguk, hatinya seakan dicubit oleh tangan tak kasat mata. Setengah mati dirinya menahan agar tidak menumpahkan air mata. “Nirma masuk ke kamar dulu ya, Buk. Mau istirahat.”

“Eh … enak saja. Bantuin beresin buang kertas kado ini dulu! Abis itu sapu lantai rumah, baru boleh istirahat. Kau kira hanya dirimu yang lelah? Kami semua yang ada di sini juga letih!” bi Atun bersungut-sungut, dia lantas beranjak dari duduk di atas lantai dan pindah pada sofa berbusa tebal. Ruang tamunya sudah bersih dari pernak-pernik bekas acara pesta, tinggal teratak yang di halaman rumah belum selesai di bongkar.

Nirma dan dua orang sepupunya Yasir memunguti sobekan kertas kado. Raut calon ibu muda itu begitu masam, apalagi melihat sang suami yang sama sekali tidak membelanya.

***

“Kau kenapa sih, Dek? Dari semalam merengut terus?” Yasir menyibak selimut, dia membalikkan badan sang istri yang semalaman tidur membelakangi dirinya.

Nirma menangis sesenggukan. Hampir semalaman dirinya tidak tidur, kembali teringat perkataan sang kakak dan mencocokkan nya dengan apa yang terjadi.

Sepertinya memang benar, tujuan utama ibu mertuanya mengadakan pesta dikarenakan ingin uang yang sudah disumbangkan kesana-sini kembali lagi. Bukan semata-mata untuk menyenangkan hatinya.

Namun, tidak bisa mengadu kepada sang suami. Yasir terlihat begitu menyayangi orang tuanya dan sangat penurut. Alhasil hanya bisa memendam dalam hati saja, ia benar-benar tidak punya tempat untuk bercerita.

“Ditanyain, kok malah nangis sih. Katakan ada apa?” Yasir mencoba bersabar, dibelainya paha mulus sang istri. Sudah sedari tadi ia menahan has rat, sesuatu di bawah sana meronta-ronta meminta sebuah pelepasan.

“Gapapa, Mas. Cuma capek aja, kemarin seharian kelamaan berdiri di pelaminan,” dusta Nirma.

“Kasihan nya istri ku ini. Sini Mas lemesin otot-otot yang kaku, Yasir pun melancarkan aksinya. Mulai membuai dan merayu, tetapi dikarenakan dirinya sudah tidak lagi bisa menahan geloranya, langsung saja memasuki inti sang istri tanpa memperdulikan raut kesakitan menahan nyeri dibagian perut.

Percintaan panas itu hanya dinikmati oleh Yasir seorang, Nirma menggigit bibirnya kala rasa tak nyaman beriringan dengan nyeri menghantam bagian kewanitaan dan perutnya. Rintihannya menahan kesakitan dianggap desahan nikmat. Yasir tak berhenti sampai pelepasan dia raih.

.

.

Jarum jam terus berputar ke kanan, hari pun bergulir begitu saja, tanpa terasa minggu telah berganti dengan bulan baru.

Di perkebunan karet, dedaunan sedang berguguran. Pertanda musim trek menghampiri, dimana hasil getah tidak berproduksi banyak seperti sebelumnya.

Amala mengenakan pakaian serba tertutup, celana kulot, kaos panjang, hijab lebar. Dia menghela napas lelah, lebih dari dua jam berdiri, berjalan dari satu pohon ke pohon lainnya. Kedua tangannya lihai menarik karet kering yang menempel di aliran garis pohon bekas sayatan pisau deres kemarin pagi.

Menyadap pohon karet profesi yang sudah dia geluti sejak umurnya 13 tahun hingga kini. Hutan pun menjadi tempatnya mengais rezeki, berteman dengan para Nyamuk demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

“Amala! Euy … Amala!”

Tak berapa jauh dari lokasi Amala, terlihat sang sahabat datang menghampiri.

“Sudah selesainya kau menderes?” tanya Dhien.

“Sudah.”

“Pas sekali!” Dhien berseru, menarik lengan Amala yang duduk di atas dedaunan kering.

“Mau apa, Dhien?” Amala menarik lepas tangannya yang di cengkeram Dhien.

“Ayo mancing kita! Aku kepingin makan gulai santan ikan gabus,” ajaknya, rautnya begitu sumringah.

“Ini sudah aku carikan umpannya!” Dhien membuka bungkusan daun talas yang berisi tanah dan terdapat banyak sekali Cacing.

“Mau mancing di mana?” Amala masih enggan beranjak.

“Di balik bukit rumah Bang Agam,” jawab Dhien antusias.

“Gila kau!” Amala spontan berucap, “Aku tidak mau ya, nanti kalau ketahuan pasti bakalan malu sekali. Kita sudah dewasa Dhien, masa kau tak malu mencuri begitu?”

“Yang mau nyuri siapa? Aku izin ya, bukannya asal main masuk ke perkebunannya orang begitu saja,” dengus Dhien tak terima.

“Memangnya kau sudah bilang?” tanya Amala, matanya begitu tajam menelisik sang sahabat yang terlihat sedikit salah tingkah.

“Belum, tapi tenang saja. Begitu pulang, aku pasti bilang kalau kita tadi numpang mancing di rawa-rawa miliknya,” Dhien nyengir lebar.

“Itu sama saja seperti maling. Aku nggak mau, kecuali kalau kau izin terlebih_”

“Dhien lepaskan! Aku nggak mau!”

Dhien melepaskan tarikannya, menatap culas sang sahabat. “Betul nggak mau ikut?”

“Iya.”

“Baiklah, nanti bila bertemu Bang Agam, aku akan katakan kepadanya kalau kau pernah …?”

.

.

Bersambung.

1
Lilik Sriyani
oalah aku yg bacanya terahir juga bertanya tanya ini logat apa, aku tak paham thor dari persilangan Jawa madura aku ini 🤣🤣🤣🤣
Cublik: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Anonymous
Meutia .....Meutia hahaha
Provokator 😂😂😂
Lilik Sriyani
sama lah cita citanya kyk aku, pengen jadi dukun 🤣🤣🤣🤣
l Rumiyati Heineman
semua kejahatan pasti ada blasan, semua kesabaran pasti ada hikmahNya👍🤭
Anonymous
Mak Syam kamu keterlaluan.....
benar"bodoh kau mak
Anonymous
Kusuka kusuka
ternyats pilihan yang mulia ibunda ratu sangat istimewa
Anonymous
Oh ......bahagianya hatiku ternyata hendi pilihan yang terhormat nyak Syam luaaarrr biass baiiiknya 😂
Anonymous
Bang Agam semoga kau menemukan gadus lain yang baik😘
Anonymous
Sudahlah BangAgam .....cari wsnita lain saja
Muak aku dengan Mak Syam yang egois
Anonymous
Mak Syam .....mengapakau tak mati saja
Daripada hidup hanya membuat Nur menderita
Semoga kau tidak menyesal Mak Syam dengan keputusanmu yang mengirbankan Nur anakmu
Mak yang jahat .....kejam
Neneng Zakiyah
aduuuhhh..
baca doa buka puasa..abang agam.😆😆😆😁😁
Anonymous
Benci sangst bencci aku pada mak syam yang egois
Kasian Nur yang selalu jadi korban darisikap maknya
Neneng Zakiyah
😁😁😁😁🤣🤣🤣...mutiaaaa...diennnn...g bs komen dah...😁😁😁😁
Anonymous
Mak Syam .....pemaksa ternyata
Kasian seksli kau Nur korban dari kekerasan hati mak syam yang tidsk punya belas kasih pada anaknya sendiri
Nur kau terlalu menurut pada Makmu yg otoriter
Neneng Zakiyah
sy suka cerita nya...ada lucu nya..sedih..happy..pake bhs daersh melayu pula....salam kenal thor..sukses..🥰🥰
Neneng Zakiyah
kaga bs commen...
Anonymous
Kakak yang selalu mengalah
mendahulukan kesuksesan adiknya
Anonymous
Adakah yang mencubit hatimu Nur?😭
Anonymous
Mundur saja Nur
Jaga hatimu sendiri
Saya Sayekti
terimakasih kasi author.udah menghasilkan karya yg apik.suasana desa yg kontras dengan bahasa dan ke arifannya.bravo sehat selalu
Cublik: Aamiin 🤲

Kembali kasih Kakak ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!