NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASA LALU

Pagi menjelang Bi Asih sudah memandikan bayi Rafna. Farhan menelpon tukang renovasi rumah untuk kamar putrinya.

"Mas, kok ada petukang?" tanya Rani.

"Iya, aku mau buat kamar untuk Rafna," jawab Farhan datar.

"Untuk Rafna, biar?" tanya Rani lirih.

Farhan menatap istrinya, sungguh ia kesal dan marah atas pengabaian sang istri pada putri mereka. Tapi Farhan memilih menahan diri.

"Agar tak mengganggu tidurmu ...."

"Mas ... Aku tidak begitu!" sanggah Rani tentunya.

"Rani!" suara Farhan begitu penuh penekanan.

Matanya masih menelisik mata sang istri. Rani mulai tak enak hati, ia masih membenci putrinya sendiri. Tapi sebisa mungkin, Farhan tidak mengetahui itu.

"Mungkin ... Mungkin, jika Rafna nggak tidur bareng aku. Lama-lama ASI-ku kembali ...," sahutnya beralasan. Ia menatap suaminya dan menjanjikan itu.

"Ya ... siapa tau," bisik Farhan tak menanggapi.

Rani diam, ia pun beringsut menjauh. Melihat benda bulat di dinding. Jarum panjang menunjukkan angka sepuluh dan angka pendek di angka sebelas. Sebentar lagi Claudia pulang sekolah.

"Mas ... Aku jemput Claudia!" serunya lalu mengambil kunci dan berlalu tanpa jawaban dari Farhan.

Bunyi mesin mobil terdengar, Farhan menghela nafas panjang. Lalu ia memilih berjalan ke ruang tengah. Asih telah menyiapkan kopi di sana.

Farhan duduk di sofa ruang tengah. Tangannya meraih cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis.

“Terima kasih, Bi,” ucapnya pelan.

“Iya, Tuan,” jawab Asih sopan sambil berdiri sedikit menjauh.

Farhan menyesap kopinya perlahan. Rasanya pahit, tapi justru itu yang ia butuhkan untuk menahan berat di kepalanya.

Dari arah dapur terdengar suara kecil Rafna yang mulai merengek. Tidak keras, hanya seperti gumaman bayi yang baru bangun tidur.

Asih langsung menoleh.

“Non Rafna bangun,” katanya.

Farhan ikut menoleh ke arah suara itu.

“Biar saya saja, Bi,” ujarnya sambil berdiri.

Asih sedikit terkejut, tapi ia mengangguk dan mempersilakan.

Farhan berjalan ke arah ruang kecil yang sementara dijadikan tempat bayi itu beristirahat. Rafna sedang menggerakkan tangan kecilnya, wajahnya sedikit memerah.

Begitu Farhan mendekat, bayi itu seperti mengenali sosok ayahnya.

Tangis kecilnya berhenti.

Farhan tersenyum tipis.

“Bangun ya, putri Ayah?” gumamnya pelan.

Ia mengangkat bayi itu dengan hati-hati, menaruhnya di bahunya sambil menepuk-nepuk punggung kecilnya.

Asih memperhatikan dari ambang pintu. Ada sesuatu yang selalu membuat hatinya terenyuh setiap melihat Farhan bersama bayi itu.

Seorang ayah yang begitu lembut. Padahal ia tahu, tidak semua laki-laki seperti itu.

“Non Rafna sudah minum susu tadi pagi,” lapor Asih.

Farhan mengangguk.

“Terima kasih, Bi. Kalau bukan Bibi, saya tidak tahu bagaimana mengurus semuanya," ucapnya tulus.

"Sudah jadi pekerjaan saya, Tuan," sahut Asih.

Sementara di mobil, kendaraan mewah milik Rani melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali ia berdecak kesal, kadang ia memukul stir mobilnya.

"Kenapa pula sih harus anak perempuan!" teriaknya kesal. Tentu hanya dirinya sendiri yang dengar.

Rani menepikan mobilnya, ia membuka jendela dan mengembuskan kuat-kuat nafas dari mulut. Setelah tenang, ia pun kembali menyetir, menuju sekolah Claudia.

Sepuluh menit, kendaraan mewah itu sampai. Belum ada tanda-tanda anak-anak keluar dari kelas. Tandanya mereka belum pulang. Rani memarkirkan mobilnya di bawah pohon.

Ia keluar mengenakan kacamata hitam dan menenteng tas Hermes limited edition-nya.

Ketika melangkah memasuki halaman sekolah. Seseorang memanggilnya.

"Rani!"

Wanita itu merasa familiar dengan suara itu. Ia menoleh. Tak lama matanya membelalak sempurna.

"Rani ... Itu kamu?" tanya pria itu.

"Mas Iqbal?" lirihnya.

Ia perlahan mundur, kenangan buruk melintas. Pria di depannya yang berubah jadi monster ketika masuk dalam perjudian dan pelacuran.

Semua harta benda habis, bahkan Rani hampir saja digadaikan pria di depannya untuk melunasi utang.

"Mau apa kamu?" tanya Rani takut.

"Rani ... Aku ...," Iqbal mendekat.

Rani mundur, "jangan mendekat! Aku bisa teriak!" ancamnya.

Iqbal langsung berhenti. Tangannya terangkat sedikit seolah ingin menenangkan.

“Tenang, Ran… aku tidak akan menyentuhmu,” katanya cepat.

Rani masih menatapnya penuh curiga. Dadanya naik turun menahan napas yang mulai tidak teratur.

Beberapa orang tua murid berlalu lalang di halaman sekolah, tapi Rani tetap merasa seperti terpojok.

“Apa maumu?” ulangnya dingin.

Iqbal terlihat jauh berbeda dari yang ia ingat dulu. Tubuhnya lebih kurus, wajahnya sedikit kusut, namun matanya tampak lebih tenang.

“Aku cuma ingin bicara,” katanya pelan.

“Kita tidak punya urusan apa-apa lagi,” potong Rani tegas.

Ia hendak berbalik pergi, tapi Iqbal kembali bersuara.

"Rani ... Kita masih suami istri!" Seru Iqbal yang menghentikan langkah Rani.

"Apa jadinya jika suamimu tau jika kau masih berstatus istri orang?" Sahut Iqbal lagi dengan senyum licik.

Langkah Rani langsung terhenti.

Tubuhnya kaku seketika, seolah waktu tiba-tiba berhenti berputar.

Namun suara Claudia menambah ketakutan Rani.

"Mama!"

Rani gegas berbalik dan meraih tangan putrinya cepat. Banyaknya wali-wali murid yang datang, mengamankan situasi Rani.

Sebisa mungkin ia membuat Claudia melihat ayah kandungnya. Tiba-tiba ....

"Anak Papa!" teriak Iqbal memanggil Claudia.

Gadis kecil itu menoleh, tapi Rani gegas menutupi arah pandangnya dan memasukkan putrinya cepat-cepat ke dalam mobil.

Iqbal ingin mendekat, tapi tatapan orang-orang di sana membuatnya urung melangkah lebih jauh.

Kendaraan roda empat itu bergerak meninggalkan gedung sekolah dan Iqbal. Mata pria itu mengikuti kemana mobil merah itu berlalu.

Iqbal tersenyum tipis, ia mengambil kunci dari sakunya. Lalu perlahan ia menaiki motor miliknya dan mengikuti mobil yang disupiri wanita yang masih istrinya.

Rani mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sesekali matanya melirik spion. Wajahnya pucat dan jantungnya berdetak kencang.

"Mama ... Takut ...," suara Claudia menyadarkannya.

"Maaf sayang," sahut Rani lalu memejamkan laju kendaraannya. Ia yakin jika Iqbal tak akan mengejarnya.

"Ma!" panggil Claudia.

"Iya sayang?" sahut Rani lembut.

"Ma ... tadi itu Papa kan?" tanya Claudia takut-takut.

Rani menegang, Claudia cukup dekat dengan ayahnya. Iqbal sangat sayang dengan Claudia. Tapi Rani tak menjawab.

"Ma ...."

"Sayang, kamu bisa nggak diam!" pinta Rani sedikit keras.

Claudia menunduk, "maaf," ujarnya lirih.

Rani menghela nafas panjang. Ia menoleh dan menjulurkan tangannya meraih kepala putrinya.

"Maafkan Mama sayang. Tapi nanti, kamu jangan bilang-bilang ya," ucapnya sedikit memohon.

"Tentang Papa ke Ayah?" tanya Claudia polos.

"Iya sayang!" angguk Rani membenarkan.

"Kenapa?" tanya Claudia lagi ingin tahu.

"Nanti Ayah marah. Kamu nggak disayang lagi deh sama Ayah," jawab Rani asal.

"Masa Ayah gitu?" tanya Claudia tak percaya.

"Benar. .. Ayah kan taunya kamu nggak ada Papa yang juga sayang kamu. Nanti kalau dia tau kamu masih punya Papa yang sayang kamu ...?" Claudia terdiam.

"Ayah marah?" tanyanya lagi.

"Sekarang gini deh. Kamu nanti lihat. Ayah bangun kamar baru untuk Rafna ...."

"Kok Adek Rafna dibuatin kamar?" potong Claudia bertanya.

"Itu karena Ayah mulai menyayangi Rafna ...."

Bersambung.

Wah Rani meracuni pikiran anaknya 😡😖

Next?

1
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!