Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah yang Terlihat
Laras masuk ke dalam bilik paling ujung. Namun, di dalam bilik itu, terdapat sebuah pintu kecil rahasia yang terhubung dengan ruang ganti kostum darurat—sebuah detail yang hanya diketahui oleh orang dalam teater seperti Julian. Laras merayap masuk melalui pintu rendah itu, jantungnya serasa ingin melompat keluar.
Di ruang ganti yang remang-remang, Julian sudah menunggu.
"Kamu datang," bisik Julian, suaranya lega.
"Cepat, Julian. Aku hanya punya empat menit," Laras terengah-engah.
Julian memegang kedua bahu Laras. "Dengar. Elang tidak hanya mengawalmu, dia sedang membelimu. Kontrak yang kamu tandatangani di Jakarta memiliki klausul yang bisa mematikan karirmu jika kamu tidak kembali padanya. Tapi aku punya koneksi. Ada pengacara di Sydney yang bisa membatalkan itu dengan dasar tekanan psikologis dan hak asasi manusia."
"Aku tidak bisa lari, Julian. Dia punya segalanya tentangku," Laras menggeleng panah.
"Kamu bisa. Pementasan malam pembukaan lusa adalah kuncinya. Begitu tirai ditutup, ada mobil yang akan membawamu langsung ke kedutaan. Kamu bisa meminta perlindungan. Jangan biarkan dia menghancurkan bakatmu—"
Tiba-tiba, ponsel di saku Laras bergetar dengan pola yang sangat spesifik. Itu adalah panggilan video dari Elang. Di saat yang sama, terdengar suara gedoran keras dari arah toilet.
"Nona Laras! Waktu Anda habis! Buka pintunya!" Suara Amy menggelegar, penuh kecurigaan.
Laras memucat. Jika ia tidak mengangkat telepon Elang, pria itu akan segera memerintahkan Amy untuk melakukan tindakan ekstrem. Namun jika ia mengangkatnya sekarang, Elang akan melihat latar belakang ruangan yang bukan toilet.
"Aku harus pergi!" Laras hendak berbalik, namun ponselnya kembali bergetar. Layar menampilkan wajah Elang yang tampak dingin.
Laras terpaksa mengangkatnya. Ia memosisikan ponselnya sangat dekat dengan wajahnya, hanya menampakkan wajah dan latar belakang dinding putih polos yang kebetulan ada di ruang ganti itu.
"Halo, Elang..." suara Laras bergetar.
"Kenapa wajahmu berkeringat, Laras? Dan kenapa pencahayaannya begitu buruk?" Suara Elang terdengar seperti belati yang diasah. Di Jakarta, Elang sedang duduk di depan layar besar, matanya menyipit memperhatikan setiap detail di layar ponsel. "Di mana kamu? Amy bilang kamu di toilet, tapi aku tidak mendengar suara air atau gema ruangan keramik."
"Aku... aku baru saja keluar dari bilik. Perutku sangat sakit, Elang," Laras mencoba mengatur napasnya.
"Putar ponselnya. Aku ingin melihat sekelilingmu," perintah Elang. Nada suaranya tidak lagi meminta, itu adalah instruksi mutlak.
Laras membeku. Julian bersembunyi di balik barisan kostum besar, menahan napas.
"Elang, tolonglah... aku sedang sakit dan kamu malah melakukan ini?" Laras mencoba menggunakan taktik emosional.
"PUTAR PONSELNYA, LARAS MAHESWARI!" Elang berteriak di seberang sana. Ia sudah melihat melalui GPS bahwa posisi Laras bergeser beberapa meter dari titik toilet yang seharusnya.
Tepat saat itu, pintu ruang ganti didobrak dari luar. Amy masuk dengan pistol yang sudah tersarung namun tangannya siap menarik. Matanya membelalak melihat Laras berdiri di sana bersama Julian.
Layar ponsel masih menyala. Elang melihat semuanya. Ia melihat Julian. Ia melihat ketakutan di wajah Laras.
Keheningan yang mematikan terjadi selama beberapa detik. Di layar ponsel, wajah Elang berubah menjadi sangat tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya.
"Begitu rupanya," ucap Elang pelan, namun suaranya terdengar sangat tajam. "Julian... kamu baru saja menandatangani surat kematian karirmu. Dan Laras..."
Elang menatap langsung ke mata Laras melalui kamera. "Aku memberikanmu kebebasan untuk bernapas, dan kamu menggunakannya untuk mengkhianatiku? Amy, bawa dia kembali ke apartemen. Kunci semua pintu. Jangan biarkan dia keluar satu inci pun sampai aku mendarat di Sydney malam ini."
"Elang, tidak! Ini tidak seperti yang kamu lihat!" teriak Laras, namun sambungan telepon sudah diputus.
Amy segera menyambar lengan Laras dengan kasar, jauh lebih kasar dari biasanya. "Mari, Nona. Anda baru saja menghancurkan kepercayaan satu-satunya orang yang peduli pada Anda."
Julian mencoba menghalangi, namun salah satu pengawal pria yang sudah menyusul masuk segera memukul perut Julian hingga tersungkur. Laras diseret keluar dari area staf menuju mobil yang sudah menunggu dengan mesin menyala.
Di dalam mobil, Laras menangis histeris. Ia menyadari bahwa taruhannya telah gagal total. Harapan untuk bicara dengan Julian justru menjadi jerat yang akan mencekiknya lebih kencang. Elang sedang dalam perjalanan, dan Laras tahu, kali ini tidak akan ada lagi makan malam romantis atau es krim di taman. Sang Elang datang untuk menjemput miliknya, dan kali ini, ia akan memastikan sangkarnya tidak akan pernah memiliki celah lagi.