"Nikahi aku Om!"
Di hari yang seharusnya menjadi gerbang kebebasannya, Auryn Athaya Wiguna justru ditinggalkan di pelaminan. Calon suaminya kabur bersama seorang gadis remaja, meninggalkan noda malu yang tak terhapuskan bagi keluarga Wiguna. Namun, saat dunia seolah runtuh, Auryn melihat sebuah peluang di tengah kerumunan tamu, Keandra Mahessa, ayah dari gadis yang menghancurkan pernikahannya.
"Putrimu membawa kabur calon suamiku. Jadi, Om harus bertanggung jawab!"
Tanpa bantahan, pria matang berusia 38 tahun itu mengiyakan. Dengan mahar seadanya dan tatapan yang sulit dibaca, Keandra menarik Auryn ke dalam ikatan suci yang tak terduga. Bagi Auryn, pernikahan ini adalah senjata. Jika Leandra Mahessa merebut kekasihnya, maka ia akan merebut posisi tertinggi di hidup Lea, menjadi ibu tirinya.
"Kamu merebut kekasihku, maka akan kubuat hidupmu seperti neraka, Lea." Namun, Auryn tak menyadari bahwa menikahi Keandra berarti masuk ke dalam sangkar emas milik pria yang jauh lebih berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kucing Nakal
Malam ini, suasana di ruang bermain terasa jauh lebih hangat. Auryn tengah duduk bersila di atas karpet bulu, dengan telaten mengajari Jeandra membaca. Di luar dugaan, anak kecil itu ternyata jauh lebih pintar dari yang Auryn bayangkan sebelumnya. Jeandra adalah pembelajar yang cepat, ia mampu menangkap hal-hal baru dengan sigap, bahkan menghafal urutan kata yang diminta Auryn dengan ingatan yang tajam.
"Coba baca ini, ba-ba-bi-bi, jadi bacanya?" pancing Auryn sembari menunjuk deretan huruf di buku cerita.
"Ba ... ih nda boleeeeh, nda holeeeh!" seru Jeandra tiba-tiba. Ia beranjak berdiri dengan raut wajah yang tampak panik luar biasa.
"Nda boleh, nda benel olang tua ini ngajalnya," ucap Jeandra yang membuat Auryn, yang tadinya bingung, seketika meledak dalam tawa.
"Lho, enggak benar bagaimana sih, hm?" tanya Auryn gemas. Ia menarik lembut tubuh kecil Jeandra kembali ke dalam pangkuannya.
"Mda benel Mommy ajal, bilangnya halus pig. Nda boleh baaabi baaabi, nanti malah Daddy," ucap Jeandra dengan mata membulat sempurna, seolah kata baabi adalah mantra terlarang yang bisa mendatangkan bencana.
Auryn menahan tawa, mencoba mengikuti logika berpikir anak tirinya itu. "Kalau ... an—"
"Dog! Nda boleh bilang yang benelnya, halus dog!" seru Jeandra dengan ekspresi sangat serius, memotong ucapan Auryn sebelum kata itu sempat keluar.
Auryn tertawa terpingkal-pingkal. Baginya, arti kata itu sama saja, namun bagi Jeandra, menggunakan bahasa Inggris terasa lebih aman dari amarah ayahnya.
"Ekhem, Andra masuk kamar. Sudah malam."
Suara bariton yang tiba-tiba muncul itu seketika memutus obrolan seru mereka. Keandra berdiri di ambang pintu, menatap interaksi keduanya dengan wajah datar yang sulit ditebak. Jeandra yang melihat sang ayah datang justru mendelik protes. Ia semakin erat memeluk leher Auryn dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Nda mau! Tadi Daddy cama Mommy udah cehalian. Andla kan cuman malam, belbagiiiii! Olang mah belnagiiii! Jangan maluuuuuk!" pekik Jeandra yang membuat Keandra tersentak syok di tempatnya berdiri.
"Heh, dapat bahasa maruk dari mana kamu?" tegur Keandra. Ia merasa tidak pernah mengajarkan kata-kata seperti itu pada putranya.
Jeandra diam seribu bahasa, namun matanya melirik nakal ke arah Auryn yang kini sibuk menutupi wajahnya dengan helaian rambut, menahan tawa agar tidak meledak di depan Keandra. Keandra langsung paham siapa dalang di balik kosakata baru putranya.
Pria itu menghela napas panjang, mencoba bersabar. "Jaga bahasamu saat di depan Andra, Auryn. Jangan sampai dia meniru bahasa kasarmu itu," ucapnya memperingatkan.
"Kalau bahasa ... 'Om, buat anak yuk', itu kasar enggak?" Auryn mendongak, menatap Keandra dengan tatapan menggoda yang membuat pria itu mematung syok. Sementara itu, Jeandra yang tidak mengerti apa-apa justru sibuk menghitung helaian rambut Auryn di jemari kecilnya.
"Auryn, ada Andra di sini!" tegur Keandra dengan nada kesal yang tertahan.
Auryn menjauhkan wajah Jeandra dari lehernya, lalu membingkai pipi gembul anak itu dengan lembut. "Jean, Mommy temani Jean tidur hari ini, ya? Besok pagi, kita pergi ke taman kota untuk beli jajan banyak-banyak. Bagaimana?"
"Di kamal Andla?" tanya Jeandra pelan, memastikan.
"Iya, tidak apa-apa kan? Mommy mau hukum Daddy yang sudah nakal ke Jeandra tadi," ucap Auryn dengan nada penuh keyakinan. Mendengar kata hukum, Jeandra langsung bersemangat.
"Hukum Daddy, Mommy! Cakal dia! Cakal dia!" seru Jeandra penuh semangat sambil memeragakan gerakan mencakar di udara.
Keandra yang melihat itu hanya bisa membuang wajah ke samping. Ia menyadari telinganya mulai memerah karena malu sekaligus jengkel di saat yang bersamaan. "Aku tunggu di kamar," ucap Keandra singkat sebelum melangkah pergi, meninggalkan Auryn yang terkekeh puas melihat kegugupan pria kaku itu.
Keandra melangkah keluar dari ruang bermain menuju area depan rumah. Tadinya ia berniat menutup pintu garasi yang masih terbuka sedikit, namun gerakannya terhenti saat melihat sosok Digta yang baru saja mengantar Lea pulang. Putrinya itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menyapa ayahnya, meninggalkan Digta yang masih berdiri di depan gerbang.
Digta menatap kepergian Lea, lalu pandangannya beralih menatap tajam ke arah Keandra.
"Om benar-benar menikahi Auryn?" tanya Digta dengan nada suara yang dingin dan penuh selidik.
"Ada yang salah dengan itu?" balas Keandra tenang, namun tatapannya tak kalah mengintimidasi.
Digta membuang wajahnya ke samping, mendengus pelan. "Seharusnya tidak seperti ini kejadiannya," gumam Digta lirih, seolah menyesali sesuatu yang telah terjadi.
"Kenapa? Kamu mendadak menyesal dan sadar kalau kamu jatuh cinta pada Auryn?" tanya Keandra.
Pertanyaan itu membuat Digta terkejut. Ia menatap Keandra yang kini memandangnya dengan tatapan yang sangat berbeda—lebih posesif dan tajam. "Fokus saja pada Lea. Kamu tidak perlu lagi memfokuskan perhatianmu pada istri saya," ancam Keandra telak sebelum berbalik masuk.
.
.
.
.
Sementara itu di kamar utama, Auryn terlihat tengah termenung menghitung sesuatu. Ranjang di kamar Keandra benar-benar telah diganti dengan yang baru, bahkan kasur dan beberapa perabotan lainnya pun tampak berbeda dari sebelumnya sesuai permintaannya. Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangannya. Masih terdapat foto pernikahan Keandra di sana, terpajang bersama mendiang istrinya.
Auryn terdiam menatap bingkai foto itu. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Keandra sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Lihat apa?" tanya Keandra pelan.
Auryn menoleh, sedikit terperanjat. Namun ia segera menguasai diri dan menatap Keandra dengan serius. "Bisa tidak, pindahkan foto ini? Ini sekarang kamar kita, bukan?" ucap Auryn mencoba menuntut haknya.
Namun, Keandra justru menatapnya lama dengan pandangan yang sulit dibaca. "Segalanya boleh kamu ubah di rumah ini, Auryn. Tapi tidak dengan foto itu. Biarkan dia tetap di sana," ucap Keandra tegas.
Auryn terdiam sesaat, hatinya mencelos. "Berasa selingkuhan diri ini kalau begini caranya," gumam Auryn dalam hati dengan perasaan kesal.
Keandra kemudian duduk di tepi ranjang yang baru, memperhatikan ekspresi Auryn. "Ada masalah? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya pria itu dengan polosnya.
Auryn mendelik tajam. "Astaga, tua bangka ini masih bertanya lagi ada masalah atau tidak. Teflon mana teflon? Mau kupentung kepalanya biar sadar. Ih, gemas banget!" gerutu Auryn dalam hati, merangkai segala sumpah serapah untuk suaminya yang terkadang sangat tidak peka itu.
Namun, suasana canggung itu tidak bertahan lama ketika Keandra tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya.
"Jadi ... malam ini mau pakai warna apa?" tanya Keandra tiba-tiba, merujuk pada pesan nakal Auryn di kampus tadi.
"Eh?" Auryn tersentak, wajahnya yang tadi kesal kini berubah merona merah. Ternyata, pria ini benar-benar menagih janjinya.
Keandra menarik satu sudut bibirnya, "Sepertinya hitam seperti kemarin tidak buruk, ayolah kucing nakal. Tunjukkan bakatmu," ucap Keandra yang membuat Auryn meneguk kasar lud4hnya.
__________________________
Maap kawan baru sempet buat, jatoh dari tangga aku baru bisa ngetik satu bab😭 biasa lemes gak konsen, salah injak😭 aman kok, cuman sakit semua badan😭
Lanjut besok yah, sebelah libur dulu 😭 sorry🥹
boleh memanjakan lea tapi jangan berlebihan....
Biasanya anak yg kekurangan perhatian dari ayah maybe lebih rentan mencari validasi dari pria lain ya, tapi itu jg jarang selalu terjadi.
Faktor lain keki lingkungan, or pengalaman hidup, and then kepribadian juga mempengaruhi siih yor menurut gua yaak heheheh 🤭