Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Kesepakatan Yang Tak Pernah Direncanakan
Keheningan di dalam ruangan itu terasa semakin padat setelah pertanyaan Devan yang begitu langsung dan tanpa lapisan, seolah ia tidak terbiasa berbicara dengan cara berputar-putar, sementara Lisa tetap berdiri dengan tenang di hadapannya, tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia merasa terpojok meskipun sebenarnya ia menyadari bahwa pria di depannya bukanlah tipe orang yang mudah dialihkan perhatiannya dengan jawaban biasa, dan justru karena itulah ia harus memilih setiap kata dengan lebih hati-hati dari sebelumnya karena satu kesalahan kecil saja bisa membuka celah yang tidak ia inginkan.
Lisa menyilangkan tangannya dengan santai, lalu menatap Devan dengan ekspresi yang tetap terkendali sebelum akhirnya berkata dengan nada yang ringan namun memiliki makna yang dalam, “Kalau aku memang sedang merencanakan sesuatu, menurutmu aku akan mengatakannya begitu saja?” dan kalimat itu langsung membuat sudut bibir Devan sedikit terangkat, bukan karena ia terhibur, melainkan karena ia mendapatkan konfirmasi bahwa dugaannya tidak sepenuhnya salah, bahwa wanita di depannya memang menyimpan sesuatu yang lebih dari yang terlihat di permukaan.
Devan kemudian berjalan perlahan mendekati meja Lisa, matanya tidak pernah lepas dari wajah wanita itu seolah ia sedang mencoba membaca setiap perubahan kecil yang mungkin muncul, lalu ia berhenti dengan jarak yang cukup dekat sebelum berkata dengan suara rendah yang tetap tenang, “Aku tidak butuh kamu mengaku, aku hanya butuh tahu apakah itu sesuatu yang menarik atau tidak,” dan cara ia mengatakan kata ‘menarik’ terasa berbeda, seolah kata itu memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar rasa penasaran biasa.
Lisa tidak langsung menjawab, ia justru berbalik dan berjalan menuju kursinya, lalu duduk dengan anggun seolah ia adalah orang yang sepenuhnya mengendalikan situasi, meskipun sebenarnya ia tahu bahwa percakapan ini sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih serius dari yang ia perkirakan, kemudian ia menyandarkan tubuhnya sedikit dan menatap Devan dengan mata yang tajam sebelum berkata, “Dan kalau ternyata tidak menarik, apa kamu akan pergi begitu saja?” yang langsung dibalas oleh Devan dengan jawaban singkat namun tegas, “Tidak,” tanpa keraguan sedikit pun, membuat Lisa sedikit terdiam karena ia bisa merasakan bahwa pria ini tidak berbicara dengan asumsi, melainkan dengan kepastian.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa panjang, hingga akhirnya Lisa menarik napas pelan dan berkata dengan nada yang lebih serius, “Kamu datang ke sini tanpa janji, tanpa alasan yang jelas, lalu bertanya seolah kamu berhak tahu semuanya… kamu selalu seperti ini?” dan pertanyaan itu tidak terdengar seperti keluhan, melainkan seperti pengamatan, sesuatu yang langsung membuat Devan menjawab dengan nada datar, “Aku hanya melakukan apa yang aku anggap perlu,” kemudian ia menambahkan dengan sedikit penekanan, “dan saat ini, aku menganggap kamu perlu diperhatikan.”
Kalimat itu membuat suasana kembali berubah, bukan menjadi lebih ringan, melainkan lebih dalam, karena untuk pertama kalinya Lisa merasakan bahwa dirinya tidak sepenuhnya berada di posisi atas dalam percakapan ini, ada sesuatu dalam cara Devan berbicara yang tidak bisa ia abaikan begitu saja, sesuatu yang membuatnya harus mempertimbangkan ulang langkahnya, lalu ia tersenyum tipis sebelum berkata, “Kalau begitu… kamu salah orang, aku tidak suka diperhatikan,” namun Devan langsung membalas tanpa ragu, “Itu bukan keputusanmu lagi,” yang membuat Lisa sedikit mengangkat alisnya karena jarang ada orang yang berani berbicara seperti itu padanya.
Lisa kemudian berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati Devan hingga jarak mereka kembali dekat, lalu ia menatap pria itu dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya sebelum berkata dengan suara yang lebih rendah, “Kamu terlalu percaya diri,” dan Devan tidak terlihat terganggu oleh kalimat itu, justru ia menjawab dengan tenang, “Aku hanya realistis,” lalu ia sedikit mencondongkan tubuhnya, menurunkan suara seolah hanya ingin Lisa yang mendengar, “dan aku tahu kamu bukan orang yang suka bermain tanpa tujuan.”
Kalimat itu tepat sasaran.
Lisa tidak menyangkal.
Namun ia juga tidak mengaku.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, “Kalau kamu sudah tahu, untuk apa bertanya?” dan Devan menjawab dengan sederhana, “Untuk memastikan,” lalu ia menambahkan, “dan sekarang aku sudah cukup yakin.”
Lisa menatapnya beberapa detik lebih lama, mencoba membaca apa yang sebenarnya pria ini inginkan, karena jelas ini bukan sekadar rasa penasaran biasa, ada sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang bahkan mungkin belum sepenuhnya disadari oleh Devan sendiri, lalu akhirnya Lisa berjalan kembali ke mejanya dan mengambil ponselnya, seolah memberi jeda dalam percakapan yang mulai terlalu intens, sebelum akhirnya berkata dengan nada yang lebih ringan, “Baiklah, anggap saja kamu benar, lalu apa?” dan pertanyaan itu langsung membuat Devan menjawab tanpa berpikir panjang, “Aku ingin terlibat.”
Lisa berhenti.
Tangannya yang sedang memegang ponsel sedikit mengencang.
Ia menoleh perlahan.
“Terlibat dalam apa?” tanyanya.
Devan menatapnya dengan tenang.
“Dalam apa pun yang kamu rencanakan.”
Kalimat itu begitu jelas.
Begitu langsung.
Dan juga… berbahaya.
Lisa tertawa kecil, tetapi kali ini tawanya tidak sepenuhnya santai, lebih seperti reaksi terhadap sesuatu yang tidak ia duga.
“Kamu bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan,” katanya.
“Aku tidak perlu tahu semuanya,” jawab Devan, “cukup tahu bahwa itu tidak sederhana.”
Lisa menggeleng pelan.
“Kamu ini aneh,” katanya.
Devan mengangkat bahu sedikit.
“Mungkin,” jawabnya, lalu menambahkan dengan nada yang lebih dalam, “tapi aku jarang salah memilih.”
Keheningan kembali terjadi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih berat.
Lebih penuh makna.
Lisa menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Pria ini bukan sekadar orang luar.
Jika ia membiarkannya masuk…
Maka semuanya akan berubah.
Namun di sisi lain…
Memiliki seseorang seperti Devan di sisinya…
Bisa menjadi keuntungan yang sangat besar.
Lisa menatapnya dalam diam beberapa detik, lalu akhirnya berkata dengan nada yang lebih tenang, “Kalau aku setuju… apa yang kamu inginkan?” dan Devan menjawab tanpa ragu, “Kejujuran,” lalu menambahkan dengan sedikit jeda, “setidaknya sebagian.”
Lisa tersenyum tipis.
“Dan sebagai gantinya?” tanyanya.
Devan menatapnya tajam.
“Aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu… sebelum kamu selesai dengan apa yang kamu mulai.”
Kalimat itu terdengar seperti janji.
Atau mungkin…
Ancaman yang dibungkus dengan perlindungan.
Lisa menatapnya lama.
Sangat lama.
Lalu akhirnya…
Ia berkata pelan.
“Baik.”
Satu kata.
Namun cukup untuk mengubah segalanya.
Karena sejak detik itu…
Lisa tidak lagi bermain sendirian.
Dan tanpa ia sadari…
Ia baru saja membuat kesepakatan dengan seseorang yang bisa menjadi sekutunya…
Atau musuh paling berbahaya dalam hidupnya. 🔥