Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Gema Sang Panglima
Angin dingin yang bertiup di sepanjang jalan Sudirman kini membawa aroma yang ganjil; perpaduan antara bau aspal panas dan wangi bunga kamboja yang menusuk. Aruna berdiri mematung, jemarinya mencengkeram kipas besi pemberian Seraphina hingga buku-buku jarinya memutih. Di depannya, sosok raksasa berbaju zirah baja modern itu melangkah maju, setiap pijakannya membuat permukaan jalan yang menyatu dengan lantai istana itu retak.
"Ayah?" suara Aruna nyaris tertelan deru angin.
Pria itu melepaskan helm bajanya. Wajah itu... wajah yang hanya bisa Aruna lihat di bingkai foto kusam selama sepuluh tahun terakhir, kini menatapnya dengan sepasang mata merah menyala. Tidak ada kehangatan di sana, hanya kekosongan yang dingin seperti ruang hampa udara.
"Aruna... putriku yang malang," suara pria itu berat dan bergema, seolah ribuan orang berbicara secara bersamaan lewat tenggorokannya. "Kau pikir kau bisa membangun surga di atas puing-puing kegagalan kami?"
Arvand segera melangkah di depan Aruna, pedang patahnya kembali bersinar meskipun redup. "Siapa kau? Jangan berani-berani menggunakan wajah mertuaku untuk menakut-nakuti istriku!"
Pria itu tertawa, suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku adalah memori yang kau hapus, Jenderal. Aku adalah semua draf yang tidak pernah selesai, semua ide yang kau buang ke tempat sampah sejarah. Aku adalah Sang Panglima Arwah Penulis."
Di belakang pria itu, jutaan bayangan hitam mulai merangkak keluar dari celah-celah aspal dan retakan dinding gedung pencakar langit. Mereka adalah sosok-sosok tanpa wajah yang membawa pena tajam dan kertas-kertas terbakar. Mereka adalah energi negatif dari ribuan penulis yang gagal, yang kini menemukan jalan masuk ke dunia baru ini karena hilangnya 'jangkar' Seraphina.
"Ayah sudah meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit!" Aruna berteriak, air mata mulai menggenang. "Kamu bukan dia! Kamu cuma monster yang mencuri memoriku!"
"Meninggal? Oh, Aruna... aku tidak pernah meninggal," Panglima itu mengangkat pedang cahayanya yang raksasa. "Aku hanya terjebak di server cadangan yang kau lupakan. Dan sekarang, setelah kau menggabungkan kedua dunia ini, pintu menuju rumah akhirnya terbuka."
Panglima itu mengayunkan pedangnya. Sebuah gelombang energi hitam melesat menghancurkan apa pun di jalurnya. Arvand dengan sigap menangkap Aruna dan Arel, melompat ke balik bangkai mobil SUV yang terbalik.
DHUARR!
Mobil itu hancur berkeping-keping, namun Arvand berhasil melindungi mereka dengan perisai energi yang ia ciptakan dari sisa-sisa kekuatan batinnya.
"Ratri, dengarkan aku!" Arvand mencengkeram bahu Aruna, memaksa istrinya untuk menatap matanya. "Dia bukan ayahmu. Dia adalah manifestasi dari semua keraguan dan ketakutanmu sebagai penulis. Jika kau membiarkannya menang di dalam pikiranmu, dia akan menghapus kita semua!"
Aruna mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Tapi wajah itu... suara itu... terasa sangat nyata, Arvand."
Arel, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba memegang tangan Aruna. Mata emasnya kembali bersinar, namun kali ini lebih lembut. "Ibu, Kakek yang asli tidak punya bau seperti itu. Bau orang itu... seperti tinta busuk."
Perkataan polos Arel menyentak kesadaran Aruna. Benar. Ayahnya adalah pria yang lembut, yang selalu mendukung hobi menulisnya sejak kecil. Ayahnya tidak akan pernah menatapnya dengan kebencian seperti itu.
"Kamu benar, Arel," Aruna menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, membuka kipas besi Seraphina dengan satu sentakan kuat. Kipas itu bersinar biru cerah, bereaksi terhadap tekadnya.
"Arvand, kita harus memancingnya menjauh dari area penduduk!" Aruna menunjuk ke arah Bundaran HI yang kini dikelilingi oleh Hutan Terlarang. "Di sana, energi alam lebih kuat. Kita bisa menjebaknya di antara akar-akar pohon kuno."
"Laksanakan, Ratri!" Arvand bersiul keras.
Dari balik bayangan gedung, kuda perang Arvand yang bernama Badai muncul, berlari kencang menerjang kerumunan arwah tanpa wajah. Arvand melompat ke atas pelana, menarik Aruna dan Arel naik.
"Ayo, Badai! Lari!"
Mereka memacu kuda di sepanjang jalan protokol yang kini dipenuhi pemandangan gila. Di sebelah kanan, ada toko kopi modern yang jendelanya pecah, dan di dalamnya ada prajurit Kerajaan Utara yang sedang kebingungan. Di sebelah kiri, ada taman kota yang kini ditumbuhi bunga-bunga beracun dari dunia novel.
Panglima Arwah tidak tinggal diam. Ia terbang rendah di udara, mengejar mereka dengan kecepatan luar biasa. Pedang raksasanya menebas tiang-tiang listrik dan lampu jalan hingga memercikkan api.
"Kenapa kau lari, Aruna? Kau tidak bisa lari dari naskahmu sendiri!" Panglima itu meraung.
Aruna menoleh ke belakang. Ia melihat ribuan arwah penulis mulai merayap naik ke atas gedung-gedung, mencoba mengepung mereka. "Arvand, mereka terlalu banyak! Kita tidak akan sampai ke Bundaran HI!"
"Gunakan kipas itu, Aruna! Tuliskan sesuatu di udara!" teriak Arvand sambil menangkis serangan arwah yang melompat ke arah kuda mereka.
Aruna teringat cara Seraphina menggunakan kipasnya. Ia bukan sekadar senjata fisik, tapi alat untuk memanipulasi kode dunia. Aruna menggerakkan kipasnya, membentuk garis-garis biru di udara.
"Garis Pertahanan: Tembok Beton dan Perisai Besi!"
Seketika, aspal di belakang mereka terangkat, membentuk dinding raksasa yang menghalangi laju para arwah. Namun, Panglima itu hanya perlu satu tebasan untuk menghancurkan dinding tersebut.
"Hanya itu kemampuanmu?" ejek sang Panglima.
Mereka akhirnya sampai di Bundaran HI. Monumen Selamat Datang kini berdiri di tengah kolam yang airnya berwarna ungu pekat, dikelilingi oleh akar-akar pohon raksasa yang melilit gedung-gedung di sekitarnya.
Arvand melompat turun dari kuda, diikuti oleh Aruna dan Arel. Mereka berdiri di tengah-tengah jalan yang kini sudah tertutup lumut. Panglima Arwah mendarat dengan dentuman keras di depan mereka, membuat air kolam memuncrat tinggi.
"Ini tempat yang bagus untuk makammu, Aruna," ujar Panglima itu sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Ini bukan makamku," balas Aruna. Ia menatap surat dari Kaisar tua yang masih ia selipkan di pinggangnya. Kalimat tentang 'jiwa yang tinggal' kembali terngiang.
Ratri, maafkan ayahmu. Aku tidak memberitahumu bahwa satu jiwa harus tetap tinggal di 'Antara Dua Dunia' agar keseimbangan ini tidak hancur.
Aruna menyadari sesuatu yang mengerikan. Jika Seraphina adalah jangkar yang lama, dan dia sudah hilang, maka harus ada jangkar baru. Dan Panglima ini... dia sedang mencoba menjadi jangkar yang korup untuk mengubah dunia ini menjadi neraka digital.
"Arel, dengarkan Ibu," Aruna berlutut di depan anaknya. "Ibu butuh kamu untuk memegang kendali sistem dari dalam, seperti tadi di ruang server. Tapi kali ini, kamu jangan menghapus apa pun. Kamu hanya perlu menyatukan energi emasmu dengan kipas ini."
"Tapi Ibu... Arel takut tidak bisa," bisik Arel.
"Kamu bisa, Sayang. Kamu adalah jembatan dunia ini," Aruna mencium kening Arel.
Arvand berdiri di depan mereka, menahan serangan pertama dari sang Panglima. Dentuman logam bertemu energi ungu bergema di seluruh Bundaran HI. Arvand terdesak hebat; pedang patahnya mulai retak lebih parah.
"Cepat, Aruna! Aku tidak bisa menahannya lebih lama!" teriak Arvand dengan gigi gemeletuk.
Aruna dan Arel memegang kipas besi itu bersama-sama. Energi emas dan biru menyatu, menciptakan pusaran cahaya yang mulai menyedot kabut hitam di sekitar mereka.
"Apa yang kau lakukan?!" Panglima itu panik. Ia mencoba menebas Aruna, namun Arvand menggunakan tubuhnya sebagai tameng, membiarkan bahunya tergores pedang cahaya demi memberikan waktu bagi Aruna.
"Aku sedang memberikanmu akhir cerita yang layak, Panglima!" Aruna berteriak.
Cahaya dari kipas itu melesat ke langit, membentuk sebuah jaring-jaring kode berukuran raksasa. Jaring itu mulai menyelimuti tubuh sang Panglima, menariknya ke arah kolam Bundaran HI yang kini berubah menjadi pusaran dimensi.
"TIDAK! AKU ADALAH AYAHMU! KAU TIDAK AKAN BERANI!"
"Ayahku sudah beristirahat dengan tenang," ujar Aruna dengan suara yang mantap. "Dan kamu hanya sampah naskah yang harus dibuang!"
Dengan satu sentakan terakhir, Aruna dan Arel mendorong seluruh energi mereka. Panglima Arwah tersedot masuk ke dalam kolam, raungannya menghilang seiring dengan tertutupnya pusaran air ungu tersebut. Ribuan arwah tanpa wajah di sekitarnya pun ikut lenyap, menguap menjadi debu tinta.
Suasana kembali sunyi. Arvand jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Aruna segera berlari memeluk suaminya. "Arvand! Kamu tidak apa-apa?"
Arvand tersenyum lemah, meski darah mengalir dari bahunya. "Hanya luka kecil... aku sudah bilang aku akan menjagamu."
Namun, kemenangan mereka terasa hampa. Langit di atas Bundaran HI mulai bergetar lagi. Jaring-jaring kode yang diciptakan Aruna tidak menghilang, malah semakin mengencang dan mulai menarik segalanya ke arah pusat kolam.
"Sistemnya tidak stabil!" teriak Aruna. "Tanpa jangkar... dunia ini akan terus berusaha menghisap dirinya sendiri!"
Arel menatap ibunya dengan sedih. Ia melepaskan tangan Aruna. "Ibu... Kakek benar. Harus ada yang tinggal di dalam kolam itu untuk memegang jaringnya."
Aruna terbelalak. "Arel? Tidak! Jangan katakan itu!"
"Arel yang punya energi emas, Ibu. Hanya Arel yang bisa bicara dengan mesin ini," Arel mulai berjalan menuju tepi kolam.
"Arel, berhenti!" Arvand mencoba berdiri namun ia terjatuh kembali karena lukanya. "Jangan tinggalkan kami, Nak!"
Arel menoleh, tersenyum dengan sangat manis, senyuman yang sama dengan saat ia pertama kali ditemukan Aruna di kereta jenazah. "Ibu... Ayah... Terima kasih sudah memberi Arel nama. Terima kasih sudah mencintai Arel meskipun Arel hanya sebuah 'kesalahan'."
"Kamu bukan kesalahan! Kamu anak kami!" Aruna mengejar Arel, namun sebuah dinding energi emas menghalanginya.
Arel melompat ke dalam kolam yang kini bersinar putih murni. Saat tubuh kecilnya menyentuh air, seluruh dunia yang tadi bergetar langsung menjadi tenang. Gedung-gedung Jakarta dan istana Kerajaan Utara akhirnya menyatu dengan sempurna dan kokoh.
Langit menjadi sangat indah, dengan pelangi yang melingkari matahari kembar.
Aruna bersimpuh di tepi kolam, memukul-mukul dinding energi yang tidak kunjung hilang. "Arel... kembalikan anakku!"
Tiba-tiba, dari dalam kolam, muncul sebuah objek kecil yang melayang ke arah Aruna. Itu adalah sebuah ponsel pintar... ponsel Aruna yang lama.
Aruna mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Di layarnya, sebuah aplikasi terbuka. Bukan NovelToon, melainkan sebuah aplikasi obrolan pribadi. Di sana, ada satu pesan baru dari kontak bernama 'Arel'.
“Ibu, jangan menangis. Arel tidak hilang. Arel cuma jadi 'Raja' di dalam sini supaya Ibu dan Ayah bisa hidup bahagia di luar. Coba lihat ke arah gedung di depan Ibu.”
Aruna mendongak. Di gedung perkantoran besar di seberang Bundaran HI, yang tadinya kosong dan rusak, kini lampunya menyala terang. Di layar LED raksasanya, terpampang sebuah iklan besar:
"SELAMAT DATANG DI KOTA BARU: NOVEL-CITY. TEMPAT DI MANA IMAGINASI MENJADI NYATA. PENULIS UTAMA: ARUNA."
Aruna menatap Arvand yang kini sudah berdiri di sampingnya. Mereka berdua terdiam melihat dunia yang kini benar-benar berbeda. Mereka punya rumah, mereka punya kedamaian, tapi mereka kehilangan putra mereka demi semua itu.
Namun, saat Aruna kembali menatap ponselnya, sebuah pesan suara masuk.
“Tapi Ibu... ada satu hal yang lupa Arel katakan. Panglima tadi... dia sempat menjatuhkan sebuah kunci ke dalam sakuku sebelum dia hilang. Kunci itu bertuliskan: 'Pintu Menuju Dunia Penulis yang Asli'. Ibu... apakah ada dunia lain di atas dunia Ibu?”
Apakah benar ada dunia lain yang lebih tinggi dari dunia Aruna? Dan apa yang akan terjadi jika kunci tersebut jatuh ke tangan yang salah? Mampukah Aruna dan Arvand menemukan cara untuk membawa Arel kembali tanpa menghancurkan keseimbangan dunia baru mereka?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.