NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:93.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alhamdulillah!

Pertemuan di rumah Mbah Wira berakhir dengan rencana yang begitu cepat. Sebelum Shanum benar-benar sadar apa yang terjadi, ia sudah kembali dibonceng oleh Pak Agus menuju rumahnya. Angin pedesaan Klaten yang biasanya terasa sejuk, kali ini terasa menusuk kulit Shanum.

​Sesampainya di rumah, Ibu Laila sudah menunggu di ambang pintu dengan wajah yang tidak sabar. Begitu melihat Pak Agus dan Shanum turun, ia langsung menghampiri keduanya.

​"Gimana, Pak Agus? Jadi, siapa orangnya?" tanya Ibu Laila bertubi-tubi.

​Pak Agus turun dari motor dengan gaya yang sengaja dibuat misterius, "Sabar, Bu Laila. Sabar... yang jelas, doa Ibu dikabulkan. Shanum akan segera menikah," jawab Pak Agus.

"Beneran, Pak?" tanya Ibu Laila dan diangguki Pak Agus.

"Siapa, Pak?" tanya Ibu Laila.

"Shanum akan dilamar cucunya Mbah Wira. Mas Abi, anak dari Pak Aris yang tinggal di Bandung itu," jawab Pak Agus.

​Ibu Laila terdiam sejenak, matanya membelalak lebar, lalu ia memekik tertahan. "Maksudnya... Mbah Wira, orang yang paling kaya dan rumahnya paling besar di desa ini?" tanya Ibu Laila.

​"Iya, Bu. Dan asal Bu Laila tahu ya, kalau Mas Abi itu Dosen di Bandung," ucap Pak Agus.

​Ibu Laila hampir saja pingsan karena kegirangan dan ia langsung memeluk Shanum dengan kasar, pelukan yang tidak pernah Shanum rasakan selama bertahun-tahun.

"Dengar itu, Shanum! Kamu akhirnya berguna! Kamu akan jadi istri orang kaya! Habis ini, semua mulut tetangga yang menghina kita akan tertutup rapat!" ucap Ibu Laila bangga.

​Shanum tidak membalas pelukan itu, tubuhnya kaku. "Bu... Shanum belum bilang mau. Dia dosen, Bu. Shanum cuma lulusan SMA, apa Ibu nggak mikir kalau nanti Shanum cuma dihina di sana?" tanya Shanum yang berharap Ibu Laila mengerti perasaannya.

​"Halah! Jangan banyak alasan! Yang penting dia mau! Kamu lihat sendiri kan, Pak Agus sudah susah payah cari dan sekarang dapat yang paling bagus, awas saja kalau kamu berulah!" bentak Ibu Laila, seketika kembali ke watak aslinya.

​Shanum masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu perlahan dan merosot ke lantai semen yang retak. Ia menatap cermin kusam di sudut kamar dan menatap dirinya sendiri.

​"Pernikahan karena kasihan atau karena paksaan... mana yang lebih menyakitkan?" bisik Shanum pada bayangannya sendiri.

...###...

Kabar bahwa Shanum yang dilamar oleh cucu Mbah Wira menyebar secepat api di atas rumput kering. Pagi-pagi sekali, warung Bu Lasmi sudah gempar, mereka tidak percaya bahwa perawan tua yang sering mereka ejek itu justru mendapatkan pria yang jauh di atas standar mereka.

Sementara itu, di rumah Shanum. Suasana justru mencekam karena kesibukan yang luar biasa, Ibu Laila sibuk meminjam kursi tambahan dari tetangga dan memaksa Shanum membersihkan setiap sudut rumah yang berjamur agar tidak terlalu memalukan.

"Ingat Shanum! Jangan banyak tingkah. Lima hari lagi mereka harus balik ke kota, jadi hari ini lamaran dan lusa kalian harus sudah menikah secara agama dulu!" ucap Ibu Laila sambil menyisir rambut Shanum dengan kasar.

"Lusa, Bu? Kenapa cepat sekali?" Shanum terperanjat.

"Kata Pak Agus, Mbah Wira yang minta! Katanya nggak mau nunggu lama-lama karena calon suamimu harus mengajar lagi di Bandung, pokoknya kamu tinggal terima beres!" bentak Ibu Laila.

Tepat pukul sepuluh pagi, empat mobil mewah berderet di depan gang rumah Shanum. Pemandangan itu membuat para tetangga keluar rumah dan menonton dengan mulut ternganga, semua keluarga Mbah Wira melangkah masuk ke rumah sederhana Shanum.

Ibu Laila dan Bapak Tono menyambut dengan wajah yang dipaksakan se-ramah mungkin, meski keringat dingin mengucur karena minder melihat penampilan keluarga Mbah Wira yang sangat elegan.

Di ruang tamu yang sempit itu, Mbah Wira membuka pembicaraan. "Kedatangan kami ke sini, Pak Tono, Bu Laila, adalah untuk meminang Shanum untuk cucu kami, Abi. Kami ingin hubungan ini segera diresmikan karena waktu kami di sini terbatas," ucap Mbah Wira.

Ayah Aris dan Bunda Rina hanya diam, mereka sebenarnya masih berat hati, namun tidak berani membantah Mbah Dyah dan Mbah Wira. Sedangkan Abi, ia duduk dengan tenang, matanya sesekali melirik ke arah dapur di mana Shanum keluar membawa nampan berisi teh.

Shanum berjalan dengan kepala tertunduk, tangannya gemetar hebat hingga sendok di atas nampan berdenting. Saat ia meletakkan cangkir di depan Abi, pria itu menatapnya lekat.

"Bagaimana, Shanum? Apa kamu bersedia?" tanya Mbah Wira lembut.

Shanum melirik ke arah Ibunya. Ibu Laila menatapnya dengan tatapan mengancam, seolah berkata agar Shanum tidak menolaknya lalu Shanum juga menatap Bapak Tono yang tampak penuh harap agar beban ekonominya berkurang.

Shanum menarik napas panjang dan mencoba mencari sisa keberanian, "Jika ini adalah keinginan orang tua dan Mbah... Shanum... bersedia," ucap Shanum lirih, hampir berupa bisikan.

"Alhamdulillah!" seru Mbah Dyah dengan lega.

Seketika itu juga, Bunda Rina mengeluarkan sebuah kotak beludru merah berisi cincin emas bertahtakan berlian kecil. "Ini untuk kamu, Shanum," ucap Bunda Rina dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Abi berdiri, ia mengambil cincin itu. "Boleh saya pasangkan?" izin Abi datar.

Shanum mengulurkan jarinya yang kasar dan penuh bekas luka bakar kecil akibat bekerja di dapur. Saat jemari Abi yang halus dan dingin menyentuh kulitnya, Shanum merasa sebuah sengatan aneh menjalar di tubuhnya. Cincin itu terpasang sempurna di jari manisnya, sangat kontras dengan penampilan Shanum yang sederhana.

"Mulai hari ini, kamu adalah calon istri saya dan lusa, kita akan menikah," ucap Abi singkat, namun suaranya terdengar begitu mengikat.

Setelah acara lamaran yang terasa begitu singkat namun mengubah garis hidupnya, keluarga besar Mbah Wira pun pamit undur diri. Sepeninggal mereka, rumah Shanum tidak lantas menjadi tenang, Ibu Laila langsung mengambil kotak cincin dari tangan Shanum dan menimang-nimangnya dengan mata berbinar.

"Lihat ini, Pak! Emas asli! Ada berliannya juga! Nggak sia-sia aku mengeluarkan uang untuk Pak Agus kemarin," seru Ibu Laila dengan tawa kemenangan.

Malam harinya, rumah sederhana itu mendadak menjadi pusat perhatian seluruh desa. Suasana yang biasanya sepi dan dingin, kini mendadak terang oleh lampu tambahan yang dipasang Bapak Tono di teras.

​Di mana, para tetangga seperti Bu Lasmi, Bu Febby dan Bu Vita datang silih berganti dengan dalih mengucapkan selamat, padahal niat asli mereka adalah untuk memastikan kebenaran berita yang menggemparkan itu.

​Ibu Laila yang merasa di atas angin, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia duduk di kursi kayu ruang tamu dengan kotak beludru merah tetap terbuka di atas meja kusamnya.

​"Aduh, Bu Laila, beneran itu si Shanum dilamar cucunya Mbah Wira? Anaknya Pak Aris?" tanya Bu Lasmi dengan wajah yang tampak masam meski bibirnya tersenyum.

​"Ya bener dong, Bu Lasmi. Memangnya siapa lagi? Tadi pagi mobil mewahnya saja sampai antre di depan gang," jawab Ibu Laila, dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke jalan.

"Lihat ini, cincinnya saja emas murni ada berliannya, mana mungkin keluarga Mbah Wira kasih barang murahan untuk calon menantunya," lanjut Ibu Laila.

​"Tapi kok mendadak sekali ya, Bu? Apa nggak takut nanti jadi omongan orang kalau buru-buru begini?" sindir Bu Vita dan mencoba mencari celah untuk menjatuhkan.

​Ibu Laila tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Buru-buru itu karena Abi-nya yang nggak mau lama-lama jauh dari Shanum, katanya sudah cinta mati dan mau langsung dibawa ke Bandung," ucap Ibu Laila.

Bu Lasmi dan Bu Febby hanya bisa saling pandang dengan perasaan iri yang membuncah, mereka yang selama bertahun-tahun menjadikan Shanum sebagai bahan olokan, kini merasa seolah-olah baru saja menelan kerikil panas.

.

.

.

Bersambung.....

1
Ladyicha Haruna
Buatlah Shanum berani membela dirinya banyak banyak..jangan jadi manja jadi perempuan
Yuliana Tunru: smoga s3jua badai akan berlalu ..pandu mana ya apa dia tdk cari2 ibu x lagi atau jg sdh tqu kejahatan ihu x pd ahanum diva jg gmn kabar x apa tdk hadir saat sukuran rmh dan kandungan shanum
total 1 replies
Nasiati
mendingan keluar dr rumah shanum
Ha Liyah
kenapa akhir-akhir ini updatenya cuma 1 episode doang thor?
Rea
b
Rea
weslah num, num gemes, mbok yao jangan terus jadi beban suami, kali kali dibuat pinter lah Thor, setidaknya jadi perempuan kuat, untuk dirinya.
Putri Anghita Tera Vita
please lah ko shanum kee cewek lemah banget
Yuliana Tunru
astaga ketemu gea lagi ,yg mukut x kyk racun ayo abi ini kecoak2 yg hrs kaku basmi buat shanum
Ladyicha Haruna
jangan terlalu gambar kan shanum wanita lemah...pantas memang ditindas .dan rasanya enak memang menindas dia..tidak ada perlawanan hanya andalkan orang...bagaimana mau besarkan anak di kejamnya persekolahan🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulut Gea minta di tabok pake bakiak nih ..😡
𝐈𝐬𝐭𝐲
dia bilang anak durhaka dia gak sadar kalo dirinya adalah ibu yg durhaka dan biadab👿
𝐈𝐬𝐭𝐲
kenapa kemarin yg mati bapak nya bukan ibunya saja thor...
bikin emosi aja nih ibunya shanum👿👿
Eva Tigan
mati ketabrak aja nya maunya ibu nya si Shanum ini..dia yg ibu durhaka
Nur Syamsi
Siapa tau udah selesai buku nikahnya diurus SMA Mas Abinya cuma lupa dikasi tau Shanumnya,
Nur Syamsi
Alhamdulillah Shanum ngidam mama dan papa mertua 🤲🤲menilai
Nur Syamsi
😂😂😂
Indra Reza Zulkifli
udah baca sampe bab ini,,kurang suka karakter shanum,, 🙏 🤭
Nur Syamsi
Buah dr kesabaranmu Shanum, waktu belum nikah di hina terus Krn miskin dan belum nikah bahkan ibumu sendiri menghinamu ....yg ternyata matre ...
Retno Harningsih
lanjut
Nur Syamsi
Adakah suami yg sebijaksana Abi di dunia nyata ya thor.
Nur Syamsi
😭😭😭😭😭 sabar Shanum ini adalah ujian kehidupan dan rumah tangga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!