NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Aku tidak peduli dengan tatapan bingung beberapa siswa yang berlalu-lalang di koridor. Dunia seolah melambat, meninggalkan aku yang tercekik oleh kebisuan Guntur. Kalimat Alif tentang "Jogja semalam" terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku. Sebesar itukah dosaku karena memilih pendidikan di atas egonya?

Aku melangkah gontai menuju kelas, namun sebelum sampai di pintu, aku melihat Kaila sudah berdiri di sana dengan wajah yang tidak bisa kutebak.

"Fis, lo baru ketemu Guntur?" tanyanya pelan sambil menarikku ke sudut kelas yang sepi.

Aku hanya bisa mengangguk sambil mengusap air mata. "Dia... dia nggak mau ngomong sama sekali, Kai. Kayak gue ini nggak ada."

Kaila menghela napas berat. Ia tampak ragu, tangannya meremas ujung seragamnya sendiri. "Fis, ada sesuatu yang lo harus tahu soal konser kemarin. Alif baru cerita ke gue tadi pagi lewat telepon."

Jantungku berdegup tidak keruan. "Apa?"

"Semalam, pas lagu Terlalu Manis dimainkan... Guntur benar-benar nungguin lo. Dia nggak cuma ngajak nonton biasa. Dia udah bawa sesuatu di sakunya. Alif bilang, Guntur berencana nembak lo di sana. Dia pengen momen itu jadi resmi." Kaila menatapku iba. "Tapi karena lo nggak datang, dia ngerasa... dipermalukan di depan teman-temannya. Dia ngerasa lo lebih milih hal lain daripada dia yang udah susah payah buka hati buat lo."

Aku tersentak. Palu godam seolah menghantam dadaku. Jadi, itu alasannya? Hanya karena sebuah kesalahpahaman tentang prioritas?

"Tapi dia tahu aku ke Bandung buat sekolah, Kai! Bukannya dia juga tahu aku pengen banget di sana?" suaraku meninggi, antara marah dan sedih yang bercampur jadi satu.

"Masalahnya, Guntur itu gengsinya setinggi langit, Fis. Dia cowok yang tertutup. Sekali dia merasa dikecewakan setelah dia berani 'keluar' dari cangkangnya, dia bakal balik lagi ke dalam dan ngunci pintunya rapat-rapat. Dan kayaknya... kali ini dia benar-benar buang kuncinya."

Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa fokus. Kata-kata Kaila menghantuiku. Di satu sisi, aku merasa bersalah. Di sisi lain, aku merasa ini sangat tidak adil. Mengapa komunikasi kami harus semati ini hanya karena satu hari yang terlewat?

Saat jam istirahat, aku mencoba mengirim pesan terakhir.

Afisa: "Kak, maaf soal Jogja. Aku nggak tahu kalau momen itu sepenting itu buat kamu. Tapi tolong, jangan diam kayak gini. Kita bisa bicara, kan?"

Centang dua abu-abu. Lagi.

Aku menatap layar ponselku dengan pandangan kabur. Di saat itulah, seorang laki-laki dari kelas sebelah, teman satu ekskulku saat di Bandung kemarin, berjalan mendekat dan menaruh sebuah cokelat di mejaku.

"Afisa, lo pucat banget dari tadi. Ini, makan biar ada tenaga. Jangan terlalu dipikirin yang di koridor tadi ya," ucapnya lembut dengan senyum tulus yang tidak pernah kulihat dari Guntur.

Namanya Bintang. Dia adalah laki-laki yang selama di Bandung selalu memastikan aku baik-baik saja saat aku sibuk melamuni Guntur. Perhatiannya terasa hangat, sangat kontras dengan dinginnya kutub utara yang baru saja melewatiku tanpa sepatah kata pun.

Dan di sanalah, di tengah luka yang menganga karena Guntur, aku mulai goyah. Aku butuh obat penawar, dan Bintang datang membawa kehangatan yang selama ini hanya bisa kudamba dalam mimpi.

Sore itu, mendung kembali menggelantung rendah di atas langit sekolah. Aku sebenarnya ingin langsung pulang, mengubur diri di bawah selimut dan menangis sampai tertidur. Namun, Kaila menahanku. Dia harus menemani Alif berlatih, dan dia tidak ingin aku sendirian dengan pikiran kacau di rumah.

"Ayo, Fis. Anggap saja cari angin. Siapa tahu dengan melihat lapangan, lo jadi lebih tenang," bujuk Kaila.

Tenang? Justru sebaliknya. Lapangan ini adalah saksi bisu bagaimana aku memuja Guntur dari kejauhan.

Kami duduk di tribun semen yang dingin. Di tengah lapangan, para pemain bola berlarian, termasuk Alif dan... tentu saja, Guntur. Dia masih dengan jersey nomor sepuluhnya, bergerak lincah seolah tidak ada beban apa pun yang menggantung di bahunya. Seolah kejadian di koridor tadi pagi tidak pernah terjadi.

"Guntur hebat banget ya hari ini, kayak lagi ngelampiasin emosi ke bola," gumam Kaila pelan.

Aku tidak menjawab. Mataku terus mengikuti gerakannya. Aku berharap, setidaknya sekali saja, dia menoleh ke arah tribun. Sekali saja, dia menyadari keberadaanku di sini. Tapi nihil. Guntur benar-benar menerapkan hukum pengabaian tingkat tinggi.

"Fis, lo lihat deh," Kaila menyenggol lenganku, menunjuk ke arah pinggir lapangan.

Bintang berjalan mendekat ke arah kami. Dia membawa dua botol minuman dingin di tangannya. Dia tidak ikut latihan karena memang bukan anggota tim bola, tapi dia sepertinya sengaja menungguku.

"Masih pucat aja," ujar Bintang lembut sambil menyodorkan satu botol air ke arahku. "Diminum, Fis. Biar seger."

Aku menerimanya dengan tangan gemetar. "Makasih, Bin. Lo nggak pulang?"

"Nanti, nunggu lo pulang dulu. Gue nggak tenang lihat muka lo yang kayak cucian belum kering gitu," candanya, mencoba menghiburku.

Aku tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan namun cukup untuk membuat Bintang tersenyum puas. Tanpa sadar, aku melirik ke tengah lapangan. Guntur sedang berdiri di sana, bertumpu pada lututnya, mengatur napas.

Kali ini, dia menoleh.

Mata kami bertemu selama beberapa detik. Tapi tidak ada kehangatan, tidak ada rindu. Hanya ada tatapan dingin yang menusuk, lalu dia dengan sengaja membuang muka saat melihat Bintang duduk di sampingku. Dia tidak marah, dia tidak cemburu. Dia hanya... muak.

Detik itu juga, aku merasa sesuatu di dalam diriku patah. Aku lelah mengejar bayangan yang bahkan tidak ingin disentuh. Aku lelah mengetuk pintu yang kuncinya sudah dibuang ke laut dalam.

"Bin," panggilku pelan, masih sambil menatap ke arah lapangan.

"Ya?"

"Makasih ya buat cokelat sama minumnya. Makasih udah... ada di sini."

Bintang menatapku dalam, tangannya seolah ingin mengusap kepalaku tapi dia urungkan. "Gue bakal selalu ada di sini, Fis. Selama lo butuh."

Di tengah riuh suara peluit pelatih dan teriakan pemain bola, aku membuat keputusan gila. Jika Guntur memilih untuk membeku, maka aku akan mencari kehangatan di tempat lain. Meskipun aku tahu, hatiku masih tertinggal di jersey nomor sepuluh itu.

1
Aidil Kenzie Zie
semuanya berebut mau jadi pasangan Afisa
byyyycaaaa: nggak ada yang bisa gantiin posisi guntur 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bisa jadi yang dikatakan Radit bener tentang Arkan Fis
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin temen Afisa yang dulu nyesal termasuk fita. trus Afisa jdian sama bintang
byyyycaaaa: jadi pengacara hebat dulu ,soal jodoh mau kayak in hyuk🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kemana aja lo selama ini Gun jangan ganggu Afisa lagi
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
Aidil Kenzie Zie
Radit jangan bawa-bawa masa lalu lagi
Aidil Kenzie Zie
si Arkan gercep juga
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kpn blikan sama bintang
byyyycaaaa: nunggu Bintang jadi dokter di jakarta, tapi si Arkan oke juga kak! 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur mulai muncul kemana aja dari maren?? nggak usah gangguin Afis lagi
Aidil Kenzie Zie
semangat Fis jangan sampai goyah hanya karena notif dari Kaila
Aidil Kenzie Zie
apa temannya si Guntur nggak ada bahas Afis lagi apa gimana
Rea
heran aku sama afisa, kayake tipe pemikir dan baperan, hidup dibuat santai jangan terlalu memikirkan sikap orang lain, bisa masuk RSJ nanti🤭
mbuh
skip
muak Ama afis🤣
byyyycaaaa: si afisa mau guntur 🤣🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur cari penyakit sendiri dia nggak PD berdiri di samping Afisa
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
Aidil Kenzie Zie
kok si Fita bisa tau y🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
temannya kok pada ngrasa nggak punya salah sama sekali ke Afisa
main gabung aja orang lagi asik b2
mbuh
bin bin kek g ada cewe lain. pickme
Aidil Kenzie Zie
uwu uwu Guntur belajar ngomong emang selama ini nggak bisa ngomong 🤭🤭🤭 semangat ya belajar ngomongnya biar nggak salah paham lagi 💪💪
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
hafidz sama bintang aja tor jangan sama arkan bikin balikan AFI's sama bintang tor
byyyycaaaa
like dong kak nanti tak kasih momen romantis bintang sama afis🌚
byyyycaaaa
soalnya mau buka hati takut di tinggalin😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!