Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kristal ruang makan Mansion Dominic tidak sanggup mencairkan suasana beku yang menyelimuti meja kayu mahoni panjang itu. Harum aroma kopi arabika dan roti panggang mentega seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Lyodra, duduk di meja ini terasa seperti duduk di kursi pesakitan.
Ia mengenakan gaun pagi dengan kerah tinggi yang menutupi lehernya hingga ke batas rahang. Namun, usaha itu tampak sia-sia di hadapan mata tajam Nenek Hera. Wanita tua itu meletakkan sendok peraknya dengan denting yang sengaja dikeraskan, matanya menyipit menatap Archello yang duduk di samping istrinya.
"Lihat dirimu, Archello," suara Hera memecah kesunyian dengan nada sarkasme yang kental. "Kau berjalan dengan kepala tegak, tapi lehermu... apa itu? Tanda merah sebanyak itu, kalian sedang lomba atau apa? Kau sudah seperti singa yang baru saja menemukan mangsa setelah kelaparan bertahun-tahun."
Wajah Lyodra seketika memerah hingga ke telinga. Ia menunduk dalam-dalam, meremas serbet di pangkuannya. Archello, sebaliknya, hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah komentar neneknya hanyalah angin lalu, meskipun di lehernya memang terpampang jelas jejak-jejak kepemilikan Lyodra yang tak sempat ia tutupi dengan kerah kemejanya.
Hera beralih menatap Lyodra. "Dan kau, Nona Taylor—maksudku, Nyonya Dominic—jangan pikir kerah tinggi itu bisa menyembunyikan semuanya. Berjalanlah dengan lebih anggun. Kau tampak lemas, seolah kau adalah satu-satunya wanita yang baru saja melewati malam pengantin."
Beatrice, yang duduk di seberang mereka, berdehem kecil. Meskipun ia masih merasa berat hati dengan pernikahan ini, naluri keibuannya muncul saat melihat menantunya dipermalukan di depan pelayan.
"Sayang," Beatrice berujar dengan nada yang diusahakan sehangat mungkin pada Lyodra, "Lain kali, tolong ingatkan suamimu agar tidak membuat tanda di area yang terlihat, ya? Sebagai anggota keluarga Dominic, penampilan luar adalah segalanya. Kita tidak ingin kolega bisnis mengira Archello adalah pria yang tidak bisa mengendalikan diri."
Lyodra hanya bisa mengangguk kecil tanpa berani mendongak. "Baik, Mom. Maafkan saya."
Alexander Dominic yang sejak tadi sibuk dengan tablet bisnisnya akhirnya meletakkan perangkat itu. Ia menoleh ke arah pelayan yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah tegas.
"Di mana pesananku? Kenapa belum disajikan untuk menantuku?" tanya Alexander dengan nada menuntut.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi semangkuk sup herbal kental dan jus buah delima segar yang diracik khusus. Aroma rempah yang menenangkan langsung menguar di udara.
"Ini apa, Dad?" tanya Archello sambil menatap mangkuk yang diletakkan di depan Lyodra.
"Itu nutrisi khusus untuk istrimu, Ello," jawab Alexander dengan suara yang lebih lembut. "Aku sudah berkonsultasi dengan ahli gizi terbaik semalam. Rahim Lyodra perlu mendapatkan perawatan ekstra setelah trauma masa lalu. Ini untuk memulihkan kekuatannya, agar sistem reproduksinya membaik dan menjadi subur kembali."
Alexander menatap Lyodra dengan pandangan kebapakan. "Makanlah, Lyodra. Ini bukan karena aku menuntut cucu darimu secepatnya. Aku hanya ingin kau sehat. Tubuhmu sudah terlalu banyak menderita, dan sebagai ayahmu sekarang, aku ingin memastikan kau pulih sepenuhnya."
Lyodra merasakan matanya memanas. Di tengah sindiran pedas nenek dan ketidaksukaan ibunya, perhatian Alexander terasa seperti pelukan hangat yang sangat ia butuhkan. "Terima kasih, Dad. Terima kasih banyak."
Namun, suasana haru itu tidak bertahan lama. Nenek Hera mendengus sinis, matanya menatap mangkuk sup itu dengan pandangan menghina.
"Penyubur kandungan? Untuk apa semua itu, Alexander?" tanya Hera dengan nada meremehkan. "Apa menantu kita ini mandul? Apakah kecelakaan itu tidak hanya merenggut cucu kita, tapi juga merusak mesin produksinya?"
Kalimat itu seperti tamparan bagi Lyodra. Sendok yang baru saja ia pegang bergetar hebat. Rasa sakit dari masa lalu kembali menghujam dadanya.
Archello meletakkan cangkir kopinya dengan dentuman keras di atas meja. Matanya berkilat dingin saat menatap sang nenek. Aura di sekelilingnya mendadak menjadi mencekam, membuat para pelayan menahan napas.
"Bisakah Nenek menghabiskan makanannya dan berhenti bicara?" suara Archello terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Jangan buat istriku tidak nyaman seperti itu. Jika Nenek terus memperlakukannya sebagai objek atau orang asing di rumah ini, maka jangan salahkan aku jika aku memutuskan untuk tidak tinggal di mansion ini lagi. Aku bisa membawa Lyodra pergi sekarang juga dan kita tidak akan pernah kembali."
Hera terperangah. Ia tidak menyangka cucu kesayangannya akan mengancamnya demi wanita yang ia anggap rendah. Beatrice yang panik mendengar kata 'keluar dari mansion' segera menimpali.
"Tidak! Tidak ada yang keluar dari mansion ini!" Beatrice berseru dengan nada mendesak. "Archello, kau adalah pewaris tunggal. Kita akan tinggal di sini sekeluarga. Ibu, kumohon, biarkan mereka makan dengan tenang."
Alexander mengangguk setuju, menatap ibunya dengan tatapan peringatan. "Archello benar, Ibu. Ini adalah rumah Lyodra juga sekarang. Jika dia merasa tidak diinginkan di sini, maka aku pun gagal sebagai kepala keluarga."
Hera akhirnya terdiam, meski wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan yang besar. Ia kembali menyantap sarapannya dengan kasar. Lyodra perlahan mulai menyesap sup yang diberikan Alexander, merasakan kehangatan yang menjalar ke perutnya.
Di bawah meja, Archello meraih tangan Lyodra dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Ia tahu bahwa tinggal di mansion ini akan menjadi medan perang setiap harinya, tapi selama ia memegang tangan itu, ia yakin mereka bisa melalui badai apa pun—termasuk rahasia besar yang sedang disiapkan keluarga Cavanaugh untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰