satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harimau VS Harya
Malam itu, Satria mengajak kedua sahabatnya untuk berkumpul di atap vila. Ketiganya duduk melingkar di atas tikar yang telah disiapkan. Wajah Satria tampak sangat serius, berbeda dari biasanya yang selalu tampak tenang dan santai.
"Ada apa, Sat?" tanya Hadi, merasa heran karena jarang melihat Satria memasang wajah seserius itu.
"Kalian sudah berlatih memperkuat diri selama ini, dan juga sudah memiliki tenaga dalam yang cukup baik. Kini, saatnya kita melangkah ke tahap selanjutnya untuk menguasai ilmu yang lebih tinggi," ucap Satria memulai pembicaraan. "Sudah saatnya kita menjalani tapa brata untuk menyempurnakan Ajian Lembu Sekilan. Bagaimana pendapat kalian?" tanyanya sambil menatap wajah kedua sahabatnya satu per satu.
Hadi dan Bimo saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk mantap. Mereka sudah mempersiapkan mental dan fisik untuk hal ini sejak lama.
"Kami siap, kapan kita mulai?" tanya Bimo dengan semangat yang membara.
"Seminggu lagi. Sementara waktu, kalian harus menghafal dulu mantra Ajian Lembu Sekilannya," ucap Satria sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi tulisan tangan rapi miliknya.
"Mantra? Ini maksudnya, Sat?" tanya Bimo sambil mengambil kertas itu dan membacanya dengan suara pelan
Ingsun amatak ajiku si Lembu Sakilan, Rasul Alungguh, Bayumaya Maya manjing pucuking ilatku. Si Lembu Sakilan rineksa Sri Ganawati. Sakèhing braja tan ana teka, cupet sadhepa, sa'asta, sarengkang, sakaki, sakilan, sadamu. Cedhak tibaning braja ana ingarepaningsun, rep lulah tanpa dadi.
Bimo mengernyitkan dahi, mencoba memahami maknanya, lalu menoleh ke arah Satria. "Sat, boleh aku bertanya? Sebenarnya kekuatan dari Ajian Lembu Sekilan ini seperti apa sih?"
Satria tersenyum tipis, lalu menjelaskan dengan sabar. "Seperti namanya, Lembu Sekilan. Ilmu ini berfungsi untuk menahan segala jenis serangan, baik itu serangan fisik, senjata tajam, maupun serangan tenaga dalam, dengan batas jarak sekilan atau sejengkal dari tubuh kita."
"Berarti, semua serangan tidak akan menyentuh tubuh kita sama sekali?" tanya Bimo memastikan.
"Benar sekali. Tapi ingat, begitu kalian sudah menguasainya nanti, jangan sampai menjadi sombong. Di atas langit masih ada langit, dan ada banyak kekuatan di luar sana yang mungkin lebih hebat dari kita. Selain itu, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui bahwa kita memiliki ilmu ini," ucap Satria dengan nada tegas memberi peringatan.
"Memang kenapa kalau orang lain tahu? Aku tadinya mau pamer sedikit saja pada teman-teman yang lain kalau sudah punya ilmu hebat ini," ucap Bimo polos.
Satria menggeleng pelan. "Hati manusia itu tidak bisa diukur, Bim. Terkadang di depan kita ia tersenyum manis, tapi di balik itu ia menyembunyikan pisau yang siap menusuk kapan saja. Jika orang lain tahu kita memiliki kelebihan, dan hatinya merasa sirik atau iri, mereka pasti akan mencari-cari kelemahan kita untuk menjatuhkan kita."
"Tapi kita kan sudah punya ilmu Lembu Sekilan, jadi kita tidak akan terluka kan?" tanya Bimo lagi, masih belum paham sepenuhnya.
"Di luar sana masih ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dari kita. Dan ingat, setiap ilmu pasti memiliki kelemahan, tidak ada yang sempurna. Selain itu, kita juga memiliki hari apes yang tak bisa disangkal. Ada kalanya kekuatan kita bisa melemah atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kerendahan hati adalah senjata utama kita," tutur Satria menjelaskan dengan sabar.
Bimo terdiam, ia baru menyadari betapa dalamnya makna di balik nasihat Satria. "Baiklah, aku mengerti. Aku akan menjaga rahasia ini dengan baik."
"Kalau soal waktu, aku sudah menghitungnya," sambung Hadi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Tapi bagaimana dengan Pati Geninya? Kita tidak punya tempat yang cocok untuk itu. Kalau kita membuat ruang bawah tanah sendiri, butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan waktu kita tinggal seminggu lagi."
Satria mengangguk mengerti. "Nanti aku akan cari solusinya. Jangan khawatir, aku sudah punya beberapa gambaran tempat yang bisa kita gunakan."
Ia teringat akan cerita-cerita yang pernah didengarnya dari warga desa. Di pesisir pantai, ada sebuah goa yang hanya bisa dimasuki saat air laut sedang surut. Selain itu, ada juga goa misterius yang terletak di lereng hutan rimba Gunung Rajabasa.
Setelah membahas berbagai persiapan lainnya, ketiganya pun memutuskan untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk hari-hari ke depan.
Satria telah menghitung hari dengan cermat. Setelah mereka menyelesaikan Puasa Mutih selama tujuh hari, kegiatan itu akan langsung disambung dengan Pati Geni. Waktu yang dipilihnya sengaja diambil dari perhitungan hari Jawa, dimulai pada hari Rabu Pon dan berakhir pada hari Jumat Kliwon. Menurut perhitungan neptu, gabungan hari itu menghasilkan angka empat puluh, yang dianggap memiliki energi spiritual yang sangat kuat untuk menyempurnakan ilmu kanuragan.
Keesokan harinya, Satria kembali bekerja di kebun coklat milik keluarganya. Ia membersihkan tanaman-tanaman gulma yang tumbuh liar dan merawat pohon-pohon coklat agar tumbuh subur. Setelah semua pekerjaan selesai, ia tidak kembali ke pondok kayunya maupun ke vila tempat tinggal Niken. Ia justru berjalan menuju arah pesisir pantai. Ia ingin melihat sendiri apakah Goa Saung yang diceritakan oleh warga itu cocok untuk dijadikan tempat menjalani Pati Geni.
Sesampainya di sana, Satria harus menunggu terlebih dahulu karena air laut masih sangat tinggi dan menutupi seluruh mulut goa. Ia duduk di atas batu besar sambil mengamati pergerakan air laut. Tepat pukul tiga sore, perlahan-lahan air laut mulai surut, memperlihatkan jalur masuk menuju mulut goa yang semula tertutup air.
Dengan langkah hati-hati, Satria mulai melangkah masuk ke dalam goa itu. Ia ingin membuktikan sendiri kebenaran cerita yang beredar di masyarakat, bahwa goa ini konon bisa menembus hingga ke puncak Gunung Rajabasa.
Keadaan di dalam goa pada awalnya terasa sangat gelap, namun seiring berjalannya langkahnya, cahaya perlahan mulai masuk. Ternyata, dinding goa yang basah dan permukaan air yang masih tersisa di dasar goa memantulkan cahaya matahari yang masuk dari celah-celah bebatuan, menciptakan suasana yang remang-remang namun cukup terang untuk melihat sekelilingnya. Cahaya yang dipantulkan itu membuat dinding goa yang berwarna putih keabu-abuan tampak berkilauan, menambah kesan mistis tempat itu.
Satria terus melangkah lebih dalam. Suasana di dalam goa terasa sejuk dan hening, hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit goa. Saat ia berjalan beberapa puluh meter ke dalam, matanya tertuju pada sebuah dinding batu besar yang tinggi menjulang. Di tengah dinding itu, terukir sebuah pintu gerbang besar yang terbuat dari batu alam. Ukiran-ukiran di sekelilingnya terlihat sangat kuno dan rumit, memancarkan aura kekuatan yang tak terlihat namun bisa dirasakan oleh indra batin Satria.
" seperti gerbang " gumam Satria pelan.
Ia bisa merasakan energi yang sangat kuat memancar dari balik gerbang itu. Jelas sekali, gerbang ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki sembarangan orang. Di baliknya mungkin terdapat lorong yang menuju ke tempat yang jauh lebih berbahaya, bahkan bisa langsung terhubung ke kawasan kawah Gunung Rajabasa yang penuh dengan energi alam yang dahsyat.
Satria berhenti di hadapan gerbang itu. Ia mengamatinya dengan saksama, namun ia memutuskan untuk tidak mencoba membukanya atau masuk lebih jauh.
"Tempat ini memang indah dan memiliki energi yang kuat, tapi terlalu berbahaya untuk kita gunakan sebagai tempat bertapa. Kita tidak tahu apa yang ada di balik gerbang ini, dan kita tidak boleh mengambil risiko yang tidak perlu," batin Satria.
Ia pun memutar badan dan berjalan keluar dari Goa Saung. Ia memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih aman namun tetap memiliki energi yang cukup untuk menyempurnakan ilmu mereka. Pilihannya jatuh pada goa misterius yang berada di dalam hutan rimba di lereng Gunung Rajabasa.
Setelah berjalan cukup jauh dari bibir pantai, Satria mulai mendaki menuju kawasan hutan yang lebat. Jalan yang dilaluinya semakin sempit dan curam, ditumbuhi semak belukar yang tinggi dan pepohonan raksasa yang rindang. Suasana di sini jauh lebih sepi dan sunyi dibandingkan di bagian bawah.
" Auuuum"
"Hiaaaat"
Saat ia sedang menyusuri jalan setapak yang berkelok, terdengar Auman Harimau yang menggelegar bercampur dengan suara teriakan manusia.
Satria segera mempercepat langkahnya, lalu bersembunyi di balik semak belukar yang lebat. Dari balik persembunyiannya, ia melihat seorang pria paruh baya yang tubuhnya masih tegap dan berotot sedang bertarung melawan seekor harimau yang sangat besar dan gagah.
Lelaki itu menggunakan tongkat kayu panjang sebagai senjatanya. Gerakannya lincah dan terkoordinasi dengan baik, menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Tongkat kayu itu berputar di tangannya seperti roda, menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh harimau itu.
Sedangkan harimau yang menjadi lawannya adalah harimau yang sama yang selama ini membuat warga desa ketakutan. Tubuhnya yang besar melompat kesana kemari dengan kecepatan yang luar biasa, mencakar dan menggigit dengan ganas. Setiap kali cakarnya menghantam tanah atau bebatuan, tercipta goresan yang dalam dan debu beterbangan.
Bugh! Cess!
Suara benturan terdengar berkali-kali. Pak Harya memukulkan tongkatnya dengan tenaga penuh mengenai badan harimau itu, membuat hewan besar itu terhuyung mundur. Namun, harimau itu seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Ia justru semakin marah dan menyerang balik dengan serangan yang lebih ganas.
Auuuum
Wuush
" Kau tak mau pergi, baik jangan salahkan aku!" teriak lelaki itu sambil membuang tongkat di tangannya.
Heaaaaaah
lelaki itu berteriak dan seketika Cahaya putih keemasan samar-samar terlihat menyelimuti telapak tangannya, pertanda bahwa ia sudah mengerahkan satu jurus Pamungkas
Auuuum
Harimau itu mengaum keras, lalu berdiri di atas kedua kakinya belakang, siap menerkam Pak Harya dengan kedua cakar depannya yang tajam. lelaki tua itu mengelak dan melayangkan satu pukulan balasan ke arah punggung Harimau itu
wuuuuut
Duar!
Suara ledakan kecil terdengar saat tenaga dalam bertemu dengan tubuh harimau itu. harimau itu tidak jatuh atau mati. Ia justru melompat mundur, menatap lelaki tua itu dengan tatapan yang penuh kebencian, lalu mengaum sekali lagi dengan suara yang menggelegar hingga mengguncang pepohonan di sekitarnya.