update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri dan Sindiran
Kerumunan mahasiswa di depan papan pengumuman belum sepenuhnya bubar ketika Lin Yinjia dan Xu Yara akhirnya berjalan menjauh dari sana. Yinjia masih memikirkan keputusan yang baru saja ia buat.
Magang. Kata itu terasa besar di kepalanya. Jika ia benar-benar lolos proses seleksi nanti, ia akan masuk ke dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya sekarang. Dunia perusahaan besar, orang-orang profesional, dan tanggung jawab yang jauh lebih nyata daripada sekadar nilai ujian.
Namun sebelum sampai ke sana, ia masih harus melewati kehidupan kampus yang tidak selalu ramah. Mereka berjalan menuju kantin fakultas. Jam makan siang hampir tiba, dan sebagian besar mahasiswa sudah mulai memenuhi ruangan luas itu.
Suasana kantin selalu bising. Suara piring, tawa, percakapan keras, dan langkah kaki bercampur menjadi satu. Yara memilih meja kosong di dekat jendela. “Duduk sini saja,” katanya.
Yinjia meletakkan tasnya lalu duduk pelan. Ia sebenarnya tidak terlalu lapar, tapi ia tahu kalau tidak makan sedikit pun, kepalanya akan pusing saat belajar nanti. Yara memesan dua mangkuk mie dari mesin pemesanan digital di sudut ruangan.
Saat mereka menunggu, Yinjia menyadari beberapa mahasiswa di meja lain sedang menatap ke arah mereka. Tatapan itu tidak terlalu terang-terangan. Namun cukup jelas untuk membuatnya tidak nyaman. Yara juga menyadarinya.
Ia menoleh sebentar lalu tersenyum kecil. “Sepertinya kamu benar-benar terkenal sekarang.”
Yinjia menghela napas. “Aku tidak merasa senang.”
“Kenapa?”
“Karena mereka tidak benar-benar mengenalku.”
Yara bersandar di kursinya. “Itu tidak penting. Yang penting mereka tahu kamu calon menantu keluarga Gu.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ada sesuatu yang membuat Yinjia sedikit mengernyit. Ia tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian dua mangkuk mie akhirnya datang. Yinjia mengambil sumpitnya dan mulai makan pelan. Namun percakapan di meja sebelah tiba-tiba terdengar cukup jelas.
“Dia itu, kan?”
“Iya, yang tunangan Gu Zhenrui.”
“Serius dia yang itu?”
Yinjia tetap menunduk, berpura-pura tidak mendengar.
“Kelihatannya biasa saja.”
“Makanya aku heran.”
“Zhenrui itu terkenal sekali. Banyak perempuan lebih cantik dari dia.”
Yara berhenti makan sebentar. Ia melirik meja sebelah, tapi tidak mengatakan apa pun. Percakapan itu masih berlanjut.
“Mungkin keluarganya punya hubungan bisnis.”
“Atau mungkin dia pura-pura polos.”
“Perempuan seperti itu biasanya licik.”
Sumpit Yinjia berhenti di udara. Dadanya terasa sedikit sesak. Ia sudah pernah mendengar komentar seperti itu sebelumnya, tapi tetap saja rasanya tidak enak. Yara akhirnya berkata pelan, “Abaikan saja.”
Yinjia menunduk lagi dan melanjutkan makan. Namun sebelum ia benar-benar bisa menenangkan pikirannya, seseorang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka.
“Yinjia.”
Suara itu terdengar familiar. Yinjia menoleh. Seorang mahasiswa laki-laki berdiri di sana dengan senyum santai. Tinggi, wajah tampan, dan aura percaya diri yang membuat banyak orang otomatis memperhatikannya.
Chen Luo.
Mahasiswa yang cukup terkenal di fakultas mereka. “Boleh duduk?” tanyanya. Yinjia terlihat sedikit terkejut. “Ah… tentu.”
Chen Luo menarik kursi di seberang mereka lalu duduk. Beberapa mahasiswa di sekitar langsung memperhatikan.
Yara mengangkat alis. “Kamu jarang ke kantin,” katanya.
Chen Luo tersenyum kecil. “Hari ini kebetulan ada waktu.”
Ia menoleh ke Yinjia. “Kamu terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.”
Yinjia memegang gelas airnya. “Tidak juga.”
“Benarkah?” kata Chen Luo. “Aku mendengar seluruh kampus membicarakanmu.”
Yinjia menghela napas kecil. “Kabar menyebar terlalu cepat.”
Chen Luo tertawa pelan. “Itu memang kebiasaan kampus.”
Ia tidak menyinggung perjodohan itu secara langsung. Hal kecil itu membuat Yinjia sedikit lega. Yara memperhatikan mereka dengan ekspresi tenang, tapi matanya tampak sedikit berbeda.
Chen Luo melanjutkan, “Aku juga melihat pengumuman magang tadi.”
Yinjia menoleh. “Kamu juga mau mendaftar?”
“Mungkin.”
“Kamu pasti mudah lolos,” kata Yinjia.
Chen Luo dikenal sebagai mahasiswa dengan nilai tinggi. Chen Luo mengangkat bahu. “Belum tentu.”
Ia menatap Yinjia beberapa detik. “Kamu juga mendaftar, kan?”
Yinjia mengangguk. “Aku ingin mencoba.”
Chen Luo tersenyum tipis. “Itu keputusan bagus.”
Yara tiba-tiba menyela. “Perusahaan itu sangat besar,” katanya. “Seleksinya pasti ketat.”
Chen Luo menoleh padanya. “Itu memang benar.”
“Banyak mahasiswa terbaik pasti ikut mendaftar.” Nada suara Yara terdengar santai. Namun entah kenapa kalimatnya terasa seperti sindiran halus.
Yinjia menyadarinya, tapi ia tidak langsung bereaksi. Chen Luo juga tampaknya menangkap nada itu. Ia berkata pelan, “Justru karena itu menarik.”
Yara tersenyum kecil. “Semoga saja semua orang punya kesempatan yang sama.” Suasana meja mereka tiba-tiba terasa sedikit canggung.
Yinjia mencoba mengalihkan topik. “Chen Luo, kamu mengambil kelas manajemen internasional, kan?”
“Iya.”
“Aku kesulitan memahami tugas minggu ini.”
Chen Luo langsung tertarik. “Aku bisa menjelaskan nanti kalau kamu mau.”
“Benarkah?”
“Tentu.”
Percakapan mereka perlahan kembali normal. Namun di seberang meja, Xu Yara hanya diam sambil memutar sumpitnya di mangkuk.
Ia tidak lagi banyak bicara. Matanya sesekali berpindah dari Chen Luo ke Yinjia. Senyumnya masih ada. Tapi sesuatu di balik senyum itu perlahan berubah. Dan Yinjia, yang terlalu sibuk mencoba bertahan di tengah semua gosip kampus, belum menyadari perubahan kecil itu.
Percakapan di kantin berakhir tidak lama setelah itu. Chen Luo akhirnya berdiri karena harus menghadiri kelas berikutnya. Sebelum pergi, ia menoleh ke Yinjia.
“Kalau kamu benar-benar ingin mencoba magang itu, kamu harus mulai menyiapkan dokumen dari sekarang,” katanya. “Resume, nilai, dan rekomendasi dosen.”
Yinjia mengangguk. “Terima kasih.”
Chen Luo tersenyum kecil, lalu berjalan pergi dengan langkah santai. Beberapa mahasiswa di sekitar masih memperhatikan mereka. Begitu Chen Luo menghilang dari kantin, Yara meletakkan sumpitnya. “Dia cukup perhatian padamu.”
Nada suaranya ringan, tapi matanya tetap tertuju pada arah Chen Luo pergi. Yinjia meminum airnya. “Dia hanya baik.”
“Dia tidak seperti itu dengan semua orang.”
Yinjia tidak menjawab. Ia sudah cukup mengenal Chen Luo di kelas, tapi mereka tidak pernah benar-benar dekat. Selama ini mereka hanya saling membantu soal tugas atau diskusi kelompok.
Namun sejak gosip tentang perjodohannya menyebar, beberapa orang mulai memperhatikan setiap interaksinya. Seolah semua yang ia lakukan sekarang memiliki makna lain.
Yara berdiri sambil membawa nampan makanannya. “Ayo kembali ke kelas.”
Mereka berjalan keluar dari kantin. Lorong gedung fakultas kembali ramai. Mahasiswa berlalu-lalang membawa buku, tas, dan laptop. Saat Yinjia melewati kelompok mahasiswa di dekat tangga, ia mendengar lagi suara bisikan.
“Dia lagi.”
“Tunangan Gu Zhenrui.”
“Kamu tahu tidak, keluarganya sebenarnya biasa saja.”
“Serius?”
“Iya. Katanya ayahnya cuma pegawai kecil.”
Langkah Yinjia sedikit melambat. Namun ia tetap berjalan. Yara berjalan di sampingnya tanpa mengatakan apa pun. Bisikan itu belum berhenti.
“Kalau begitu dia benar-benar beruntung.”
“Beruntung atau pintar memanfaatkan kesempatan?”
Beberapa orang tertawa kecil. Yinjia merasakan sesuatu di dalam dadanya menegang. Ia tidak pernah menyukai perhatian seperti ini. Sampai di depan ruang kelas, Yara akhirnya berkata pelan, “Mereka hanya iri.”
Yinjia menatap pintu kelas. “Mungkin.”
“Tapi kamu harus terbiasa.”
“Terbiasa?”
Yara mengangkat bahu. “Kalau kamu benar-benar menikah dengan keluarga Gu nanti, hal seperti ini akan jauh lebih sering terjadi.”
Kalimat itu membuat Yinjia diam beberapa detik. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan masa depan itu secara serius.
Pernikahan dengan Gu Zhenrui selalu terasa seperti kewajiban, bukan sesuatu yang ia pilih. Mereka masuk ke dalam kelas. Sebagian mahasiswa sudah duduk di tempat masing-masing. Namun ketika Yinjia berjalan menuju kursinya, dua mahasiswi di barisan depan tiba-tiba berbicara cukup keras.
“Kalau aku punya tunangan sekaya itu, aku mungkin tidak perlu belajar.”
Temannya tertawa.
“Benar. Tinggal menikah saja.”
Yinjia berhenti sebentar. Yara langsung menoleh ke arah mereka. “Kalau kalian iri, kalian bisa mencoba juga,” katanya dengan senyum manis.
Kedua mahasiswi itu langsung terlihat sedikit canggung. “Siapa yang iri?” salah satu dari mereka berkata cepat.
Yara masih tersenyum. “Kalau tidak iri, kenapa kalian terus membicarakannya?”
Tidak ada yang menjawab. Suasana kelas menjadi sedikit hening beberapa detik. Yinjia akhirnya duduk di kursinya. Ia sebenarnya tidak ingin masalah kecil seperti ini menjadi besar. Namun ia juga tahu satu hal. Gosip yang sudah menyebar tidak akan mudah berhenti.
Beberapa menit kemudian dosen masuk. Kelas dimulai seperti biasa. Namun pikiran Yinjia masih dipenuhi berbagai hal. Gosip kampus. Magang. Rumah sakit. Perjodohan. Semuanya terasa bercampur menjadi satu.
Ketika kelas akhirnya selesai sore hari, Yinjia langsung merapikan bukunya. “Aku harus ke rumah sakit,” katanya pada Yara.
Yara mengangguk. “Aku ada rapat klub, jadi tidak bisa ikut.”
Yinjia memasukkan buku terakhir ke dalam tas. “Aku pergi dulu.” Ia berjalan keluar kelas sendirian.
Langit di luar sudah mulai redup. Lampu-lampu kampus mulai menyala satu per satu. Yinjia berjalan melewati taman kecil di tengah kampus.
Langkahnya pelan. Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Saat ia hampir sampai ke gerbang kampus, seseorang tiba-tiba memanggilnya.
“Lin Yinjia.”
Ia berhenti dan menoleh .Chen Luo berdiri beberapa meter di belakangnya. Ia membawa tas ransel hitam di bahunya. “Kamu belum pergi?” tanya Yinjia.
“Aku baru selesai latihan basket.” Chen Luo berjalan mendekat. “Kamu benar-benar ke rumah sakit?”
“Iya.”
“Kamu sering ke sana akhir-akhir ini.”
Yinjia mengangguk pelan. “Adikku belum sadar.”
Chen Luo tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia berkata dengan nada lebih pelan, “Kalau kamu butuh bantuan… kamu bisa bilang padaku.”
Yinjia sedikit terkejut. “Terima kasih.”
Chen Luo tersenyum kecil. “Kamu selalu mencoba mengurus semuanya sendiri.”
“Tidak juga.”
“Tapi kelihatannya begitu.”
Mereka berjalan menuju gerbang kampus bersama. Di jalan luar, lampu kendaraan mulai memenuhi jalan raya. Chen Luo berhenti di trotoar. “Aku ke arah sebaliknya,” katanya.
Yinjia mengangguk. “Terima kasih sudah menemani.”
Chen Luo menatapnya sebentar sebelum berkata, “Yinjia.”
“Hm?”
“Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat Yinjia merasa sedikit hangat. Ia tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Chen Luo akhirnya pergi. Yinjia berdiri beberapa detik sebelum memanggil taksi. Saat mobil mulai bergerak menuju rumah sakit, ia menatap lampu-lampu kota Shanghai di luar jendela.