Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Setelah kepergian Zayn, Jasmine masih terduduk lemas di atas marmer dingin apartemennya. Isak tangisnya baru saja mereda menjadi sesenggukan kecil saat pintu apartemen yang sudah rusak engselnya itu kembali terbuka lebar.
Seorang pria tegap dengan setelan safari hitam melangkah masuk. Ia adalah Bram, tangan kanan sekaligus kepala keamanan keluarga Baskoro yang biasanya sangat menghormati Jasmine. Namun kali ini, wajahnya kaku dan dingin.
"Nona Jasmine, kita harus pergi sekarang," ucap Bram tanpa basa-basi.
Jasmine mendongak, matanya merah dan sembab. "Bram? Kamu lihat kan apa yang Zayn lakukan padaku? Dia menghancurkanku! Dia mengancamku dengan foto-foto itu!"
Bram tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Ia justru menghela napas panjang, sebuah gestur yang tidak pernah berani ia tunjukkan sebelumnya. "Nona, masalah Anda dengan Tuan Zayn itu cuma ujung kuku dari masalah yang sedang kita hadapi sekarang."
Jasmine mengernyit, mencoba berdiri sambil berpegangan pada pinggiran sofa. "Maksudmu apa? Jangan bicara berbelit-belit!"
"Gara-gara Nona membuat onar di pesta tadi, seluruh media kini menyorot keluarga Baskoro. Bukan cuma soal pertunangan yang batal, tapi karena kekacauan itu, wartawan investigasi mulai menggali lebih dalam," Bram menjeda kalimatnya, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Bisnis 'bawah tanah' Tuan Baskoro di dunia hitam kini terendus publik. Nama beliau terseret dalam pusaran berita besar."
Jasmine membeku. "Apa... apa kamu bilang? Bisnis Ayah? Itu tidak mungkin, Ayah itu pejabat tinggi kepolisian! Siapa yang berani?"
"Justru karena beliau petinggi polisi, Nona! Saat mata publik tertuju pada keluarga Anda karena skandal di ballroom, musuh-musuh politik Ayah Anda bergerak cepat. Mereka membocorkan data-data yang selama ini tersimpan rapi," sahut Bram cepat. "Tuan Baskoro meminta Nona segera pulang ke rumah sekarang. Detik ini juga."
Jasmine tidak membantah lagi. Lidahnya kelu. Ketakutan yang ia rasakan saat berhadapan dengan Zayn tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan bayangan kemarahan ayahnya. Tanpa bersuara, Jasmine mengikuti langkah lebar Bram menuju mobil yang sudah menunggu di lobi.
Di Kediaman Mewah Keluarga Baskoro
Suasana rumah besar itu terasa mencekam. Lampu kristal yang biasanya bersinar hangat kini seolah memancarkan aura dingin. Di ruang tengah, sosok pria paruh baya dengan seragam dinas yang masih melekat—namun kancing kerahnya sudah terbuka—berdiri membelakangi pintu.
Begitu Jasmine melangkah masuk, pria itu berbalik. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol.
"Ayah..." suara Jasmine nyaris tak terdengar.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jasmine hingga ia tersungkur ke lantai.
"Dasar anak durhaka! Anak tidak tahu diuntung!" teriak Tuan Baskoro. Suaranya menggelegar, membuat para pelayan di sudut ruangan menunduk ketakutan.
Jasmine memegang pipinya yang panas membara. "Ayah, aku... aku hanya ingin mempertahankan harga diriku di depan Zayn. Aku tidak tahu kalau..."
"Harga diri?!" Tuan Baskoro tertawa hambar, suara yang penuh kebencian. "Kamu bicara soal harga diri setelah mempermalukan aku di depan seluruh kolega pentingku? Kamu tahu apa yang terjadi sekarang? Nyalakan televisi itu!"
Bram menyalakan layar besar di ruang tengah. Headline berita pagi itu berkedip dengan warna merah menyala: "SKANDAL BESAR: PETINGGI POLISI DIDUGA JADI BEKING BISNIS PROSTITUSI TERBESAR DI IBU KOTA."
"Lihat itu!" Tuan Baskoro menunjuk layar dengan jari gemetar. "Karir yang aku bangun selama tiga puluh tahun hancur dalam semalam karena drama picisanmu di ballroom! Semua orang sekarang mencari tahu siapa aku, dari mana uangku, dan bagaimana cara kerja organisasiku. Kamu baru saja membakar rumah kita sendiri, Jasmine!"
"Maafkan aku, Ayah... tolong, maafkan aku," tangis Jasmine pecah. Ia merangkak mendekat, berlutut di bawah kaki ayahnya, mencoba menggapai ujung celana pria itu. "Aku akan perbaiki semuanya. Aku akan bicara pada media kalau itu semua salahku, aku akan bilang aku depresi..."
"Sudah terlambat!" bentak Tuan Baskoro.
Tepat saat itu, seorang pelayan tua mendekat dengan ragu-ragu. Di tangannya terdapat sebuah amplop cokelat tebal yang sangat mirip dengan yang dibawa Zayn tadi.
"Maaf, Tuan... ada kiriman kilat. Katanya ini dokumen sangat penting untuk segera diperiksa," ucap pelayan itu pelan.
Tuan Baskoro menyambar amplop itu. Ia merobeknya dengan kasar. Matanya menyapu lembaran kertas di dalamnya—foto-foto Jasmine, hasil tes laboratorium, dan sebuah catatan kecil di pojok bawah: 'Hadiah perpisahan agar Anda tidak perlu repot mencari alasan untuk pergi. - Z'.
Rahang Tuan Baskoro mengeras. Ia menatap putrinya yang masih bersimpuh di kakinya dengan tatapan yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
PLAK!
Tamparan kedua mendarat di pipi Jasmine yang satunya lagi. Kali ini lebih keras hingga sudut bibir Jasmine berdarah.
"Ayah? Kenapa lagi?" Jasmine terisak, bingung dan kesakitan.
Tuan Baskoro melempar kertas medis itu ke wajah Jasmine. "Kamu hamil?! Hamil dengan model bayaran itu?! Dan kamu masih berani meminta Zayn menikahimu? Kamu benar-benar ingin membuatku mati berdiri karena malu, hah?!"
Jasmine terdiam. Rahasianya yang paling gelap kini terbongkar di depan orang yang paling ia takuti.
"Aku sudah kehilangan jabatan, aku kehilangan bisnis, dan sekarang aku kehilangan muka di depan seluruh keluarga besar kita!" Tuan Baskoro berteriak pada Bram. "Bram! Siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Singapura satu jam lagi, lalu lanjut ke London. Kita tidak bisa tinggal di sini."
"Tapi Tuan, aset-aset kita bagaimana?" tanya Bram ragu.
"Biarkan saja! Lebih baik kehilangan harta daripada aku harus melihat wajah anak ini diseret ke penjara atau dijadikan bahan olokan nasional karena perutnya yang membuncit tanpa suami!" Tuan Baskoro menatap Jasmine dengan jijik. "Malam ini juga kita harus tinggalkan kota ini. Demi menghindari rasa malu keluarga Baskoro yang tersisa, kamu akan 'menghilang' selamanya dari publik Indonesia."
Jasmine menangis tersedu-sedu, namun kali ini tidak ada yang datang memeluknya. Ia teringat ucapan Zayn: Kamu sendirian sekarang.
Sementara itu, di Rumah Sakit...
Zayn duduk di sofa kecil samping tempat tidur Laila. Di tangannya ada tablet yang menampilkan laporan bahwa keluarga Baskoro telah menuju bandara melalui jalur VIP.
"Zayn, kamu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Laila yang baru saja terbangun. "Ada berita bagus?"
Zayn mematikan tabletnya, lalu berjalan mendekat dan merapikan selimut Laila. "Sangat bagus. Kota ini baru saja jadi sedikit lebih bersih dari polusi."
Laila tertawa kecil, meski wajahnya masih agak pucat. "Kamu ini ada-ada saja. Oh ya, besok aku sudah boleh pulang, kan? Aku kangen masakan mommy Rosa."
Zayn mengangguk sambil mengelus puncak kepala Laila dengan sayang."
Zayn mengecup kening Laila lama, lalu berbisik di telinganya. "Bagi dunia, kamu mungkin hanya satu orang. Tapi bagiku, kamu adalah duniaku. Dan aku tidak akan membiarkan duniaku tergores sedikit pun lagi. Tidurlah, semuanya sudah selesai."
Zayn menatap ke luar jendela rumah sakit. Di kejauhan, ia melihat sebuah pesawat lepas landas, membawa pergi masa lalu yang kelam. Kini, hanya ada dia dan Laila. Dan bagi Zayn, itu sudah lebih dari cukup.