Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tepat pukul empat sore, di gerbang megah kediaman Adyatama, terdengar suara mesin motor tua yang sengaja dibuat sedikit bising. Di atas motor butut itu, duduk seorang pria dengan postur tubuh yang luar biasa. Dia adalah Raditya Mahardika, yang kini menjelma menjadi Rio.
Penampilan Rio benar-benar disamarkan: kaos gelap yang menonjolkan otot-otot lengannya yang terbentuk sempurna, celana cargo kokoh, dan jam tangan kulit sederhana. Ia menghentikan motornya, mematikan mesinnya, lalu membuka helm. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Ia menatap gerbang besi hitam yang tinggi itu—kontras sekali dengan motor bututnya. Raditya tersenyum miring. Ia sudah menduga rumah rekan bisnis ayahnya ini dijaga ketat.
Di pos satpam, duduk seorang pria paruh baya, yang di seragamnya terdapat bordir nama Karman. Wajahnya ramah, tetapi matanya tetap waspada. Ia adalah suami dari Bi Tuti, juru masak di rumah ini.
"Selamat sore, Pak. Saya Rio. Dipanggil Tuan Haris Adyatama untuk wawancara pekerjaan jadi supir," sapa Raditya dengan suara husky yang ia latih, sedikit merendah, tetapi tetap terdengar percaya diri.
Pak Karman segera bangkit. Ia sudah mendapat kabar dari Ayah Haris. Ia mengamati Rio sejenak—posturnya terlalu bagus untuk seorang supir. Tapi ia cepat-cepat menepis pikiran itu.
"Oh, ya. Silakan, Mas Rio. Mari saya tunjukkan jalan ke pintu utama. Tuan Haris sudah menunggu di dalam," sambut Pak Karman ramah, kemudian membukakan gerbang kecil. "Saya Karman, satpam di sini. Senang Anda mau bekerja di sini."
"Terima kasih, Pak Karman. Senang bertemu Anda," balas Rio, menjabat tangan Pak Karman erat.
Rio melangkah masuk. Ia berjalan melintasi halaman depan yang terawat, menuju pintu kayu besar rumah utama. Ia sengaja memperlambat langkahnya. Sebelum mengetuk, ia mengambil kacamata bening tanpa bingkai dari saku kaosnya dan mengenakannya. Kacamata ini adalah props vital—untuk menyamarkan tatapan mata elangnya dan menambah kesan "pintar dan hati-hati" yang diharapkan oleh keluarga kelas atas.
Klik, klik. Rio mengetuk pintu.
Pintu terbuka, dan di sana berdiri Bi Tuti. Wanita paruh baya itu tersenyum lelah setelah seharian bekerja.
"Mas Rio, ya?”
“Iya.” Rio mengangguk ramah.
“Silakan masuk, Mas. Sudah ditunggu Tuan Haris," kata Bi Tuti sambil mempersilakan Rio masuk ke foyer yang dihiasi marmer dan patung-patung antik.
"Terima kasih, Bu," ucap Rio sopan.
Bi Tuti tertegun sejenak. Sudah lama tidak ada pekerja baru yang memanggilnya 'Ibu'. Kebanyakan hanya memanggil 'Bibi'.
"Saya panggilkan Tuan Haris sebentar, ya, Mas. Silakan duduk," ujar Bi Tuti, sedikit tersipu oleh kesopanan Rio.
Haris Adyatama muncul dari lorong, mengenakan polo shirt dengan celana bahan. Ia menyambut Rio dengan lambaian tangan dan mengajak Rio langsung menuju ruang kerjanya.
"Rio, silakan duduk. Saya Haris Adyatama," sambut Haris, suaranya lugas dan to the point.
"Terima kasih, Tuan Haris. Saya Rio. Siap untuk bekerja," balas Raditya, kini dalam mode Rio: tenang, profesional, dan sedikit kaku.
Ayah Haris menatap Rio. Pria muda ini memang tampak lebih berkelas dari supir yang biasa ia temui, dan posturnya sangat meyakinkan. Berkas CV yang ia baca sudah menyatakan semua kualifikasi.
"Saya lihat riwayat kerjamu bagus, Rio. Kau punya sertifikasi mengemudi keamanan dan juga ahli bela diri. Itu poin plusnya," kata Ayah Haris sambil memeriksa berkas Rio sekilas.
"Ini pekerjaan penuh waktu. Kau harus siap menginap di mess belakang. Kau akan mengantar kedua putriku, terutama yang bungsu, Bianca. Dia sibuk kuliah dan kegiatan sosial. Putriku yang sulung, Kirana, juga butuh diantar-jemput sesekali ke kafe tempatnya bekerja."
"Saya siap, Tuan Haris. Saya tidak memiliki tanggungan, dan saya siap bekerja 24 jam. Saya akan menjamin keselamatan kedua Nona Adytama," jawab Rio, tegas.
Ayah Haris mengangguk puas. Pria ini tidak banyak bertanya soal gaji atau tunjangan, yang merupakan nilai jual tertinggi di mata Ayah Haris—tidak matre, hanya profesional. Ayah Haris tidak tahu bahwa Rio bisa membeli 10 perusahaan Ayah Haris jika ia mau.
"Baiklah. Wawancara selesai. Kau diterima, Rio. Besok pagi jam enam, kau harus sudah ada di sini. Bi Tuti akan menunjukkan kamar dan fasilitasmu. Malam ini, kau bisa kembali ke tempat tinggalmu untuk berkemas," putus Ayah Haris.
"Terima kasih banyak, Tuan Haris. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya." Raditya berjabat tangan dengan Ayah Haris, pertanda kesepakatan sudah terjalin.
Saat Rio keluar dari ruang kerja, langkahnya terhenti di lorong utama menuju pintu keluar. Matanya tertuju pada sebuah pigura besar yang dipajang di dinding, menampilkan foto keluarga Adytama.
Foto itu adalah foto yang diambil beberapa tahun lalu. Di sana ada Ayah Haris dan Mama Reva yang tersenyum lebar. Diapit oleh dua gadis cantik.
Rio mendekat, tatapan matanya fokus di balik kacamata. Ada salah satu gadis yang menarik perhatiannya. Gadis itu tersenyum tipis, tatapannya lebih teduh, dan pakaiannya lebih sederhana. Wajahnya memang cantik, tetapi auranya cenderung pemalu di foto itu.
Rio berharap jika gadis itu adalah perempuan yang dijodohkan oleh keluarganya, meski dia masih belum tahu apakah itu Bianca atau anak Ayah Haris lainnya.
**
Mal mewah di pusat kota Surabaya sore itu dipenuhi kilauan lampu kristal dan aroma parfum mahal. Di antara keramaian kaum elite, Bianca Adyatama berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri, seolah seluruh lantai marmer itu adalah karpet merah pribadinya.
Ia ditemani oleh Sarah, sahabatnya dari jurusan Desain Interior, yang berusaha keras menyamai langkah cepat Bianca.
"Sarah, lihat tas yang itu! Apakah limited edition warna champagne itu akan lebih menonjol dibandingkan yang navy?" tanya Bianca, menunjuk etalase butik high-end dengan ujung jarinya yang berkilauan.
"Yang champagne lebih elegan, Bian. Cocok dengan gaun Dior-mu," jawab Sarah, suaranya sedikit mendesah kagum.
Bianca tersenyum puas. "Tentu saja. Malam ini, aku harus sempurna."
"Memangnya malam ini ada acara apa, Bian? Kamu terlihat sangat serius," tanya Sarah, sedikit penasaran.
Bianca berbalik, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sombong dan rahasia. Ia menarik Sarah ke sudut yang lebih sepi.
"Malam ini, keluargaku diundang makan malam keluarga oleh... Mahardika."
Mata Sarah langsung membulat. "Mahardika? Tunggu, maksudmu... Mahardika Group (MG)? Yang punya proyek properti raksasa di setiap sudut kota?"
Bianca mendongakkan dagunya, tersenyum jumawa, menikmati reaksi Sarah.
"Tentu saja. Siapa lagi? Ayahku dan Papi Rivaldo Mahardika adalah rekan bisnis."
Sarah benar-benar tercengang. "Ya ampun, Bianca! Itu gila! Keluargamu benar-benar berada di liga tertinggi!"
"Tentu saja," Bianca mendengus. "Aku harus tampil sempurna. Malam ini bukan sekadar makan malam biasa, Sar. Malam ini adalah pertemuan penjodohan."
Sarah terlonjak kaget. "Penjodohan?! Dengan siapa? Pewaris tunggalnya?"
"Tentu saja dengan siapa lagi? Raditya Mahardika. Usianya 33 tahun, pewaris utama, tampan, atletis, dan yang terpenting: kaya raya yang tidak terhingga." Bianca mengucapkan kalimat terakhirnya dengan intonasi memuja, seolah nama Raditya adalah mantra ajaib.
"Aku tak percaya, Bian. Kamu akan menjadi Nyonya Mahardika?" Sarah menatap Bianca dengan campuran iri dan kekaguman.
"Aku akan memastikan itu, Sarah. Aku tidak akan membiarkan kesempatan emas ini lepas. Bayangkan, harta yang kami miliki sekarang bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan Mahardika. Aku akan hidup seperti ratu, tanpa perlu mengkhawatirkan mata kuliah yang menyebalkan itu lagi."
Ia melirik ke jam tangan emasnya. "Sudah. Pilih tas champagne itu dan sepatu heels yang baru datang. Setelah ini, kita ke salon. Aku butuh perawatan total, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulitku harus bersinar, rambutku harus bervolume, dan kukuku harus sempurna. Setiap detail harus menarik perhatian keluarga Mahardika, terutama Raditya itu sendiri."
Setelah mengeluarkan puluhan juta Rupiah tanpa berkedip, Bianca dan Sarah bergegas menuju salon langganan. Di benak Bianca, investasi pada penampilan adalah langkah strategis pertama untuk mengamankan masa depan sebagai Nyonya Mahardika.
***