Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Malam merangkul Hutan Wanamarta dengan selimut kelam yang begitu tebal, seolah sang gulita enggan membiarkan seberkas cahaya pun lolos untuk menyentuh bumi. Di atas hamparan kanopi pepohonan purba yang daun-daunnya bergesekan membisikkan mantera kuno, angin berhembus membawa udara basah sisa hujan petang tadi. Aroma getah pinus, tanah basah, dan lumut yang menempel di bebatuan lembah menguar, menciptakan napas alam yang begitu purba dan mistis. Tidak ada bintang malam ini. Awan hitam bergulung-gulung, berarak lambat menutupi separuh wajah rembulan yang bersinar pucat, seakan langit pun tahu bahwa sebentar lagi, sebuah darah akan tertumpah di atas bumi.
Jauh di atas awan-awan kelam itu, menembus dinginnya udara malam yang sanggup membekukan tulang manusia biasa, seorang ksatria melayang membelah kesunyian.
Ia tidak terbang dengan kepakan sayap burung, melainkan meluncur dengan tenaga gaib yang mengalir pekat di dalam nadinya. Otot-otot di lengannya sekokoh tembaga yang baru saja diangkat dari perapian, urat-uratnya menonjol menyimpan tenaga raksasa yang siap meledak kapan saja. Di dadanya yang bidang dan keras bak batu karang, bersinar redup sebuah lambang bintang kebesaran—simbol kebanggaan Kerajaan Pringgandani. Namanya Gatotkaca.
Bagi musuh-musuhnya, terutama mereka yang berbaris di bawah panji-panji Kerajaan Astina, nama itu bukanlah sekadar nama seorang senopati. Nama itu adalah wujud teror beringas yang hanya berani diucapkan dengan bibir gemetar dan keringat dingin yang mengucur di pelipis. Gatotkaca adalah badai yang turun dari benteng langit. Ia adalah pencabut nyawa yang tak kenal ampun di medan laga, sang jagal dari udara yang bayangannya saja sudah cukup membuat barisan gajah perang kocar-kacir ketakutan.
Kisah tentang keperkasaannya bukanlah isapan jempol belaka. Tidak ada anak panah, sekeras apa pun busurnya ditarik, yang mampu menembus kulitnya. Tidak ada pedang baja, setebal dan setajam apa pun ujungnya diayunkan, yang sanggup menggores dadanya. Ia tidak dilahirkan seperti bayi manusia pada umumnya. Tubuhnya pernah dilebur, direbus, dan ditempa di dalam kawah mendidih Candradimuka, dipenuhi oleh pusaka-pusaka dewata, tulang-tulangnya diganti dengan besi baja, urat-uratnya diganti dengan kawat baja. Semua rasa sakit yang tak terbayangkan itu ditimpakan kepadanya saat ia masih bayi, untuk satu tujuan mutlak: menjadi tameng hidup, perisai tak tertembus bagi keluarga Pandawa.
Namun, di balik segala keperkasaan yang membuat ribuan lawan kencing berdiri itu, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tahu betapa sepi dan dinginnya langit yang ia arungi setiap malam.
Gatotkaca menunduk, menatap ke bawah dari ketinggian ribuan kaki. Mata elangnya yang mampu menembus kegelapan malam melihat kerlip api unggun kecil dari desa-desa di kejauhan. Ia melihat rumah-rumah bambu yang sederhana. Ia bisa membayangkan di dalam rumah-rumah itu, para petani sedang tidur mendengkur memeluk istri mereka, anak-anak kecil tertidur pulas berselimut kain kumal, merasa aman karena mereka tahu ada sang penjaga langit yang berpatroli di atas sana.
Ada senyum tipis, sangat tipis dan getir, yang terbentuk di sudut bibir sang ksatria. Ia melindungi mereka semua, tapi ia tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari mereka.
Pernahkah kalian membayangkan rasanya dilahirkan hanya untuk menjadi sebuah senjata? Sebuah alat yang dielu-elukan saat perang berkecamuk, namun ditakuti saat damai tiba? Gatotkaca bisa mematahkan leher seekor gajah liar liar hanya dengan jepitan dua jarinya. Ia bisa menghancurkan tebing karang hanya dengan satu hantaman tinjunya. Tetapi, tangan yang dirancang untuk menghancurkan itu, tidak pernah tahu bagaimana rasanya menggenggam jemari seseorang dengan kelembutan. Ia takut, jika ia menyentuh sesuatu yang rapuh, sesuatu itu akan hancur lebur di tangannya.
Hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk darah, strategi militer, perang, dan pengabdian tanpa akhir kepada pamannya, para Pandawa. Ia tidak pernah mengeluh. Ia menerima takdirnya dengan dada membusung dan rahang mengeras. Namun jauh di sudut hatinya yang paling dalam, di balik lapisan otot kawat dan tulang besinya, ada ruang kosong yang bergaung. Cinta, baginya, adalah sebuah kemewahan fana. Sebuah dongeng pengantar tidur yang indah, namun tidak pantas dimiliki oleh seorang prajurit yang nyawanya sudah digadaikan untuk palagan berdarah Tegal Kurusetra kelak. Siapa pula wanita yang sudi bersanding dengan separuh raksasa sepertinya? Wanita mana yang tidak akan gemetar melihat wajahnya saat amarah menguasai dirinya?
Sang ksatria menghela napas panjang, hembusan napasnya menciptakan kepulan kabut putih di udara malam yang beku. Ia bersiap untuk memutar arah, kembali ke alun-alun Amarta untuk melaporkan bahwa perbatasan Wanamarta aman malam ini.
Tiba-tiba, pendengarannya yang setajam pendengaran dewa menangkap sesuatu.
Gatotkaca menghentikan lajunya di udara. Tubuhnya melayang diam, jubahnya berkibar tertiup angin. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh indranya. Di antara suara jangkrik, gemerisik daun, dan derik dahan pohon yang bergesekan, ada frekuensi suara yang berbeda. Suara itu sangat tipis, melengking jauh di bawah sana, nyaris tertelan deru angin malam dan tebalnya awan.
Itu bukan suara auman harimau yang sedang berburu. Bukan pula suara babi hutan yang terperangkap jerat. Itu adalah jeritan. Jeritan ketakutan dari tenggorokan seorang manusia.
Mata Gatotkaca seketika terbuka, memancarkan kilat keemasan yang tajam. Insting pelindungnya langsung bangkit, membuat aliran darah di dalam tubuh separuh raksasanya mendidih dalam hitungan detik. Ia mengendus udara. Bersamaan dengan angin yang berhembus dari lembah perbatasan di utara, ada aroma yang sangat ia kenali. Aroma keringat ketakutan, keputusasaan, dan... bau anyir niat jahat. Bau manusia-manusia berhati busuk yang sedang memburu mangsanya.
Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, Gatotkaca melipat kedua lengannya bersilang di depan dada. Ia menarik tubuhnya, melawan daya angkat udara, dan membiarkan gravitasi mengambil alih. Tubuh besarnya meluncur deras ke bawah, menembus awan-awan hitam, membelah langit malam layaknya meteor hitam pekat yang siap menghujam bumi. Udara bergesekan dengan zirah emasnya, menciptakan suara siulan panjang yang mengerikan.
Di saat yang sama, jauh di dasar Hutan Wanamarta yang gelap gulita, dua sosok perempuan sedang berlari tertatih-tatih menembus semak belukar yang berduri.
Napas mereka memburu, tersengal-sengal seakan paru-paru mereka siap meledak. Kain jarik batik berlapis prada emas yang mereka kenakan—pakaian yang menunjukkan kasta kebangsawanan tingkat tinggi—kini telah robek di sana-sini, kotor oleh lumpur dan tersangkut ranting. Rambut mereka yang biasanya disanggul rapi dan dihiasi untaian melati, kini terurai berantakan, basah oleh keringat dingin.
"Ayo, Yayi... sedikit lagi," bisik perempuan yang lebih tua, suaranya bergetar menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Ia menarik tangan adiknya dengan paksa, meski telapak kakinya sendiri sudah berdarah tergores batu-batu tajam.
Perempuan itu adalah Dewi Pregiwa, dan adiknya yang terus menangis di belakangnya adalah Pregiwati. Mereka adalah putri-putri dari Arjuna, sang ksatria penengah Pandawa. Namun malam ini, garis keturunan dewa yang mengalir di tubuh mereka tidak ada artinya di hadapan rasa takut yang melumpuhkan. Mereka tersesat dalam perjalanan menuju Amarta, terpisah dari rombongan pengawal, dan yang lebih buruk lagi, mereka telah masuk ke dalam perangkap.
Suara tawa serak dan langkah kaki berat terdengar semakin dekat dari arah belakang. Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan puluhan. Suara ranting-ranting yang diinjak patah, suara kibasan pedang yang membabat semak belukar, dan obor-obor yang mulai menyala menerangi kegelapan hutan bak mata-mata iblis yang mengintai.
"Kalian mau lari ke mana, Tuan Putri yang cantik jelita?"
Sebuah suara melengking yang sumbang dan penuh nada ejekan menggema di antara pepohonan. Itu adalah suara Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Kerajaan Astina yang terkenal pengecut namun memiliki kekejaman yang tersembunyi jika ia sedang berada di atas angin. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, puluhan prajurit elit Astina menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran yang perlahan-lahan menyudutkan kedua putri itu ke arah sebuah tebing batu yang curam.
Pregiwa menghentikan langkahnya. Kakinya sudah tak sanggup lagi berlari. Di depannya adalah dinding batu vertikal yang menjulang tinggi, gelap dan berlumut. Jalan buntu. Ia membalikkan badan, menyembunyikan adiknya yang gemetar hebat di belakang punggungnya. Pregiwa mengangkat dagunya, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga diri dan martabat kerajaannya, meski bibirnya pucat pasi dan jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang.
Cahaya obor perlahan menerangi wajah Pregiwa. Meski wajahnya kotor oleh tanah dan peluh, kecantikannya tetap memancar, membuat para prajurit Astina menelan ludah. Mata Pregiwa bulat dan teduh, namun malam ini menyiratkan kemarahan dan ketakutan yang bercampur aduk.
Lesmana Mandrakumara melangkah maju, membelah barisan prajuritnya. Ia tersenyum miring, sebuah senyum licik yang membuat perut Pregiwa mual. Pangeran Astina itu memutar-mutar sebilah belati berhias permata di tangannya.
"Ah, sungguh kebetulan yang sangat manis," ucap Lesmana, menjilat bibirnya yang kering. Matanya menelanjangi Pregiwa dari atas ke bawah. "Burung-burung kecil dari keputrian Arjuna terlepas dari sangkarnya, dan malah terbang langsung ke dalam genggamanku. Jika aku membawa kalian berdua ke Astina malam ini sebagai tawananku, atau mungkin... sebagai selirku, ayahanda Duryudana pasti akan memberiku hadiah yang luar biasa. Bayangkan wajah pamanmu yang sombong itu saat tahu putri-putrinya berada di ranjang keraton Kurawa."
Para prajurit Astina tertawa parau, menimpali kelakar kotor pangeran mereka.
"Tutup mulut kotor itu, Pengecut!" desis Pregiwa, suaranya bergetar namun matanya menatap tajam bak sebilah sembilu. "Lebih baik aku mati bunuh diri dengan mengoyak leherku sendiri di atas batu ini, daripada harus membiarkan ujung jariku disentuh oleh babi Astina sepertimu!"
Wajah Lesmana seketika memerah padam. Harga dirinya tersinggung telak di hadapan para prajuritnya. Tawanya lenyap, digantikan oleh raut wajah yang beringas dan kejam. Ia mencabut pedang panjangnya dari sarungnya dengan suara *sring* yang mengerikan.
"Begitu? Baiklah jika itu maumu, Putri congkak," geram Lesmana sambil melangkah maju dengan ujung pedang terarah ke dada Pregiwa. "Akan kupastikan kau tetap hidup, setidaknya sampai kami semua selesai bersenang-senang denganmu malam ini. Tangkap mereka! Patahkan kaki mereka jika perlu, tapi biarkan mereka tetap bernapas!"
Puluhan prajurit serentak menghunus pedang dan tombak. Mereka melangkah maju bagai sekawanan serigala kelaparan yang siap menerkam dua ekor anak rusa yang tak berdaya. Pregiwati menjerit histeris, menenggelamkan wajahnya di punggung kakaknya. Pregiwa memejamkan mata erat-erat. Ia tidak memiliki senjata. Ia tidak memiliki pelindung. Dalam keputusasaan yang paling pekat, ia menengadahkan wajahnya ke langit yang tertutup awan, merapalkan doa terakhir kepada para dewa di kahyangan.
*Oh, Dewata Agung... Jika memang ini akhir takdirku, kirimkanlah kematian yang cepat. Jangan biarkan kehormatan ayahandaku ternoda di hutan ini.*
Satu detik berlalu. Dua detik. Ujung tombak prajurit terdepan hanya berjarak satu jengkal dari leher Pregiwa.
Lalu... dunia seakan berhenti berputar.
Tidak ada petir yang menyambar, tidak ada kilat yang menerangi malam. Namun tiba-tiba saja, udara di sekitar mereka terasa hampa, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paru. Suara deru angin berubah menjadi dengungan nada rendah yang menggetarkan isi dada.
Di atas mereka, awan hitam pekat tiba-tiba berlubang. Sesuatu jatuh dari langit dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
*BUMMMMM!*
Hantaman itu tidak terdengar seperti benda jatuh, melainkan seperti gunung berapi yang meletus dari perut bumi. Tanah Hutan Wanamarta meledak. Gelombang kejut yang dahsyat menyapu segala arah, menciptakan badai debu, kerikil, dan serpihan kayu yang berterbangan membutakan mata.
Prajurit Astina yang berada di barisan paling depan terpental belasan meter ke udara seperti boneka jerami yang ditendang badai, tulang-tulang mereka remuk sebelum tubuh mereka menyentuh tanah. Lesmana Mandrakumara terlempar ke belakang, punggungnya menghantam batang pohon beringin hingga ia memuntahkan darah segar, pedangnya terlepas entah ke mana.
Pregiwa dan Pregiwati terhempas ke dinding tebing, menutupi kepala mereka dari hujan tanah dan ranting yang berjatuhan. Telinga mereka berdenging keras. Kepulan debu tebal menutupi pandangan, membuat hutan itu mendadak hening seketika, hanya menyisakan rintihan kesakitan para prajurit Astina yang tulang-tulangnya patah.
Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar hebat, Pregiwa perlahan membuka matanya. Ia terbatuk-batuk, berusaha menembus tabir debu tebal di hadapannya.
Di tengah-tengah kawah kecil yang baru saja terbentuk akibat hantaman tersebut, berdirilah sesosok bayangan raksasa. Asap putih mengepul dari zirah keemasannya yang menyala redup di tengah kegelapan. Bayangan itu perlahan menegakkan tubuhnya yang setinggi pohon muda, merentangkan kedua tangannya, mengusir debu dan kabut yang menyelimuti dirinya.
Ketika debu akhirnya menipis, Pregiwa menahan napasnya.
Di sana, berdiri membelakangi dirinya, adalah sang badai penunggu langit. Otot-ototnya menegang kokoh, mengepulkan uap panas. Ia perlahan menolehkan kepalanya ke arah tebing, melewati bahu lebarnya yang berlapis pelindung baja.
Malam itu, di tengah hutan yang hancur berantakan dan erangan kematian para prajurit Kurawa, mata teduh Pregiwa yang dipenuhi air mata keputusasaan, untuk pertama kalinya bertatapan langsung dengan sepasang mata tajam sang ksatria Pringgandani.
Waktu benar-benar berhenti berdetak di Hutan Wanamarta. Dan di dada sang ksatria otot kawat tulang besi itu, untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ada sesuatu yang berdebar dengan ritme yang sama sekali tidak ia kenali. Sesuatu yang terasa jauh lebih kuat dari tempaan Kawah Candradimuka.