Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar Darah Naga
Di atas panggung batu giok putih, Penatua Su Ruoxue tersenyum manis. Lambaian tangannya yang gemulai menyibakkan kain penutup dari atas kotak kayu gaharu kuno tersebut.
Seketika itu juga, hawa dingin yang menusuk tulang menyebar ke seluruh penjuru Aula Perunggu, membuat udara di sekitar panggung mengembun menjadi serpihan es tipis. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah rompi perak yang dirajut dari benang-benang yang sangat halus dan transparan.
"Pusaka pertama pembuka Pelelangan Agung kita malam ini: Baju Zirah Sutra Es Murni," suara merdu Su Ruoxue mengalun, memecah keheningan yang tegang. "Baju zirah ini ditenun dari sutra Ulat Es Ribuan Tahun yang hidup di puncak Gunung Salju Abadi. Baju ini kebal terhadap api fana dan sanggup menahan tiga kali pukulan kekuatan penuh dari ahli Ranah Penempaan Raga Lapisan Kesembilan tanpa meninggalkan goresan pada penggunanya!"
Terdengar suara tarikan napas panjang dari ribuan tamu di Aula Perunggu. Bagi para pengelana dan pendekar fana, memiliki nyawa kedua adalah impian terbesar. Zirah yang mampu menahan serangan Lapisan Kesembilan adalah pusaka pelindung yang tak ternilai harganya.
"Harga pembukaan untuk Baju Zirah Sutra Es Murni adalah dua puluh Batu Roh Tingkat Rendah! Setiap penawaran tidak boleh kurang dari dua Batu Roh. Silakan dimulai!"
"Dua puluh dua Batu Roh!" teriak seorang pria berwajah codet dari barisan depan Aula Perunggu.
"Dua puluh empat!"
"Dua puluh delapan!"
Hanya dalam waktu beberapa tarikan napas, harga zirah itu melonjak naik. Namun, Shen Yuan yang duduk di kursi nomor 884 hanya bersandar dengan tenang. Ia sama sekali tidak tertarik. Dengan Tubuh Emas Gelap yang ia miliki, pertahanan fisiknya jauh melampaui zirah sutra buatan manusia tersebut. Menyia-nyiakan kekayaannya untuk barang rongsokan adalah tindakan bodoh.
"Empat puluh Batu Roh."
Sebuah suara malas dan angkuh terdengar melayang dari salah satu pelataran batu giok di atas sana—Ruang Perak Nomor Tujuh.
Seketika, keriuhan di Aula Perunggu terdiam. Empat puluh Batu Roh adalah harga yang mencekik bagi pendekar pengelana. Terlebih lagi, tawaran itu datang dari Ruang Perak, tempat duduk para bangsawan dan petinggi sekte. Berani bersaing dengan mereka sama saja dengan mengundang malapetaka setelah pelelangan selesai.
"Empat puluh Batu Roh dari Ruang Perak Nomor Tujuh. Adakah yang berani menawar lebih tinggi?" Su Ruoxue tersenyum, matanya menyapu sekeliling. Setelah tiga hitungan tanpa ada balasan, ia mengetukkan palu giok kecilnya.
Trak!
"Terjual!"
Pelelangan berlanjut dengan suasana yang semakin memanas. Berbagai pusaka kuno, mulai dari pedang patah yang menyimpan sisa-sisa niat pedang seorang ahli Lautan Qi, hingga gulungan teknik bela diri tingkat menengah, dikeluarkan satu per satu. Sebagian besar barang jatuh ke tangan para tamu di Ruang Perak dan Ruang Emas, membuktikan betapa dalamnya jurang kekayaan antara rakyat jelata dan para penguasa.
Hingga akhirnya, kotak ketujuh dibawa ke atas panggung.
Kotak ini tidak terbuat dari kayu, melainkan dari batu giok merah yang diukir dengan segel penahan panas. Begitu Su Ruoxue membuka penutupnya, sebuah gelombang hawa panas yang luar biasa pekat menyapu aula, seolah sebuah matahari kecil baru saja dilahirkan di atas panggung.
Di dalam kotak batu giok itu, tergeletak sebuah akar tanaman berwarna merah menyala yang bentuknya meliuk-liuk menyerupai cakar naga purba. Getah berwarna keemasan sesekali menetes dari ujung akar tersebut, membakar dasar kotak giok hingga mengeluarkan asap beraroma harum yang memabukkan.
Di bawah topeng perunggunya, mata Shen Yuan menyipit tajam. Rajah kutukan bintang enam di punggungnya berdenyut, bukan karena sakit, melainkan karena merasakan ancaman dari benda di atas panggung itu.
"Bocah! Itu dia!" raung Leluhur Darah di dalam batin Shen Yuan, suaranya dipenuhi oleh kegembiraan liar. "Akar Darah Naga Matahari! Tanaman roh unsur Yang Mutlak yang menyerap esensi matahari dan meminum darah binatang buas beratribut api! Dilihat dari ketebalan warnanya, akar ini telah berumur sedikitnya lima ratus tahun!"
"Lima ratus tahun? Bukankah kau bilang aku butuh yang berumur seribu tahun untuk menghancurkan Kutukan Tulang Layu?" balas Shen Yuan, tangannya mulai mengepal erat.
"Benar. Akar lima ratus tahun ini tidak akan mencabut kutukan itu sampai ke akarnya, tetapi hawa murni Yang Mutlak-nya cukup untuk membakar sebagian besar Aura Kematian di punggungmu! Jika kau menelannya, batas waktu segel jimatmu akan diperpanjang dari enam bulan menjadi tiga tahun! Dan lebih dari itu, esensi panasnya akan menjadi bahan bakar yang sempurna untuk Nadi Iblis Penelan Surgamu menembus ke Lapisan Kedelapan!"
Napas Shen Yuan sedikit memburu. Tiga tahun! Waktu yang cukup baginya untuk mencapai ranah yang lebih tinggi, bahkan mungkin Ranah Pembentukan Inti Emas, di mana ia bisa mencabut kutukan itu dengan kekuatannya sendiri. Ia harus mendapatkan akar itu!
"Akar Darah Naga Matahari berumur lima ratus tahun," suara Su Ruoxue bergema, matanya yang tajam seolah tahu bahwa pusaka ini akan memicu badai. "Ini adalah tanaman roh langka yang mampu membersihkan segala bentuk racun Yin yang mematikan, serta memperkuat fondasi para pendekar beratribut api. Harga pembukaan... lima puluh Batu Roh! Kelipatan penawaran minimal lima Batu Roh!"
Aula Perunggu seketika menjadi lautan kebisuan. Lima puluh Batu Roh! Itu adalah jumlah kekayaan yang dikumpulkan seumur hidup oleh sebuah klan fana tingkat menengah di kota terpencil. Tidak ada satu pun pendekar di bawah sana yang berani membuka mulut.
"Enam puluh Batu Roh."
Sebuah suara datang dari Ruang Perak Nomor Empat. Shen Yuan mengangkat alisnya. Suara itu terdengar tidak asing. Nada angkuh yang menjengkelkan itu... Lin Chen! Tuan Muda Keluarga Lin yang ia usir dari Paviliun Seribu Ramuan tiga hari yang lalu rupanya juga hadir di pelelangan ini.
"Keluarga Lin menawar enam puluh Batu Roh. Tuan Muda Lin Chen sepertinya sangat membutuhkan akar ini untuk memperkuat jurus api milik keluarganya," ucap Su Ruoxue sambil tersenyum menggoda.
Di dalam Ruang Perak Nomor Empat, Lin Chen bersandar di kursi berlapis bulu harimau dengan segelas arak di tangannya. Ia memang membutuhkan akar itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Sekte. Dengan latar belakang Keluarga Lin yang menakutkan, ia yakin tidak akan ada bangsawan lain yang mau bersusah payah memperebutkan satu tanaman roh dan menyinggung keluarganya.
"Enam puluh Batu Roh. Ada yang lain?" Su Ruoxue bertanya. "Satu... Dua..."
"Tujuh puluh Batu Roh."
Sebuah suara datar, sedingin es purbakala, namun sangat jelas terdengar dari tengah kerumunan di Aula Perunggu.
Ribuan pasang mata langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, duduk seorang pemuda berjubah abu-abu kusam, wajahnya tertutup oleh topeng perunggu dan caping bertirai hitam. Tangannya bersilang di depan dada, sama sekali tidak gentar menjadi pusat perhatian.
Di Ruang Perak Nomor Empat, Lin Chen memuntahkan araknya. Wajahnya seketika berubah merah padam. Seorang rakyat jelata dari Aula Perunggu berani melangkahi tawaran Keluarga Lin?!
"Beraninya kau, Tikus Tanah!" teriak Lin Chen dari atas pelataran gioknya, suaranya dipenuhi amarah yang meluap. "Delapan puluh Batu Roh! Aku ingin melihat seberapa dalam kantong pengemis sepertimu!"
Shen Yuan bahkan tidak mendongak ke arah Ruang Perak tersebut. Suaranya tetap tenang saat ia menyebutkan angka berikutnya.
"Seratus Batu Roh."
Aula Perunggu berdengung hebat. Seratus Batu Roh untuk sebuah tanaman roh! Meskipun berumur lima ratus tahun, harga itu sudah sedikit melebihi harga pasaran. Lebih mengejutkan lagi, keberanian orang bernomor kursi 884 ini benar-benar tidak masuk akal. Ini bukan lagi sekadar tawar-menawar, ini adalah tamparan keras di wajah Keluarga Lin!
"Kau—!" Lin Chen menggebrak pagar batu giok pelatarannya hingga retak.
Brak!
Ia menunjuk ke arah Shen Yuan dengan tangan gemetar. "Keluarga Lin akan mengingat penghinaan ini! Penatua Su! Saya curiga pengemis gembel itu tidak memiliki seratus Batu Roh! Dia pasti sengaja mengacaukan pelelangan ini!"
Su Ruoxue mengerutkan keningnya. Senyumnya menghilang, digantikan oleh aura dingin yang mematikan dari seorang ahli Inti Emas. Tatapannya tertuju pada Lin Chen.
"Tuan Muda Lin Chen," suara Su Ruoxue sangat lembut, namun setiap suku katanya membawa tekanan yang membuat napas Lin Chen sesak. "Balai Lelang Bintang Jatuh memiliki aturannya sendiri. Setiap tamu yang berhasil masuk ke dalam aula ini telah melewati tahap pemeriksaan kekayaan oleh penilai kami. Menuduh kami meloloskan tamu tanpa harta sama saja dengan menghina kemampuan Balai Lelang. Apakah Keluarga Lin bermaksud menantang wibawa kami?"
Wajah Lin Chen seketika memucat. Ia sadar ia telah salah bicara. Menyinggung Balai Lelang Bintang Jatuh adalah tindakan bunuh diri; bahkan leluhur keluarganya pun harus bersikap sopan di hadapan kubu tiran ini.
"M-Maafkan kelancangan saya, Penatua Su. Saya hanya terbawa amarah," Lin Chen menundukkan kepalanya, berkeringat dingin. Ia menggertakkan giginya dan menatap benci ke arah Shen Yuan. "Seratus sepuluh Batu Roh! Itu adalah tawaran terakhirku!"
Seratus sepuluh Batu Roh adalah seluruh jatah kekayaan yang diberikan keluarganya untuk pelelangan kali ini. Jika orang itu menawar lebih tinggi, Lin Chen benar-benar harus menelan kekalahannya.
Shen Yuan menyeringai di balik topengnya. Tuan Muda ini memang bodoh dan mudah terpancing.
"Seratus dua puluh Batu Roh," ucap Shen Yuan dengan nada yang masih sama datarnya, seolah menyebutkan harga sepiring nasi fana.
Tubuh Lin Chen bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Ia menendang meja di depannya hingga hancur, namun ia tidak berani bersuara lagi. Kekayaannya telah kalah telak.
Braaakk!
"Seratus dua puluh Batu Roh, dari kursi nomor delapan ratus delapan puluh empat," Su Ruoxue tersenyum kembali, sangat puas dengan persaingan harga yang menaikkan keuntungan balai lelang. "Tiga... Dua... Satu."
Trak!
"Terjual!"
Palu giok diketukkan. Sebuah kelegaan yang luar biasa membasuh dada Shen Yuan. Akar Darah Naga Matahari itu akhirnya jatuh ke tangannya. Dengan sisa tiga puluh Batu Roh di kantongnya, ia mungkin tidak akan bisa mengikuti penawaran barang-barang pusaka utama nanti, tetapi tujuannya datang ke pelelangan ini telah separuh tercapai.
Seorang pelayan wanita segera membawakan kotak batu giok merah itu ke kursi Shen Yuan. Shen Yuan menyerahkan seratus dua puluh Batu Roh Tingkat Rendah dari Kantong Qiankun miliknya. Begitu kotak giok itu berpindah tangan, ia segera memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan gaibnya untuk memutus hawa panas yang memancing tatapan serakah dari sekitarnya.
"Pusaka telah di tangan. Kini, aku hanya perlu melihat apakah peta menuju Makam Tuan Tanah Hantu akan muncul, lalu mencari cara untuk keluar dari tempat ini hidup-hidup," batin Shen Yuan.
Ia tahu, tatapan membunuh dari Ruang Perak Nomor Empat tidak akan pernah melepaskannya. Begitu ia melangkah keluar dari Balai Lelang ini, pedang-pedang Keluarga Lin pasti sudah menantinya di setiap sudut gelap Kota Bintang Jatuh. Namun, bagi Iblis Penelan Surga, itu bukanlah sebuah ancaman, melainkan hidangan penutup yang lezat.