Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Cemburu Buta Pada Diri Sendiri
"Strategi marketing untuk kuartal depan sudah saya kirim. Cek email Anda."
Kairo mengetik pesan itu di tabletnya, ditemani kopi panas di ruang keluarga. Matanya fokus berkomunikasi dengan EL, konsultan bayangan yang kian ia andalkan.
Di sofa seberang, Elena duduk bersila dengan piyama navy. Ponsel di tangan, jempolnya lincah membalas.
Ting! Balasan EL masuk ke tablet Kairo.
EL: Sudah diterima. Tapi poin ketiga soal potong budget iklan digital? Itu bunuh diri. Generasi sekarang main TikTok, Pak. Naikkan budget atau produk Anda jadi pajangan gudang.
Kairo tersenyum tipis. Ia suka cara EL mengkritiknya—pedas, tajam, tapi benar. Jarang ada yang berani bilang "bunuh diri" di depan CEO Diwantara Group.
Kairo mendongak untuk meregangkan leher, dan pandangannya jatuh pada Elena. Istrinya sedang menatap ponsel... dan tersenyum. Bukan senyum sopan atau sinis, melainkan senyum tulus yang manis, seolah membaca sesuatu yang sangat menyenangkan atau romantis.
Jantung Kairo berdegup tak enak. Ritmenya kacau. "Kenapa dia senyum-senyum sendiri?" batinnya curiga.
Ia pura-pura minum kopi sambil terus mengamati. Elena kembali mengetik, kali ini tertawa kecil yang terdengar bahagia.
"Hahaha, dasar bodoh," gumam Elena pelan, tak sadar Kairo menguping.
Darah Kairo mendidih. Bodoh? Siapa yang dipanggil bodoh dengan nada manja begitu? Elena tak punya teman dekat. Grup arisannya hanya pamer tas. Kecuali... laki-laki.
Bayangan liar memenuhi kepala Kairo. Simpanan? Teman lama? Pelatih yoga? Rasa panas menjalar di dadanya. Rasa kepemilikan yang terancam. Elena miliknya. Tak boleh ada orang lain yang membuatnya tersenyum seperti itu!
"Ehem," dehem Kairo keras.
Elena tak menoleh. Kairo makin panas. Di rumahnya sendiri, ia diabaikan.
"Sora," panggilnya berat.
Elena mendongak sekilas, tangannya masih memegang ponsel erat. "Ya? Kopi habis? Minta Bi Inah."
"Bukan soal kopi." Kairo membanting cangkirnya pelan ke meja. Tak! Ia berdiri, melangkah lebar mendekati sofa Elena, bayangannya menutupi cahaya.
"Kamu bicara dengan siapa?" tanyanya to the point, berdiri menjulang dengan tangan mengepal di saku.
Elena menyelesaikan ketikannya—mengirim revisi budget ke Kairo sebagai EL—lalu mematikan layar. "Teman," jawabnya singkat.
"Laki-laki atau perempuan?" desak Kairo.
"Penting lapor jenis kelamin?" Elena menatap malas. "Kamu kenapa sih? Kayak polisi."
"Aku suamimu! Wajar aku tanya," nada Kairo meninggi. "Dari tadi kamu senyum-senyum, tertawa. Sama aku mukamu ditekuk."
Elena menahan tawa. Tentu saja ia tertawa. Ia baru saja mengatai Kairo "bodoh" lewat akun EL karena salah hitung konversi mata uang, dan Kairo malah berterima kasih. Situasi ini sangat menghibur.
"Aku senyum karena ada yang lucu," elak Elena.
"Apa yang lucu? Sini HP-mu," Kairo mengulurkan tangan.
"Hah? Itu privasi, Kairo."
"Tidak ada privasi suami istri!" Kairo maju selangkah lagi, aura dominannya menguar. Cemburu buta. "Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa takut? Punya simpanan?"
"Simpanan? Otakmu isinya drama."
"Sini!" Kairo membungkuk hendak menyambar ponsel Elena.
Elena lebih gesit. Refleks mantan agennya bekerja. Ia menyembunyikan ponsel di balik punggung. "Jangan kasar!"
"Aku cuma mau lihat!" Kairo mencengkeram lengan Elena, wajah mereka berdekatan. Aroma sabun Elena justru membuatnya makin gila membayangkan dinikmati pria lain. "Siapa bajingan yang bikin kamu ketawa?! Jawab! Apa dia lebih kaya dariku?"
Elena menatap api cemburu di mata suaminya. Kairo termakan imajinasinya sendiri. Ini saat tepat memberi pelajaran.
Elena melepaskan cengkeraman Kairo dengan tenang, tersenyum miring. "Kamu mau lihat banget?"
"Ya. Sekarang."
"Oke." Elena mengeluarkan ponsel. Dalam hitungan detik, jempolnya melakukan swipe kilat: menutup aplikasi Signal, membuka aplikasi belanja online yang sudah disiapkan di latar belakang.
Ia menyodorkan layar ke hidung Kairo. "Nih. Lihat. Puas?"
Kairo memfokuskan pandangan, siap meledak melihat chat mesra. Namun...
Di layar terpampang foto panci logam hitam. PANCI GRANITE ANTI-LENGKET - FLASH SALE 70%. Stok sisa 3.
Kairo mundur selangkah. Otaknya loading. "Panci?"
"Iya, panci," kata Elena santai, menarik kembali ponselnya dengan tatapan penuh kasih sayang—akting kelas Oscar. "Ini granit Jerman. Diskon gila-gilaan. Tadi aku ketawa baca review lucu pembeli. Kenapa? Pikir aku chatting sama selingkuhan?"
Wajah Kairo yang merah karena marah, berubah padam karena malu. Ia menuduh istrinya selingkuh, memojokkannya, bertingkah seperti orang kesurupan... gara-gara diskon panci?
"Ta... tapi tadi kamu senyum-senyum..." gagap Kairo, wibawanya runtuh.
"Ya senyum dong! Dapat diskon 70% plus gratis ongkir itu kebahagiaan hakiki, Kairo. Lebih bahagia daripada lihat mukamu cemberut."
Kairo merasa sangat bodoh. Ia merapikan kerah bajunya, mencoba mengais harga diri. "Oh... begitu. Ya sudah. Silakan beli. Pakai kartuku kalau perlu. Borong sekalian."
"Nggak perlu. Aku punya saldo sendiri. Sensasinya beda kalau 'war' sendiri," tolak Elena, pura-pura sibuk checkout.
"Lain kali..." Elena berbicara dingin tanpa melihat Kairo. "...kalau cemburu, lihat dulu saingannya. Masak CEO Diwantara Group cemburu sama panci teflon? Malu sama saham, Pak."
Kalimat itu adalah pukulan knockout.
Udhlah,, senggol bacokl🤣🤣
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪