NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 GAK SEPADAN?

Hari kedua setelah unggahan itu, suasana mulai berubah.

Bukan di antara Ara dan Danu.

Tapi di sekitar mereka.

Ara baru saja duduk di meja kerjanya ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan ucapan selamat. Bukan emoji hati.

Sebuah tangkapan layar.

Dari Nisa.

Nisa: Ra… kamu kuat baca ini?

Ara mengernyit. “Apa lagi…”

Ia membuka gambar itu.

Sebuah percakapan di grup alumni—yang kebetulan bukan grup tempat ia berada. Seseorang mengirim ulang unggahan lamaran Ara, lalu komentar-komentar mulai bermunculan.

“Serius Ara sama dia?”

“Bukannya dia anak kota banget?”

“Katanya cowoknya dari keluarga petani ya?”

“Yakin cocok?”

Ara membaca sampai bawah.

Tangannya terasa sedikit dingin.

Bukan karena malu.

Tapi karena nada meremehkan yang halus itu terasa jelas.

Ia menarik napas panjang.

Belum sempat ia membalas Nisa, pesan lain masuk.

Kakak sepupunya Mba Raina mengirim voice note.

“Ra, tante-tante tadi juga sempat ngomong… katanya kamu bisa dapat yang ‘lebih sepadan’. Aku kesel dengarnya.”

Ara menutup mata sejenak.

Lebih sepadan.

Ukuran siapa?

Di rumah, ibu Ara sedang menerima telepon dari salah satu kerabat jauh.

“Iya, benar sudah lamaran,” jawab ibunya tenang.

Di seberang sana terdengar suara yang terdengar ragu.

“Tapi… Ara kan dari kecil di kota. Kuliahnya juga bagus. Kerjanya juga mapan. Kok pilihnya…?”

Kalimat itu menggantung.

Ibu Ara tersenyum tipis, meski yang di telepon tak bisa melihat.

“Kok pilihnya apa?” tanyanya lembut tapi tegas.

“Iya maksudnya… Danu kan dari keluarga petani, ya?”

Ibu Ara menarik napas pelan.

“Petani bukan berarti tidak layak. Ayah Ara juga dulu awal ngerintis ternak juga petani dulu sampai punya ternak kaya sekarang? Dari dulu kami juga kerja dari bawah”

Percakapan itu berakhir dengan basa-basi. Tapi pesan tersiratnya jelas.

Tidak semua orang setuju.

Ara sendiri mulai merasakan perubahan itu ketika salah satu teman lamanya juga sama menanyakan

Lina: Ra, aku tanya jujur ya.

Ara: Tanya aja.

Lina: Kamu yakin? Maksudnya… background kalian beda banget.

Ara membaca pesan itu lama.

Ara: Beda gimana?

Lina: Kamu anak kota. Pernah tinggal lama di Jakarta. Kuliah bagus. Circle kamu juga beda. Takutnya nanti kamu susah adaptasi.

Ara tersenyum tipis. Ia tidak langsung membalas.

Karena pertanyaan itu bukan baru.

Itu pertanyaan lama yang dulu juga pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri.

Di sisi lain

Danu juga menerima “nasihat”

Seorang kenalan ayahnya berkata setengah bercanda yang hari ini lagi servis motornya ke bengkel “Hati-hati lho. Ara itu anak kota. Jangan sampai kamu yang nanti merasa minder.”

Danu hanya tersenyum kecil.

Ia dulu memang pernah minder.

Waktu SMA, ia menyembunyikan perasaan karena merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani seperti dirinya.

Tapi sekarang situasinya berbeda.

Ia tidak lagi berdiri sebagai anak yang ragu.

Ia berdiri sebagai laki-laki yang datang dengan niat.

Di sisi lain, Danu juga dapat chat lagi dari temannnya

Arif mengirim pesan pribadi.

Arif: Bro, gue nggak mau bikin lo kepikiran, tapi ada yang ngomong aneh-aneh di tongkrongan tadi.

Danu: Soal apa?

Arif: Ya… soal background. Katanya Ara anak kota, keluarganya mapan. Lo yakin nggak bakal ada benturan?

Danu membaca pesan itu lama.

Dulu, kalimat seperti itu cukup untuk membuatnya menarik diri.

Dulu, ia memang merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani sepertinya.

Tapi hari ini berbeda.

Danu: Gue nggak nikah sama ekspektasi orang.

Arif: Gue cuma nggak mau lo disakiti kalau nanti keluarganya ngerasa beda level.

Danu menatap layar ponselnya beberapa detik.

Kalimat Arif bukan tuduhan.

Bukan juga meremehkan.

Itu murni kekhawatiran.

Ia mengetik pelan.

Danu: Kalau mereka ngerasa beda level, itu urusan mereka.

Danu: Gue datang bukan buat lomba status. Gue datang bawa niat.

Arif tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian.

Arif: Tapi lo siap kalau suatu hari lo yang dibanding-bandingin?

Danu tersenyum kecil.

Siap.

Bukan karena ia merasa paling kuat.

Tapi karena ia sudah selesai dengan rasa rendah

Dirinya.

Danu: Gue udah pernah ngerasa nggak cukup dari dulu.

Danu: Dan ternyata yang bikin capek itu bukan orang lain. Tapi pikiran gue sendiri.

Ia menambahkan satu pesan lagi.

Danu: Kalau Ara bisa berdiri di samping gue tanpa malu, masa gue masih malu sama diri sendiri?

Kali ini Arif membalas lebih cepat.

Arif: …ya juga sih.

Arif: Gue cuma takut lo sendirian ngadepin omongan orang.

Danu membaca itu pelan.

Sore itu, langit masih menyisakan warna jingga ketika Danu memarkir motornya di depan rumah Ara.

Rumah itu tidak pernah terasa asing baginya.

Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena tempatnya.

Karena situasinya.

Ia menarik napas sebentar sebelum mengetuk pagar.

Pintu dibuka oleh ibu Ara.

“Eh, Danu. Masuk, Nak.”

Suaranya tetap hangat seperti biasa. Tidak canggung. Tidak berubah.

Danu menyalami beliau dengan sopan.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam. Ara di dalam.”

Ruang tamu terasa tenang. Hanya suara sendok beradu dengan cangkir dari dapur.

Ara keluar beberapa detik kemudian.

Ia masih mengenakan kaos. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi ketika melihat Danu, ada senyum yang otomatis muncul.

“Kamu nggak bilang mau ke sini.”

“Kalau bilang, nanti suprise” jawab Danu ringan.

Ara mengerti maksudnya.

Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Beberapa menit hanya diisi obrolan ringan. Tentang kerjaan. Tentang motor yang baru Danu servis.

Sampai akhirnya ibu Ara ikut duduk.

Beliau tidak langsung masuk ke inti.

“Tadi siang ada yang telepon lagi” katanya pelan.

Ara menoleh.

Danu diam.

Ibu Ara melanjutkan dengan tenang “Biasa. Tanya-tanya. Kadang pakai nada prihatin.”

Danu menegakkan duduknya sedikit.

“Maaf kalau jadi banyak omongan, Bu”

Ibu Ara langsung menggeleng.

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

Kalimat itu lembut, tapi tegas.

“Orang itu selalu punya sesuatu untuk dibicarakan. Kalau bukan soal pekerjaan, soal jodoh. Kalau bukan soal jodoh, nanti soal anak.”

Ara tersenyum kecil mendengar itu.

Ibu Ara menatap Danu.

“Kamu datang ke sini dengan niat baik, kan?”

“Iya Bu” Jawaban Danu mantap. Tidak keras. Tapi jelas.

“Ya sudah. Itu yang penting”

Hening sejenak.

Lalu ibu Ara menambahkan “Kami juga bukan keluarga yang lahir langsung jadi kaya. Semua mulai dari bawah. Jadi kalau ada yang merasa perlu mengukur-ngukur, biarkan saja”

Danu menunduk hormat.

Di sudut ruangan, Ara memperhatikan.

Ia melihat sesuatu yang dulu tidak ia sadari.

Danu tidak datang sebagai anak yang minder.

Ia datang sebagai lelaki yang berdiri.

Setelah ibu Ara kembali ke dapur, suasana menjadi lebih pribadi.

Ara menatap Danu.

“Kamu nggak kepikiran buat mundur?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu bukan meragukan.

Itu murni ingin tahu.

Danu menggeleng pelan.

“Kalau dulu, mungkin iya”

Ara menahan napas.

“Tapi sekarang?” suaranya lebih lembut.

“Sekarang aku tahu, yang bikin berat itu bukan perbedaan kita.”

Ia menatap Ara.

“Tapi rasa takut kalau aku nggak cukup nantinya menafkahi kamu”

Ara terdiam.

Danu melanjutkan “Dan rasa takut itu udah aku beresin sebelum aku datang melamar”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi kokoh.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!