Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Momen yang Manis
Matahari yang tadinya berada di puncak langit kini mulai merunduk perlahan, menyisakan cahaya keemasan kemerahan yang menyelimuti halaman belakang. Heras masih berdiri di sana, keringat membasahi kening dan punggungnya, meneteskan titik-titik basah di atas rumput yang mulai lembap. Sejak siang tadi, ia tidak berhenti berlatih—gerakan ginga, tendangan, menghindar, dan menyerang, berulang-ulang tanpa jeda yang berarti. Energi Luminar masih menyala samar di sekitar kakinya, menopang setiap langkahnya, namun jelas terlihat bahwa tubuhnya mulai kelelahan.
"Heras, ayo berhenti dulu. Matahari sudah mau terbenam, perutku sudah keroncongan banget," seru Rian sambil mengelap keringat di lehernya dengan handuk kecil. Ia melangkah mendekat, wajahnya terlihat lelah tapi tetap ceria. "Ayo kita istirahat dan makan. Kantin pasti sudah buka sekarang, makanannya pasti enak-enak."
Heras menggeleng pelan, napasnya masih terengah namun matanya tetap tajam. "Belum. Aku belum puas. Gerakanku masih kaku, aku harus latihan lagi sampai sempurna."
"Yah, jangan gitu dong. Tubuhmu butuh bahan bakar, Heras. Kalau terus dipaksa, nanti malah sakit," bantah Rian, mencoba merayu. "Lagipula Sari juga pasti sudah lapar lho, dari tadi dia cuma duduk menonton kita."
"Aku bilang belum! Aku mau latihan lagi!" Heras menolak tegas, sedikit meninggikan suaranya. Ia berbalik, bersiap mengulangi gerakan tadi, mengabaikan rasa lelah yang mulai menjalar di seluruh tulangnya.
Rian menghela napas panjang, tampak mulai frustrasi. "Hei, jangan keras kepala dong! Ini demi kebaikanmu juga—"
Belum selesai Rian berbicara, sebuah suara tegas memotong percakapan mereka. PLAK!
Sebuah tepukan keras namun tidak terlalu menyakitkan mendarat tepat di kepala Heras. Heras terkejut, memegang kepalanya sambil berbalik dan melihat Sari yang berdiri di depannya dengan tangan terkepal di samping tubuhnya, wajahnya memerah karena kesal.
"Kau mau nurut atau tidak?!" kecam Sari dengan nada yang tegas dan tebal. "Sudah dari siang kau berlatih tanpa henti! Tubuhmu bukan besi, Heras! Kalau kau sakit, siapa yang akan repot?!"
Heras tertegun, menatap Sari yang tampak sangat serius. Kekerasan kepalanya seketika luntur seketika, digantikan oleh rasa bersalah. "I... iya, Sari. Aku nurut," jawabnya pelan, suaranya melemah. Niatnya untuk terus berlatih tiba-tiba memudar sepenuhnya, digantikan oleh rasa lelah yang tiba-tiba menyerang dengan sangat kuat.
Seketika itu juga, cahaya keemasan yang selama ini menyelimuti kakinya dan menopang tubuhnya menghilang begitu saja. Tanpa dukungan energi itu, kakinya yang lumpuh kembali kehilangan kekuatannya seketika. Tubuh Heras limbung, kehilangan keseimbangan dan mulai terjatuh ke depan.
"Heras!" teriak Sari kaget. Ia dengan sigap melangkah maju dan mencoba menangkap tubuh Heras yang berat. Namun, beban tubuh Heras terlalu besar untuk ditahan oleh Sari sendirian. Dengan suara buk yang pelan, mereka berdua terjatuh ke atas rumput yang empuk.
Namun, sebelum punggung dan kepala Sari membentur tanah, Heras dengan cepat memutar posisinya sedikit dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Ia memposisikan dirinya di bawah, sehingga Sari jatuh menimpanya, sementara tangannya melindungi kepala dan punggung Sari agar tidak terbentur keras.
Hening sejenak. Sari yang berada di atas tubuh Heras menatap ke bawah, matanya bertemu dengan mata Heras. Wajah Sari tiba-tiba memerah padam, pipinya merona merah muda yang jelas terlihat di bawah cahaya matahari senja. Ia merasa canggung dan sedikit malu karena posisi mereka yang begitu dekat.
Rian yang melihat kejadian itu dari samping langsung tertawa terbahak-bahak, matanya berbinar penuh godaan. "Wah, wah, wah... lihat itu! Romantis banget ya kalian berdua jatuh begini? Hati-hati, nanti kalau terlalu lama, bisa timbul rasa yang lain lho!"
Heras yang sadar posisinya segera membantu Sari bangun, wajahnya juga sedikit memerah. "Maaf, Sari. Kau tidak apa-apa?" tanyanya cepat.
Sari menggeleng pelan, merapikan bajunya dan menghindari tatapan Rian yang menggoda. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah melindungiku," jawabnya pelan.
Setelah semua kembali berdiri dan merapikan diri, Rian mengusap perutnya yang masih keroncongan. "Ayo, sebelum ke kantin, kita mandi dulu dong. Bau keringat nih, tidak enak kalau makan begini."
Sari mengangguk setuju, lalu segera mendorong kursi roda yang sudah disiapkan tadi ke arah Heras. Heras duduk kembali di kursi rodanya, dan Sari mulai mendorongnya menuju area kamar mandi umum yang ada di kompleks itu. Rian berjalan mengikuti dari belakang, matanya masih penuh dengan ide-ide usil.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Rian tiba-tiba berhenti dan menyenggol bahu Heras dengan sikunya. "Heh, Heras. Kau kan tidak bisa bergerak sendiri, pasti susah ya mandi sendiri? Lihat saja kakimu itu, pasti butuh bantuan orang lain untuk menyabuni atau menyiram air, kan?" godanya sambil tersenyum jahil.
Tanpa menunggu balasan, Rian langsung lari cepat masuk ke kamar mandi yang ada di sebelahnya, menutup pintu dengan keras sambil masih tertawa. "Sana, selamat mandi! Jangan sampai ada yang lupa dicuci ya!"
Sari yang mendengar godaan Rian tadi langsung terdiam, wajahnya kembali menjadi canggung dan merah. Ia menatap Heras dengan tatapan bingung, tidak tahu harus berkata apa.
Heras menghela napas panjang melihat tingkah Rian, lalu menatap Sari dengan tenang. "Jangan dengarkan dia, Sari. Aku sebenarnya bisa mandi sendiri kok. Asal ada kursi yang kuat dan stabil di dekat bak mandi, aku bisa mengambil air dari bak yang tinggi itu dan menyiram diriku sendiri. Aku sudah terbiasa."
Sari menghela napas lega mendengar penjelasan itu, lalu mengangguk cepat. "Baiklah. Aku akan siapkan kursinya dulu untukmu."
Sari segera masuk ke dalam kamar mandi Heras dan menyiapkan kursi yang diminta di posisi yang tepat di samping bak mandi. Setelah memastikan semuanya aman, ia keluar dan menutup pintu sedikit, meninggalkan celah kecil. "Aku tunggu di depan pintu ya. Panggil saja kalau butuh sesuatu."
"Terima kasih, Sari," ucap Heras lembut.
Beberapa menit kemudian, Heras selesai mandi. Ia sudah duduk kembali di kursi roda dengan tubuh yang segar. Sari yang menunggu di depan segera mengetuk pintu, lalu membukanya sedikit sambil mengulurkan seperangkat baju bersih dan bersih. "Ini, baju gantinya. Maaf ya, aku tadi lupa memberikannya sebelum kau masuk," katanya sedikit malu.
Heras menerima baju itu dengan senyum. "Tidak apa-apa, terima kasih banyak." Ia kembali masuk sebentar untuk mengenakan baju baru yang diberikan Sari. Baju itu pas di tubuhnya dan terasa sangat nyaman.
Setelah Heras keluar dan menunggu di luar, giliran Sari yang masuk untuk mandi. Heras duduk menunggu dengan tenang di kursi rodanya, menikmati angin sore yang sejuk. Tak lama kemudian, Sari keluar dengan wajah yang segar dan rambut yang masih sedikit basah.
Mereka berdua lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi Rian yang masih tertutup rapat. "Lama sekali ya Rian," gumam Sari bingung. "Sudah hampir 15 menit lebih, belum keluar juga."
Heras juga mengangguk setuju, mulai merasa cemas. "Benar juga. Apa dia sakit perut atau apa?"
Tak selang lama, pintu kamar mandi Rian akhirnya terbuka. Rian keluar dengan wajah yang segar, rambutnya basah, dan tangannya sedang mengikatkan tali kemejanya. Ia melihat Heras dan Sari yang sudah menunggu, lalu tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf ya lama banget. Tadi pas mandi, tiba-tiba rasanya mau buang air besar. Jadinya sekalian deh, jadi agak lama. Maaf ya bikin nunggu."
Heras dan Sari saling pandang lalu tertawa kecil. "Yaudah, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita bisa pergi ke kantin," kata Heras sambil tersenyum.
Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin. Sesampainya di sana, suasana di dalam sangat ramai dan hidup. Banyak anggota lain yang sedang makan di sana, terdengar gelak tawa yang renyah di berbagai sudut ruangan, bercampur dengan bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Aroma masakan yang sangat harum dan semerbak langsung menyerang hidung Heras, membuat perutnya langsung berbunyi keras.
"Wah, baunya enak banget," gumam Heras takjub.
Mereka lalu menuju meja pemesanan. Rian memesan makanan dengan jumlah yang cukup banyak, membuat Heras sedikit melongo. Ketika giliran Heras, ia tanpa ragu memesan makanan yang jauh lebih banyak—hampir tiga kali lipat dari jumlah pesanan Rian.
Waiter yang mencatat pesanan itu pun terlihat sedikit kaget, begitu juga dengan Sari. Heras yang menyadari tatapan mereka langsung merasa canggung dan sedikit takut. Ia merogoh sakunya, berpikir bahwa ia mungkin tidak punya cukup uang untuk membayar semua ini.
"Ehm... Rian, ini... aku tidak punya banyak uang. Bagaimana kalau pesanannya dikurangi saja?" tanya Heras pelan, wajahnya mulai pucat.
Rian langsung tertawa lepas mendengar itu, ia menepuk bahu Heras dengan santai. "Hahaha, tenang saja, Heras! Di sini, selagi makanan yang kau pesan bisa kau habiskan sampai bersih, kau bisa memesan sebanyak apapun secara gratis. Tidak perlu bayar sepeser pun."
Mendengar itu, beban di pundak Heras langsung hilang. Wajahnya kembali cerah, dan ia pun tersenyum lebar. "Oh, begitu toh! Kalau begitu, pesananku tetap saja ya!"
Tanpa sungkan-sungkan lagi, Heras menunggu makanannya datang. Ketika makanan-makanan itu tersaji di meja, piring-piring penuh dengan nasi, lauk pauk, dan sayuran terhampar di hadapan mereka. Rian terbelalak melihat tumpukan makanan di depan Heras yang jauh lebih banyak daripadanya.
"Woi, Heras! Kau serius bisa menghabiskan semua ini?!" tanya Rian kaget, matanya melotot. "Ingat ya, kalau tidak habis, ada hukuman berat dari pihak pengawas lho. Bisa-bisa kau disuruh membersihkan seluruh toilet di kompleks ini selama seminggu!"
Heras menjawab dengan santai sambil mengambil sendok dan garpu, "Kau saja bisa menghabiskan pesananmu yang sebanyak itu, mana mungkin aku tidak bisa. Percaya deh."
Heras tahu betul, sebagai seorang Penyatu, nafsu makannya memang sangat besar. Tubuhnya selalu membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk berfungsi, apalagi hari ini ia menggunakan energi Luminar dalam waktu yang sangat lama.
Rian menghela napas panjang melihat keyakinan Heras, lalu menunjuk piring-piring di depannya sendiri. "Ya sudah, terserah kau saja. Tapi ingat ya, pesanan yang aku ambil tadi itu sebenarnya untuk bertiga—untukku, kau, dan Sari. Aku kira kau tidak akan pesan banyak."
Heras tertekan sejenak, lalu tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya. "Hahaha... begitu ya. Ya sudahlah, tenang saja. Aku bisa menghabiskannya kok, santai saja," ucapnya dengan yakin, meski dalam hati ia sedikit ragu melihat jumlah makanan yang kini ada di meja mereka secara keseluruhan.
Akhirnya, mereka bertiga mulai menyantap makanan itu dengan lahap. Rian dan Sari makan dengan kecepatan biasa, menikmati setiap suapan. Namun, berbeda dengan Heras. Ia makan dengan sangat lahap dan cepat, seolah tidak ada hari esok. Piring demi piring mulai kosong dengan cepat di hadapannya, membuat Rian dan Sari hanya bisa menatap dengan mulut ternganga melihat nafsu makan Heras yang luar biasa itu. Mungkin, hanya Heras yang bisa makan dengan lahap sebanyak itu di ruangan yang penuh orang ini.